MENERAPKAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL BERDASARKAN TIPE KEPRIBADIAN ENFJ-A (EXTRAVERTED, INTUITIVE, FEELING, JUDGEMENT, ASSERTIVE) DALAM PENANGANAN TB-HIV DAN PENINGKATAN KESELAMATAN PASIEN
NAMA: AGUSTINA TRIYANTIE
NIM: 23.P1.0017
MENERAPKAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL BERDASARKAN TIPE KEPRIBADIAN ENFJ-A (EXTRAVERTED, INTUITIVE, FEELING, JUDGEMENT, ASSERTIVE) DALAM PENANGANAN TB-HIV DAN PENINGKATAN KESELAMATAN PASIEN
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan dapat diandalkan. Jika terjadi adanya kejadian, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia kembali dan mengurangi nilai perilaku.
Konteks dan Latar Belakang Personal
Gambar 1. ENFJ-A
Berdasarkan hasil tes MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ENFJ-A (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judgement, Assertive) dengan skor 75% Ekstrovert, 64% Intuitif, 64% Feeling, 86% Judgement, dan 54% Assertive. Tipe kepribadian ini dikenal sebagai The Protagonist karena cenderung mudah berinteraksi dengan orang lain, mampu memberikan motivasi, serta senang membantu perkembangan orang di sekitarnya.¹
Sebagai seorang yang memiliki kecenderungan ekstrovert, saya merasa nyaman bekerja dan berkomunikasi dengan banyak orang. Dalam lingkungan organisasi maupun pelayanan kesehatan, saya lebih mudah membangun hubungan kerja sama dan berdiskusi untuk mencapai tujuan bersama. Sifat inovatif yang saya miliki membantu saya melihat suatu masalah tidak hanya dari kondisi saat ini, tetapi juga dari kemungkinan yang akan terjadi di masa depan sehingga saya dapat lebih fokus pada solusi jangka panjang.¹
Selain itu, aspek feeling membuat saya lebih mempertimbangkan kondisi dan perasaan orang lain ketika mengambil keputusan. Saya percaya bahwa dalam memimpin sebuah tim, kemampuan memahami anggota tim sama pentingnya dengan kemampuan teknis. Sementara itu, menilai karakteristik membuat saya menyukai perencanaan yang jelas, bekerja secara teratur, dan berusaha menyelesaikan tugas sesuai target yang telah ditetapkan.¹
Gambar 2. Karakteristik utama (kekuatan) tipe kepribadian ENFJ.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Gambar 3. Kepemimpinan Transformasional
Model kepemimpinan yang paling sesuai dengan karakteristik pribadi saya adalah kepemimpinan transformasional. Gaya kepemimpinan ini menekankan kemampuan seorang pemimpin untuk mengajak, memotivasi, dan menginspirasi anggota tim agar dapat berkembang bersama serta mencapai tujuan yang telah ditetapkan.²
Saya memilih model kepemimpinan transformasional karena sejalan dengan karakteristik ENFJ yang cenderung senang berinteraksi dengan orang lain, membangun hubungan yang baik, dan mendorong orang di sekitar untuk berkembang. Dalam bekerja, saya lebih nyaman memimpin melalui komunikasi, diskusi, dan memberikan motivasi dibandingkan hanya mengandalkan instruksi atau perintah. Saya juga percaya bahwa keberhasilan suatu tim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemimpinnya, tetapi juga oleh keterlibatan seluruh anggota tim.²
Selain itu, saya menyukai lingkungan kerja yang terbuka terhadap ide dan masukan. Oleh karena itu, saya berusaha menjadi pribadi yang mau mendengarkan pendapat orang lain dan membantu mencari solusi ketika menghadapi masalah bersama. Hal ini sesuai dengan prinsip kepemimpinan transformasional yang mendorong inovasi, kerja sama, dan pengembangan potensi setiap anggota tim.²
Menurut saya, model kepemimpinan ini sangat relevan diterapkan dalam bidang kesehatan karena pelayanan kesehatan membutuhkan kolaborasi dari berbagai profesi. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu menentukan waktu, tetapi juga harus dapat membangun semangat kerja, menciptakan komunikasi yang baik, serta menumbuhkan rasa saling percaya di antara anggota tim agar pelayanan kepada pasien dapat berjalan secara optimal.⁸
Aplikasi Model Kepemimpinan pada FKTP untuk Penanganan TB-HIV
Gambar 4. TB-HIV
Tuberkulosis (TB) dan HIV merupakan dua penyakit yang saling berkaitan. Orang dengan HIV memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC karena sistem kekebalan tubuhnya menurun. Oleh karena itu, penanganan TB-HIV memerlukan kerja sama yang baik antar program dan tenaga kesehatan.³
Sebagai pemimpin transformasional di Puskesmas X, saya akan mendorong seluruh tenaga kesehatan, kader, pemerintah setempat, dan masyarakat untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan program TB-HIV. Menurut saya, komunikasi yang baik, saling mendukung, dan memiliki tujuan yang sama merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan program ini.²
Model kepemimpinan ini bisa saya terapkan dengan cara :
Melakukan advokasi , Sebagai pemimpin, saya akan mengajak pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan organisasi setempat untuk mendukung program TB-HIV. Dukungan ini penting agar kegiatan seperti skrining, edukasi, dan pendampingan pasien dapat berjalan dengan baik.⁵
Menguatkan tim, misalnya dengan memberi dorongan anggota tim untuk terus meningkatkan kemampuan melalui pelatihan dan diskusi rutin. Selain itu, saya juga akan memberikan motivasi agar setiap anggota merasa memiliki tanggung jawab yang sama terhadap keberhasilan program.²
Menjalin kerja sama lintas sektor, Penanganan TB-HIV tidak bisa dilakukan oleh puskesmas saja. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dengan pemerintah daerah, sekolah, organisasi keagamaan, dan masyarakat untuk mendukung upaya pencegahan maupun pengobatan.³
Mendorong kerja sama antar profesi, Program TB-HIV melibatkan berbagai tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, apoteker, dan analis laboratorium. Saya akan mendorong komunikasi dan kerja sama yang baik agar pelayanan kepada pasien lebih optimal.⁶
Melakukan monitoring dan evaluasi, yaitu dapat dilakukan secara berkala dengan melihat pencapaian program dan membahas hasilnya dalam rapat tim. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan program, mengidentifikasi kendala, serta menentukan perbaikan yang diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan penanganan TB-HIV.²˒⁵
Tantangan : yang mungkin muncul adalah stigma masyarakat terhadap TBC dan HIV, kondisi pasien yang masih rendah, serta keterbatasan tenaga kesehatan.³
Peluang : Terdapat peluang berupa dukungan program pemerintah, peran kader kesehatan, serta pemanfaatan informasi teknologi untuk mendukung pelaksanaan program.⁵
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, saya akan memperkuat edukasi kepada masyarakat, meningkatkan koordinasi antarpetugas, serta memanfaatkan teknologi untuk menyatukan dan mendukung pengobatan pasien.²⁻⁵
Aplikasi Model Kepemimpinan pada FKTL untuk Peningkatan Mutu (PPI)
Di fasilitas kesehatan tingkat lanjut seperti rumah sakit, penerapan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) memiliki peran penting dalam melindungi pasien, tenaga kesehatan, dan pengunjung dari risiko penularan infeksi. Oleh karena itu, diperlukan komitmen seluruh petugas agar standar PPI dapat diterapkan secara konsisten.⁴
Sebagai pemimpin transformasional, saya akan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang mendukung budaya keselamatan dan mendorong seluruh anggota tim untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan PPI. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:
Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya PPI , misalnya dengan mengajak seluruh petugas untuk selalu menerapkan kebersihan tangan, menggunakan APD sesuai prosedur, dan mematuhi standar pencegahan infeksi.
Mendorong pengembangan kompetensi petugas , melalui pelatihan, diskusi, maupun sosialisasi terkait PPI agar pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan terus meningkat.
Membangun komunikasi yang terbuka , sehingga setiap anggota tim dapat menyampaikan kendala atau masukan terkait pelaksanaan PPI tanpa rasa takut.
Melakukan pemantauan dan perbaikan secara berkala , dengan memperhatikan kepatuhan petugas terhadap prosedur PPI dan menjelaskan solusi jika ditemukan masalah di lapangan.²
Tantangan:
Tantangan yang mungkin dihadapi antara lain dipenuhinya sebagian petugas terhadap prosedur PPI, tingginya beban kerja, serta keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.⁴
Peluang:
Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah adanya program PPI rumah sakit, dukungan manajemen, serta meningkatnya kesadaran tenaga kesehatan mengenai pentingnya keselamatan pasien dan petugas.⁷
Dalam mengatasi tantangan ini, saya akan mendorong pelaksanaan pelatihan rutin, melakukan pemantauan kepatuhan terhadap prosedur PPI, memberikan umpan balik kepada petugas, serta membangun budaya keselamatan yang melibatkan seluruh tenaga kesehatan.²˒⁴
Gambar 5. Checklist 5 Momen Cuci Tangan
Kesimpulan
Berdasarkan hasil MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ENFJ-A yang cenderung mudah berkomunikasi, senang bekerja sama, dan mampu memberikan motivasi kepada orang lain. Karakteristik tersebut membuat saya merasa bahwa kepemimpinan transformasional merupakan model yang paling sesuai karena tekanan kerja sama, pengembangan potensi anggota tim, dan kemampuan menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pelayanan kesehatan, kepemimpinan transformasional dapat diterapkan baik di puskesmas maupun rumah sakit. Pada program TB-HIV, pemimpin berperan dalam membangun kerja sama antara petugas dan berbagai pihak terkait agar program berjalan lebih efektif. Sementara itu, dalam penerapan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), pemimpin dapat mendorong terciptanya budaya keselamatan melalui peningkatan kesadaran, komitmen, dan kerja sama seluruh tenaga kesehatan. Menurut saya, seorang pemimpin tidak hanya bertugas mengarahkan tim, tetapi juga menjadi teladan, memberikan dukungan, dan menciptakan lingkungan kerja yang positif. Dengan demikian pelayanan kesehatan dapat berjalan lebih baik dan tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara optimal.
Daftar Pustaka
Myers IB, Myers PB. Bakat yang Berbeda: Memahami Tipe Kepribadian . Pemandangan Gunung (CA): CPP Inc; 2010.
Bass BM, Riggio RE. Kepemimpinan Transformasional . Edisi ke-2. New York: Pers Psikologi; 2006.
Organisasi Kesehatan Dunia. Pedoman Terkonsolidasi tentang Pencegahan, Pengujian, Pengobatan, Penyediaan Layanan, dan Pemantauan HIV: Rekomendasi untuk Pendekatan Kesehatan Masyarakat . Jenewa: SIAPA; 2021.
Organisasi Kesehatan Dunia. Rencana Aksi Keselamatan Pasien Global 2021–2030: Menuju Penghapusan Kerugian yang Dapat Dihindari dalam Pelayanan Kesehatan . Jenewa: SIAPA; 2021.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Tuberkulosis . Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2024.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana HIV/AIDS . Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2023.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan . Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2023.
PG Rumah Utara. Kepemimpinan: Teori dan Praktik . Edisi ke-10. Thousand Oaks (CA): Publikasi Sage; 2024.
Lampiran
Hasil Tes MBTI
Daftar | PPI
Formulir Pemeriksaan HIV
Contoh Formulir HIV
Komentar
Posting Komentar