MENGENAL DIRI, MEMIMPIN DENGAN VISI: ANALISIS MODEL KEPEMIMPINAN BERDASARKAN KEPRIBADIAN INTJ-A

Nama : Roverina Mandala

NIM : 23.P1.0013

 Pernyataan Orisinalitas

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

  1. Latar Belakang


Gambar 1. INTJ-A


Indikator Tipe Myers–Briggs (Myers-Briggs Type Indicator/MBTI) dikenal luas dalam psikologi dan bidang terkait sebagai self-report questionnaire. Pengembangannya didasarkan pada gagasan fundamental Carl Jung mengenai tipe-tipe psikologis yang digunakan sebagai kerangka untuk menggambarkan kepribadian manusia. Saat ini, MBTI merupakan alat yang memiliki berbagai kegunaan praktis. Prediksi skor kredit, analisis perilaku keselamatan pekerja konstruksi, validasi teknik kecerdasan buatan, serta prediksi perilaku dimensi judging–perceiving pada forum sosial daring merupakan beberapa contoh penerapan MBTI dalam berbagai bidang¹

Berdasarkan teori tipe kepribadian yang dikembangkan oleh Carl Jung, MBTI mengklasifikasikan individu ke dalam berbagai tipe kepribadian berdasarkan empat dimensi utama. Dimensi tersebut meliputi orientasi energi, yaitu extroverted (E) dan introverted (I); cara memperoleh dan mengolah informasi, yaitu sensing (S) dan intuition (N); cara mengambil keputusan, yaitu thinking (T) dan feeling (F); serta cara menghadapi dan berinteraksi dengan dunia luar, yaitu judging (J) dan perceiving (P)¹


Gambar 2. Architect MBTI


Untuk memahami kecenderungan kepemimpinan saya secara objektif, saya melakukan asesmen kepribadian menggunakan instrumen Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) melalui platform 16Personalities. Hasil yang saya peroleh adalah tipe INTJ, singkatan dari Introverted, Intuitive, Thinking, dan Judging. INTJ memperoleh energi dari pemikiran dan introspeksi diri (Introversi), Hal tersebut sangat sesuai dengan pribadi saya sendiri yang akan menyendiri setelah berada di tengah keramaian untuk kembali mengisi energi. Intuition (N) menunjukkan kecenderungan saya untuk berfokus pada pola, kemungkinan, dan makna di balik fakta, sehingga saya cenderung menyusun strategi yang berorientasi pada tujuan jangka panjang. Sementara itu, Thinking (T) membuat saya mendasarkan pengambilan keputusan pada logika, analisis objektif, serta pertimbangan rasional dibandingkan dengan emosi atau nilai personal. Saya cenderung mengevaluasi suatu permasalahan secara sistematis dan memilih solusi yang dinilai paling efektif berdasarkan fakta yang tersedia. Selanjutnya, Judging (J) yang didukung oleh Thinking (T) membuat saya lebih menyukai perencanaan yang terstruktur, ketegasan dalam mengambil keputusan, serta penyelesaian masalah secara terorganisasi. INTJ-A atau yang dikenal sebagai “Arsitek” memiliki karakteristik yang analitis, visioner, mandiri, strategis, serta percaya diri dalam mengambil keputusan. Tipe kepribadian ini cenderung mampu merancang solusi secara logis, menetapkan tujuan jangka panjang, dan mengarahkan perkembangan suatu struktur atau organisasi secara efektif².


  1. Model Kepemimpinan

Gambar 3. Transformational Leadership

Berdasarkan hasil kepribadian yang menunjukkan tipe saya adalah INTJ, saya merasa model kepemimpinan yang paling sesuai dengan karakter saya adalah kepemimpinan transformasional. Model ini saya pilih karena sejalan dengan kebutuhan kepemimpinan di bidang kesehatan yang menuntut kemampuan membangun visi, mendorong perubahan, serta meningkatkan kualitas pelayanan melalui kolaborasi tim multidisiplin. Kepemimpinan transformasional terdiri atas empat dimensi utama, yaitu idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Keempat dimensi ini sangat relevan dengan karakteristik INTJ-A yang saya miliki, yaitu menjunjung tinggi integritas dan konsisten antara ucapan dan tindakan mendukung idealized influence karena kepercayaan tim adalah syarat utama agar perubahan bisa terjadi. Kemampuan berpikir strategis dan melihat gambaran besar mendukung inspirational motivation karena saya dapat merumuskan tujuan bersama yang menginspirasi tim untuk bergerak maju. Kebiasaan berbasis data dan analitis mendukung intellectual stimulation karena saya dapat mendorong tim untuk terus berpikir kritis dan mencari solusi inovatif sementara kepercayaan diri asertif mendukung individualized consideration karena dengan kondisi emosional yang stabil saya lebih mudah memberikan perhatian dan bimbingan yang tulus kepada setiap anggota tim³

  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Gambar 4. HIV-TB

Kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas dapat didukung secara optimal melalui model kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional berfokus pada pembangunan visi bersama, penguatan motivasi tim, serta mendorong setiap anggota untuk berpikir kritis dan berkontribusi aktif dalam pemecahan masalah yang merupakan nilai-nilai yang sangat relevan dalam penanganan penyakit dengan kompleksitas ganda seperti TB-HIV. Saya sebagai dokter dengan tipe kepemimpinan transformasional akan menginisiasi program layanan TB-HIV terintegrasi di Puskesmas, membangun sistem rujukan yang responsif, serta merancang program pemantauan pasien TB-HIV yang terstruktur dan berbasis data. Melalui pendekatan ini, saya akan memastikan bahwa seluruh tim lintas program, mulai dari petugas TB, konselor HIV, hingga tenaga gizi dan kesehatan lingkungan, bergerak dalam satu visi yang sama: menurunkan angka kasus TB-HIV, meningkatkan kualitas pengelolaan kasus, dan memperkuat kesinambungan layanan bagi setiap pasien. Pelaksanaan penanganan TB-HIV ini akan lebih difokuskan pada berbagai hal berikut:

Advokasi

Dalam advokasi, saaya transformasional akan menyajikan data cakupan skrining TB-HIV lokal, angka penemuan kasus baru, dan tren lost to follow-up kepada kepala puskesmas dan dinas kesehatan untuk memperjuangkan ketersediaan reagen tes HIV bagi seluruh pasien TB, memastikan stok OAT (Obat Anti Tuberkulosis) yang cukup, serta mendorong penerbitan kebijakan opt-out testing HIV sehingga setiap pasien yang terdiagnosis TB secara otomatis ditawarkan pemeriksaan HIV tanpa perlu menunggu permintaan khusus.

Penguatan Tim

Dalam penguatan tim, saya akan mengadakan pelatihan rutin bagi seluruh petugas kesehatan mengenai alur skrining TB-HIV, tata cara pemberian profilaksis kotrimoksazol (obat pencegah infeksi oportunistik pada ODHA), serta manajemen efek samping OAT dan ARV (Antiretroviral), sekaligus membangun budaya pelaporan kasus lost to follow-up secara terbuka tanpa rasa takut, dan memperkuat kapasitas kader komunitas untuk melakukan kunjungan rumah dan pelacakan pasien yang mangkir dari pengobatan.

Koordinasi Lintas Sektor

Dalam koordinasi lintas sektor, saya akan membangun jejaring aktif dengan dinas sosial untuk penanganan pasien TB-HIV yang menghadapi hambatan ekonomi seperti ketidakmampuan memenuhi kebutuhan nutrisi selama pengobatan, berkoordinasi dengan lapas (lembaga pemasyarakatan) dan panti rehabilitasi sebagai kantong populasi berisiko tinggi untuk dilakukan skrining massal, serta mengadakan pertemuan koordinasi triwulanan bersama seluruh sektor terkait yang menghasilkan rencana tindak lanjut terukur dan dapat dievaluasi pada pertemuan berikutnya.

Kolaborasi Interprofesional

Dalam kolaborasi interprofesional, saya akan menyatukan peran dokter dalam penegakan diagnosis melalui pemeriksaan TCM (Tes Cepat Molekuler) dan penentuan regimen pengobatan, perawat dalam konseling kepatuhan minum obat dan pemantauan efek samping, analis laboratorium dalam pemeriksaan BTA (Basil Tahan Asam), foto toraks, dan pemeriksaan CD4 (penanda imunitas pada pasien HIV) untuk menentukan waktu inisiasi ARV, apoteker dalam manajemen interaksi obat antara rifampisin dalam OAT dengan ARV yang dapat menurunkan kadar obat dalam darah, serta tenaga promosi kesehatan dalam penyuluhan komunitas untuk mengurangi stigma terhadap pasien TB-HIV, sehingga seluruh profesi bekerja dalam satu alur layanan yang terintegrasi dan berkesinambungan.

Monitoring dan Evaluasi

Dalam monitoring dan evaluasi, saya akan membangun sistem monitoring berbasis indikator terukur seperti cakupan tes HIV pada pasien TB, angka konversi sputum (perubahan hasil pemeriksaan dahak dari positif menjadi negatif sebagai penanda keberhasilan pengobatan), angka keberhasilan pengobatan TB pada pasien ko-infeksi TB-HIV, dan angka lost to follow-up yang dipantau secara rutin melalui platform SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) dan SITT (Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu), kemudian menganalisis tren data tersebut dalam evaluasi bulanan internal tim dan evaluasi triwulanan lintas sektor untuk mengidentifikasi celah program dan menjadikannya dasar perbaikan layanan TB-HIV yang berkelanjutan dan berbasis bukti⁵,.


  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

Sebagai dokter yang menerapkan model kepemimpinan transformasional, saya memandang idealized influence dan intellectual stimulation sebagai dua dimensi yang paling penting untuk diterapkan di rumah sakit. Lingkungan rumah sakit memiliki struktur organisasi yang kompleks, sistem hierarki yang jelas, serta melibatkan berbagai profesi dengan latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu, seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu memberikan arahan, tetapi juga menjadi teladan yang dapat dipercaya serta mendorong anggota tim untuk berpikir kritis dalam memperbaiki sistem pelayanan, bukan hanya berfokus pada kesalahan individu. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional berhubungan dengan peningkatan keselamatan penggunaan obat, antara lain melalui meningkatnya pelaporan insiden, terciptanya budaya keselamatan yang lebih baik, dan menurunnya kejadian medication error⁶,.

Langkah awal yang akan saya lakukan adalah membangun visi bersama dan budaya keselamatan pasien yang benar-benar diterapkan dalam praktik sehari-hari. Komitmen untuk mencegah kejadian medication harm yang dapat dicegah tidak hanya diwujudkan dalam bentuk kebijakan tertulis, tetapi juga melalui keterlibatan aktif pemimpin dalam ronde keselamatan, pemberian respons yang konstruktif terhadap setiap laporan insiden, serta penciptaan budaya pelaporan yang terbuka tanpa adanya rasa takut untuk melapor. Dengan cara tersebut, setiap tenaga kesehatan diharapkan merasa aman untuk menyampaikan permasalahan yang terjadi sehingga perbaikan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Untuk mendukung pembelajaran dan inovasi, saya akan membentuk Komite Keselamatan Penggunaan Obat yang melibatkan dokter, apoteker klinis, perawat, dan pihak manajemen rumah sakit. Setiap kejadian medication error akan dianalisis menggunakan metode root cause analysis yang berfokus pada identifikasi akar penyebab dan perbaikan sistem, kemudian hasilnya ditindaklanjuti secara terencana. Selain itu, kompetensi tenaga kesehatan akan terus ditingkatkan melalui pelatihan berkelanjutan, penguatan peran apoteker klinis di setiap unit pelayanan, serta penunjukan safety champion di setiap departemen sebagai penggerak budaya keselamatan.

Dalam penerapannya, terdapat berbagai tantangan yang perlu dihadapi, seperti resistensi dari tenaga kesehatan senior, hierarki profesi yang masih kaku, tingginya beban kerja, serta keterbatasan sarana dan teknologi. Untuk mengatasi hal tersebut, saya akan melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh di lingkungan rumah sakit sebagai agen perubahan, memanfaatkan dashboard keselamatan berbasis data sebagai dasar evaluasi yang objektif, serta memastikan bahwa setiap pesan mengenai keselamatan pasien disampaikan secara jelas, inklusif, dan mudah dipahami oleh seluruh profesi kesehatan⁶,.

  1. Kesimpulan

    Berdasarkan hasil asesmen MBTI, saya memiliki tipe kepribadian INTJ-A yang ditandai dengan kemampuan berpikir strategis, analitis, visioner, serta berorientasi pada tujuan jangka panjang. Karakteristik tersebut selaras dengan model kepemimpinan transformasional karena memungkinkan saya membangun visi bersama, mendorong inovasi, dan mengarahkan tim untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif. Meskipun demikian, saya juga menyadari bahwa aspek komunikasi empatik dan perhatian terhadap kebutuhan individu perlu terus dikembangkan agar mampu menerapkan seluruh dimensi kepemimpinan transformasional secara seimbang, terutama dalam membangun hubungan yang baik dengan anggota tim.


    Penerapan kepemimpinan transformasional di fasilitas pelayanan kesehatan, baik tingkat pertama maupun tingkat lanjut, memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien, dan kolaborasi interprofesional. Pada pelayanan TB-HIV di puskesmas, kepemimpinan ini dapat diwujudkan melalui advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, serta monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan. Sementara itu, di rumah sakit, kepemimpinan transformasional mendukung terciptanya budaya keselamatan penggunaan obat melalui penguatan sistem, pembelajaran dari insiden, serta keterlibatan seluruh tenaga kesehatan dalam upaya peningkatan mutu layanan. Dengan demikian, kepemimpinan transformasional menjadi pendekatan yang relevan untuk menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.


  1. Daftar Pustaka

  1. Zárate-Torres R, Correa JC. How good is the Myers-Briggs Type Indicator for predicting leadership-related behaviors? Front Psychol. 2023;14:940961. doi:10.3389/fpsyg.2023.940961. 

  2. Hendra I, Blessing LTM, Silva A, Ang R. Exploring the link between students’ MBTI personality types and design team performance. Proceedings of the Design Society. 2025;5:1705–14. doi:10.1017/pds.2025.10184

  3. King SP, Mason BA. Myers-Briggs Type Indicator. In: Carducci BJ, Nave CS, Mio JS, Riggio RE, editors. The Wiley Encyclopedia of Personality and Individual Differences: Measurement and Assessment. Hoboken (NJ): Wiley; 2020. p. 315-9.

  4. Lee SE, Lee H, Sang S. Nurse managers' leadership, patient safety, and quality of care: a systematic review. West J Nurs Res. 2023;45(2):176–85.

  5. Seljemo C, Viksveen P, Ree E. The role of transformational leadership, job demands, and job resources for patient safety culture in Norwegian hospitals. BMC Health Serv Res. 2020;20(1):1–9.

  6. Lappalainen M, Härkänen M, Kvist T. The relationship between nurse manager's transformational leadership style and medication safety. Scand J Caring Sci. 2020;34(2):357–69.

  7. World Health Organization. Medication without harm: WHO Global Patient Safety Challenge. Geneva: WHO; 2017.

  8. Rodziewicz TL, Houseman B, Hipskind JE. Medical error reduction and prevention. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2023.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T