Seorang ENFJ-A sebagai Pemimpin Situasional
Seorang ENFJ-A sebagai Pemimpin Situasional
Nama: Debora Olga
NIM : 23.P1.0004
MBTI
adalah tes asesmen psikologi yang mengelompokkan kepribadian manusia ke dalam
16 tipe spesifik1. Dalam bidang kedokteran, pemahaman mengenai
dimensi kepribadian sangat penting karena dapat membantu seseorang mengenali
cara berpikir, cara mengambil keputusan, serta pola interaksi dengan orang
lain. Saat memasuki dunia profesional,
pemahaman terhadap kepribadian juga dapat membantu tenaga medis menyesuaikan
pendekatan dalam pelayanan pasien maupun kerja sama dengan tim kesehatan2.
Setiap
tipe kepribadian dalam tes MBTI tersusun atas beberapa komponen dimensi
kepribadian. Dimensi tersebut menjadi dasar dalam menggambarkan bagaimana
individu memperoleh energi, memproses informasi, mengambil keputusan, serta
mengatur pola hidupnya. Berdasarkan tes MBTI yang telah saya
lakukan, saya memperoleh hasil Protagonis (ENFJ-A), dengan masing-masing
dimensi sebagai berikut.
- Extraversion (E): Melihat apakah seseorang lebih memilih untuk mengarahkan energi dan fokus mereka pada dunia luar (interaksi dengan orang lain dan aktivitas lingkungan)
2. Intuition (N): Melihat apakah seseorang
menyerap informasi dengan cara melihat pola, makna tersembunyi, dan kemungkinan
di masa depan, bukan sekadar fakta konkret.
3. Feeling (F): Melihat apakah seseorang
mengambil keputusan mengandalkan nilai-nilai pribadi, empati, serta
mempertimbangkan dampak keputusan tersebut terhadap orang lain.
4. Judging (J): Melihat apakah seseorang
menjalani hidup di dunia luar dengan pendekatan yang terstruktur, terencana,
dan terorganisir, serta lebih menyukai kepastian2.
5. Assertive (A): Melihat apakah seseorang
memiliki ketahanan emosional yang stabil, merasa percaya diri atas keputusan
yang diambil, serta tidak mudah cemas atau berlarut-larut dalam penyesalan
ketika menghadapi tekanan maupun kegagalan3.
Julukan
“protagonis” diberikan bagi mereka punya dorongan alami untuk membantu orang
lain dan selalu ingin membawa dampak positif bagi lingkungannya. Cara mereka
menggerakkan orang pun bukan dengan memaksa, melainkan lewat ketulusan dan rasa
empati. Selain itu, mereka sangat peka melihat potensi bagus dalam diri
seseorang lalu berusaha menyemangatinya. Namun, sisi ini sekaligus menjadi
kelemahan dari mereka. Mereka terlalu idealis ingin membantu semua orang dan
mengesampingkan batas kapasitas diri sendiri sehingga berakhir lelah secara
fisik dan mental. Bahkan, mereka mudah kecewa jika menemui orang dengan prinsip
yang berlawanan, bahkan tanpa sadar terkesan mengajari orang lain supaya mereka
mau berubah1.
Saya
merasa tipe kepribadian Protagonis (ENFJ-A) cukup sesuai dengan diri saya.
Meskipun ENFJ sering digambarkan sebagai komunikator di garis depan, saya
justru lebih nyaman bekerja sebagai penggerak di balik panggung. Dalam dinamika
kelompok, jika bisa memilih, saya memilih untuk mengambil peran yang tidak
menjadi pusat perhatian, meskipun tugas tersebut lebih berat dibandingkan
mereka yang tampil di atas panggung. Bagi saya, melihat keberhasilan suatu
pekerjaan dari balik panggung sudah memberikan kepuasan tersendiri. Demikian
pula dalam hal berdiskusi kelompok, saya cenderung lebih banyak mendengarkan
terlebih dahulu untuk memahami sudut pandang orang lain, kemudian menyampaikan
pendapat apabila terdapat hal yang perlu ditambahkan atau diluruskan. Di sisi
lain, saya juga menyadari bahwa saya sering kali terlalu berusaha membantu dan
memenuhi harapan orang lain, sehingga terkadang mengabaikan kondisi diri
sendiri.
Gaya
kepemimpinan di balik layar ini sebenarnya memberi kelebihan karena membuat
anggota kelompok merasa aman untuk tampil di depan. Kebiasaan saya mendengarkan
lebih dulu juga membuat keputusan kelompok terasa lebih adil karena sudah
menampung semua sudut pandang. Namun di sisi lain, kelemahan saya justru muncul
dari rasa sungkan untuk meminta bantuan. Ketika ada bagian tugas yang rumit
atau kurang menyenangkan, saya seringkali terjebak overthinking yang
menebak-nebak. Saya khawatir apakah anggota lain sebenarnya mampu dan tulus mau
mengerjakannya, atau mereka hanya mengiyakan karena terpaksa. Akibat dari rasa
tidak enak ini, pada akhirnya saya akan mengerjakan tugas tersebut sebisa saya.
Dampaknya, ritme kerja kelompok menjadi kurang sehat karena saya tanpa sadar
menutup kesempatan anggota lain yang ingin belajar, sekaligus membiarkan diri
saya sendiri menumpuk beban yang bagi saya sendiri pun terlalu berat.
Sebagai
seorang ENFJ-A, saya merasa lebih cocok memimpin dengan tipe kepemimpinan
situasional. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa pendekatan memimpin harus
fleksibel mengikuti situasi dan kondisi4. Gaya kepemimpinan ini
memungkinkan saya untuk memantau tim tanpa harus turun tangan langsung selama
anggota tim mampu memahami dan melaksanakan tugasnya. Melalui cara ini, saya
berharap semua anggota tim dapat menyelesaikan tugasnya sesuai cara kerja dan
kemampuannya masing-masing, sehingga berpotensi menghasilkan output
terbaik versi mereka. Selain itu, gaya kepemimpinan ini memberi fleksibilitas
yang lebih besar untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam kelompok
maupun lingkungan eksternal. Kelebihan kepemimpinan situasional juga diperkuat
oleh literatur psikologi organisasi oleh Sahala dkk yang membuktikan bahwa
penerapan kepemimpinan situasional berpengaruh signifikan terhadap kinerja tim,
karena anggota merasa diberi kebebasan untuk bekerja menggunakan kapasitas
terbaiknya5.
Kekuatan
utama saya dalam menerapkan kepemimpinan situasional adalah kesabaran dalam
mendengarkan pendapat orang lain, kesediaan mengalah demi kepentingan bersama,
serta prinsip untuk menjaga kenyamanan kelompok. Hal ini membuat saya cenderung
tidak memaksakan anggota tim bekerja di luar batas kemampuannya. Namun, saya
masih sering ragu meminta bantuan dan cenderung mengabaikan kondisi diri
sendiri. Saat ada tugas yang tertinggal, saya lebih memilih mengambil alihnya
daripada membebani anggota lain. Akibatnya, kelompok tetap berjalan nyaman,
tetapi hasil akhir pekerjaan tersebut berisiko menjadi kurang maksimal.
Apabila
kelak saya diberi kepercayaan menjadi koordinator kegiatan lintas program
penanganan TBC-HIV di Puskesmas X, saya akan menjalankan peran tersebut dengan
model kepemimpinan situasional karena program ini melibatkan tenaga kesehatan
dengan kemampuan, kesiapan, dan peran yang berbeda. Saya akan menyesuaikan gaya
kepemimpinan sesuai kebutuhan tim, mulai dari memberi arahan, mendampingi,
hingga memberi tanggung jawab kepada petugas sesuai dengan kemampuannya.
Langkah advokasi dilakukan dengan mendorong layanan TBC-HIV yang saling
terhubung antara pasien dengan tenaga kesehatan, mudah diakses, dan
mengedepankan kenyamanan serta keamanan pasien.
Penguatan
tim dilakukan melalui pembagian tugas yang jelas, mengusahakan memberi
kesempatan bagi setiap petugas untuk menggunakan dan mengembangkan kemampuan,
serta memberi apresiasi atas setiap kerja petugas. Koordinasi lintas sektor dan
kolaborasi interprofesional dijalankan melalui keterlibatan dokter, perawat,
penanggung jawab program, kader, dan komunitas dalam layanan satu atap,
sehingga skrining TBC, tes HIV, pemberian obat-obatan, serta intervensi
terhadap pasien dapat dilakukan dengan lebih mudah, cepat, dan dapat menjangkau
lebih banyak pasien yang membutuhkan.
Monitoring
dan evaluasi dilakukan melalui pencatatan indikator secara rutin serta validasi
data antara SITB dan SIHA. Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah dukungan
komunitas dalam edukasi, pendampingan minum obat, dan pelacakan kontak,
sedangkan tantangannya meliputi stigma sosial, pencatatan ganda, risiko pasien
hilang saat rujukan, serta risiko penularan TBC pada ODHIV6. Untuk
mengatasinya, saya akan memperkuat alur layanan, menerapkan pencegahan dan
pengendalian infeksi, serta mengatur jadwal layanan bila ruang terbatas
sehingga tenaga kesehatan dan pasien merasa nyaman. Selain itu, saya akan
mengubah kecenderungan saya yang selama ini sungkan meminta pertolongan menjadi
sebuah strategi pemberdayaan tim yakni dengan memberikan pelatihan serta
pembagian tanggung jawab sesuai proporsi anggota. Langkah ini bertujuan supaya
beban kerja tidak lagi terpusat pada satu orang, melainkan terdistribusi dengan
baik, sehingga program berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.
Apabila
saya menjadi pemimpin tim peningkatan mutu, saya akan berfokus pada perbaikan
komunikasi efektif. Upaya ini dilakukan dengan memberikan arahan teknis bagi
staf junior dan pendampingan bagi staf senior dalam prosedur komunikasi standar
seperti handover dan pelaporan kritis. Hal ini diharapkan dapat
menciptakan ruang interaksi yang saling percaya dan kolaboratif, di mana tenaga
kesehatan merasa aman untuk menyampaikan ide maupun laporan tanpa takut
menyinggung orang lain. Tantangan utama yang kemungkinan akan mempengaruhi
upaya ini meliputi adanya hierarki profesional yang menghambat keterbukaan
serta sensitivitas terhadap perubahan kebiasaan komunikasi verbal yang
informal. Namun, peluang besar dapat dimanfaatkan melalui tingginya komitmen
tenaga kesehatan terhadap kualitas layanan jika mereka dilibatkan langsung
dalam menyusun panduan komunikasi yang praktis. Sebagai langkah antisipasi,
saya akan mengombinasikan coaching personal dengan evaluasi berkala,
serta mendelegasikan tanggung jawab kepada setiap kepala ruang agar budaya
komunikasi efektif terdistribusi merata dan tidak hanya terpusat pada kebijakan
manajemen, sehingga tercipta sistem pelayanan yang aman bagi pasien dan
lingkungan kerja yang nyaman bagi tenaga kesehatan7.
Pemahaman mengenai tipe kepribadian ENFJ-A membantu saya menyelaraskan empati dan keteraturan dalam gaya kepemimpinan situasional yang fleksibel dan berorientasi pada pemberdayaan tim. Melalui pembagian tugas yang proporsional dan kolaborasi interprofesional, saya berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi anggota tim demi mencapai keberhasilan program kesehatan yang efisien. Saya juga menyadari pentingnya mengubah kecenderungan personal yang sungkan meminta bantuan menjadi strategi kepemimpinan yang komunikatif dan inklusif guna menjamin keberlanjutan layanan. Secara keseluruhan, integrasi antara kesadaran diri dan penerapan komunikasi efektif menjadi pondasi utama dalam mewujudkan lingkungan kerja yang aman serta pelayanan pasien yang lebih bermutu.
Daftar Pustaka
- 16 Personalities. ENFJ
Personality (Protagonist) [Internet]. 16Personalities; [cited 2026 Jun
27]. Available from: https://www.16personalities.com/enfj-personality
- Chang YC, Tseng HM, Xiao X,
Ngerng RYL, Wu CL, Chaou CH. Examining the association of career stage and
medical specialty with personality preferences: a cross-sectional survey
of junior doctors and attending physicians from various specialties. BMC
Med Educ. 2019;19:363. doi:10.1186/s12909-019-1789-2.
- 16 Personalities. Identity:
Assertive (-A) vs. Turbulent (-T) [Internet]. 16Personalities; [cited 2026
Jun 27]. Available from: https://www.16personalities.com/articles/identity-assertive-vs-turbulent
- Andreansyah R, Muttaqien MI.
Konsep dasar kepemimpinan: dari definisi hingga tipologi pemimpin efektif.
Akhlak. 2025;2(1):159-66. doi:10.61132/akhlak.v2i1.313.
- Pasaribu SB, Goestjahjanti FS,
Srinita S, Novitasari D, Haryanto B. The role of situational leadership on
job satisfaction, organizational citizenship behavior (OCB), and employee
performance. Front Psychol. 2022;13:896539. doi:10.3389/fpsyg.2022.896539.
- Indonesia. Kementerian
Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC-HIV. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI;
2023.
- Meneses-La-Riva ME, Fernández-Bedoya VH, Suyo-Vega JA, Ocupa-Cabrera HG, Grijalva-Salazar RV, Ocupa-Meneses GDD. Enhancing healthcare efficiency: the relationship between effective communication and teamwork among nurses in Peru. Nurs Rep. 2025;15(2):59. doi:10.3390/nursrep15020059.
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

Komentar
Posting Komentar