Mengenal Diri sebagai ISTJ-T: Dari Ketelitian Menuju Kepemimpinan Demokratis dalam Pelayanan Kesehatan

 Nama    : Niken Hayu Nareshwari

NIM       : 23.P1.0050

Konteks dan Latar Belakang Personal


    Kepribadian ISTJ (Introvert, Sensing, Thinking, Judging) merupakan salah satu jenis kepribadian dari 16 jenis kepribadian menurut model Myers-Briggs Typer Indicators (MBTI). Seseorang dengan kepribadian ISTJ merupakan orang yang memiliki keseriusan tinggi, teliti, dan handal dalam upayanya mencapai kesuksesan. Mereka memiliki tanggung jawab yang tinggi, berorientasi pada fakta dan realistis. Individu dengan kepribadian ini ditandai dengan ketekunan yang tinggi ketika bekerja pada suatu bidang, serta mengandalkan tradisi, peraturan dan loyalitas yang kuat terhadap tugas maupun komitmennya. Hal tersebut akan membuat mereka mengikuti aturan, ketentuan, dan prosedur yang berlaku. Salah satu ciri khas seorang ISTJ adalah menyukai kehidupan dan pekerjaan yang teratur, sistematis, terorganisir dan tertib1.  
    Uraian tersebut sesuai dengan pribadi saya, di mana saya merupakan seseorang yang tidak suka menjadi pusat perhatian. Saya lebih nyaman bekerja di belakang layar dengan membantu mengoordinasikan pekerjaan serta memperhatikan detail-detail kecil yang sering kali terlewat oleh orang lain. Kehidupan yang sistematis dan terorganisir telah saya terapkan sejak kecil. Dalam menjalani perkuliahan yang dipenuhi berbagai penugasan, laporan, dan tanggung jawab akademik lainnya, saya terbiasa mengatur seluruh kegiatan secara terstruktur. Saya rutin membuat checklist atau to-do list setiap minggu yang memuat tugas-tugas yang harus diselesaikan setiap hari, lengkap dengan pembagian waktu atau jadwal pengerjaannya. Kebiasaan tersebut membantu saya mengelola waktu dengan baik, menjaga kedisiplinan, serta memastikan setiap tanggung jawab dapat diselesaikan secara tepat waktu.
    Saya juga menyukai pembagian tugas yang jelas terutama dalam kegiatan berkelompok. Pembagian tugas dari awal membuat saya dapat merencanakan dan mempersiapkan peran saya dalam kelompok sehingga saya dapat bekerja secara efektif, karena saya cenderung tidak menyukai pekerjaan secara mendadak tanpa persiapan. Sebelum mengumpulkan tugas, saya berusaha teliti dan memeriksa kembali setiap hasil pekerjaan sebelum dikumpulkan untuk meminimalkan kesalahan 
    Disisi lain, ada banyak hal yang perlu saya tingkatkan dalam diri saya, terutama jika berbicara sebagai seorang pemimpin. Saya menyadari bahwa sebagai pemimpin, diperlukan kemampuan untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak menyampaikan pendapat dan memimpin berjalannya diskusi, termasuk berbicara didepan forum. Sedangkan sebagai seorang ISTJ, aktivitas yang melibatkan interaksi sosial yang inteks dalam waktu lama seringkali menguras energi saya. Sehingga menjadi tugas saya untuk melatih kemampuan berkomunikasi dan membangun kepercayaan diri agar dapat menjalankan peran tersebut dengan lebih baik. Selain itu, kebiasaan saya yang bekerja dengan perencanaan yang terstruktur dan sistematis membuat saya terkadang kesulitan untuk bersifat fleksibel ketika terjadi perubahan secara mendadak. Hal tersebut mengharuskan saya untuk menyusun kembali prioritas dan menyesuaikan rencana yang saya buat sebelumnya. Oleh karena itu saya harus lebih meningkatkan kemampuan adaptasi saya terutama dalam menghadapi perubahan agar dapat lebih tenang dalam menghadapinya.

Model Kepemimpinan yang Relevan 


    Model kepemimpinan yang menurut saya relevan dengan karakteristik personal saya adalah model kepemimpinan demokratis. Gaya kepemimpinan demokratis ditandai dengan kemampuan pemimpin untuk mengarahkan anggota berdasarkan keputusan bersama, mampu menyatukan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, serta bersikap terbuka terhadap kritik dan saran. Pemimpin dengan gaya ini juga mengutamakan kerja sama, membimbing dan memotivasi anggota dalam menjalankan tugas mereka, serta terus berupaya meningkatkan potensi kepemimpinannya sendiri. Dalam penerapannya, gaya kepemimpinan demokratis diwujudkan melalui sikap pemimpin yang baik, mampu menjadi teladan, tidak emosional, dan tegas dalam mengambil keputusan. Selain itu, pemimpin secara aktif memantau kinerja anggota, memberikan arahan, adil dan tidak diskriminatif2. Menurut saya model kepemimpinan demokratis relevan dengan saya karena saya memerlukan diskusi dan pendapat anggota tim saya terutama jika ada hal hal diluar kendali seperti perubahan rencana yang mendadak. Dalam kondisi tersebut saya merasa masukan dari setiap anggota penting untuk memeroleh berbagai sudut pandang sebelum menentukan solusi yang paling tepat. Disisi lain saya juga tidak menyukai gaya kepemimpinan yang memberikan kebebasan penuh kepada anggota tanpa arahan, karena saya merasa nyaman ketika setiap anggota mendapatkan pembagian tugas yang jelas dan memahami tanggung jawabnya masing masing. Selain itu, penting bagi saya untuk melakukan pemantauan terhadap perkembangan pekerjaan agar setiap tugas dapat diselesaikan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV

    Saya memilih model kepemimpinan demokratis dalam mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X. Menurut saya, keberhasilan penanganan TB-HIV memerlukan kerja sama dan komunikasi tim yang baik dimana saya akan memberikan kesempatan kepada seluruh anggota tim untuk menyampaikan pendapat, terutama ketika menghadapi kendala atau perubahan situasi di lapangan. Setiap masukan akan saya pertimbangkan dalam menentukan solusi yang paling tepat, namun keputusan akhir tetap menjadi tanggung jawab saya sebagai pemimpin agar pelaksanaan program tetap terarah. 
    Dalam kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di FKTP, model kepemimpinan demokratis dapat diterapkan terutama dengan mengutamakan komunikasi yang terbuka, koordinasi, dan kerjasama tim. Saya akan mengawali dengan melakukan diskusi bersama kepala puskesmas serta penanggung jawab program untuk menyusun rencana pelaksanaan program dan tujuannya. Selain itu dalam tim, saya akan mulai menjelaskan pembagian tanggung jawab serta tugas masing masing anggota dan memastikan bahwa mereka telah memahami tanggung jawabnya masing masing. Untuk memastikan pelaksanaan kegiatan dengan maksimal, saya akan melakukan koordinasi lintas sektor misalnya dengan dinas kesehatan setempat, rumah sakit rujukan, dan kader kesehatan. Perlu dilakukan kolaborasi interprofesional dengan dokter, perawat, laborat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya sehingga setiap profesi mampu menjalankan perannya di dalam kegiatan ini sesuai dengan kompetensinya masing masing. Terakhir saya juga akan melakukan monitoring dan evaluasi di tiap minggu bersama anggota untuk menilai berjalannya program. Pada tahap ini saya mempersilahkan anggota untuk memberi masukan dan kendala selama berjalannya program untuk menentukan upaya perbaikan program.
    Tantangan yang mungkin saya hadapi adalah adanya anggota tim yang pasif  dan tidak memiliki inisiatif untuk menyampaikan pendapat. Padahal, gaya kepemimpinan ini membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh anggota agar diskusi dapat menghasilkan solusi yang lebih baik. Untuk mengatasinya, saya akan berusaha melibatkan setiap anggota dalam diskusi dan memberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan pandangannya.

Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut dalam Peningkatan Mutu (Keselamatan Pasien dan Petugas Kesehatan)


    Sebagai ISTJ saya cenderung bekerja sistematis, terstruktur, dan mengandalkan data dalam mengambil keputusan. Namun di rumah sakit, seluruh keputusan menyangkut keselamatan pasien sehingga tidak dapat diputuskan secara sepihak, melainkan memerlukan masukan dari berbagai pihak termasuk anggota tim yang bekerja di lapangan. Kepemimpinan demokratis memungkinkan saya untuk dapat tetap tegas dalam kepatuhan standar namun tetap membuka ruang bagi anggota tim lain untuk ikut berkontribusi dalam mengevaluasi sistem, karena gaya kepemimpinan demokratis memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap kinerja anggotanya3.
    Dari enam sasaran keselamatan pasien saya memilih medication error sebagai fokus utama. Medication error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan yang sebenarnya dapat dicegah4. Medication error dapat terjadi dalam semua tahap baik kesalahan peresepan (prescribing error), kesalahan penerjemahan resep (transcribing error), kesalahan penyiapan obat (dispensing error), dan kesalahan penyerahan obat kepada pasien (administration error). Medication error menjadi salah satu masalah klinis yang fundamental dan masih banyak terjadi5. Melihat banyaknya tahap yang berisiko mengalami kesalahan, masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan mengandalkan kewaspadaan satu orang. Sebagai pemimpin yang demokratis, langkah pertama yang harus saya lakukan adalah memastikan anggota tim tidak takut melapor ketika melakukan kesalahan. Saya harus menekankan bahwa melaporkan kesalahan bukan merupakan pengakuan kegagalan, melainkan tindakan yang profesional untuk menentukan tindakan selanjutnya untuk menjamin keselamatan pasien. Namun tentunya saya akan lebih menekankan seluruh anggota tim untuk melakukan verifikasi ganda dalam melaksanakan proses Prescribing, Transcribing, Dispensing, dan Administration untuk mencegah terjadinya medication error. Sesuai karakter ISTJ, Saya perlu menekankan bahwa seluruh proses dilakukan secara sistematis, teliti, disiplin dan jujur. Mengingat bahwa setiap tindakan yang dilakukan berkaitan dengan keselamatan pasien sehingga tidak boleh ada celah untuk mengabaikan prosedur, termasuk melakukan verifikasi ulang terhadap jenis, dosis, rute pemberian, resep, dan identitas pasien. Namun ketegasan tersebut harus diimbangi dengan sikap terbuka dan suportif agar anggota merasa nyaman untuk bertanya, mengklarifikasi, atau mengakui kesalahan.
   Tantangan yang mungkin dihadapi justru berasal dari diri saya sendiri. Sebagai seorang ISTJ saya cenderung memiliki standar tinggi dalam kepatuhan prosedur dan ketelitian dalam bekerja. Di sisi lain, kecenderungan tersebut berisiko anggota tim sungkan atau takut untuk mengakui kesalahan atau bertanya dan mengklarifikasi terhadap hal yang belum jelas. Untuk mengantisipasinya, saya harus belajar dimana jika terjadi masalah, saya harus berfokus pada apa kesalahannya dan langkah apa yang harus dilakukan segera untuk mengatasinya. Bukan siapa yang salah dan justru menciptakan perasaan takut dan kapok bagi anggota tim yang melapor.

Kesimpulan

    Menjadi seorang pemimpin bukan hanya tentang mampu mengambil keputusan, tetapi juga mampu bekerja sama, mendengarkan, dan terus belajar dari setiap pengalaman. Kepribadian ISTJ memberikan saya kelebihan dalam bekerja secara sistematis, teliti, disiplin, dan bertanggung jawab yang menjadi modal penting dalam kepemimpinan. Penerapan model kepemimpinan demokratis juga membantu saya memanfaatkan kelebihan tersebut sekaligus membangun komunikasi kerja sama yang terbuka dengan anggota tim. Saya juga menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu saya perbaiki, terutama dalam cara berkomunikasi, beradaptasi dengan perubahan, dan menciptakan suasana yang membuat anggota tim merasa nyaman untuk berdiskusi, sehingga saya perlu terus belajar agar dapat bersifat terbuka, dan suportif pada anggota tim

Pernyataan Orisinalitas

    Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya saya sendiri dan menggunakan informasi uang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengulangan perilaku 

Literatur

  1. Karyati E. Pengembangan Tes Kepribadian Metode MBTI untuk Mahasiswa Psikologi Universitas Gunadarma. Technologia Journal. 2022; 13(2): 156.
  2. Zubaida AN, Maruf C, Lazuardi A. Implementasi Gaya Kepemimpinan Demokratis dalam Organisasi. Emerald: Journal of Economics and Social Sciences. 2024; 3(1): 3
  3. Sandi FD, Damayanti NA. Gaya Kepemimpinan Demokratis Direktur Rumah Sakit Terrhadap Kedisiplinan Karyawan. Jurnal Keperawatan Silampari. 2021; 4(2): 590.
  4. Donsu YC, Tjitrosantoso H, Bodhi W. Faktor Penyebab Medication Error pada Pelayanan Kefarmasian Rawat Inap Bangsal Analk RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Pharmacon. 2016; 5(3): 66. 
  5. Putri EAL, Sukohar A, Damayanti E. Medication Error pada Tahap Prescribing, Transcribing, Dispensing, dan Administration. Jurnal Medula. 2023; 13(4): 45.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T