Saya ISTJ-A, Tapi Harus Jadi Pemimpin Fleksibel: Drama Kepemimpinan Situasional di Program TB-HIV


Nama: Christabella Benita Antoni

NIM: 23.P1.0039

Kepribadian ISTJ (Ahli Logistik) | 16Personalities

Pernyataan orisinalitas karya tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.


  1. Konteks dan latar belakang

Berdasarkan hasil MBTI, saya memiliki kepribadian ISTJ-A (Introverted, Sensing, Thinking, Judging - Assertive). Menurut Jasna Ani, individu dengan tipe kepribadian ISTJ-A (Assertive Logistician) cenderung memiliki keyakinan yang kuat terhadap keputusan yang diambil, berpegang teguh pada prinsip yang dimiliki, serta mengutamakan logika dan objektivitas dalam menghadapi berbagai situasi. Mereka juga dikenal sebagai pribadi yang realistis, konsisten, dan memiliki komitmen yang tinggi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan1.

Menurut saya hasil tersebut cukup sesuai dengan saya. Saya selalu yakin dengan keputusan yang telah saya ambil dan jarang berubah pikiran walaupun kadang tidak mempertimbangkannya dengan baik. Ketika menghadapi masalah saya cenderung lebih melihat secara logis dan realistis daripada mengikuti perasaan saya. Contoh yang selalu saya terapkan sampai saat ini adalah saya selalu berusaha menyelesaikan semua tugas tugas kelompok yang sudah diberikan dan memastikan tugas tersebut tidak dikerjakan secara asal asalan oleh teman saya. Dalam kerja kelompok saya berharap setiap orang dapat menjalankan tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya masing masing bukan hanya sekedar selesai. 

Menurut teman teman saya dan saya juga meyakini ini adalah saya termasuk orang yang cukup blak-blakan dan lebih suka menyampaikan sesuatu secara langsung daripada berputar putar. Saya lebih memilih membicarakan suatu masalah secara terbuka daripada memendamnya. 

Setelah saya merefleksikan mengenai karakteristik kepribadian saya, menurut saya karakter tersebut juga memiliki beberapa kekurangan. Karena terlalu berpegang pada prinsip yang saya yakini, saya cenderung menjadi terlalu keras kepala dan ingin semuanya berjalan sesuai dengan apa yang saya anggap benar. Tapi sampai saat ini saya masih mencoba untuk lebih terbuka terhadap pendapat orang lain, lebih sabar kalau ada perbedaan pendapat, serta lebih menerima ketika situasi tidak sesuai dengan yang saya harapkan walaupun kadang tidak berhasil. Namun saya sungguh berharap dapat menjadi pribadi yang mampu bekerja sama dengan orang lain.



  1. Model kepemimpinan yang relevan

    Kepemimpinan Situasional dalam Manajemen Air Minum - PT Expertindo Training  | Training dan Konsultan

Berdasarkan penilaian karakteristik yang telah saya lakukan, model kepemimpinan yang menurut saya sesuai dengan saya adalah kepemimpinan situasional. Teori yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard menyebutkan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan yang baik buat semua keadaan. Seorang pemimpin seharusnya bisa menyesuaikan cara memimpinnya sesuai dengan kondisi yang dihadapi, jenis pekerjaan, serta kemampuan anggota tim yang dipimpinnya2.

Saya memilih model kepemimpinan tersebut karena tidak semua anggota kelompok saya dapat diperlakukan dengan sama karena memiliki kapasitas, cara kerja, dan kecepatan kerja yang berbeda beda. Ada anggota kelompok yang sudah paham dengan tugasnya dan dapat bekerja dengan baik sehingga saya bisa memberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar kepada mereka, sebaliknya apabila terdapat anggota yang masih kesulitan saya akan memberikan arahan dan motivasi agar pekerjaan dapat diselesaikan.  Karakteristik saya sebagai seseorang yang memiliki sifat sensing dan thinking membuat saya bisa menilai kemampuan anggota tim secara realistis bukan cuman karena perasaan saya saja. 

Saya sendiri menyadari bahwa penerapan model kepemimpinan ini tidak selalu mudah apalagi setiap anggota memiliki karakter dan cara bekerja yang berbeda beda. Penerapan gaya kepemimpinan ini dipengaruhi oleh kekuatan dan keterbatasan diri saya. Kekuatan saya dalam hal konsistensi, objektivitas, dan ketegasan menjadi hal yang penting agar kelompok saya tetap berada di jalur yang benar dan setiap anggota merasa bahwa pembagian yang saya lakukan sudah adil sesuai dengan kemampuan setiap anggota kelompok. Di sisi lain, keterbatasan saya yang cenderung keras kepala, kaku pada prinsip saya pribadi, dan sulit menerima jika cara kerja tidak sesuai dengan standar yang saya mau dapat menjadi penghambat terbesar. Hal ini lah yang membuat saya mengawasi terlalu ketat karena khawatir jika tugas dikerjakan asal asal. Selain itu gaya bicara saya yang terlalu langsung juga bisa menyebabkan penurunan motivasi anggota tim saya. 


  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Jika saya menjadi koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di puskesmas, saya akan memadukan karakteristik saya sebagai ISTJ-A dengan model kepemimpinan situasional. Program penanganan penyakit ini melibatkan banyak pihak mulai dari dokter, perawat, analis laboratorium, hingga kader kesehatan di masyarakat. 

Masing masing pihak pasti memiliki kemampuan, pemahaman, motivasi kerja yang berbeda beda sehingga saya dituntut untuk lebih fleksibel, kapan saya harus memberikan arahan ketat dan kapan saya harus memberikan kepercayaan penuh pada tim saya. Hal ini saya lakukan demi memastikan program yang sedang saya dan tim kerjakan dapat selesai dengan standar yang baik.

  1. Advokasi

Dalam hal ini saya akan mencoba berkoordinasi dengan kepala puskesmas dan pemegang program dimana saya akan menyajikan data mengenai tren kasus infeksi TB-HIV di puskesmas beserta dengan dampaknya. Saya akan meyakinkan mereka untuk menyetujui dan mendukung program ini dan membuat surat keputusan yang berisi SOP masing masing profesi dan yang paling penting adalah meminta dukungan anggaran operasional di lapangan. 

  1. Penguatan tim

Pendekatan yang saya lakukan untuk memperkuat kerja tim saya bagi menjadi dua. Pertama adalah mengarahkan, dimana saya akan terapkan kepada staf yang baru atau yang belum paham mengenai alur program penyakit ini. SOP yang sudah tertulis membantu menetapkan target harian yang terukur dan porsi apa saja yang harus mereka lakukan sehingga mereka tidak kebingungan saat bekerja. Kedua adalah dukungan, pendekatan ini saya berikan untuk petugas yang sudah memiliki pengalaman. Saya tidak akan terlalu banyak mengatur pekerjaan mereka melainkan saya akan memberikan kepercayaan serta menjadi tempat berdiskusi apabila terdapat kendala dalam pelaksanaan program.

  1. Koordinasi lintas sektor

Disini saya akan melibatkan Dinas Kesehatan, kader masyarakat, pemerintah setempat, dan tokoh masyarakat karena program penanganan penyakit ini tidak bisa berjalan jika hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan dari masyarakat

  1. Kolaborasi interprofesional

Di dalam lingkungan puskesmas saya akan melibatkan berbagai profesi kesehatan sesuai dengan tugasnya masing masing, seperti dokter berperan dalam diagnosis dan pengobatan, perawat dalam pendampingan pasien, analis laboratorium dalam pemeriksaan penunjang, serta tenaga farmasi dalam menjamin ketersediaan obat. Kerjasama antar profesi ini sangat diperlukan akan pelayanan program ini dapat berjalan dengan baik

  1. Monitoring dan evaluasi

Monitoring dan evaluasi akan saya lakukan secara berkala setiap minggunya untuk melihat apakah program sudah berjalan sesuai dengan target yang sudah ditentukan sejak awal. Evaluasi dilakukan dengan melihat kendala apa saya yang ditemukan setiap anggota tim serta memberikan solusi yang mungkin untuk dilakukan.


  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

Jika saya dipercaya menjadi pemimpin untuk peningkatan mutu di FKTL saya akan memilih sasaran Pencegahan dan Pengendalian infeksi (PPI). Menurut Permenkes Nomor 27 Tahun 2017, PPI merupakan upaya untuk mencegah dan meminimalkan infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas kesehatan3. Oleh karena itu penerapan PPI menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga mutu pelayanan dan keselamatan seluruh pihak di rumah sakit.

Berdasarkan model kepemimpinan situasional yang saya pilih, saya akan menciptakan budaya keselamatan bagi pasien dan tenaga kesehatan dengan memastikan seluruh anggota tim memahami pentingnya kepatuhan terhadap PPI. contohnya apabila terdapat petugas yang baru bergabung, saya akan memastikan mereka memahami prosedur PPI yang berlaku. Sebaliknya, apabila seluruh anggota tim sudah terbiasa dan mampu menjalankan prosedur dengan baik, saya lebih fokus untuk menjaga komunikasi dan memastikan standar yang sudah ada tetap dijalankan.

Tantangan yang dapat muncul adalah adanya tenaga kesehatan yang lupa atau tidak terbiasa menjalankan prosedur PPI, selain itu bisa juga terdapat keterbatasan sarana seperti alat pelindung diri atau fasilitas kebersihan tangan yang berpengaruh dalam pelaksanaan program ini, dan tidak semua orang memiliki tingkat pemahaman yang sama tentang pentingnya kepatuhan terhadap PPI. 

Peluang yang bisa dimanfaatkan disini adalah adanya aturan akreditasi FKTL yang mewajibkan PPI ini untuk berjalan, sehingga saya mempunyai alasan yang kuat untuk mengusulkan anggaran ke pihak management untuk membeli dan melengkapi kebutuhan sarana yang masih kurang. 

Langkah antisipasi yang dapat saya lakukan adalah melakukan evaluasi terhadap kepatuhan program setiap minggunya, melakukan edukasi dan pelatihan secara berkala, dan menggunakan data surveilans infeksi sebagai bahan perbaikan program PPI.


  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil MBTI, saya memiliki kepribadian ISTJ-A yang cukup sesuai dengan karakter saya yang cenderung realistis, tegas, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang diberikan. Saya memilih model kepemimpinan situasional yang merupakan model yang paling sesuai karena menurut saya tidak semua orang dapat dipimpin dengan cara yang sama. Model kepemimpinan ini saya terapkan dalam penanganan program TB-HIV di puskesmas maupun dalam FKTL melalui program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Saya menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin bukan hanya tentang memastikan pekerjaan selesai, tetapi juga tentang bagaimana bekerja sama dengan orang lain yang memiliki karakter dan cara kerja yang berbeda-beda.


  1. Daftar Pustaka

  1. Ani J. A Closer Look at the Differences Between ISTJ-A and ISTJ-T. MyPersonality; 2024 [cited 2026 Jun 23]. Available from: https://mypersonality.net/blog/article/istj-a-istj-t

  2. Hersey P, Blanchard KH. Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources. 4th ed. Englewood Cliffs (NJ): Prentice-Hall; 1982.

  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2017.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T