Membangun Kepemimpinan yang Melayani: Refleksi Karakter Personal dan Implementasi Servant Leadership dalam Pelayanan Kesehatan

Nama : Nira Kencanasari

NIM : 23.P1.0007


Membangun Kepemimpinan yang Melayani: Refleksi Karakter Personal dan Implementasi Servant Leadership dalam Pelayanan Kesehatan 


Pernyataan orisinalitas karya tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.


Konteks dan Latar Belakang Personal

Kemampuan memimpin merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang dokter. Selain memberikan pelayanan klinis, dokter juga dituntut mampu bekerja sama dalam tim interprofesional, mengambil keputusan, mengoordinasikan pelayanan kesehatan, serta membangun komunikasi yang efektif. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karakter diri menjadi langkah awal dalam mengembangkan kepemimpinan. Salah satu cara untuk membantu proses refleksi tersebut adalah melalui Myers–Briggs Type Indicator (MBTI), yaitu tes kepribadian yang menggambarkan kecenderungan individu dalam berpikir, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain sehingga dapat membantu mengenali kekuatan maupun aspek yang masih perlu dikembangkan sebagai seorang pemimpin1.

Gambar 1. Tipe Kepribadian INFP-T

Berdasarkan hasil asesmen MBTI, saya termasuk ke dalam tipe kepribadian INFP-T (Mediator–Turbulent). Individu dengan tipe kepribadian ini umumnya digambarkan sebagai pribadi yang reflektif, idealis, empatik, menjunjung tinggi nilai-nilai pribadi, serta lebih mengutamakan hubungan interpersonal. Karakter tersebut tercermin dari kecenderungan untuk memperoleh energi melalui refleksi diri (Introversion), mengandalkan intuisi dalam memahami berbagai situasi (Intuition), mempertimbangkan nilai dan perasaan ketika mengambil keputusan (Feeling), serta bersikap terbuka dan fleksibel terhadap perubahan (Perceiving). Meskipun demikian, hasil MBTI bukan merupakan penentu kemampuan seseorang sebagai pemimpin, melainkan sarana refleksi diri untuk mengenali potensi dan area pengembangan yang dimiliki2

Saya merasa karakteristik INFP-T cukup menggambarkan diri saya. Saya lebih nyaman menjadi pendengar daripada pembicara, cenderung memahami sudut pandang orang lain sebelum memberikan tanggapan, serta lebih menyukai bekerja dalam tim kecil karena komunikasi dapat berlangsung lebih efektif. Menurut saya, kemampuan mendengarkan dan membangun hubungan interpersonal merupakan bekal penting bagi seorang pemimpin dalam memahami kebutuhan anggota tim sebelum mengambil keputusan.

Gambar 2. Organisasi Mahasiswa SMF-K
Gambar 3. Diklatsargab 70 Jam 2026

Karakter tersebut juga saya rasakan selama aktif sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran, anggota Korps Sukarela (KSR) PMI Universitas, serta panitia Pendidikan dan Latihan Dasar Gabungan (Diklatsargab) PMI Kota Semarang Tahun 2026. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak selalu diwujudkan dengan menjadi sosok yang paling vokal, tetapi juga melalui kemampuan mengorganisasi pekerjaan, menjaga koordinasi, serta memastikan komunikasi dan administrasi berjalan dengan baik.

Di sisi lain, saya cenderung menghindari konflik, sulit menolak permintaan orang lain, dan sering mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum mengambil keputusan. Saya juga memiliki sifat perfeksionis yang mendorong saya menghasilkan pekerjaan sebaik mungkin, tetapi terkadang disertai kecenderungan overthinking sehingga menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Selain itu, saya masih sering merasa gugup ketika harus berbicara atau memimpin di depan banyak orang. Kondisi tersebut membuat saya menyadari bahwa seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan empati dan kemampuan bekerja sama, tetapi juga ketegasan serta kemampuan komunikasi yang baik.

Saya menyadari bahwa kekuatan saya terletak pada kemampuan mendengarkan, berempati, bekerja secara teliti, serta menjaga komitmen dalam menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan. Namun, saya juga perlu mengembangkan kepercayaan diri saat berbicara di depan umum, meningkatkan ketegasan dalam mengambil keputusan, serta mengelola kecenderungan overthinking agar mampu menjadi pemimpin yang lebih efektif.


Model Kepemimpinan yang Relevan

Gambar 4. Servant Leadership

Berdasarkan karakter saya, model servant leadership merupakan model kepemimpinan yang paling sesuai dengan diri saya. Saya merasa lebih nyaman memimpin dengan cara mendengarkan, memahami kebutuhan orang lain, membangun komunikasi yang baik, serta membantu anggota tim berkembang daripada menjadi sosok yang dominan. Bagi saya, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kemampuannya memberikan arahan, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung. Karakter tersebut sejalan dengan prinsip utama servant leadership, yaitu menempatkan pelayanan kepada anggota tim sebagai dasar dalam memimpin3.

Model kepemimpinan ini sesuai dengan karakter saya sebagai INFP-T, yang cenderung mengutamakan hubungan interpersonal, menghargai kerja sama, serta mempertimbangkan nilai dan perasaan orang lain dalam mengambil keputusan. Pengalaman saya selama berorganisasi juga menunjukkan bahwa saya lebih banyak berkontribusi melalui koordinasi, perencanaan, dan menjaga komunikasi dalam tim daripada menjadi pusat perhatian. Hal tersebut semakin meyakinkan saya bahwa kepemimpinan yang melayani lebih sesuai dengan karakter dan cara saya bekerja.

Saya menyadari bahwa kemampuan mendengarkan, empati, dan ketelitian merupakan kekuatan yang dapat mendukung penerapan servant leadership, terutama dalam membangun kepercayaan dan kerja sama di dalam tim. Namun, saya juga masih perlu mengembangkan ketegasan dalam mengambil keputusan, mengurangi kecenderungan overthinking, serta meningkatkan kepercayaan diri ketika harus memimpin di depan banyak orang. Dengan terus mengembangkan aspek tersebut, saya berharap dapat menerapkan Servant Leadership secara lebih efektif sebagai bekal menjadi seorang dokter yang mampu memimpin tim pelayanan kesehatan secara kolaboratif dan berorientasi pada pasien.



Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV

Gambar 5. TB-HIV

Apabila saya dipercaya menjadi koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya akan menerapkan prinsip servant leadership dengan mengutamakan kolaborasi, komunikasi yang terbuka, dan pemberdayaan setiap anggota tim. Penanganan TB-HIV tidak dapat dilakukan oleh satu profesi atau satu program saja, tetapi membutuhkan kerja sama yang baik antarprogram maupun lintas sektor4. Oleh karena itu, peran saya sebagai koordinator bukan hanya mengarahkan, tetapi juga memastikan setiap anggota tim merasa didengar, memahami perannya, dan memperoleh dukungan untuk menjalankan tugasnya secara optimal.

Langkah awal yang akan saya lakukan adalah melakukan advokasi kepada kepala puskesmas dan pemangku kepentingan terkait mengenai pentingnya integrasi pelayanan TB-HIV. Advokasi dilakukan dengan menyampaikan data epidemiologi wilayah, capaian program, serta manfaat kolaborasi TB-HIV sehingga dapat membangun komitmen bersama dalam mendukung pelaksanaan program. Dukungan pimpinan menjadi aspek penting karena akan berpengaruh terhadap ketersediaan sumber daya, kebijakan, serta keberlangsungan kegiatan.

Selanjutnya, saya akan memperkuat kerja sama tim dengan membagi tugas sesuai kompetensi masing-masing profesi dan membangun komunikasi dua arah melalui rapat rutin, diskusi kasus, maupun forum evaluasi. Saya ingin menciptakan lingkungan kerja yang terbuka sehingga setiap anggota merasa dihargai, berani menyampaikan pendapat, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap keberhasilan program. Pendekatan ini menurut saya sejalan dengan prinsip servant leadership yang menekankan pemberdayaan dan pengembangan setiap anggota tim.

Dalam pelaksanaan program, saya juga akan membangun koordinasi lintas sektor dengan dinas kesehatan, rumah sakit rujukan, pemerintah desa atau kelurahan, kader kesehatan, serta organisasi masyarakat yang bergerak di bidang TB maupun HIV. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan penemuan kasus, memperluas edukasi kepada masyarakat, mengurangi stigma terhadap pasien TB-HIV, serta mendukung keberlanjutan pengobatan.

Selain koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional juga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Saya akan mendorong dokter, perawat, bidan, tenaga laboratorium, apoteker, tenaga promosi kesehatan, serta profesi lainnya untuk bekerja sesuai kompetensi masing-masing dengan tetap menjalin komunikasi yang terbuka. Menurut saya, setiap profesi memiliki peran yang saling melengkapi sehingga pelayanan yang diberikan dapat berlangsung secara komprehensif, terintegrasi, dan berpusat pada pasien.

Untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan, saya akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala menggunakan indikator program, seperti cakupan skrining TB pada pasien HIV, skrining HIV pada pasien TB, keberhasilan pengobatan TB, kepatuhan terapi, serta angka loss to follow-up. Hasil evaluasi tidak hanya digunakan untuk menilai capaian program, tetapi juga sebagai bahan refleksi bersama dalam mengidentifikasi kendala dan menyusun perbaikan secara berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti adanya kebijakan nasional mengenai kolaborasi TB-HIV, dukungan dari dinas kesehatan, keberadaan kader kesehatan, serta perkembangan sistem informasi kesehatan yang mempermudah pencatatan dan pelaporan program. Pemanfaatan peluang tersebut dapat meningkatkan efektivitas koordinasi dan cakupan pelayanan kepada masyarakat. Di sisi lain, saya menyadari terdapat beberapa tantangan, antara lain stigma terhadap pasien TB maupun HIV, keterbatasan sumber daya manusia, beban kerja tenaga kesehatan yang tinggi, kurang optimalnya koordinasi antarprogram, serta kemungkinan rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Untuk mengatasi hal tersebut, saya akan mengedepankan komunikasi yang terbuka, membangun kepercayaan antaranggota tim, memperkuat edukasi kepada masyarakat, melibatkan kader dalam pendampingan pasien, serta melakukan evaluasi rutin untuk mengidentifikasi hambatan dan menyusun solusi secara bersama-sama. Menurut saya, pendekatan servant leadership akan membantu menciptakan suasana kerja yang saling mendukung sehingga setiap anggota tim merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk mencapai tujuan program. Melalui pendekatan tersebut, saya berharap pelaksanaan kegiatan lintas program TB-HIV tidak hanya mampu meningkatkan capaian indikator program, tetapi juga membangun budaya kerja yang kolaboratif, berorientasi pada kebutuhan pasien, dan berkelanjutan.


Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut untuk Peningkatan Mutu (Keselamatan Pasien dan Petugas Kesehatan)

Gambar 6. Komunikasi Efektif

Apabila saya dipercaya menjadi ketua tim peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan memfokuskan upaya peningkatan mutu pada sasaran keselamatan pasien berupa komunikasi efektif. Saya memilih sasaran ini karena komunikasi yang efektif merupakan fondasi dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu. Komunikasi yang dilakukan secara tepat waktu, akurat, jelas, lengkap, dan mudah dipahami dapat meminimalkan kesalahan dalam penyampaian informasi sehingga menurunkan risiko terjadinya insiden keselamatan pasien. Sebaliknya, kegagalan komunikasi sering menjadi salah satu penyebab utama terjadinya patient safety incident, seperti kesalahan pemberian terapi, keterlambatan penanganan, maupun kesalahan dalam proses pelayanan5. Oleh karena itu, membangun budaya komunikasi yang efektif tidak hanya berkontribusi terhadap keselamatan pasien, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi tenaga kesehatan.

Dalam menjalankan peran tersebut, saya akan menerapkan prinsip servant leadership dengan membangun budaya komunikasi yang terbuka, saling menghargai, dan berorientasi pada pembelajaran. Sebagai pemimpin, saya ingin memastikan setiap anggota tim merasa nyaman menyampaikan pendapat, melaporkan kesalahan maupun near miss tanpa rasa takut disalahkan (no blame culture), serta aktif memberikan masukan untuk perbaikan pelayanan. Menurut saya, budaya keselamatan akan lebih mudah terbentuk apabila seluruh tenaga kesehatan merasa didengar dan dihargai dalam proses pengambilan keputusan.

Upaya peningkatan mutu akan diawali dengan mengidentifikasi permasalahan komunikasi yang sering terjadi melalui analisis insiden keselamatan pasien, observasi pelayanan, serta diskusi bersama tenaga kesehatan dari berbagai profesi. Berdasarkan hasil tersebut, saya akan menyusun strategi perbaikan dengan memperkuat penerapan komunikasi SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) sebagai standar komunikasi, terutama saat serah terima pasien maupun konsultasi antarprofesi. Metode ini memastikan informasi penting disampaikan secara sistematis, dimulai dari kondisi pasien saat ini (Situation), riwayat atau informasi pendukung yang relevan (Background), hasil penilaian terhadap kondisi pasien (Assessment), hingga rekomendasi tindakan yang perlu dilakukan (Recommendation). Penyampaian informasi yang terstruktur melalui SBAR membantu mengurangi kesalahan komunikasi, meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan klinis, serta memperkuat kolaborasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan. Selain itu, saya juga akan menerapkan briefing sebelum pelayanan, debriefing setelah penanganan kasus atau insiden, serta pelatihan komunikasi efektif secara berkala agar seluruh tenaga kesehatan memiliki standar komunikasi yang sama dan mampu menerapkannya secara konsisten6

Model servant leadership akan saya terapkan dengan melibatkan seluruh anggota tim dalam setiap proses perbaikan. Saya meyakini bahwa setiap profesi memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berharga untuk meningkatkan mutu pelayanan. Oleh karena itu, saya akan membangun kolaborasi antara dokter, perawat, apoteker, tenaga laboratorium, dan profesi kesehatan lainnya dalam merumuskan solusi terhadap permasalahan komunikasi. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap program sehingga perubahan yang dilakukan lebih mudah diterapkan secara berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti adanya standar akreditasi rumah sakit yang mendukung budaya keselamatan pasien, komitmen manajemen terhadap peningkatan mutu, serta perkembangan teknologi informasi yang mempermudah komunikasi dan pelaporan insiden. Peluang tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat implementasi komunikasi efektif di seluruh unit pelayanan.

Di sisi lain, beberapa tantangan yang mungkin muncul adalah perbedaan budaya kerja antarprofesi, tingginya beban kerja tenaga kesehatan, komunikasi yang bersifat hierarkis, serta masih adanya kekhawatiran tenaga kesehatan untuk melaporkan kesalahan. Sebagai langkah antisipatif, saya akan membangun komunikasi yang terbuka, memberikan teladan dalam menerima masukan, mendorong pelaporan insiden tanpa menyalahkan individu, serta melakukan evaluasi rutin terhadap penerapan komunikasi efektif. Dengan pendekatan tersebut, saya berharap budaya keselamatan pasien dan tenaga kesehatan dapat tumbuh sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya sebagai kewajiban administratif.

Sebagai seorang calon dokter, saya meyakini bahwa keberhasilan peningkatan mutu tidak hanya ditentukan oleh tersusunnya prosedur yang baik, tetapi juga oleh kemampuan pemimpin dalam membangun kepercayaan, kolaborasi, dan komunikasi yang efektif di antara seluruh anggota tim. Oleh karena itu, penerapan Servant Leadership menjadi pendekatan yang saya pilih untuk menciptakan budaya keselamatan yang berkelanjutan serta mendukung pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berpusat pada pasien.


Kesimpulan

Melalui refleksi ini, saya menyadari bahwa karakter saya sebagai INFP-T menjadi modal sekaligus tantangan dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Empati, kemampuan mendengarkan, ketelitian, dan komitmen dalam bekerja mendukung saya untuk menerapkan servant leadership, sedangkan ketegasan, kepercayaan diri, kemampuan berbicara di depan umum, serta pengambilan keputusan yang lebih objektif masih perlu terus saya kembangkan. Proses refleksi ini membuat saya memahami bahwa mengenali kelebihan dan keterbatasan diri merupakan langkah awal untuk menjadi pemimpin yang efektif.

Penerapan servant leadership dalam koordinasi program TB-HIV di Puskesmas maupun dalam upaya peningkatan mutu rumah sakit menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya berorientasi pada pencapaian target, tetapi juga pada kemampuan membangun kolaborasi, memberdayakan tim, dan menciptakan budaya kerja yang mendukung keselamatan pasien. Sebagai calon dokter, saya berharap dapat terus mengembangkan kemampuan kepemimpinan melalui pengalaman, pembelajaran, dan evaluasi diri sehingga mampu menjadi pemimpin yang profesional, humanis, adaptif, serta memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berpusat pada pasien.




DAFTAR PUSTAKA

  1. Zeehan A, Utami ZM, Rafsa AR, Mulyeni S. Relevansi Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) bagi Mahasiswa: Studi Literatur. RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan. 2026 Mar 4;4(2):33–42.

  2. Simkus J. INFP personality type meaning: Characteristics & cognitive functions [Internet]. www.simplypsychology.org. 2024. Available from: https://www.simplypsychology.org/INFP-personality.html

  3. Gera IG, Ganjarjati NI, Purbaningrum D. Kepemimpinan Pelayanan Robert K. Greenleaf sebagai Model Manajemen Pendidikan yang Efektif dan Humanis. Indonesian Research Journal on Education. 2024 Jul 23;4(3).

  4. Yandip. Tekan Kasus TBC, Butuh Kerja Sama Lintas Sektor – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah [Internet]. Jatengprov.go.id. 2023. Available from: https://jatengprov.go.id/beritadaerah/tekan-kasus-tbc-butuh-kerja-sama-lintas-sektor/

  5. Sulistyowati AD, Kusumaningrum PR. Implementasi Komunikasi Efektif dalam Peningkatan Keselamatan Pasien. JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa. 2026 Mar 11;5(1):15–21.

  6. Christina LV, Susilo AP. Penggunaan Metode SBAR untuk Komunikasi Efektif antara Tenaga Kesehatan dalam Konteks Klinis. KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran. 2021 Dec 31;3(1):57–63.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T