MEMIMPIN DENGAN LOGIKA DAN INOVASI: Refleksi Kepemimpinan Transformasional Seorang ENTP dalam Penguatan Kolaborasi TB-HIV dan Keselamatan Pasien
Nama : Alfonsus Dewayashi Tyascanaka
NIM : 23.P1.0012
Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan latar belakang personal
Untuk memahami kecenderungan kepemimpinan saya secara objektif, saya melakukan asesmen kepribadian menggunakan instrumen Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) melalui platform 16Personalities. Hasil yang saya peroleh adalah tipe ENTP-T (Debater/Sang Pendebat), yaitu kombinasi dari preferensi Extraversion (E), Intuition (N), Thinking (T), dan Perceiving (P), dengan varian Turbulent (T) yang menggambarkan kecenderungan reflektif dan kewaspadaan diri yang tinggi terhadap performa.
Secara umum, individu dengan tipe ENTP dikenal sebagai pemikir yang cepat, argumentatif, dan haus akan ide-ide baru. Mereka melihat dunia sebagai ruang kemungkinan yang harus dieksplorasi, sering menantang asumsi yang sudah mapan, dan nyaman berada di tengah perdebatan intelektual. Dalam konteks kepemimpinan, ENTP cenderung berperan sebagai visioner yang inspiratif dan persuasif, lebih suka mendelegasikan dan memberi otonomi kepada timnya dibanding mengontrol secara rinci, serta sangat terbuka terhadap perubahan dan inovasi proses kerja1.
Hasil asesmen ini saya nilai cukup akurat menggambarkan diri saya. Dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan, saya cenderung menjadi pihak yang paling sering mengajukan pertanyaan kritis atau alternatif solusi ketika sebuah program kerja dirancang, alih-alih menerima rencana yang ada begitu saja. Ketika berdiskusi dalam kelompok PBL atau skill lab, saya juga terbiasa melontarkan sudut pandang yang berbeda dari mayoritas, bukan untuk sekedar berdebat, tetapi karena saya merasa ide yang belum diuji argumennya berisiko menghasilkan keputusan yang kurang matang.
Pengalaman lain yang mencerminkan karakter ini terjadi ketika saya dipercaya memimpin sebuah proyek kelompok yang memerlukan adaptasi. Saya cenderung mudah melihat berbagai solusi dan antusias mengajak anggota tim untuk mencoba cara-cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Namun, saya juga menyadari bahwa saya terkadang kurang menyukai pekerjaan yang dilakukan secara rutin dan dapat berpindah fokus ke ide baru sebelum pekerjaan sebelumnya selesai sepenuhnya. Karakteristik ini sejalan dengan tipe ENTP yang umumnya lebih menikmati proses mencari dan mengembangkan ide dibandingkan menjalankan tugas yang bersifat rutin dalam jangka waktu lama.
Model Kepemimpinan yang relevan
Berdasarkan karakteristik personal yang telah saya identifikasi, model kepemimpinan yang paling relevan dengan diri saya adalah Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership). Dalam buku Kepemimpinan karya Anna Wulandari, et.al, kepemimpinan transformasional digambarkan sebagai gaya kepemimpinan yang mampu menginspirasi dan memotivasi anggota organisasi untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi melalui visi yang jelas, pemberdayaan anggota, serta dorongan untuk melakukan perubahan dan inovasi2.
Saya memilih model kepemimpinan transformasional karena karakteristik tersebut sangat sesuai dengan kepribadian saya sebagai seorang ENFP. Saya cenderung memiliki antusiasme yang tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain, senang mengembangkan ide-ide baru, serta termotivasi untuk membantu orang lain mencapai potensi terbaiknya. Dalam berbagai situasi kelompok, saya lebih nyaman menggerakkan anggota tim melalui inspirasi, komunikasi yang positif, dan pembangunan hubungan yang baik dibandingkan melalui kontrol yang ketat atau pemberian instruksi secara langsung. Kepemimpinan transformasional juga menekankan pentingnya visi dan perubahan. Saya memiliki kecenderungan untuk melihat berbagai kemungkinan yang dapat dikembangkan dalam suatu organisasi atau kelompok. Ketika menghadapi suatu masalah, saya sering berusaha mencari pendekatan baru yang lebih kreatif dan mengajak anggota tim untuk bersama-sama menemukan solusi yang inovatif.
Terdapat keselarasan yang kuat antara karakteristik ENFP dan karakteristik pemimpin transformasional. Kemampuan membangun hubungan interpersonal yang baik mendukung saya dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif dan kolaboratif. Saya juga cenderung mampu memberikan semangat kepada anggota tim melalui komunikasi yang persuasif dan penuh energi sehingga dapat meningkatkan motivasi mereka dalam mencapai tujuan bersama. Selain itu, sifat kreatif dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan membantu saya mendorong anggota tim untuk berpikir lebih inovatif dan tidak terpaku pada cara-cara lama dalam menyelesaikan masalah. Saya juga memiliki perhatian terhadap perkembangan individu sehingga berusaha memahami kebutuhan dan potensi masing-masing anggota tim agar mereka dapat berkembang secara optimal.
Kekuatan utama saya dalam menerapkan kepemimpinan transformasional adalah kemampuan membangun hubungan yang baik, menginspirasi orang lain, serta menciptakan suasana kerja yang penuh semangat dan kolaboratif. Saya juga cukup mudah menyesuaikan diri dengan perubahan dan terbuka terhadap ide-ide baru yang dapat meningkatkan efektivitas tim.
Namun demikian, saya menyadari adanya beberapa keterbatasan. Saya terkadang terlalu fokus pada ide dan kemungkinan baru sehingga kurang memperhatikan detail atau aspek teknis yang bersifat rutin. Selain itu, antusiasme terhadap berbagai gagasan baru dapat menyebabkan fokus saya terpecah apabila tidak disertai dengan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, saya perlu meningkatkan kemampuan dalam menjaga konsistensi pelaksanaan program serta bekerja sama dengan anggota tim yang memiliki kekuatan pada aspek pengorganisasian dan pengelolaan detail, sehingga visi yang telah ditetapkan dapat diwujudkan secara efektif dan berkelanjutan.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Tuberkulosis (TB) dan HIV merupakan dua epidemi yang saling memperberat satu sama lain; HIV meningkatkan risiko progresi infeksi TB laten menjadi TB aktif, sementara TB merupakan penyebab kematian utama pada Orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia3. Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan mekanisme kolaborasi TB-HIV di tingkat fasilitas kesehatan sebagai bagian dari strategi penanggulangan kedua penyakit ini secara terintegrasi4. Apabila saya dipercaya sebagai koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya akan menjalankan peran tersebut dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan transformasional.
Beberapa hal yang akan saya lakukan antara lain:
Advokasi. Saya akan menyusun narasi advokasi berbasis data epidemiologi lokal Puskesmas X untuk disampaikan kepada Kepala Puskesmas dan lintas sektor terkait (Dinas Kesehatan, kecamatan, dan tokoh masyarakat), menekankan urgensi kolaborasi TB-HIV sebagai investasi penurunan angka kehidupan.
Penguatan Tim. Saya akan mengadakan diskusi rutin bersama petugas TB dan HIV untuk mengidentifikasi hambatan operasional, seperti perbedaan sistem pencatatan dan pelaporan antar program yang dilaporkan menjadi beban kerja tambahan petugas. Saya akan mendorong petugas untuk mengusulkan solusi inovatif, misalnya menyusun format data bersama, menyelaraskan alur pencatatan, dan menetapkan mekanisme koordinasi rutin agar pelaporan kedua program menjadi lebih efisien dan mengurangi duplikasi pencatatan.
Koordinasi Lintas Sektor. Saya akan membangun forum koordinasi berkala dengan rumah sakit rujukan, laboratorium, dan organisasi masyarakat sipil. Kemampuan saya membangun argumen logis yang menjembatani perbedaan kepentingan antar sektor menjadi modal penting di sini.
Kolaborasi Interprofesional. Mengacu pada temuan bahwa pemimpin klinis di fasilitas primer berperan sebagai penghubung antara manajemen, staf, dan pasien melalui komunikasi dan kolaborasi yang baik5, saya akan memfasilitasi pertemuan rutin lintas profesi (dokter, perawat, petugas laboratorium, apoteker, dan konselor) untuk menyamakan pemahaman tata laksana terapi pencegahan TB pada Orang dengan HIV (ODHIV), sekaligus memberi ruang bagi setiap profesi untuk menyuarakan kendala teknis di lapangan.
Monitoring dan Evaluasi. Saya akan menetapkan indikator capaian bersama, seperti persentase pasien TB yang diketahui status HIV-nya dan persentase Orang dengan HIV (ODHIV) yang menerima terapi pencegahan TB, kemudian melakukan evaluasi berkala dengan pendekatan non-punitif terhadap kendala yang muncul, mendorong tim untuk belajar dari kegagalan kecil tanpa rasa takut, sebagaimana ditekankan dalam komponen monitoring dan evaluasi pada rencana aksi nasional kolaborasi TB-HIV4.
Peluang yang dapat dimanfaatkan antara lain dukungan kebijakan nasional yang sudah cukup matang melalui Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC-HIV3 dan tersedianya jejaring layanan rujukan yang dapat diperkuat. Namun demikian, tantangan yang sering dijumpai di Puskesmas meliputi perbedaan sistem pencatatan dan pelaporan antar program, kapasitas petugas yang belum merata dalam tata laksana TB-HIV. Selain itu, tingginya pergantian staf (turnover) juga menjadi kendala dalam menjaga kompetensi seorang petugas4,6.
Strategi yang akan saya lakukan untuk mengatasi tantangan tersebut adalah dengan mendorong pelatihan berkelanjutan bagi petugas baru sesegera mungkin setelah rotasi staf, mengusulkan penyederhanaan instrumen pencatatan ganda menjadi satu formulir terintegrasi yang dapat digunakan kedua program, serta memfasilitasi dialog antar profesi ketika muncul resistensi terhadap perubahan cara kerja, dengan menonjolkan data dan logika dampak klinis sebagai dasar argumentasi, alih-alih mengandalkan instruksi struktural semata.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan).
Sasaran keselamatan pasien yang saya pilih untuk dianalisis adalah ketepatan identifikasi pasien. Kesalahan identifikasi pasien merupakan salah satu akar masalah dari berbagai insiden keselamatan pasien, mulai dari kesalahan pemberian obat, kesalahan transfusi, hingga kesalahan tindakan operasi7. Apabila saya menjadi pemimpin tim peningkatan mutu yang bertanggung jawab pada sasaran ini di rumah sakit, saya akan memimpin upaya tersebut dengan pendekatan kepemimpinan transformasional.
Sebagai pemimpin, saya akan melibatkan staf lintas unit (perawat, dokter, petugas laboratorium, dan farmasi) dalam merancang ulang prosedur verifikasi identitas pasien menggunakan minimal dua penanda (nama lengkap dan tanggal lahir), bukan sekadar menerapkan instruksi dari atas ke bawah, sehingga staf merasa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pelaksana aturan.
Model kepemimpinan transformasional membantu menciptakan budaya keselamatan melalui penguatan tiga unsur utama: keterbukaan komunikasi, pembelajaran dari kesalahan (bukan hukuman atas kesalahan), serta keterlibatan aktif staf dalam perbaikan proses8. Sebagai pemimpin, saya akan membangun forum pelaporan insiden yang bersifat non-punitif, di mana staf yang melaporkan nyaris-kesalahan (near-miss) identifikasi pasien justru diberi apresiasi karena telah membantu mencegah insiden yang lebih besar. Pendekatan ini sejalan dengan temuan bahwa kepemimpinan dan dukungan manajer keperawatan secara konsisten menjadi prediktor signifikan terhadap penguatan budaya keselamatan pasien di rumah sakit9.
Tantangan yang mungkin muncul dalam penerapan upaya ini meliputi resistensi staf terhadap penambahan langkah verifikasi yang dianggap memperlambat alur kerja, terutama pada unit dengan beban kerja tinggi seperti instalasi gawat darurat, serta keterbatasan infrastruktur teknologi seperti sistem barcode yang belum tersedia di seluruh unit7. Di sisi lain, peluang yang dapat dimanfaatkan adalah semakin tingginya kesadaran nasional dan internasional terhadap pentingnya enam sasaran keselamatan pasien sebagai bagian dari akreditasi rumah sakit, sehingga dukungan manajemen puncak terhadap inisiatif ini relatif lebih mudah diperoleh.
Kesimpulan
Hasil asesmen MBTI menunjukkan bahwa saya memiliki tipe kepribadian ENTP-T, yang ditandai dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta terbuka terhadap ide dan cara baru dalam belajar maupun bekerja dalam tim. Berdasarkan karakteristik kepribadian ENTP-T yang saya miliki, model kepemimpinan transformasional dinilai paling relevan untuk saya terapkan. Menurut Anna Wulandari dkk. dalam buku Kepemimpinan, kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang mampu menginspirasi anggota untuk mencapai tujuan bersama melalui visi yang jelas, pemberdayaan, serta dorongan untuk berinovasi.
Di fasilitas kesehatan tingkat pertama, kepemimpinan transformasional dapat diterapkan untuk memperkuat kerja sama dalam kolaborasi TB-HIV melalui komunikasi yang baik, penguatan tim, dan koordinasi lintas sektor dalam mengatasi berbagai kendala. Di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, pendekatan ini dapat digunakan untuk membangun budaya keselamatan pasien, terutama dalam memastikan ketepatan identifikasi pasien, dengan mendorong komunikasi terbuka, pembelajaran dari kesalahan tanpa saling menyalahkan, dan keterlibatan aktif seluruh staf dalam perbaikan pelayanan. Dengan demikian, kepemimpinan yang baik tidak hanya bergantung pada teori, tetapi juga pada kemampuan mengenali kelebihan dan kekurangan diri serta bekerja sama dengan tim untuk mencapai tujuan bersama.
Daftar Pustaka
16Personalities. Mediator (INFP-T) [Internet]. NERIS Analytics Limited; [diakses 2026 Jun 25]. Tersedia dari: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-infp
Wulandari A, Mulyanto H. Kepemimpinan. Bekasi: PT Kimshafi Alung Cipta; 2024. 117 p. ISBN: 978-623-89003-9-8.
World Health Organization. Recommended collaborative TB/HIV activities [Internet]. Geneva: WHO; 2012 [cited 2026 Jun 24]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK131896/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Rencana Aksi Nasional Kolaborasi TB-HIV 2020-2024. Jakarta: Kemenkes RI; 2021.
Lekitoo G, Kiplagat A, Songok J. Leading from the bottom: the clinical leaders’ roles in an HIV primary care facility in Eldoret, Kenya. PLoS One. 2024;19(5):e0302066.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC HIV. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
Alves M, Antunes A, Carvalho I, Capelas ML. Interventions to reduce patient identification errors in the hospital setting: a systematic review. Saf Health. 2021;7(1):27.
Tangatarova Z, Gao Y. Transformational leadership and patient safety in hospital: the roles of safety culture, decision-making capacity, and locus of control. Int J Res Bus Soc Sci. 2021;10(2):106-22.
Ali NB, Mahmoud MH, Eldeeb HM. The effects of leadership on patient safety culture in health care: a systematic review. BMC Nurs. 2025;24:1-18.
Komentar
Posting Komentar