UJIAN IKM_BELLA TANAMAS_23.P1.0024
Pengembangan Diri sebagai Pemimpin dengan Kepribadian ISFP-T
Bella Tanamas 23.P1.0024
MBTI
Berdasarkan hasil assessment Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) tipe kepribadian saya adalah ISFP-T, yaitu Introverted, Sensing, Feeling, Perceiving, dan Turbulent. Tipe ISFP umumnya digambarkan sebagai individu yang peka terhadap lingkungan, spontan, fleksibel, serta mudah menyesuaikan diri dengan perubahan.1
1) Introvert
Sebagai introvert saya cenderung menyukai interaksi sosial yang lebih sedikit, tetapi mendalam dan bermakna, serta sering merasa tertarik pada lingkungan yang lebih tenang.
2) Sensing
Saya setuju bahwa sensing merujuk pada individu yang realistis dan fokus terhadap kondisi yang sedang terjadi atau dibandingkan sesuatu yang abstrak
3) Feeling
Saya dalam mempertimbangkan perasaan, nilai, dan kebutuhan orang lain ketika membuat keputusan. Saya berusaha menjaga hubungan yang baik serta menghindari tindakan yang dapat membuat orang lain merasa tidak dihargai.
4) Perceiving
Mencerminkan fleksibilitas dan keterbukaan terhadap perubahan. Saya dapat menyesuaikan diri ketika rencana harus diubah karena situasi tertentu. Saya tidak selalu merasa nyaman dengan aturan yang terlalu kaku dan lebih menyukai adanya ruang untuk menentukan cara kerja yang sesuai dengan kondisi.
5) Turbulent
Saya sadar bahwa saya peka terhadap kritik dan penilaian orang lain yang membuat saya sering memikirkan kembali keputusan terdahulu. Saya juga sering merasa khawatir apabila hasil suatu pekerjaan tidak sesuai dengan harapan sehingga terkadang menimbulkan keraguan terhadap diri sendiri. Namun, karakteristik ini juga mendorong saya untuk melakukan evaluasi dan terus memperbaiki kekurangan.
ISFP dalam kehidupan sehari-hari
Dalam kegiatan akademik, sifat Introverted tercermin dari kecenderungan saya mempertahankan lingkaran pertemanan yang kecil serta lebih nyaman mengerjakan tugas individu dibandingkan tugas kelompok. Dalam mengikuti organisasi, sifat Perceiving membuat saya mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk saat bergabung dalam organisasi ISMKI yang anggotanya berasal dari berbagai universitas. Saya juga mampu menyesuaikan diri dengan dinamika kelompok dan perubahan rencana secara mendadak seperti pada kegiatan bakti sosial.
Sebagai seorang pemimpin, saya masih perlu mengembangkan kemampuan komunikasi, keberanian menyampaikan pendapat, pembagian tugas, dan pengambilan keputusan yang tegas. Saya juga perlu belajar membuat perencanaan yang lebih terstruktur tanpa kehilangan kemampuan untuk bersikap fleksibel.
Model kepemimpinan yang relevan
Model kepemimpinan yang relevan bagi saya adalah kepemimpinan situasional model ini menyesuaikan cara memimpin dengan kondisi, kebutuhan, dan kemampuan anggota tim. Pendekatan ini sesuai diterapkan dalam organisasi yang memiliki anggota dengan latar belakang beragam serta sering menghadapi perubahan rencana. Karakteristik ISFP-T, terutama fleksibel, peka terhadap perasaan orang lain, dan mudah beradaptasi, mendukung penerapan kepemimpinan situasional. Saya cenderung memahami kondisi anggota tim dan tidak memaksakan satu gaya kepemimpinan dalam setiap keadaan. Kekuatan saya berupa empati dan kemampuan beradaptasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan suportif. Namun, sifat introvert, kurang tegas, serta kecenderungan menghindari konflik dapat menghambat pengambilan keputusan. Oleh karena itu, saya perlu meningkatkan komunikasi, ketegasan, dan keberanian dalam menyampaikan arahan.
Aplikasi model kepemimpinan FKTP program TB-HIV
Sebagai koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya akan menerapkan kepemimpinan situasional dengan menyesuaikan kemampuan dan kesiapan setiap anggota tim. Anggota yang masih baru akan diberikan arahan yang jelas, sedangkan anggota yang lebih berpengalaman akan diberi dukungan atau tanggung jawab yang lebih besar.
Advokasi dilakukan kepada kepala puskesmas dan Dinas Kesehatan dengan menyampaikan data kasus, kebutuhan tenaga, obat dan alat pemeriksaan, serta kendala pelayanan. Penguatan tim dilaksanakan melalui pembagian tugas yang jelas, pelatihan, dan diskusi kasus secara berkala.
Koordinasi lintas sektor dilakukan dengan melibatkan kelurahan, kader, rumah sakit rujukan, dan organisasi pendamping, sedangkan kolaborasi interprofesional mencakup proses skrining, diagnosis, pengobatan, konseling, dan pemantauan pasien. Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan menilai cakupan skrining, kepatuhan pengobatan, keberhasilan terapi, serta jumlah pasien yang putus berobat.
Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah adanya tenaga lintas profesi, kader, pedoman, dan sistem rujukan, sedangkan tantangannya meliputi stigma, keterbatasan sumber daya, dan komunikasi tim yang kurang optimal. Strategi yang dilakukan adalah meningkatkan edukasi, menjaga kerahasiaan pasien, memperkuat koordinasi, serta melakukan pendampingan secara aktif.
Aplikasi model kepemimpinan FKTL
Jika saya memimpin tim peningkatan mutu rumah sakit yang berfokus pada pencegahan dan pengendalian infeksi, saya akan menerapkan model kepemimpinan situasional melalui beberapa langkah yang disesuaikan dengan kompetensi, pengalaman, dan kesiapan setiap anggota tim.
Upaya ini dilakukan melalui penilaian kepatuhan kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri, sterilisasi alat, pengelolaan limbah medis, serta pelaporan kejadian infeksi. Anggota yang masih baru akan diberikan instruksi dan pendampingan secara langsung, sedangkan tenaga yang sudah kompeten diberi dukungan atau tanggung jawab sebagai pengawas dan edukator.
Pendekatan ini dapat membentuk budaya keselamatan karena setiap tenaga kesehatan memperoleh arahan sesuai kebutuhannya, berani melaporkan kesalahan tanpa takut disalahkan, serta memiliki tanggung jawab bersama dalam melindungi pasien dan petugas. Tantangan yang mungkin muncul meliputi rendahnya kepatuhan, beban kerja tinggi, keterbatasan alat pelindung diri, dan anggapan bahwa prosedur keselamatan memperlambat pelayanan.
Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah adanya tim PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi), pelatihan rutin, sistem pelaporan, dan dukungan manajemen rumah sakit. Sebagai langkah antisipatif, saya akan memastikan ketersediaan sarana, menyusun prosedur yang jelas, memberikan penghargaan terhadap kepatuhan, serta mengevaluasi kejadian infeksi untuk menentukan perbaikan berkelanjutan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil MBTI, kepribadian ISFP-T mendukung penerapan kepemimpinan situasional karena memiliki karakter fleksibel, adaptif, dan peka terhadap kebutuhan anggota tim. Model ini dapat diterapkan dalam pelayanan kesehatan tingkat pertama maupun tingkat lanjut dengan menyesuaikan gaya kepemimpinan berdasarkan kompetensi dan kesiapan setiap anggota. Penerapannya dapat memperkuat koordinasi, kolaborasi, budaya keselamatan, serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Namun, saya masih perlu meningkatkan kemampuan komunikasi, ketegasan, perencanaan, dan pengambilan keputusan agar dapat menjadi pemimpin yang lebih efektif.
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi
terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Komentar
Posting Komentar