Dari Kepedulian Menuju Kepemimpinan: Refleksi Seorang Defender (ISFJ-T)

Nama : Florencia Elvaretta Arinisuci

NIM : 23.P1.0006


Pernyataan orisinalitas karya tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

 

  1. Konteks dan latar belakang personal

Gambar 1. ISFJ Personality

Kepribadian merupakan sekumpulan karakteristik dan kecenderungan yang relatif konsisten pada setiap individu yang memengaruhi cara berpikir, perasaan, dan tindakan. Kepribadian juga menjadi salah satu aspek psikologis yang penting dalam suatu organisasi karena dapat memengaruhi sikap, perilaku, dan kinerja individu dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu, mengenali kepribadian diri sendiri menjadi langkah awal yang penting, salah satunya melalui tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI)1. Berdasarkan hasil Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) yang telah dilakukan, saya memiliki tipe kepribadian ISFJ-T (Defender). Tipe kepribadian ini menggambarkan individu dengan karakter Introverted, Sensing, Feeling, dan Judging serta varian Turbulent. Secara umum, ISFJ menggambarkan seseorang yang pendiam, tenang, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain2.

       Menurut saya, hasil MBTI tersebut cukup menggambarkan karakter diri saya. Saya lebih nyaman memberikan kontribusi melalui tindakan nyata daripada banyak berbicara. Sebagai orang introvert, saya juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi ketika di lingkungan baru dan cenderung tidak langsung memulai percakapan dengan orang yang belum saya kenal. Namun, setelah saya nyaman, saya bisa berkomunikasi. Saya juga terbiasa mendengarkan pendapat orang lain terlebih dahulu sebelum menyampaikan pandangan saya, sehingga saya merasa lebih yakin ketika mengambil keputusan setelah memahami situasi secara menyeluruh terlebih dahulu. Karakter tersebut juga saya rasakan dalam kegiatan sehari-hari, terutama saat berdiskusi dan pengerjaan tugas kelompok. Saya biasanya membantu menyusun hasil diskusi, mencari referensi ilmiah, serta memastikan tugas yang dikerjakan kelompok telah sesuai dengan ketentuan. Selain itu, saya lebih memperhatikan detail, seperti ketepatan isi, format penulisan, maupun kelengkapan referensi sebelum tugas dikumpulkan secara berulang. Saya juga terbiasa membuat daftar kegiatan yang harus diselesaikan agar kegiatannya lebih teratur dan tugas-tugas dapat diselesaikan tepat waktu. 

Pengalaman lain yang menunjukkan karakter tersebut adalah ketika saya dipercaya menjadi ketua dalam sebuah kegiatan gathering yang diselenggarakan oleh senat mahasiswa. Pengalaman tersebut merupakan pertama kalinya saya memimpin sebuah kepanitiaan, sehingga pada awalnya saya merasa cukup gugup dan khawatir apakah mampu menjalankan tanggung jawab tersebut dengan baik. Meskipun demikian, saya berusaha mempersiapkan kegiatan secara terstruktur dengan menyusun pembagian tugas, berkoordinasi dengan setiap anggota, serta memastikan setiap persiapan berjalan sesuai rencana. Saya juga mendengarkan masukan dari anggota tiap divisi sebelum mengambil keputusan sehingga setiap orang dilibatkan dalam proses pelaksanaan kegiatan. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa kepemimpinan tidak selalu ditunjukkan melalui kemampuan berbicara atau memberi arahan, tetapi juga melalui tanggung jawab, kemampuan mendengarkan, kerja sama, dan kepedulian terhadap anggota tim.

       Namun, saya menyadari bahwa masih ada beberapa hal yang perlu saya perbaiki untuk menjadi seorang pemimpin. Pertama, saya perlu lebih percaya diri dalam memulai menyampaikan pendapat di hadapan banyak orang. Meskipun saya terbiasa mendengarkan pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan, kebiasaan tersebut   terkadang membuat saya terlambat mengambil sikap ketika situasi membutuhkan keputusan yang cepat dan tegas. Kedua, saya juga perlu belajar menyeimbangkan kepedulian terhadap orang lain dengan kebutuhan diri sendiri karena terkadang saya sulit untuk mengatakan “tidak” kepada orang lain. Ketiga, saya juga perlu belajar membagi tugas kepada anggota kelompok dan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menyelesaikan tanggung jawabnya. Hal tersebut disebabkan saya cenderung memperhatikan setiap detail pekerjaan sehingga sering merasa lebih yakin apabila mengerjakannya sendiri dan mengecek secara berulang. Oleh karena itu, saya perlu belajar lebih mempercayai kemampuan anggota kelompok agar kerja sama dapat berjalan lebih efektif. Dengan begitu, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, peduli, dan mampu bekerja sama dengan baik dengan anggota kelompok.

 

  1. Model kepemimpinan yang relevan

Kepemimpinan Demokratis

Gambar 2. Gaya kepemimpinan demokratis

Berdasarkan karakteritstik diri yang saya miliki, model kepemimpinan yang paling sesuai adalah gaya kepemimpinan demokratis. Gaya kepemimpinan ini menekankan kerja sama, komunikasi dua arah, serta keterlibatan anggota dalam proses pengambilan keputusan3. Saya memilih gaya kepemimpinan demokratis karena sesuai dengan karakter ISFJ-T yang lebih mengutamakan tanggung jawab, kepedulian, dan relasi antar individu yang terbuka dan saling bekerjasama walaupun terlihat pendiam.

Hubungan karakteristik diri saya dengan kepemimpinan demokratis dapat dilihat dari diri saya yang memiliki kebiasaan mendengarkan pendapat orang lain sebelum mengambil suatu keputusan. Saat saya menjadi ketua dalam suatu organisasi sebagaimana yang telah diuraikan di atas, saya berupaya agar setiap anggota tetap berperan aktif dalam kegiatan tersebut mulai dari diskusi sebelum kegiatan sampai hari-H kegiatan. Hal ini sejalan dengan karakter pemimpin demokratis yang terbuka terhadap pendapat orang lain, serta mampu menghargai pendapat tersebut untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu, sifat peduli dan bertanggung jawab yang saya miliki juga mendukung terciptanya kerja sama yang efektif dalam proses pengambilan keputusan.

Di sisi lain, saya juga menyadari masih terdapat beberapa keterbatasan dalam menerapkan gaya kepemimpinan demokratis. Saya sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil keputusan karena ingin mempertimbangkan berbagai pendapat yang disampaikan anggota. Selain itu, sifat yang cenderung rendah hati membuat saya terkadang kurang yakin dalam menyampaikan pendapat atau mengambil keputusan secara tegas. Saya juga masih perlu belajar untuk lebih terbuka dan lebih percaya dalam membagi tugas kepada anggota tim. Saya berharap dapat terus mengembangkan kemampuan tersebut agar mampu menerapkan gaya kepemimpinan demokratis secara lebih efektif.


  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Gambar 3. TB-HIV

TB dan HIV merupakan dua penyakit yang memiliki hubungan epidemiologis yang erat, terutama pada kelompok berisiko seperti penghuni permukiman padat, narapidana, pengguna narkoba suntik, dan pekerja tambang. Risiko terjadinya TB di lingkungan penjara sekitar 23 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum, sedangkan prevalensi TB pada narapidana yang hidup dengan HIV dapat mencapai 30%. Sementara itu, prevalensi HIV di antara narapidana dengan TB aktif dapat mencapai 40%–70%4. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan TB-HIV memerlukan kolaborasi lintas sektor dan tidak dapat dilakukan secara terpisah.

Apabila saya menjadi koordinator kegiatan lintas program TB-HIV di Puskesmas X, saya akan menerapkan gaya kepemimpinan demokratis dengan mengutamakan komunikasi terbuka, kerja sama tim, serta keterlibatan seluruh anggota dalam pengambilan keputusan. Saya akan memulai suatu program dengan mengidentifikasi kondisi TB-HIV di wilayah kerja melalui data epidemiologi sebagai dasar dalam penyusunan rencana kegiatan bersama anggota lainnya.

                   Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut.

  1. Advokasi

Saya akan melaksanakan kegiatan advokasi kepada kepala puskesmas, kepala desa, dan tokoh masyarakat untuk menyampaikan pentingnya program penanganan TB dan HIV. Kegiatan ini akan disertai penyajian data kasus serta penjelasan mengenai manfaat program tersebut untuk memperoleh dukungan dalam pelaksanaan skrining, penyuluhan kesehatan, upaya menemukan kasus secara dini, hingga pendampingan bagi pasien yang terdeteksi.

  1. Penguatan tim

Saya akan membangun kerja sama tim melalui pembagian tugas yang jelas secara adil, diskusi bersama, serta mengadakan pelatihan dan evaluasi secara rutin untuk meningkatkan kualitas keputusan yang baik dan benar. Dengan menerapkan gaya kepemimpinan demokratis, setiap anggota dapat berpartisipasi aktif dan memberikan pendapatnya dalam pelaksanaan program.

  1. Koordinasi lintas sektor

Saya akan mengkoordinasikan dengan dinas kesehatan, rumah sakit rujukan, pemerintah desa, kader kesehatan, dan organisasi masyarakat melalui komunikasi yang terbuka serta pertemuan rutin. Sebagai seseorang yang memiliki kepemimpinan demokratis, dalam setiap pertemuan, saya akan memberikan kesempatan kepada setiap pihak untuk menyampaikan masukan dan kendala sehingga dapat menciptakan solusi yang sesuai atas dasar kesepakatan bersama dalam mendukung program TB-HIV.

  1. Kolaborasi interprofessional

Saya akan membangun kerja sama yang baik dengan dokter, perawat, apoteker, petugas laboratorium, dan tenaga kesehatan lainnya melalui komunikasi yang terbuka serta saling menghargai perannya masing-masing. Saya juga akan mendengarkan masukan dari setiap profesi agar pelayanan TB-HIV dapat berjalan secara optimal.

  1. Monitoring dan evaluasi

Monitoring dan evaluasi TBC HIV diperlukan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan kegiatan kolaborasi TBC HIV. Saya akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala bersama tim untuk menilai perkembangan program berdasarkan indikator utama kolaborasi TBC HIV, seperti persentase pasien TBC yang diketahui juga status HIV, cakupan pemberian ARV pada pasien TBC HIV, dan persentase pemberian TPT pada ODHIV5. Sebagai pribadi ISFJ-T yang teliti dan bertanggung jawab, saya akan memastikan tidak ada kendala yang terlewat sehingga solusi dapat tepat sasaran sesuai permasalahan yang ada.

Penerapan kepemimpinan demokratis dalam program TB-HIV memberikan beberapa peluang, di antaranya sifat teliti dan bertanggung jawab yang saya miliki sebagai ISFJ-T dapat membantu memastikan setiap langkah program berjalan sesuai rencana, sementara gaya demokratis yang saya terapkan mendorong keterlibatan aktif seluruh anggota tim sehingga muncul ide dan solusi yang lebih banyak dan dapat memperkirakan mana yang akan dipilih. Dukungan dari pemerintah, kader kesehatan, organisasi masyarakat, serta kebijakan integrasi layanan TB-HIV juga menjadi peluang yang dapat mendukung keberhasilan program. Di sisi lain, saya menyadari adanya beberapa tantangan, seperti kecenderungan untuk terlalu mempertimbangkan pendapat orang lain sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih lama, kecenderungan saya yang sulit berkata "tidak" atas permintaan orang lain, serta masih adanya stigma masyarakat terhadap TB-HIV yang dapat menghambat penemuan kasus dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Untuk mengatasi hal tersebut, saya akan membangun komunikasi yang terbuka, menetapkan batas waktu dalam proses diskusi agar keputusan tetap efektif, terus melatih kepercayaan diri dalam mengambil keputusan, serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai TB-HIV untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya deteksi dini serta kepatuhan pengobatan.


  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

Saya memilih sasaran keselamatan pasien berupa komunikasi efektif. Komunikasi efektif merupakan salah satu dari enam sasaran keselamatan pasien yang bertujuan memastikan informasi terkait perawatan pasien disampaikan secara akurat, lengkap, dan tepat waktu antara tenaga kesehatan6.

Sebagai pemimpin tim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan melihat terlebih dahulu masalah dalam hal komunikasi yang terjadi selama proses pelayanan melalui diskusi dengan tenaga kesehatan lainnya, meninjau laporan insiden keselamatan pasien, serta mengamati proses penyampaian informasi antar petugas. Setelah mengetahui permasalahan yang ada, saya akan mengajak anggota tim untuk berdiskusi dan menentukan solusi yang dapat dilakukan bersama, salah satunya dengan menerapkan komunikasi terstruktur menggunakan metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) saat menyampaikan informasi pasien. Metode SBAR membantu tenaga kesehatan menyampaikan kondisi pasien dengan lebih jelas dan terarah sehingga dapat mengurangi risiko kesalahan akibat miskomunikasi7,8. Saya juga akan melakukan evaluasi secara berkala dan mendorong setiap anggota tim untuk terbuka dalam menyampaikan kendala, sehingga komunikasi antar tenaga kesehatan dapat berjalan lebih baik dan dapat meningkatkan keselamatan pasien.

Model kepemimpinan yang saya pilih adalah kepemimpinan demokratis, yaitu gaya kepemimpinan yang melibatkan anggota tim dalam proses pengambilan keputusan dan mendorong adanya komunikasi dua arah. Penerapan kepemimpinan ini dapat membantu menciptakan budaya keselamatan karena setiap tenaga kesehatan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, menyampaikan permasalahan yang sedang dihadapi, dan ikut berperan dalam mencari solusi3. Dengan adanya komunikasi yang jelas dan terbuka maka risiko kesalahan akibat miskomunikasi dapat diminimalisir sehingga pelayanan kesehatan menjadi lebih baik bagi pasien maupun tenaga kesehatan.

Tantangan yang mungkin muncul dalam penerapan komunikasi efektif adalah adanya perbedaan cara berkomunikasi antar tenaga kesehatan yang berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda, kurangnya keterbukaan dalam menyampaikan permasalahan, serta beban kerja yang tinggi sehingga komunikasi tidak selalu berjalan secara optimal. Namun, tantangan tersebut dapat diatasi melalui kerja sama yang baik antar tenaga kesehatan serta dukungan dari pihak rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan. Sebagai pemimpin, langkah antisipatif yang akan saya lakukan yaitu memberikan contoh komunikasi yang baik, melakukan evaluasi secara berkala, memberitahu terkait pentingnya komunikasi efektif, serta menciptakan suasana kerja yang mendukung agar setiap anggota tim merasa nyaman dalam menyampaikan informasi atau pendapat karena saya mengupayakan untuk bebas berpendapat. 


  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), saya termasuk tipe kepribadian ISFJ-T yang ditandai dengan sifat bertanggung jawab, peduli terhadap orang lain, dan teliti. Karakteristik tersebut sesuai dengan model kepemimpinan demokratis yang lebih mengarah ke komunikasi terbuka, kerja sama, serta keterlibatan anggota tim dalam pengambilan keputusan. Penerapan model kepemimpinan demokratis dapat mendukung pelaksanaan program kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun peningkatan mutu di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, khususnya pada sasaran keselamatan pasien berupa komunikasi efektif. Meskipun terdapat berbagai tantangan, seperti perbedaan cara berkomunikasi, beban kerja yang tinggi, dan kecenderungan saya untuk terlalu mempertimbangkan pendapat orang lain, tantangan tersebut dapat diatasi melalui komunikasi yang terbuka, evaluasi secara berkala, kerja sama tim, serta dukungan dari pihak rumah sakit. Melalui pengalaman dan refleksi diri, saya berharap dapat terus mengembangkan kemampuan kepemimpinan agar mampu menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, kolaboratif, dan mampu menciptakan budaya keselamatan bagi pasien maupun tenaga kesehatan.


  1. Daftar pustaka

  1. Eshete SK, Debela KL, Kebede TA. Personality and workplace employees’ performance: systematic review. J Innov Entrep. 2025;14(1):1-25. doi:10.1186/s13731-025-00602-9.

  2. NERIS Analytics Limited. ISFJ personality ("Defender") [Internet]. 16Personalities; [cited 2026 Jun 26]. Available from: https://www.16personalities.com/isfj-personality

  3. Muntatsiroh A, Hendriani S. TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN DAN TEORI KEPEMIMPINAN DALAM SUATU ORGANISASI. J Econ Edu. 2024;4(2):172-178. doi:10.36085/jee.v4i2.5917.

  4. Hamada Y, Getahun H, Tadesse BT, Ford N. HIV-associated tuberculosis. Int J STD AIDS. 2021;32(9):780-790. doi:10.1177/0956462421992257

  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk teknis kolaborasi TBC HIV. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2023.

  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2017. p.36.

  7. Müller M, Jürgens J, Redaèlli M, Klingberg K, Hautz WE, Stock S. Impact of the communication and patient hand-off tool SBAR on patient safety: a systematic review. BMJ Open. 2018;8(8):e022202. doi:10.1136/bmjopen-2018-022202.

  8. Novi Anggaraini S, Wijaya L. ANALISIS PENERAPAN KOMUNIKASI EFEKTIF DENGAN TEKNIK SBAR TERHADAP RESIKO INSIDEN KESELAMATAN PASIEN. J Kesehat Dan Pembang. 2026;16(1):68-77. doi:10.52047/jkp.v16i1.447.


  1. Lampiran


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T