Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)
Nama : Alicia Rivela Cahyono
NIM : 23.P1.0002
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
UJIAN KEPEMIMPINAN
Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan
Konteks dan latar belakang personal
Setelah melakukan penilaian menggunakan MBTI, saya ternyata memiliki tipe kepribadian ENFJ-A (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging, Assertive). Orang-orang dengan tipe kepribadian ini dikenal karena kemampuan mereka dalam berkomunikasi secara efektif, kemudahan dalam menjalin hubungan sosial, fokus pada pengembangan orang lain, serta kemampuan untuk memberi inspirasi dan memotivasi tim untuk mencapai tujuan bersama. ENFJ sering disebut sebagai “Tokoh Utama” karena adanya kecenderungan alami untuk memimpin, mendukung pertumbuhan orang lain, dan menciptakan perubahan yang positif dalam lingkungannya1. Di samping itu, saya juga memiliki sifat sanguinis, yang ditandai dengan semangat, optimisme, kemampuan berkomunikasi, kedekatan dengan orang lain, serta kemampuan dalam menciptakan atmosfer yang menyenangkan di dalam kelompok.
Gambar 1. MBTI ENFJ-A dan Tipe Kepribadian Sanguinis
Menurut pandangan saya, hasil evaluasi itu sangat mencerminkan sifat dan pengalaman yang telah saya kumpulkan selama menjalani aktivitas di dunia akademis dan organisasi. Sejak awal studi, saya memiliki ketertarikan untuk terlibat dalam kegiatan yang memberi kesempatan untuk berinteraksi dengan banyak orang, berkolaborasi dalam tim, serta memberikan kontribusi untuk komunitas di sekitar saya. Ciri-ciri tersebut tercermin dalam pengalaman saya ketika dipercaya menjadi pemimpin angkatan, di mana saya berfungsi sebagai penghubung antara mahasiswa dengan pihak fakultas, membantu mencari solusi untuk berbagai masalah baik akademis maupun nonakademis, dan memastikan bahwa informasi dapat disampaikan dengan baik kepada semua mahasiswa. Pengalaman itu mengajarkan saya pentingnya komunikasi yang baik, kemampuan mendengarkan dengan penuh perhatian, serta memahami berbagai pandangan sebelum membuat keputusan.
Selain menjabat sebagai ketua angkatan, saya juga pernah memegang posisi sebagai Ketua Senat Mahasiswa, sebuah pengalaman yang sangat mengasah kemampuan saya dalam kepemimpinan. Dalam posisi tersebut, saya mengelola beragam program kerja, membangun kemitraan antar anggota, serta memastikan semua anggota dapat berkontribusi dan berkembang sesuai dengan potensi mereka. Saya berupaya untuk menciptakan suasana organisasi yang transparan, kolaboratif, dan mendukung sehingga setiap anggota merasa dihargai dan memiliki kesempatan untuk membagikan ide serta pendapat mereka. Namun dalam pelaksanaannya saya juga menemui rintangan seperti kesulitan menggabungkan beragam pandangan anggota saat merancang rencana kerja organisasi. Dalam kondisi itu, saya berupaya untuk mendengarkan semua saran, mengadakan diskusi, dan menemukan kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak. Pengalaman ini menambah kesadaran saya bahwa pemimpin bukan hanya bertugas untuk mengarahkan, tetapi juga memberdayakan dan membantu tim dalam mencapai potensi terbaik.
Gambar 2. Menjabat Ketua Senat Mahasiswa
Selain itu, saya pernah aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Divisi Pengabdian Masyarakat, yang memberi saya kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan edukasi. Dari pengalaman tersebut, saya belajar untuk memahami kebutuhan masyarakat, bekerja sama dengan berbagai pihak, serta mengembangkan empati dan kepedulian terkait isu kesehatan dan sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Pengalaman ini semakin memperkuat keyakinan saya bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya berfokus pada pencapaian hasil, tetapi juga pada kemampuan untuk membangun hubungan yang baik, memberdayakan orang lain, dan menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.
Gambar 3. Kegiatan Pengabdian Masyarakat dibawah BEM
Karakteristik ENFJ-A dan sifat sanguinis yang saya miliki memfasilitasi hubungan saya dengan berbagai kelompok, memelihara semangat tim, serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Namun, saya juga menyadari bahwa masih ada beberapa elemen yang perlu saya tingkatkan sebagai seorang pemimpin. Terkadang saya terlalu fokus pada pemeliharaan hubungan yang harmonis sehingga merasa tidak nyaman saat harus memberikan kritik yang perlu atau membuat keputusan yang mungkin akan mengecewakan beberapa individu. Di samping itu, saya harus mengembangkan kemampuan dalam mengelola konflik, bernegosiasi, serta mengambil keputusan yang lebih berdasarkan data dan objektif. Sebagai calon profesional kesehatan, saya mengerti bahwa keterampilan interpersonal yang baik harus diimbangi dengan ketegasan, pemikiran analitis, dan kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat agar dapat memberikan kontribusi yang optimal bagi organisasi, tim, dan masyarakat yang dilayani.
Model kepemimpinan yang relevan
Berdasarkan karakteristik yang saya miliki, model kepemimpinan yang paling sesuai adalah Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership). Kepemimpinan transformasional adalah pendekatan yang menekankan pada kemampuan pemimpin untuk memberikan inspirasi, mendorong, memberdayakan, dan mengembangkan tim agar dapat mencapai tujuan organisasi dengan efektif.
Menurut Bass dan Avolio, kepemimpinan transformasional memiliki empat elemen utama, yaitu idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration2. Pemimpin transformasional tidak hanya memandu tim dalam menyelesaikan tugas, tetapi juga membangun dedikasi, meningkatkan semangat, dan mendorong pertumbuhan kapasitas setiap individu. Saya memilih model ini karena sangat sesuai dengan karakteristik ENFJ-A dan sanguinis yang saya miliki. Sebagai seseorang yang suka menjalin hubungan dengan orang lain, saya merasa yakin dapat menerapkan pendekatan yang menekankan pada komunikasi, kolaborasi, dan motivasi. Kemampuan untuk memahami kebutuhan anggota tim memungkinkan saya memberikan dukungan yang tepat sehingga setiap orang dapat berkembang dan berkontribusi sebaik mungkin.
Gambar 4. Transformational leadership
Kekuatan saya, seperti kemampuan berkomunikasi, empati, optimisme, dan kemampuan membangun hubungan sosial, sangat penting dalam menerapkan kepemimpinan transformasional. Melalui komunikasi yang efektif, saya dapat menjelaskan visi organisasi dengan jelas dan meningkatkan semangat anggota tim. Selain itu, kemampuan membangun hubungan antarpribadi dapat memperkuat rasa percaya dan kolaborasi di antara anggota tim. Namun, ada sejumlah batasan yang harus saya perhatikan. Harapan untuk mempertahankan hubungan positif dengan semua orang bisa membuat saya menghadapi tantangan ketika harus membuat keputusan yang tidak disukai banyak orang. Di samping itu, sikap optimis yang saya miliki mungkin membuat saya terlalu yakin bahwa setiap anggota tim memiliki motovasi yang setara. Maka dari itu, saya harus meningkatkan keterampilan dalam berpikir kritis, membuat keputusan yang berdasarkan objektivitas, serta mengelola konflik agar dapat menjalankan fungsi kepemimpinan dengan lebih baik.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Gambar 5. TB dan HIV
Jika saya diberikan tanggung jawab sebagai koordinator kegiatan lintas program untuk penanganan TB dan HIV di Puskesmas X, saya akan mengadopsi strategi kepemimpinan yang berfokus pada transformasi untuk menciptakan kerjasama yang solid antara berbagai program dan sektor yang relevan. Penanganan TB dan HIV memerlukan kolaborasi yang efektif karena kedua penyakit ini saling berkaitan, baik dalam konteks klinis maupun kesehatan masyarakat.
Langkah awal yang akan saya ambil adalah melakukan advokasi terhadap kepala puskesmas dan para pemangku kepentingan tentang pentingnya mengintegrasikan layanan TB-HIV. Saya akan menyajikan data epidemiologi, sasaran program nasional, dan keuntungan dari layanan terintegrasi demi meningkatkan hasil pengobatan serta menekan angka penularan. Selain itu, saya akan mendorong pelaksanaan kegiatan kolaborasi TB-HIV seperti skrining HIV pada seluruh pasien TB, skrining gejala TB pada pasien HIV, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kelompok yang memenuhi syarat, penguatan strategi DOTS, serta peningkatan akses terhadap terapi antiretroviral (ART) bagi pasien dengan koinfeksi TB-HIV. Dengan adanya pemahaman bersama mengenai tujuan dari program ini, dukungan dari organisasi akan lebih mudah untuk didapatkan. Selanjutnya, saya akan memperkuat tim internal puskesmas yang terdiri atas para pengelola program TB, program HIV, promotor kesehatan, petugas laboratorium, apoteker, serta tenaga kesehatan lainnya. Saya akan mengatur pertemuan rutin guna menetapkan tujuan bersama, mendefinisikan peran dengan jelas, serta membangun komitmen tim dalam memberikan layanan yang terintegrasi3.
Dalam konteks koordinasi lintas sektor, saya akan membangun kemitraan dengan pemerintah desa, kader kesehatan, organisasi masyarakat, sekolah, dan lembaga sosial yang berperan dalam edukasi dan penemuan kasus. Kerja sama ini sangat penting untuk meningkatkan jangkauan skrining, mengurangi stigma terhadap individu yang menderita TB dan HIV, serta memperluas akses masyarakat pada layanan kesehatan. Pada segi kolaborasi antarprofesi, saya akan menggalakkan komunikasi yang transparan antara dokter, perawat, tenaga laboratorium, apoteker, petugas kesehatan lingkungan, serta tenaga promosi kesehatan. Setiap profesi memiliki fungsi yang unik namun saling melengkapi dalam penanganan TB-HIV. Dengan adanya kerjasama yang baik, pelayanan kepada pasien dapat lebih menyeluruh dan berfokus pada kebutuhan mereka. Untuk monitoring dan evaluasi, saya akan memanfaatkan indikator seperti cakupan skrining HIV pada pasien TB, cakupan skrining TB pada pasien HIV, jumlah pasien yang mendapatkan TPT, angka keberhasilan pengobatan TB, angka putus berobat, cakupan pemberian ART pada pasien koinfeksi TB-HIV, serta jumlah kegiatan edukasi dan investigasi kontak yang dilakukan. Penilaian akan dilakukan secara rutin untuk menemukan hambatan dan menentukan rencana perbaikan4.
Ada beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan, seperti adanya dukungan dari program nasional TB dan HIV, kemajuan dalam teknologi informasi kesehatan, serta partisipasi kader kesehatan di lingkungan masyarakat. Namun, ada beberapa tantangan yang mungkin timbul, termasuk stigma terhadap orang dengan HIV, keterbatasan tenaga kerja, beban kerja yang berat bagi tenaga kesehatan, serta kurangnya koordinasi antar sektor. Untuk mengatasi tantangan yang ada, saya berniat untuk memberikan strategi berupa pegembangan komunikasi yang terbuka, memberikan dorongan kepada anggota tim, meningkatkan edukasi di masyarakat, serta menggunakan teknologi informasi untuk mendukung pencatatan dan pelaporan program. Pendekatan transformasional diharapkan dapat meningkatkan partisipasi semua pihak agar tujuan program bisa dicapai dengan lebih efisien.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Apabila saya memimpin tim yang bertugas untuk meningkatkan kualitas di rumah sakit, saya akan memilih untuk berfokus pada sasaran keselamatan pasien yang berhubungan dengan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI).
PPI adalah elemen yang sangat krusial dalam layanan rumah sakit karena memiliki hubungan langsung dengan keselamatan pasien dan tenaga medis. Infeksi yang terkait dengan layanan kesehatan dapat meningkatkan angka penyakit, durasi rawat inap, biaya pelayanan, bahkan meningkatkan kemungkinan kematian pasien. Oleh karena itu, dibutuhkan kepemimpinan yang dapat mendorong pergeseran dalam perilaku dan budaya keselamatan di lingkungan rumah sakit5.
Gambar 6. Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
Sebagai pemimpin dengan gaya transformasional, langkah pertama saya adalah menciptakan visi kolektif bahwa pencegahan infeksi adalah tanggung jawab bersama semua tenaga medis. Saya akan mengkomunikasikan signifikansi kepatuhan terhadap praktik pencegahan infeksi, seperti kebersihan tangan, pemakaian alat pelindung diri, pengelolaan limbah medis, dan penerapan prosedur sterilisasi yang benar. Berikutnya, saya akan memperkuat kemampuan tenaga medis melalui pelatihan, simulasi, dan edukasi rutin. Saya meyakini bahwa peningkatan pengetahuan dan keterampilan dapat membantu tenaga kesehatan memahami dasar di balik setiap prosedur keselamatan yang diterapkan. Dalam pelaksanaan program, saya akan mendorong budaya komunikasi yang terbuka agar setiap tenaga kesehatan merasa nyaman untuk melaporkan insiden atau risiko infeksi yang mungkin terjadi tanpa takut akan konsekuensi negatif. Pendekatan ini sangat penting untuk membangun budaya keselamatan yang berfokus pada pembelajaran dan perbaikan yang berkelanjutan. Monitoring akan dilakukan melalui audit kepatuhan kebersihan tangan berdasarkan Five Moments for Hand Hygiene WHO, kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD), angka Healthcare Associated Infections (HAIs), hasil surveilans infeksi rumah sakit, serta angka kejadian tertusuk jarum (needle stick injury) pada tenaga kesehatan. Hasil pemantauan ini akan didiskusikan secara rutin bersama seluruh unit untuk menentukan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan6.
Tantangan yang mungkin timbul meliputi rendahnya kepatuhan terhadap prosedur PPI, keterbatasan sumber daya, penolakan terhadap perubahan, dan tingginya beban kerja tenaga kesehatan. Di sisi lain, ada peluang seperti dukungan regulasi nasional, kemajuan teknologi kesehatan, dan peningkatan kesadaran tenaga kesehatan tentang pentingnya keselamatan pasien. Sebagai langkah antisipatif, saya akan melibatkan semua profesi kesehatan dalam proses perencanaan dan evaluasi program, memberikan penghargaan kepada unit yang menunjukkan hasil baik, serta memanfaatkan data dari audit sebagai landasan untuk perbaikan yang berkelanjutan. Dengan pendekatan yang transformasional, saya berharap bisa membangun lingkungan kerja yang aman, kolaboratif, dan fokus pada kualitas pelayanan.
Kesimpulan
Berdasarkan evaluasi MBTI, tipe kepribadian saya adalah ENFJ-A yang didukung dengan sifat-sifat sanguinis, seperti kemampuan berkomunikasi yang baik, memiliki rasa empati, optimisme, dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal yang efektif. Karakteristik ini sangat sejalan dengan model kepemimpinan transformasional yang berfokus pada inspirasi, motivasi, pemberdayaan, dan pengembangan anggota kelompok. Dalam situasi pengelolaan TB-HIV di puskesmas, pendekatan kepemimpinan transformasional bisa dilaksanakan melalui advokasi, memperkuat tim, koordinasi antar sektor, kerjasama antarprofesi, serta pemantauan dan evaluasi yang terus-menerus. Di sisi lain, pada konteks peningkatan kualitas rumah sakit, model ini berpotensi mendukung terciptanya budaya keselamatan pasien melalui penguatan program pencegahan dan pengendalian infeksi. Dengan terus mengembangkan kemampuan komunikasi, ketegasan, manajemen konflik, dan pengambilan keputusan berbasis bukti, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang mampu menciptakan perubahan positif dalam pelayanan kesehatan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Referensi
The Myers-Briggs Company. ENFJ personality profile. London: The Myers-Briggs Company; 2025.
Bass BM, Riggio RE. Transformational Leadership. 3rd ed. New York: Routledge; 2019.
World Health Organization. Framework for Effective Tuberculosis and HIV Collaborative Activities. Geneva: WHO; 2012.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI; 2024.
World Health Organization. Global Patient Safety Action Plan 2021–2030. Geneva: WHO; 2021.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
Lampiran
Gambar 1. Memimpin Rapat Senat dan Diskusi sebagai Ketua Tim
Gambar 2. Pemaparan ke Tim sebagai Ketua
Gambar 3. Mangarahkan Tim dari Belakang dengan Memberikan Motivasi
Komentar
Posting Komentar