Menjadi Pemimpin yang Terstruktur: Perspektif Kepemimpinan ISTJ-T
Menjadi Pemimpin yang Terstruktur: Perspektif Kepemimpinan ISTJ-T
Nama : Juventa Kolina Lim
NIM : 23.P1.0036
Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan Latar Belakang Personal
Berdasarkan hasil asesmen yang telah saya lakukan, saya memperoleh tipe kepribadian ISTJ-T (Introverted, Sensing, Thinking, Judging-Turbulent) pada tes Myer-Briggs Type Indicator (MBTI)1-2. Selain itu, saya juga melakukan tes temperamen dan hasil tes tersebut menunjukkan bahwa saya memiliki kecenderungan sebagai individu tipe phlegmatis, yaitu pribadi yang tenang, sabar, mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain, dan cenderung menghindari konflik3. Kedua hasil asesmen tersebut memberikan gambaran mengenai cara saya berpikir, mengambil keputusan, berinteraksi dengan orang lain, serta menjalankan tanggung jawab dalam berbagai aktivitas akademik maupun organisasi, karakter, individu, cara berpikir, cara berinteraksi dengan orang lain, serta potensi yang saya miliki dalam menjalankan peran sebagai mahasiswa maupun calon pemimpin.
Gambar 1.1. Phlegmatis Gambar 1.2. MBTI ISTJ-T
Hasil asesmen menunjukkan bahwa saya termasuk dalam tipe ISTJ-T, yaitu individu yang cenderung terorganisasi, sistematis, berorientasi pada fakta, logis, serta memiliki komitmen tinggi terhadap tanggung jawab1-2. Karakteristik tersebut berpadu dengan sifat phlegmatis yang membuat saya lebih memilih bekerja secara tenang, telitim konsisten, dam mampu menjaga suasana kerja sama yang harmonis3. Saya merasa hasil tersebut cukup sesuai dengan diri saya karena dalam menyelesaikan suatu tugas saya lebih menyukai perencanaan yang jelas, pembagian tugas yang terstruktur, serta berusaha memastikan setiap pekerjaan selesai sesuai target. Saya juga cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan data dan kondisi yang ada sebelum bertindak.
Karakteristik tersebut tercermin dalam beberapa pengalaman yang saya miliki. Seperti pada kegiatan Problem Based Learning (PBL), saya pernah dipercaya sebagai ketua kelompok. Dalam peran tersebut saya bertanggung jawab mengatur jalannya diskusi, membagi tugas kepada setiap anggota, memastikan seluruh anggota dapat berpartisipasi, seta mengarahkan kelompok agar mampu menyelesaikan analisis kasus sesuai waktu yang telah ditentukan. Selain itu, pada kegiatan Soegijapranata Catholic University Community Project (SCP) saya berperan sebagai anggota yang aktif berkontribusi dalam penyusunan laporan, pembuatan poster, serta mengikuti kunjungan lapangan ke puskesmas bersama anggota kelompok lainnya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa saya lebih nyaman memimpin melalui perencanaan, koordinasi, dan pemberian contoh dalam menyelesaikan pekerjaan dibandingkan dengan gaya kepemimpinan yang bersifat dominan. Sikap tenang, bertanggungjawab, dan kooperatif yang dimiliki individu phlegmatis juga membantu saya menjaga komunikasi yang baik sehingga tujuan kelompok dapat dicapai secara efektif.
Sebagai seorang calon pemimpin, saya menyadari bahwa masih terdapat beberapa aspek yang perlu saya kembangkan. Karakter ISTJ-T membuat saya terkadang terlalu berhati-hati, mudah mengkhawatirkan hasil pekerjaan, serta kurang percaya diri ketika harus mengambil keputusan secara cepat dalam situasi yang tidak terduga. Di sisi lain, sifat phlegmatis menyebabkan saya cenderung menghindarkan konflik dan kurang tegas ketika harus memberikan kritik atau menghadapi perbedaan pendapat. Oleh karena itu, saya perlu meningkatkan kemampuan komunikasi yang lebih asertif, keberanian dalam mengambil keputusan di bawah tekanan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta keterampilan memotivasi anggota tim. Dengan terus mengembangkan aspek-aspek tersebut, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang tidak hanya terstruktur dan bertanggung jawab, tetapi juga lebih fleksibel, inspiratif, dan mampu memberdayakan anggota tim dalam mencapai tujuan bersama.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Gambar 1.4 Model Kepemimpinan Transaksional
Model kepemimpinan yang saya pilih sebagai model yang paling relevan adalah model kepemimpinan transaksional. Model ini menekankan hubungan antara pemimpin dan anggota melalui pembagian tugas yang jelas, penetapan target, pemantauan pelaksanaan pekerjaan, serta pemberian umpan balik berdasarkan pencapaian yang telah ditetapkan4-5. Saya memilih model ini karena sesuai dengan karakter saya yang lebih menyukai sistem kerja yang terstruktur, memiliki aturan yang jelas, serta berorientasi pada penyelesaian tugas secara efektif. Pengalaman saya sebagai ketua kelompok PBL juga menunjukkan penerapan karakteristik tersebut, yaitu dengan membagi tugas sesuai kemampuan anggota, mengoordinasikan jalannya diskusi dan memastikan setiap anggota menyelesaikan tanggung jawabnya tepat waktu. Pendekatan tersebut membuat proses kerja kelompok menjadi lebih terarah dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Karakteristik kepemimpinan ini selaras dengan hasil asesmen MBTI saya. Sebagai individu ISTJ-T, saya cenderung berpikir logis, sistematis, disiplin, dan bertanggung jawab, sedangkan sifat phlegmatis saya lebih cenderung tenang, sabar, serta mampu menjaga hubungan kerja yang harmonis. Karakteristik tersebut mendukung peran seorang pemimpin transaksional yang berfokus pada kejelasan tujuan, kepatuhan terhadap aturan, pengawasan terhadap pelaksanaan tugas, serta evaluasi hasil kerja anggota4-5. Meskipun memiliki beberapa kekuatan yang mendukung penerapan kepemimpinan transaksional, saya juga menyadari adanya keterbatasan yang perlu dikembangkan. Terkadang saya terlalu berhati-hati dan kurang fleksibel ketika menghadapkan perubahan serta saya cenderung menghindari konflik dan kurang tegas ketika harus memberikan koreksi kepada anggota tim. Oleh karena itu, saya perlu mengembangkan kemampuan komunikasi yang lebih asertif, meningkatkan fleksibilitas dalam menghadapi dinamika kelompok, serta memperkuat kemampuan memotivasi anggota agar kepemimpinan yang saya terapkan tidak hanya berorientasi pada pencapaian target tetapi sya juga mampu meningkatkan keterlibatan dalam semangat kerja tim.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV
Apabila saya dipercaya menjadi koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di puskesmas X, saya akan menerapkan model kepemimpinan transaksional dengan menekankan pembagian tugas yang jelas, adanya penetapan target, serta monitoring dan evaluasi secara berkala4-5. Saya akan memulai dengan melakukan advokasi kepada kepala puskesmas dan yang memegang kepentingan untuk memperoleh dukungan program, kemudian saya akan memperkuat tim melalui pembagian peran sesuai kompetensi. Selanjutnya, saya akan membangun koordinasi lintas sektor dengan dinas kesehatan, rumah sakit, kepala daerah, dan organisasi masyarakat sekitar, serta meningkatkan kolaborasi interprofesional melalui komunikasi rutin dan diskusi kasus agar pelayanan TB-HIV berjalan secara terintegrasi6-8. Monitoring dan evaluasi juga dilakukan dengan menggunakan indikator program seperti skrining TB-HIV, keberhasilan pengobatan, dan ketepatan pelaporan6-7. Peluang yang dapat dimanfaatkan meliputi dukungan kebijakan nasional, sistem informasi kesehatan dan keterlibatan masyarakat, sedangkan tantangan yang mungkin dihadapi adalah keterbatasan sumber daya, koordinasi yang belum optimal, kepatuhan pasien yang rendah, serta stigma terhadap TB-HIV. Maka dari itu, untuk mengatasinya saya akan menerapkan komunikasi yang terstruktur, pembagian tugas yang tegas, pemberian umpan balik, serta edukasi kepada pasien dan masyarakat sehingga target program dapat dicapai secara efektif4-5, 8-9.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Gambar 1.3. Komunikasi Efektif
Apabila saya dipercaya menjadi pemimpin tim peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan menerapkan model kepemimpinan transaksional dengan berfokus pada sasaran keselamatan pasien berupa komunikasi efektif. Saya akan menetapkan standar komunikasi menggunakan metode SBAR (Situation Background Assessment Recommendation), membagi tugas secara jelas, melakukan supervisi rutin, serta memberikan umpan balik berdasarkan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap standar komunikasi yang telah ditetapkan4-5, 10. Tantangan yang mungkin dihadapi meliputi resistensi terhadap perubahan beban kerja yang tinggi, dan ketidakkonsistenan penerapan komunikasi efektif. Sedangkan peluang yang dapat dimanfaatkan adalah adanya standar akreditasi rumah sakit, dukungan manajemen, dan pelatihan keselamatan pasien. Sebagai langkah antisipasi, saya akan menyelenggarakan pelatihan berkala, melakukan audit dan monitoring kepatuhan, memberikan umpan balik secara konstruktif, serta memberikan apresiasi kepada unit yang berhasil menerapkan komunikasi efektif secara konsisten sehingga budaya keselamatan dapat terus berkembang4, 10-12.
Kesimpulan
Berdasarkan karakteristik kepribadian ISTJ-T dan temperamen phlegmatis mendukung saya dalam menerapkan model kepemimpinan transaksional yang berorientasi pada keteraturan, tanggung jawab, dan pencapaian tujuan secara efektif. Model kepemimpinan ini sesuai dengan pengalamannya dalam kegiatan akademik maupun organisasi. Meskipun demikian, saya masih perlu mengembangkan kemampuan komunikasi yang lebih asertif, fleksibilitas dalam menghadapi perubahan, serta ketegasan dalam mengambil keputusan. Dengan pengembangan tersebut, saya berharap mampu menjadi pemimpin yang profesional, kolaboratif, dan berkontribusi dalam meningkatkan mutu pelayanan serta keselamatan pasien dan tenaga kesehatan di masa yang mendatang.
Daftar Pustaka
Lloyd JB. The Myers-Briggs Type Indicator and mainstream psychology: analysis and evaluation of an unresolved hostility. J Beliefs Values. 2012;33(1):23–34.
Tshimula JM, Galekwa RM, Chikhaoui B. A critical analysis of MBTI-based personality profiling with large language models. Front Comput Neurosci. 2026;20:1800284.
Cherry K. What Is the Phlegmatic Temperament? Verywell Mind. Updated 2024.
Santosa S, Nuryakin, Wahyuningsih RSH. Transactional leadership: A bibliometric analysis about one of the most effective leadership models in the world. Multidiscip Rev. 2024;7(3):e2024041.
Dong B. A systematic review of the transactional leadership literature and future outlook. Acad J Manag Soc Sci. 2023;2(3):21-25.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI; 2024.
World Health Organization. WHO operational handbook on tuberculosis. Module 5: Management of tuberculosis in children and adolescents, TB-HIV, and other comorbid conditions. Geneva: WHO; 2022.
World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2025. Geneva: WHO; 2025.
Stop TB Partnership. TB-HIV Integration Guidance and Best Practices. Geneva: Stop TB Partnership; 2023.
World Health Organization. Global Patient Safety Action Plan 2021–2030. Geneva: WHO; 2021.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kemenkes RI; 2017.
Joint Commission International. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals. 8th ed. Oak Brook: JCI; 2023.
Lampiran
Gambar 1.4 SCP
Komentar
Posting Komentar