Mengenal Diri melalui MBTI ENFJ-T dan Mempersiapkan Diri Menjadi Pemimpin di Dunia Kesehatan


Nama : Najmi Chayra Agatha

NIM : 23.P1.0044

 Pernyataan orisinalitas karya tulis


Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.



Gambar 1 ENFJ-T¹


Selama mengikuti perkuliahan kepemimpinan, saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan assessment MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Hasil yang saya peroleh adalah ENFJ-T (Protagonist). Awalnya saya hanya menganggap MBTI sebagai tes kepribadian biasa, tetapi setelah mempelajari karakteristiknya, saya merasa hasil tersebut cukup menggambarkan diri saya, terutama dalam berinteraksi dengan orang lain dan ketika bekerja dalam sebuah tim.

ENFJ merupakan tipe kepribadian yang dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mudah membangun hubungan dengan orang lain, memiliki empati tinggi, serta senang membantu dan memotivasi orang di sekitarnya. Karakter ini sangat relevan dengan profesi tenaga kesehatan karena seorang dokter tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu bekerja sama dengan berbagai profesi, berkomunikasi dengan pasien, dan mengambil keputusan yang berorientasi pada kepentingan pasien¹.

Dari hasil MBTI tersebut, saya belajar bahwa saya termasuk pribadi yang memperoleh energi melalui interaksi sosial (Extraversion). Saya merasa lebih bersemangat ketika berdiskusi, bekerja dalam kelompok, maupun mengikuti kegiatan organisasi dibandingkan bekerja sendiri dalam waktu yang lama. Saya juga cenderung menikmati proses bertukar pikiran karena sering kali dari diskusi tersebut muncul ide-ide baru yang sebelumnya tidak saya pikirkan.

Karakter Intuition juga cukup menggambarkan cara saya belajar. Saya lebih mudah memahami suatu konsep apabila mengetahui gambaran besarnya terlebih dahulu sebelum mempelajari detail-detail kecil. Dalam pembelajaran kedokteran, saya lebih tertarik memahami mekanisme terjadinya penyakit dan hubungan antar sistem tubuh dibandingkan sekadar menghafal gejala atau terapi.

Sementara itu, aspek Feeling menunjukkan bahwa saya cukup mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan ketika mengambil keputusan. Saya berusaha memahami sudut pandang orang lain dan menjaga hubungan baik dengan anggota tim. Di sisi lain, karakter Judging membuat saya menyukai pekerjaan yang terencana, memiliki target yang jelas, serta pembagian tugas yang terstruktur sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif.

Bagian yang paling menarik bagi saya adalah karakter Turbulent. Saya menyadari bahwa saya sering mengevaluasi diri setelah menyelesaikan suatu kegiatan. Saya terbiasa memikirkan apa yang sudah berjalan dengan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Kebiasaan ini membantu saya berkembang, meskipun terkadang membuat saya terlalu kritis terhadap diri sendiri. Dari sini saya belajar bahwa evaluasi diri memang penting, tetapi juga harus diimbangi dengan rasa percaya diri agar tidak ragu ketika mengambil keputusan¹.

Selama menjadi mahasiswa kedokteran, saya pernah dipercaya menjadi Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Tanggung jawab tersebut memberikan banyak pelajaran mengenai pentingnya komunikasi, koordinasi, serta kemampuan mengembangkan potensi anggota tim. Saya belajar bahwa keberhasilan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh bagaimana seorang pemimpin mampu menciptakan suasana kerja yang nyaman dan saling mendukung.

Selain itu, dalam kegiatan akademik saya juga beberapa kali menjadi ketua kelompok Problem Based Learning (PBL). Meskipun terlihat sederhana, peran ini mengajarkan saya bagaimana mengatur jalannya diskusi, memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk berpendapat, serta menjaga agar pembahasan tetap fokus pada tujuan pembelajaran. Dari pengalaman tersebut saya semakin memahami bahwa seorang pemimpin bukanlah orang yang harus mengetahui segalanya, melainkan seseorang yang mampu mengarahkan tim agar setiap anggotanya dapat memberikan kontribusi terbaik.


Gambar 2 Transformational Leadership²

Melihat karakter pribadi dan pengalaman tersebut, saya merasa model kepemimpinan yang paling sesuai adalah kepemimpinan transformasional (Transformational Leadership). Model kepemimpinan ini menekankan kemampuan pemimpin untuk menginspirasi, memotivasi, serta mengembangkan potensi anggota tim melalui empat komponen utama, yaitu idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration². 

Saya merasa pendekatan ini sesuai dengan cara saya bekerja karena saya lebih nyaman memimpin melalui komunikasi, pemberian motivasi, dan kerja sama dibandingkan menggunakan pendekatan yang bersifat otoriter. Namun, saya juga menyadari bahwa kepemimpinan transformasional memiliki tantangan tersendiri. Saya terkadang terlalu mempertimbangkan perasaan orang lain sehingga membutuhkan waktu lebih lama dalam mengambil keputusan. Selain itu, saya juga masih perlu meningkatkan kemampuan dalam mendelegasikan tugas dan bersikap lebih tegas ketika menghadapi situasi yang menuntut keputusan cepat. Saya percaya bahwa kemampuan tersebut dapat terus berkembang melalui pengalaman organisasi, pembelajaran, dan evaluasi diri².

Apabila suatu saat saya dipercaya menjadi koordinator program TB-HIV di puskesmas, saya ingin menerapkan kepemimpinan transformasional dengan membangun visi bersama bahwa penanganan TB-HIV merupakan tanggung jawab seluruh tenaga kesehatan. Saya akan mengutamakan komunikasi yang terbuka, koordinasi lintas program, serta kolaborasi dengan berbagai profesi agar pelayanan kepada pasien dapat berjalan secara optimal. Selain itu, saya juga ingin melibatkan kader kesehatan dan masyarakat dalam upaya edukasi sehingga stigma terhadap TB dan HIV dapat dikurangi serta penemuan kasus dapat ditingkatkano³˒⁴.

Di lingkungan rumah sakit, saya juga tertarik menerapkan kepemimpinan transformasional pada program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Budaya keselamatan pasien menurut saya tidak dapat dibangun hanya melalui aturan atau sanksi, tetapi harus dimulai dari keteladanan seorang pemimpin. Dengan memberikan contoh yang baik, melakukan edukasi secara berkelanjutan, serta menciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung, saya berharap kepatuhan terhadap prosedur keselamatan pasien dapat terus meningkat⁵.

Melalui refleksi ini saya menyadari bahwa hasil MBTI bukanlah penentu mutlak kemampuan seseorang, tetapi dapat menjadi salah satu alat untuk lebih mengenal diri sendiri. Saya juga belajar bahwa menjadi pemimpin yang baik bukan hanya tentang kemampuan mengarahkan orang lain, melainkan juga tentang kemauan untuk terus belajar, menerima masukan, dan memperbaiki diri. Sebagai mahasiswa kedokteran, saya berharap dapat terus mengembangkan kemampuan kepemimpinan agar kelak mampu bekerja sama dengan berbagai profesi kesehatan serta memberikan pelayanan terbaik bagi pasien dan masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

  1. 16Personalities. ENFJ Personality Profile.
  2. Bass BM, Riggio RE. Transformational Leadership. 2nd ed. New York: Psychology Press; 2006.
  3. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2024. Geneva: WHO; 2024.
  4. World Health Organization. Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery. Geneva: WHO; 2021.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2022.


LAMPIRAN






Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T