Memimpin dengan Hati, Bergerak dengan Visi: Kepemimpinan Transformasional Seorang ENFJ-A dalam Pelayanan Kesehatan

Nama: Vincentia Venesalie Purnomo
NIM: 23.P1.0001



Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis

    Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.


A. Konteks dan Latar Belakang Personal

    Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) merupakan salah satu tes kepribadian yang digunakan untuk mengetahui preferensi individu berdasarkan pola jawaban yang diberikan. Tes ini mengelompokkan individu ke dalam 16 tipe kepribadian dan merupakan bagian dari instrumen psikometri yang digunakan untuk menggambarkan karakteristik seseorang1.

    Berdasarkan tes MBTI yang telah saya lakukan, saya memperoleh tipe kepribadian ENFJ-A (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging, Assertive). ENFJ dikenal sebagai The Protagonist, yaitu tipe kepribadian yang cenderung memiliki tujuan hidup yang lebih besar. Individu dengan tipe ENFJ umumnya bijaksana, idealis, serta selalu berusaha untuk memberikan dampak positif bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Selain itu, mereka cenderung berani mengambil sikap untuk melakukan hal yang dianggap benar, meskipun terkadang sulit untuk melakukannya. Kemampuan ENFJ untuk menginspirasi dan memotivasi orang lain dalam hubungan profesional dan sosial membuatnya sering disebut sebagai sosok pemimpin alami. Kesempatan untuk membantu dan membimbing orang lain agar dapat berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya, biasanya merupakan sumber kepuasan terbesar bagi mereka2.

    Secara keseluruhan, hasil MBTI tersebut cukup mencerminkan kepribadian saya. Saya memiliki sifat extraverted (E) karena saya senang berinteraksi dengan banyak orang, memulai diskusi, serta membangun hubungan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Sifat intuitive (N) tercermin dari kecenderungan saya yang imajinatif, terbuka terhadap hal-hal baru, serta lebih menyukai eksplorasi ide dan berbagai kemungkinan di masa depan dibanding hanya berfokus pada hal yang sudah pasti. Cara saya mengambil keputusan dengan mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan orang lain, bukan hanya logika, menunjukkan aspek feeling (F). Sementara itu, aspek judging (J) terlihat dari kecenderungan saya dalam melakukan koordinasi yang sistematis, menetapkan tenggat waktu yang jelas, serta menyusun perencanaan yang terstruktur. Sedangkan, aspek assertive (A) menunjukkan bahwa saya cenderung tegas dan percaya diri, stabil secara emosional, serta tahan terhadap stres. Saya juga tidak mudah cemas berlebihan dan tidak terlalu memaksakan diri dalam mencapai tujuan3.

    Dari pengalaman saya sebagai bendahara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran UNIKA Soegijapranata, saya dapat melihat adanya beberapa karakteristik ENFJ-A dalam diri saya, terutama dalam hal komunikasi, empati, dan kemampuan bekerja sama. Sebagai bendahara, saya tidak hanya mengelola keuangan secara teknis, tetapi juga mengomunikasikan kondisi anggaran secara transparan agar setiap divisi memahami situasi yang ada. Saya juga berperan sebagai perantara ketika terjadi miskomunikasi terkait anggaran dengan menyelesaikannya secara empatik dan berorientasi pada solusi. Selain dalam organisasi, karakter tersebut juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Saya sering menjadi tempat beberapa teman untuk bercerita atau mencurahkan perasaannya. Dalam situasi tersebut, saya berusaha mendengarkan dengan baik, menunjukkan empati, serta membantu mereka menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan kecenderungan saya untuk memperhatikan perasaan orang lain dan senang membantu orang di lingkungan sosial saya. 

    Meskipun memiliki berbagai kekuatan sebagai pemimpin, saya menyadari bahwa masih terdapat beberapa hal yang perlu dikembangkan. Saya perlu mengembangkan kemampuan dalam menjaga batasan diri agar tidak terlalu memprioritaskan kebutuhan orang lain yang berisiko menimbulkan kelelahan (burnout). Selain itu, saya juga perlu mengembangkan keberanian dalam menghadapi konflik yang diperlukan untuk perbaikan kualitas kerja, serta meningkatkan ketelitian terhadap detail karena adanya kecenderungan intuitive saya yang berfokus pada gambaran umum. Hal-hal tersebut penting untuk saya perhatikan dalam proses pengembangan diri sebagai pemimpin

Gambar 1. ENFJ Personality Type

B. Model Kepemimpinan yang Relevan

   Gambar 2. Transformational Leadership

    Berdasarkan karakteristik diri yang telah diuraikan, saya memilih model kepemipinan transformasional sebagai pendekatan yang paling sesuai. Kepemimpinan ini berfokus pada upaya meningkatkan motivasi, moral, dan kinerja anggota melalui inspirasi serta pembentukan visi bersama. Burns menyatakan bahwa pemimpin transformasional tidak hanya berorientasi pada kepentingan individu, tetapi juga mendorong perubahan positif dalam diri anggota dan organisasi. Model ini diperkenalkan oleh Burns dan dikembangkan oleh Bass, dengan empat komponen utama, yaitu idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration4.

    Karakter ENFJ-A yang saya miliki, sejalan dengan komponen dalam kepemimpinan transformasional. Dimensi extraverted dan feeling mendukung kemampuan saya dalam idealized influence dan inspirational motivation, yaitu menjadi sosok yang dipercaya serta mampu menginspirasi tim melalui komunikasi yang hangat. Dimensi intuitive membantu saya dalam merumuskan visi jangka panjang yang inovatif (intellectual stimulation), sementara kepedulian terhadap individu sejalan dengan komponen individualized consideration.

    Dalam penerapan kepemimpinan transformasional, kekuatan yang saya miliki dapat menjadi faktor pendukung. Kemampuan dalam membangun relasi interpersonal memudahkan saya untuk memperoleh kepercayaan dari tim, sedangkaan komunikasi yang empatik turut membantu kelancaran koordinasi, termasuk dalam kerja sama lintas profesi. Selain itu, sifat assertive membantu saya tetap tenang dan yakin dalam mengambil keputusan.

    Namun, terdapat beberapa keterbatasan yang dapat memengaruhi efektivitas penerapan kepemimpinan tersebut. Kecenderungan untuk terlalu memprioritaskan kebutuhan orang lain terkadng membuat saya kurang objektif dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin. Selain itu, keinginan untuk menjaga keharmonisan tim membuat saya sesekali menghindari perbedaan pendapat atau konflik yang sebenarnya penting untuk pengembangan ide dalam tim. Di sisi lain, kecenderungan saya untuk melihat gambaran besar juga membuat saya perlu lebih memperhatikan detail dalam pelaksanaan kerja. Oleh karena itu, saya perlu belajar untuk menyeimbangkan antara kepedulian terhadap orang lain dengan ketegasan, serta meningkatkan ketelitian agar proses kepemimpinan dapat berjalan dengan lebih baik.

C. Aplikasi Model Kepemimpinan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program TB-HIV 

    Jika saya menjabat sebagai koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas, saya akan menerapkan kepemimpinan transformasional dengan berfokus pada pembentukan visi bersama, komunikasi yang terbuka, dan pemberdayaan tim4. Saya akan memastikan bahwa seluruh anggota tim memahami pentingnya kerja sama antara program TB dan HIV untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

    Dalam tahap advokasi, saya akan mengkomunikasikan kepada pimpinan puskesmas dan pihak terkait tentang pentingnya program TB-HIV dengan pendekatan yang persuasif dan berbasis data untuk mendapatkan dukungan kebijakan dan sumber daya. Dalam proses ini, saya menerapkan inspirational motivation dengan menyampaikan visi yang jelas mengenai pentingnya kerja sama dalam program TB dan HIV sehingga dapat menggerakkan komitmen tim dan pimpinan. Untuk membangun kepercayaan, saya juga menerapkan idealized influence dengan menunjukkan sikap profesional.

    Dalam penguatan tim, saya menerapkan individualized consideration dengan memahami peran, kebutuhan, dan kemampuan setiap anggota tim, serta memberikan dukungan yang tepat agar mereka dapat bekerja secara optimal.

    Sementara itu, untuk mendukung keberhasilan program, saya akan bekerja sama dengan pihak eksternal seperti dinas kesehatan, kader, dan komunitas dalam koordinasi lintas sektor dan kolaborasi interpersonal. Saya juga akan bertanggungjawab memastikan komunikasi yang efektif antara tenaga medis, perawat, dan profesi lainnya agar pelayanan dapat terlaksana dengan baik. Dalam hal ini, saya menerapkan intellectual stimulation dengan menciptakan ruang yang mendukung pertukaran ide, diskusi, dan pemecahan masalah bersama.

    Pada tahap monitoring dan evaluasi, saya akan memantau pelaksanaan program secara berkala dan mengevaluasi hasil untuk mendorong perbaikan berkelanjutan. Proses ini dilakukan dengan komunikasi yang terbuka dan evaluasi yang melibatkan seluruh anggota tim untuk menciptakan rasa tanggung jawab bersama. Melalui diskusi dan refleksi bersama, saya mendorong tim untuk aktif memberikan masukan serta mencari solusi untuk masalah yang dihadapi. Dengan demikian, proses evaluasi tidak hanya menjadi penilaian, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan pengembangan tim.

    Dalam menjalankan peran sebagai koordinator, terdapat beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti adanya dukungan dari pimpinan dan anggota tim, yang dapat dikembangkan melalui komunikasi yang terbuka. Kerja sama antar tenaga kesehatan dan pihak eksternal juga menjadi peluang untuk koordinasi dan pelaksanaan program yang lebih baik. Namun, terdapat beberapa tantangan yang mungkin muncul, seperti perbedaan pendapat antar anggota tim, kurangnya koordinasi lintas program, dan kecenderungan untuk menghindari konflik, yang dapat menghambat pengambilan keputusan. Tantangan lain adalah menjaga konsistensi kinerja tim selama program berlangsung. 

    Untuk mengatasi hal tersebut, saya akan mengedepankan komunikasi yang terbuka dan membangun suasana kerja yang saling mendukung agar setiap anggota tim merasa dihargai. Selain itu, saya akan berperan aktif dalam memfasilitasi diskusi untuk menyatukan pendapat serta berani mengambil keputusan secara tegas ketika diperlukan. Saya juga akan mendukung evaluasi bersama secara berkala untuk menjaga komitmen dan kualitas kerja tim.

Gambar 3. TB-HIV

D. Aplikasi Model Kepemimpinan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut untuk Peningkatan Mutu

    Jika saya menjadi pemimpin tim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan berfokus pada peningkatan komunikasi efektif sebagai salah satu sasaran keselamatan pasien. Hal ini penting karena komunikasi yang kurang jelas dapat meningkatkan risiko kesalahan dalam pelayanan5.

    Dalam menjalankan peran tersebut, saya akan menerapkan kepemimpinan transformasional dengan membangun kesadaran bersama tentang betapa pentingnya komunikasi yang jelas dan tepat untuk keselamatan pasien. Saya juga akan mendorong setiap anggota tim untuk berpartisipasi secara aktif dalam menjaga kualitas komunikasi. Selain itu, saya juga akan menciptakan suasana kerja yang terbuka, sehingga tenaga kesehatan merasa nyaman untuk bertanya, memberikan masukan, atau menyampaikan kekhawatiran. Melalui diskusi dan evaluasi bersama, saya mendorong tim untuk saling belajar dan memperbaiki cara komunikasi yang digunakan. Penerapan kepemimpinan ini dapat membantu menciptakan budaya keselamatan bagi pasien dan tenaga kesehatan, karena adanya keterbukaan, kepercayaan, dan kerja sama dalam tim. Dengan komunikasi yang baik, koordinasi antar tenaga kesehatan menjadi lebih lancar sehingga risiko kesalahan dapat diminimalkan. 

    Namun, terdapat beberapa tantangan yang mungkin muncul, seperti kebiasaan komunikasi yang sudah terbentuk, perbedaan cara berkomunikasi antar profesi, serta beban kerja yang tinggi. Di sisi lain, terdapat faktor pendukung yang dapat dimanfaatkan, seperti adanya prosedur operasi standar (SOP) dan pelatihan komunikasi yang dapat menjadi acuan dalam menyamakan cara berkomunikasi di antara tenaga kesehatan. Dengan adanya standar tersebut, proses komunikasi menjadi lebih terarah dan memudahkan evaluasi serta perbaikan. 

    Untuk mengatasinya, saya akan mendorong penggunaan standar komunikasi yang jelas, meningkatkan pelatihan, serta melakukan evaluasi secara berkala. Saya juga akan berusaha memberikan contoh komunikasi yang baik agar dapat diikuti oleh anggota tim.

Gambar 4. Pentingnya Komunikasi dalam Pelayanan Kesehatan

E. Kesimpulan

    Secara keseluruhan, penerapan kepemimpinan transformasional yang didukung oleh karakter ENFJ-A yang saya miliki dapat menjadi dasar dalam menjalankan peran sebagai pemimpin di bidang kesehatan. Melalui komunikasi yang terbuka, kemampuan membangun hubungan, serta pemberdayaan tim, saya dapat mendorong terciptanya kerja sama yang efektif baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun tingkat lanjut. Meskipun masih terdapat beberapa keterbatasan, hal tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan diri agar saya dapat menjalankan peran kepemimpinan dengan lebih baik. Dengan terus belajar menyeimbangkan empati dan ketegasan serta meningkatkan ketelitian, saya berharap dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan mendukung keselamatan pasien secara optimal. 

F. Daftar Pustaka

  1. Zubaidah, Hatijah ER, Husna N, Sariyati S. Peran tes kepribadian MBTI dalam proses konseling: meningkatkan pemahaman dan pengembangan diri individu. Menara Ilmu: Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah. 2024 Jul;18(1):34-40.
  2. 16Personalities. Kepribadian ENFJ [Internet]. 16Personalities; c2024 [cited 2026 Jun 21]. Available from: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-enfj
  3. 16Personalities. Protagonist (Assertive) (Female) [Internet]. 16Personalities; c2024 [cited 2026 Jun 21]. Available from: https://www.16personalities.com/static/factsheets/Protagonist%20(Assertive)%20(Female).pdf
  4. Ansori A, Zulbasri H, Ardaini, Anwar K. Pengertian, teori dan tipe kepemimpinan. Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi. 2025 Mei;2(5):263-277.
  5. Purba AHDSP. Peran komunikasi dalam membangun kolaborasi antar tim kesehatan melalui interprofessional education (IPE): a literature review. Universitas Sumatera Utara; 2024.

     


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T