The Defender as a Leader: Kepemimpinan ISFJ-T dalam Pelayanan Kesehatan


The Defender as a Leader: Kepemimpinan ISFJ-T dalam Pelayanan Kesehatan

Nama  : Veronica Canda Kurnila

NIM    : 23.P1.0048



Berdasarkan hasil assessment Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), saya memiliki tipe kepribadian ISFJ-T (Introverted, Sensing, Feeling, Judging, Turbulent), yang secara umum dikenal dalam literatur psikologi sebagai The Defender (Pelindung). Manifestasi psikologis dari profil ini menunjukkan kecenderungan interaksi Introverted (fokus pada refleksi internal), metode pemrosesan informasi berbasis Sensing (berorientasi pada fakta klinis, data empiris, dan detail prosedural), pengambilan keputusan berbasis Feeling (mengutamakan harmoni interpersonal dan empati), serta pengorganisasian kerja berbasis Judging (sistematis, terencana, dan patuh pada regulasi). Indikator Turbulent (-T) menandakan tingkat mawas diri yang tinggi, sensitivitas terhadap kendala sistemik, serta dorongan konstan untuk melakukan evaluasi demi mencapai akurasi maksimal. 

Menurut saya, hasil assessment ini cukup sesuai dengan pola perilaku saya dalam lingkungan. Sebagai contoh, saat mengoordinasikan kegiatan dalam kelompok, saya secara natural tidak memilih untuk menonjolkan diri di depan publik (Introverted). Sebaliknya, saya memilih memastikan bahwa seluruh kegiatan dan tugas dalam kelompok berjalan dengan baik, terstruktur serta memastikan tidak ada hal yang terlewat (Sensing dan Judging). Ketika terjadi konflik internal dalam kelompok, pendekatan saya adalah melakukan pendekatan personal untuk mendengar keluhan masing-masing anggota guna menjaga stabilitas emosional kelompok sebelum mengambil keputusan (Feeling). 

Sebagai seorang mahasiswi dan calon dokter di masa depan, aspek kepemimpinan yang masih perlu saya kembangkan secara aktif adalah kecepatan dalam pengambilan keputusan pada situasi krisis dan peningkatan keterampilan komunikasi. Sifat Feeling dan Turbulent yang dominan terkadang membuat saya terlalu mempertimbangkan banyak hal sehingga keputusan menjadi tertunda. Hal ini terjadi karena saya selalu khawatir akan menimbulkan konflik atau membuat kesalahan. Oleh karena itu, saya perlu meningkatkan kemampuan mengambil keputusan dengan lebih cepat dan belajar mendelegasikan tugas secara tegas. 

Model kepemimpinan yang paling relevan dan kompatibel dengan karakteristik kepribadian saya sebagai seorang ISFJ-T adalah Servant Leadership (Kepemimpinan Pelayan). Dalam kegiatan kelompok, saya lebih suka membantu anggota lain, mendengarkan pendapat mereka, dan bekerja sama agar tugas kelompok dapat diselesaikan dengan baik1.

Teori servant leadership menekankan pilar-pilar utama seperti empati, kemampuan mendengar aktif (listening), penyembuhan hubungan interpersonal (healing), dan kesadaran (awareness). Kepemimpinan servant leadership menekankan sikap peduli terhadap orang lain, mau mendengarkan, menjaga hubungan yang baik, dan memahami kebutuhan anggota kelompok1. Hal ini sesuai dengan kepribadian saya (ISFJ-T) yang memiliki rasa empati tinggi dan memperhatikan hal-hal secara detail. Bagi saya, seorang pemimpin tidak hanya memberi perintah, tetapi juga membantu, mendukung, dan bekerja bersama anggota kelompok agar tujuan dapat tercapai dengan baik.

Dalam menerapkan model servant leadership, saya memiliki beberapa kelebihan yang dapat mendukung peran saya sebagai pemimpin. Saya cenderung teliti dan teratur dalam mengerjakan tugas sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik dan sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Selain itu, saya juga memiliki rasa empati yang tinggi sehingga lebih mudah memahami kondisi dan kebutuhan anggota kelompok. Sikap tersebut dapat membantu saya membangun hubungan yang baik dan menciptakan suasana kerja sama yang saling percaya. Namun, saya juga menyadari adanya beberapa kelemahan, seperti kurang nyaman menghadapi konflik dan kesulitan menegur anggota yang tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Saya juga terkadang terlalu memikirkan perasaan orang lain sehingga dapat menimbulkan kelelahan atau tekanan pada diri sendiri. Oleh karena itu, saya perlu belajar untuk lebih tegas dalam mengambil keputusan dan mengelola emosi agar dapat menerapkan kepemimpinan yang lebih efektif.

Apabila saya ditunjuk sebagai koordinator kegiatan lintas program penanganan ko-infeksi TB-HIV di Puskesmas X, saya akan berusaha mengelola kegiatan secara teratur dan melibatkan seluruh anggota tim. Menurut saya, penanganan TB dan HIV tidak dapat dilakukan secara terpisah karena kedua penyakit tersebut saling memengaruhi kondisi pasien3,4. Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama yang baik agar pelayanan yang diberikan dapat berjalan secara efektif. Sebagai seorang dengan kepribadian ISFJ-T, saya lebih memilih menjadi pemimpin yang mendukung dan membantu anggota tim daripada mendominasi. Saya akan berperan sebagai penghubung antara program TB dan HIV agar keduanya dapat bekerja sama dengan baik. Selain itu, saya akan berusaha memastikan bahwa seluruh tenaga kesehatan memiliki sarana dan kebutuhan yang cukup untuk menjalankan tugasnya. Dengan begitu, pelayanan kepada pasien dapat berjalan secara terpadu tanpa memberikan beban kerja yang berlebihan.

Sebagai koordinator kegiatan lintas program TB-HIV, saya akan berusaha membangun kerja sama yang baik antara program TB dan HIV agar pelayanan kepada pasien dapat berjalan secara terpadu. Saya akan menyampaikan data dan informasi mengenai peningkatan kasus TB-HIV kepada Kepala Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan perencanaan program serta mengajukan usulan anggaran operasional terfokus untuk pembiayaan logistik reagen HIV dan pelatihan nakes gabungan3,4Selain itu, dalam penguatan tim, saya akan menyelenggarakan diskusi bersama secara rutin yang suportif agar setiap anggota dapat menyampaikan pendapat, kendala, maupun saran yang dimiliki untuk membangun rasa aman dan menciptakan suasana kerja yang nyaman serta saling mendukung sehingga setiap anggota tim dapat bekerja dengan baik. Saya akan berusaha memastikan bahwa beban kerja terbagi secara adil, serta memberikan apresiasi kepada perawat atau petugas atas upaya mereka dalam mendukung keberhasilan pengobatan pasien.

Saya juga akan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak di luar puskesmas yang dapat membantu pelaksanaan program dan mendukung kebutuhan pasien, seperti membina hubungan kolaboratif dengan lintas sektor, khususnya Kantor Urusan Agama (KUA) untuk skrining pranikah, Pemerintah Desa untuk pemanfaatan dana desa dalam transportasi pasien miskin, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli TB-HIV untuk pendampingan minum obat3,4. Kemudian untuk kolaborasi interprofesional saya akan mendorong kerja sama antar tenaga kesehatan dengan membentuk tim yang terdiri dari dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, dan petugas laboratorium. Setiap anggota tim memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing sehingga pelayanan kepada pasien TB-HIV dapat berjalan dengan lebih terkoordinasi dan menyeluruh.

Selanjutnya, saya akan melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala dengan memanfaatkan sistem informasi puskesmas (SIMPUS/SITB/SIHA), memeriksa data atau rekam medis pasien setiap bulan untuk melihat apakah seluruh pasien TB sudah menjalani pemeriksaan HIV dan apakah ada pasien yang berhenti berobat sebelum pengobatannya selesai, sehingga dapat memantau perkembangan program, mengidentifikasi kendala yang ada, serta mencari solusi agar pelayanan TB-HIV dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat bagi pasien3,4.

Dalam pelaksanaan program TB-HIV, terdapat beberapa peluang, tantangan, dan strategi yang dapat dilakukan. Adanya kebijakan pemerintah mengenai penanganan TB-HIV dan sistem pencatatan yang terintegrasi menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pelayanan4. Sebagai pribadi ISFJ-T, saya cenderung teliti, teratur, dan memperhatikan detail sehingga dapat memanfaatkan data dan sistem yang tersedia untuk mendukung program dengan lebih baik. Di sisi lain, saya menyadari bahwa tantangan dalam pelaksanaan program TB-HIV tidak hanya berasal dari lingkungan kerja, tetapi juga dari karakter diri saya. Kelelahan tenaga kesehatan dapat membuat saya ikut merasa terbebani karena saya cenderung peduli terhadap kondisi anggota tim. Adanya stigma terhadap pasien juga dapat menjadi tantangan karena saya sering berusaha menjaga hubungan baik dengan semua orang dan terkadang merasa sulit menghadapi perbedaan pendapat atau konflik. Selain itu, kendala seperti kemungkinan adanya keterbatasan obat atau alat pemeriksaan dapat menimbulkan kekhawatiran karena saya memiliki sifat ingin memastikan pelayanan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, saya perlu belajar untuk lebih tenang dalam menghadapi masalah, bersikap tegas dalam mengambil keputusan, dan tetap memberikan dukungan kepada anggota tim sesuai dengan prinsip servant leadership.

Dalam mengatasi tantangan tersebut, saya akan menerapkan beberapa strategi sesuai dengan kepribadian saya sebagai ISFJ-T dan melalui model kepemimpinan servant leadership. Apabila tenaga kesehatan mengalami kelelahan kerja, saya akan mengatur pembagian tugas dan jadwal kerja secara lebih seimbang agar beban kerja tidak terlalu berat. Untuk mengurangi stigma terhadap pasien, saya akan mengadakan diskusi atau edukasi internal agar anggota tim memiliki pemahaman yang lebih baik dan dapat memberikan pelayanan tanpa diskriminasi. Pendekatan ini sejalan dengan servant leadership yang menekankan kepedulian, dukungan, dan pelayanan kepada anggota tim agar tujuan program dapat tercapai dengan baik1.

Dalam kapasitas sebagai pemimpin tim peningkatan mutu di Rumah Sakit (FKTL), sasaran keselamatan pasien yang saya pilih adalah sasaran 5: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi/PPI)2,5Infeksi yang terjadi selama pelayanan di rumah sakit merupakan salah satu indikator penting dalam mutu pelayanan karena dapat memperpanjang masa perawatan dan meningkatkan biaya pengobatan pasien. Sebagai seorang ISFJ-T, saya memiliki sifat yang cukup teliti, bertanggung jawab, dan peduli terhadap keselamatan pasien. Oleh karena itu, saya akan mendorong kepatuhan terhadap prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi dengan tetap memperhatikan kondisi dan kebutuhan tenaga kesehatan. Melalui pendekatan servant leadership, saya akan mengajak dan mendukung seluruh anggota tim untuk menerapkan cuci tangan sesuai prosedur (hand hygiene) 5 momen WHO serta menjaga kebersihan dan sterilisasi alat medis, terutama di unit dengan risiko tinggi seperti ICU, NICU, dan Kamar Operasi5. Saya percaya bahwa lingkungan kerja yang saling mendukung dan adanya kerja sama yang baik dapat meningkatkan kepatuhan tenaga kesehatan sehingga keselamatan pasien dapat terjaga.

Dalam menciptakan budaya keselamatan pasien, saya akan menerapkan prinsip servant leadership dengan membangun lingkungan kerja yang terbuka dan saling mendukung. Apabila terjadi masalah atau peningkatan kasus infeksi di rumah sakit, saya tidak akan langsung menyalahkan tenaga kesehatan yang terlibat6. Sebagai seorang ISFJ-T yang mengutamakan kerja sama dan hubungan yang baik dalam tim, saya akan mengajak seluruh anggota untuk bersama-sama mencari penyebab masalah dan menemukan solusi yang tepat. Melalui diskusi dan evaluasi bersama, setiap anggota tim dapat belajar dari kejadian yang terjadi tanpa rasa takut untuk menyampaikan pendapat atau kesalahan yang ditemukan. Dengan demikian, budaya keselamatan pasien dapat terbentuk dan kualitas pelayanan dapat terus ditingkatkan.

Tantangan yang mungkin saya hadapi adalah tingginya beban kerja tenaga kesehatan, serta menurunnya kepatuhan terhadap cuci tangan pada akhir jam kerja karena kelelahan. Sebagai seorang ISFJ-T, saya cenderung peduli terhadap kondisi anggota tim sehingga saya dapat merasakan tekanan yang mereka alami. Namun, sifat tersebut juga menjadi tantangan karena saya sulit menegur anggota tim yang tidak patuh terhadap prosedur. Oleh karena itu, melalui pendekatan servant leadership, saya akan berusaha membangun komunikasi yang baik, dan  mengajak seluruh anggota untuk saling mengingatkan tanpa menyalahkan individu.

Dalam pelaksanaan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), terdapat peluang berupa adanya standar akreditasi rumah sakit (KARS/Starkes) yang mewajibkan pemantauan dan pelaporan indikator mutu PPI secara berkala2,5. Sebagai seorang ISFJ-T yang teratur, saya dapat memanfaatkan data dan sistem yang tersedia untuk melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Melalui pendekatan servant leadership, saya akan mengajak seluruh anggota tim untuk bekerja sama dalam meningkatkan kepatuhan terhadap program PPI sehingga mutu pelayanan dan keselamatan pasien dapat terus ditingkatkan.

Sebagai langkah antisipatif, saya akan mendorong peningkatan kepatuhan terhadap program PPI dengan memberikan apresiasi kepada tenaga kesehatan yang menjalankan prosedur pencegahan infeksi dengan baik. Saya juga akan menunjuk petugas atau anggota tim di setiap unit untuk menjadi penggerak PPI yang dapat memberikan edukasi, mengingatkan rekan kerja, dan membantu ketika terdapat kendala dalam pelaksanaan prosedur. Selain itu, saya akan memastikan ketersediaan sarana dan prasarana PPI, seperti fasilitas cuci tangan dan alat pelindung diri, agar mudah dijangkau oleh tenaga kesehatan. Sebagai seorang ISFJ-T, saya cenderung memperhatikan kebutuhan anggota tim, sedangkan melalui pendekatan servant leadership saya akan berupaya memberikan dukungan dan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman sehingga kepatuhan terhadap PPI dapat meningkat dan keselamatan pasien tetap terjaga.

Berdasarkan hasil analisis, kepribadian ISFJ-T memiliki hubungan yang kuat dengan model kepemimpinan servant leadership dalam pelayanan kesehatan. Sifat teliti, bertanggung jawab, peduli, dan mampu bekerja sama menjadi kelebihan yang dapat mendukung peran seorang pemimpin. Pada program ko-infeksi TB-HIV di puskesmas, karakter tersebut membantu dalam membangun kerja sama antarprogram, meningkatkan koordinasi tim, serta memastikan pelayanan kepada pasien berjalan dengan baik. Sementara itu, dalam upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di rumah sakit, pendekatan servant leadership dapat menciptakan budaya keselamatan pasien melalui kerja sama, komunikasi yang terbuka, dan dukungan kepada tenaga kesehatan. Meskipun sebagai seorang ISFJ-T saya terkadang merasa kurang tegas dan cenderung menghindari konflik, hal tersebut dapat diatasi dengan membangun komunikasi yang baik, meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan, serta menerapkan kepemimpinan yang berfokus pada pelayanan dan dukungan kepada anggota tim. Dengan demikian, penerapan servant leadership sesuai dengan karakter ISFJ-T dan dapat membantu menciptakan pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan berorientasi pada keselamatan pasien.


Pernyataan orisinalitas karya tulis

        Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

Daftar Pustaka

  1. Giltinane CL. Leadership styles and theories in nursing and health care. Nurs Stand. 2013;27(41):35-9.
  2. Leggat SG, Balding C. Integrated governance as a framework for managing quality and safety in health care: an Australian case study. Health Services Management Research. 2013;26(1):11-20.
  3. World Health Organization. WHO operational handbook on tuberculosis: module 2: screening: systematic screening for tuberculosis disease. Geneva: World Health Organization; 2021.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2016.
  5. World Health Organization. Guidelines on core components of infection prevention and control programmes at the national and acute health care facility level. Geneva: World Health Organization; 2016
  6. Sammer CE, Lykens K, Singh KP, Mains DA, Lackan NA. What is patient safety culture? A review of the literature. J Nurs Scholarsh. 2010;42(2):156-65



Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T