Mengenali Diri sebagai Pemimpin: Refleksi Kepribadian ENFJ-A dan Penerapan Kepemimpinan Transformasional dalam Pelayanan Kesehatan

Mengenali Diri sebagai Pemimpin: Refleksi Kepribadian ENFJ-A dan Penerapan Kepemimpinan Transformasional dalam Pelayanan Kesehatan

Esai Ujian Kepemimpinan, Blok 6.3 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Nama: Joseph Vigor Heriawan

NIM: 23.P1.0016

Program Studi: Pendidikan Dokter 

Fakultas: Fakultas Kedokteran

Gambar 1. Tipe kepribadian Saya

A. Konteks dan Latar Belakang Personal

Kepemimpinan tidak terbatas pada posisi atau jabatan saja. Sebelum memilih jenis atau model kepemimpinan yang tepat, saya merasa perlu memahami terlebih dahulu karakteristik diri saya sendiri. Untuk mencapai itu, saya telah mengisi asesmen kepribadian MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) dan juga melakukan evaluasi kepribadian melalui 16Personalities, yang mengklasifikasikan atau mengelompokkan kecenderungan perilaku ke dalam lima dimensi.

Hasil asesmen atau evaluasi kepribadian menempatkan saya pada tipe ENFJ-A atau Protagonist. Tipe ini terdiri dari preferensi Extraverted, Intuitive, Feeling, dan Judging, dengan identitas Assertive. Secara lebih spesifik, hasilnya adalah sebagai berikut.1

Gambar 2. Ciri-ciri Kepribadian Saya
Kelima dimensi tersebut menggambarkan karakteristik pribadi saya yang memperoleh energi dari interaksi sosial, terbuka terhadap gagasan atau ide dan kemungkinan atau peluang baru, mempertimbangkan empati dalam proses pengambilan keputusan, menyukai keteraturan, dan memiliki kepercayaan diri yang cukup serta stabil dalam menghadapi tekanan.

Gambar 3. Dimensi Energy 79% Extraverted
Dimensi Energy 79% Extraverted menunjukkan bahwa saya cenderung merasa lebih bersemangat atau termotivasi melalui interaksi sosial dengan orang lain dan lebih mudah mengekspresikan semangat atau antusiasme ketika berhubungan dengan orang lain.

Gambar 4. Dimensi Mind 68% Intuitive
Dimensi Mind 68% Intuitive mencerminkan kecenderungan saya untuk berpikir imajinatif, terbuka terhadap gagasan atau ide-ide baru, serta melihat makna dan kemungkinan atau potensi yang lebih dalam dari suatu situasi.

Gambar 5. Dimensi Nature 58% Feeling
Dimensi Nature 58% Feeling menunjukkan bahwa saya biasanya mempertimbangkan empati, keharmonisan, dan kepekaan emosional saat berinteraksi serta dalam pengambilan keputusan.

Gambar 6. Dimensi Tactics 69% Judging
Dimensi Tactics 69% Judging menunjukkan kecenderungan saya untuk bekerja atau beroperasi dengan cara yang terencana, teratur atau sistematis, teliti atau detail, dan lebih menyukai metode yang terstruktur daripada tindakan yang terlalu spontan.

Gambar 7. Dimensi Identity 74% Assertive
Dimensi Identity 74% Assertive mengindikasikan bahwa saya cenderung percaya diri, cukup stabil ketika menghadapi tekanan, dan tidak mudah larut atau terjebak dalam kekhawatiran yang tidak perlu atau berlebihan.

Secara keseluruhan, profil ENFJ digambarkan sebagai individu yang menggabungkan karisma, empati, dan idealisme. Tipe ini memiliki kepekaan dalam memahami atau membaca emosi dan motivasi orang lain, fasih menyampaikan atau mengartikulasikan gagasan atau ide dengan baik, serta terdorong atau berkontribusi untuk memberikan dampak positif bagi orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Saya memanfaatkan atau menggunakan hasil ini sebagai bahan refleksi atau introspeksi diri, bukan sebagai label yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan diri.

Apakah Hasil Ini Sesuai dengan Diri Saya?

Saya merasa bahwa hasil tersebut cukup mencerminkan diri saya sendiri. Sebagai individu yang ekstrovert, saya merasa lebih mudah bertumbuh dan berkembang saat berdialog atau berinteraksi langsung dengan orang lain, dan dalam kerja kelompok atau tim, saya cenderung membuka atau mendorong komunikasi serta mengajak tiap anggota untuk memberi atau mengungkapkan pendapat. Sisi intuitif membuat atau membantu saya terbiasa untuk mencari akar atau penyebab masalah terlebih dahulu; ketika suatu tugas atau proyek kelompok mengalami kendala, saya tidak langsung menyalahkan anggota, tetapi menelusuri atau menyelidiki dan mengecek apakah pembagian tugas sudah atau belum jelas ataukah komunikasi kurang efektif. Sisi feeling membuat saya cukup peka terhadap perasaan atau emosi orang lain, meskipun saya mengerti bahwa hal ini harus diseimbangkan agar keputusan tetap bersifat objektif. Sementara itu, sisi judging terlihat dari kebiasaan saya merencanakan segala sesuatu dari awal, dan sisi assertive membuat saya cukup tenang saat menghadapi tekanan.

Berbagai pengalaman mendukung gambaran itu. Dalam kegiatan organisasi mahasiswa, saya pernah mendapatkan amanah pada sebuah kepanitiaan dan merasa lebih termotivasi saat berkolaborasi dengan anggota dibanding bekerja sendiri; saya sudah terbiasa mendengarkan tantangan dari setiap bagian, kemudian membaginya menjadi tugas-tugas yang jelas. Pada aktivitas akademis, khususnya dalam diskusi kelompok dan  problem-based learning, saya rutin memastikan agar pembahasan tetap terfokus tanpa menghalangi kesempatan anggota lain untuk berbicara, sekaligus mendukung teman yang mengalami kesulitan dengan materi. Dalam aktivitas sehari-hari, saya biasanya merencanakan jadwal dan target jauh sebelum batas waktu.

Hal yang Masih Perlu Dikembangkan

Selain kelebihan, hasil MBTI juga memberi tahu saya tentang beberapa kekurangan. Saya sering kali terlalu memikirkan masalah orang lain, kurang nyaman dengan kritik, menghindari konflik yang seharusnya dibahas, kurang tegas dalam mendelegasikan tanggung jawab, dan kadang terlalu idealis dalam menentukan target.1 Sebagai seorang pemimpin masa depan, saya harus belajar untuk menetapkan batas yang sehat, menerima masukan sebagai sarana perbaikan, berani menghadapi konflik dengan cara yang dewasa, serta menyeimbangkan idealisme dengan kondisi nyata dan data yang ada di lapangan.

B. Model Kepemimpinan yang Relevan

Merujuk pada karakter tersebut, model yang paling tepat untuk saya adalah kepemimpinan transformasional. Model ini menekankan potensi pemimpin untuk menginspirasi, membentuk visi bersama, menjadi panutan, mendorong pemikiran kritis, dan memperhatikan pertumbuhan setiap anggota tim.2,3

Saya memilih model ini karena sesuai dengan karakter ENFJ-A yang komunikatif, empatik, dan termotivasi untuk memberikan dampak bagi orang lain. Dalam layanan kesehatan, seorang pemimpin tidak hanya perlu membagikan tugas, tetapi juga harus memotivasi tim lintas profesi dan memelihara budaya kerja yang aman. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional berkaitan dengan kualitas pelayanan yang lebih baik, kepuasan profesional kesehatan, dan hasil pasien yang lebih menguntungkan.4,5

Kepemimpinan transformasional terdiri dari empat elemen kunci.2 Pertama, idealized influence, yaitu berfungsi sebagai panutan yang dihormati karena integritas dan akuntabilitasnya. Kedua, inspirational motivation, yaitu mengkomunikasikan visi yang membangkitkan semangat. Ketiga, intellectual stimulation, yaitu mendorong tim untuk berpikir secara kritis dan menemukan solusi yang inovatif. Keempat, individualized consideration, yaitu memperhatikan kebutuhan dan kemajuan setiap anggota. Keempat elemen ini terkait dengan kepribadian saya: kemampuan berkomunikasi memperkuat dua elemen awal, kecenderungan intuitif mendukung rangsangan intelektual, dan empati memperkuat perhatian terhadap orang lain.

Namun, keterbatasan saya juga berdampak pada pelaksanaannya. Keinginan untuk mempertahankan keharmonisan dapat membuat saya kurang tegas saat ada anggota yang tidak memenuhi tanggung jawab, sementara idealisme yang terlalu tinggi berpotensi membuat rencana menjadi kurang realistis. Oleh karena itu, pengimplementasian model ini harus saya dukung dengan ketegasan, kebiasaan memberikan tugas dengan jelas, serta sasaran yang terukur.

Gambar 8. Kepemimpinan Transformasional

C. Aplikasi pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama: Koordinator Lintas Program TB-HIV di Puskesmas X

Jika saya menjabat sebagai koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya akan menerapkan kepemimpinan transformasional untuk mendorong tim menuju pelayanan yang terintegrasi. TB dan HIV saling berkaitan, karena pasien TB perlu diperiksa HIV dan orang dengan HIV perlu diskrining TB. WHO menekankan pentingnya kolaborasi TB-HIV dengan memperkuat layanan terintegrasi, mengurangi beban TB pada individu dengan HIV, serta menurunkan beban HIV pada pasien yang dicurigai atau terdiagnosis TB.6 Di Indonesia, pengendalian TB adalah program nasional yang bertujuan eliminasi dan memerlukan pelaksanaan yang terkoordinasi.7

Sebagai koordinator, langkah-langkah yang akan saya ambil adalah sebagai berikut:

  1. Advokasi. Memberikan informasi kepada kepala puskesmas dan pihak yang relevan mengenai pentingnya integrasi layanan TB-HIV, dilengkapi dengan data beban penyakit, untuk memperoleh dukungan dalam kebijakan, fasilitas, dan anggaran.
  2. Memperkuat tim. Membentuk tim inti dengan pembagian peran yang jelas, mulai dari dokter, perawat, petugas laboratorium, apoteker, promotor kesehatan, hingga kader, serta memetakan kebutuhan pelatihan tiap anggota.
  3. Koordinasi lintas sektor. Bermitra dengan kelurahan, kecamatan, kader, dan komunitas pendukung untuk deteksi kasus, rujukan, pendampingan terapi, dan pencegahan stigma.
  4. Kolaborasi interprofesional. Mendorong agar setiap profesi berada sejajar dalam diskusi kasus, di mana saya berfungsi sebagai fasilitator, bukan hanya sebagai pemberi perintah.
  5. Monitoring. Menetapkan indikator yang terukur, seperti cakupan tes HIV pada pasien TB, skrining TB pada orang dengan HIV, kepatuhan minum obat, dan angka putus berobat, lalu memantaunya secara berkala melalui pencatatan yang rapi.
  6. Evaluasi. Mengadakan pertemuan rutin untuk meninjau capaian, membahas hambatan, mengapresiasi keberhasilan, dan menyusun perbaikan dalam suasana yang suportif.

Peluang yang dapat dimanfaatkan antara lain dukungan kebijakan nasional, jejaring kader, dan kedekatan puskesmas dengan masyarakat. Tantangan yang mungkin muncul adalah stigma terhadap TB dan HIV, keterbatasan sumber daya manusia, ego antarprogram, serta risiko pasien putus berobat. Untuk mengatasinya, saya akan menguatkan edukasi, menjaga kerahasiaan pasien, membagi beban kerja secara adil, menyederhanakan alur layanan, melibatkan pendamping sebaya, dan melakukan supervisi rutin.

D. Aplikasi pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut: Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Pada skenario kedua, saya membayangkan diri sebagai ketua tim peningkatan mutu di sebuah rumah sakit. Di Indonesia, setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib menyelenggarakan keselamatan pasien yang mencakup enam sasaran keselamatan pasien (SKP), yaitu ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian lokasi serta prosedur dan pasien operasi yang benar, pengurangan risiko infeksi, dan pengurangan risiko pasien jatuh.8

Dari keenam sasaran tersebut, saya memilih berfokus pada peningkatan komunikasi yang efektif. Komunikasi merupakan dasar dari hampir seluruh proses pelayanan di rumah sakit, dan kesalahan komunikasi sering terjadi saat serah terima pasien, instruksi lisan, maupun pelaporan hasil pemeriksaan kritis. Komunikasi yang buruk juga merupakan salah satu faktor penyumbang penting terjadinya insiden keselamatan pasien.9 Sasaran ini sekaligus sesuai dengan kekuatan saya dalam berkomunikasi.

Sebagai pemimpin tim mutu, saya akan menempuh beberapa langkah. Pertama, membangun kesadaran bahwa komunikasi yang jelas merupakan bagian dari keselamatan pasien, dan menjadikan diri saya sendiri teladan dalam menerapkannya. Kedua, membakukan metode komunikasi, seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) untuk pelaporan kondisi pasien dan teknik read-back atau TBaK (tulis, baca kembali, konfirmasi) untuk instruksi lisan dan telepon. Ketiga, mengadakan pelatihan dan simulasi serah terima pasien. Keempat, memantau indikator seperti kepatuhan penggunaan SBAR dan jumlah insiden akibat miskomunikasi melalui siklus perbaikan berkelanjutan.

Kepemimpinan transformasional dapat membantu membangun budaya keselamatan karena pemimpin tidak hanya memberi aturan, tetapi juga menjadi teladan dan menumbuhkan rasa aman bagi staf untuk melapor. Regulasi keselamatan pasien menegaskan bahwa analisis insiden dilakukan untuk memperbaiki sistem, bukan untuk menyalahkan atau mempermalukan individu.8 Pendekatan ini sejalan dengan upaya global menghilangkan cedera yang dapat dicegah dalam pelayanan kesehatan, yang menempatkan kepemimpinan dan budaya keselamatan sebagai kunci.10

Tantangan yang mungkin muncul antara lain budaya hierarki yang kaku, resistensi terhadap perubahan, dan beban kerja yang tinggi. Peluang yang tersedia meliputi adanya komite mutu dan keselamatan pasien, tuntutan akreditasi rumah sakit, serta meningkatnya kesadaran tenaga kesehatan terhadap keselamatan pasien. Sebagai langkah antisipatif, saya akan memulai perubahan dari unit kecil sebagai percontohan, melibatkan staf sejak awal, memberi apresiasi kepada petugas yang melapor, dan menjaga agar evaluasi selalu berfokus pada perbaikan sistem.

E. Kesimpulan

Berdasarkan hasil asesmen MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ENFJ-A atau Protagonist, dengan kecenderungan ekstrovert, intuitif, empatik, terstruktur, dan asertif. Karakter ini mendukung peran kepemimpinan karena saya cenderung mudah berkomunikasi, membangun hubungan, dan menjaga semangat tim. Namun, saya juga menyadari kelemahan yang perlu dikembangkan, seperti kecenderungan menghindari konflik, kurang tegas mendelegasikan tugas, sensitif terhadap kritik, dan terlalu idealis.

Model yang paling sesuai dengan karakter tersebut adalah kepemimpinan transformasional. Dalam konteks fasilitas kesehatan tingkat pertama, model ini dapat diterapkan untuk mengoordinasikan program TB-HIV melalui advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi. Dalam konteks fasilitas kesehatan tingkat lanjut, model yang sama dapat digunakan untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien, khususnya pada sasaran komunikasi efektif. Dengan mengenali kekuatan sekaligus keterbatasan diri, saya berharap dapat berkembang menjadi pemimpin yang empatik, tegas, reflektif, dan bertanggung jawab.

F. Daftar Pustaka

  1. NERIS Analytics Limited. Kepribadian Protagonist (ENFJ) [Internet]. 16Personalities; 2025 [dikutip 28 Juni 2026]. Tersedia pada: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-enfj
  2. Bass BM, Riggio RE. Transformational leadership. Edisi ke-2. Mahwah (NJ): Lawrence Erlbaum Associates; 2006.
  3. Northouse PG. Leadership: theory and practice. Edisi ke-8. Thousand Oaks (CA): SAGE Publications; 2018.
  4. Sfantou DF, Laliotis A, Patelarou AE, Sifaki-Pistolla D, Matalliotakis M, Patelarou E. Importance of leadership style towards quality of care measures in healthcare settings: a systematic review. Healthcare (Basel). 2017;5(4):73.
  5. Wong CA, Cummings GG, Ducharme L. The relationship between nursing leadership and patient outcomes: a systematic review update. J Nurs Manag. 2013;21(5):709-24.
  6. World Health Organization. WHO policy on collaborative TB/HIV activities: guidelines for national programmes and other stakeholders. Geneva: World Health Organization; 2012.
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2016.
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017.
  9. World Health Organization. Conceptual framework for the international classification for patient safety: final technical report. Geneva: World Health Organization; 2009.
  10. World Health Organization. Global patient safety action plan 2021-2030: towards eliminating avoidable harm in health care. Geneva: World Health Organization; 2021.

G. Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

Semarang, 28 Juni 2026
Joseph Vigor Heriawan
NIM: 23.P1.0016

H. Lampiran

Gambar 9. Jalur Karier Saya

Gambar 10. Pertumbuhan Pribadi Saya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T