Lebih dari Sekadar INTJ: Refleksi Menuju Pemimpin yang Berdampak
Lebih dari Sekadar INTJ: Refleksi Menuju Pemimpin yang Berdampak
Nama: Jong Aini Apriyanti
NIM : 23.P1.0042
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan Latar belakang personal
Berdasarkan hasil assessment MBTI atau tes kepribadian adalah saya sebagai seorang INTJ. Individu dengan tipe INTJ umumnya memiliki kombinasi antara visi yang kuat dan kemampuan berpikir secara pragmatis. Mereka dikenal sebagai pribadi yang mandiri, analitis, logis serta berorientasi pada masa depan. INTJ cenderung menggunakan Introverted Intuition (Ni), yaitu kemampuan untuk melihat suatu pola, makna dan berbagai kemungkinan di balik suatu pengalaman. Oleh karena itu, individu dengan tipe ini tidak hanya berfokus pada fakta yang terlihat, tetapi juga berusaha memahami makna dan hubungan antar fakta tersebut. Pada individu dengan INTJ memiliki 3 karakteristik utama yaitu1:
Memikirkan masa depan : INTJ juga senang memikirkan masa depan dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Mereka suka mempertimbangkan semua pilihan yang mungkin dan membayangkan berbagai kemungkinan, yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan mereka sehari-hari.
Lebih baik mengingat kesan daripada detail konkret : Karena mereka lebih memikirkan gambaran besar, INTJ cenderung lebih mengingat kesan daripada detail pasti dari apa yang terjadi. Jadi, meskipun mereka mungkin kesulitan mengingat hal-hal spesifik, mereka pandai mengingat inti atau gagasan umum di balik peristiwa masa lalu.
Menikmati pemikiran abstrak : Pemikiran abstrak datang secara alami pada orang-orang dengan karakteristik kepribadian INTJ. Akibatnya, mereka pandai "membaca di antara baris" untuk mencari tahu apa arti sebenarnya dari sesuatu.
Di sisi lain, hasil tipe kepribadian lainnya juga menunjukkan bahwa saya memiliki kecenderungan emosional koleris. Emosional koleris menggambarkan individu yang tegas, bertanggung jawab, berorientasi pada pencapaian tujuan, serta memiliki kecenderungan untuk memimpin dan mengambil keputusan ketika menghadapi suatu permasalahan. Individu dengan koleris suka tantangan baru dan jarang menyerah dalam menghadapi rintangan. Koleris juga cenderung mendominasi dan memiliki visi yang jelas. Ciri-ciri emosional koleris adalah2,
Dinamis, aktif, dan cenderung melakukan perubahan2.
Memiliki kemauan yang tegas dan kuat2.
Tidak mudah patah semangat serta mandiri2.
Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, kepribadian INTJ dengan emosional koleris sebagian besar sesuai dengan diri saya. Saya merupakan seseorang yang cukup introvert dalam kondisi tertentu. Hal ini karena saya lebih mudah merasa lelah serta stress ketika berada di lingkungan yang terlalu ramai atau harus berinteraksi dengan banyak orang dalam waktu yang lama. Selain itu, saya juga lebih nyaman bekerja secara mandiri karena ketika mengerjakan sesuatu sendiri, pekerjaan saya dapat tersusun dengan lebih rapi, terorganisir, dan dapat diselesaikan lebih cepat. Dengan demikian, saya dapat menggunakan waktu secara lebih efektif dan tidak menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperlukan.
Sebagai contoh, sebelum memulai kegiatan, terutama pada pagi hari, saya selalu membuat to-do list serta menyusun jadwal aktivitas yang akan dilakukan sepanjang hari. Bagi saya, kebiasaan sederhana ini sangat membantu dalam mengatur waktu, menghindari pekerjaan yang terlewat, serta membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih terarah. Selain itu, saya juga terbiasa memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi sehingga saya dapat menyiapkan langkah antisipasi apabila menghadapi kendala. Saya menyadari bahwa kebiasaan tersebut mencerminkan karakteristik INTJ yang menyukai perencanaan, berpikir strategis, dan selalu berusaha melihat gambaran besar sebelum bertindak.
Karakteristik tersebut juga saya rasakan ketika mengikuti Regional Medical Olympiad (RMO) maupun Indonesian Medical Olympiad (IMO). Selama proses persiapan, saya tidak hanya berusaha mempelajari materi sebanyak mungkin, tetapi juga menyusun strategi belajar yang sistematis. Saya membuat target belajar, menentukan materi yang perlu diprioritaskan, kemudian melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan yang telah dicapai. Bagi saya, proses belajar yang terencana jauh lebih efektif dibandingkan belajar tanpa arah yang jelas. Pengalaman tersebut semakin memperkuat bahwa saya cenderung berpikir analitis, terstruktur, dan berorientasi pada penyelesaian masalah.
Jika dikaitkan dengan kepemimpinan, karakteristik tersebut semakin berkembang ketika saya dipercaya menjadi Ketua Divisi Advokasi Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Tanggung jawab utama saya adalah mengarahkan anggota tim untuk mengumpulkan aspirasi mahasiswa,menganalisis berbagai permasalahan yang dihadapi oleh para mahasiswa, mendiskusikan solusi bersama, kemudian menyampaikan hasil aspirasi tersebut kepada jajaran dekanat secara sistematis. Dalam menjalankan peran tersebut, saya terbiasa menyusun agenda kerja, menentukan prioritas masalah, membagi tugas sesuai kemampuan anggota, serta memastikan setiap program dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Saya menyadari bahwa saya lebih nyaman memimpin melalui perencanaan, koordinasi, dan penyusunan strategi dibandingkan menjadi seseorang yang selalu berada di depan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu ditunjukkan melalui cara berbicara yang dominan, tetapi juga melalui kemampuan mengorganisasi pekerjaan, mengambil keputusan bersama, dan membantu tim mencapai tujuan bersama.
Di sisi lain, pengalaman mengikuti kegiatan bakti sosial sebagai anggota tim pemeriksaan kesehatan yang bertugas melakukan pengukuran tanda-tanda vital (TTV) memberikan pembelajaran yang berbeda bagi saya. Kegiatan tersebut membuat saya menyadari bahwa menjadi seorang calon dokter maupun pemimpin tidak hanya membutuhkan kemampuan berpikir logis dan bekerja secara sistematis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, bekerja sama antar tim, serta menunjukkan empati kepada masyarakat. Saat berinteraksi dengan peserta, saya belajar menyesuaikan cara berkomunikasi agar mereka merasa nyaman selama proses pemeriksaan berlangsung. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan suatu kegiatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kolaborasi dan hubungan interpersonal yang baik.
Melalui berbagai pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa karakteristik INTJ dengan emosional koleris memberikan banyak manfaat, terutama dalam membantu saya berpikir strategis, menyusun perencanaan, mengambil inisiatif, dan menyelesaikan masalah secara sistematis. Namun, saya juga menyadari bahwa karakteristik tersebut memiliki tantangan yang perlu terus saya kembangkan. Saya terkadang terlalu berfokus pada pencapaian target serta saya masih memiliki kecenderungan untuk mengerjakan sesuatu sendiri karena merasa pekerjaan dapat selesai lebih cepat sesuai dengan target waktu yang saya harapkan. Oleh karena itu, hal yang ingin saya kembangkan adalah rasa lebih percaya dalam mendelegasikan tugas dan menjadi lebih adaptif ketika menghadapi situasi yang tidak berjalan sesuai rencana. Saya percaya bahwa pemimpin yang baik tidak hanya mampu mencapai tujuan, tetapi juga mampu membangun kerja sama, memberdayakan anggota, dan menciptakan lingkungan yang saling mendukung.
Model kepemimpinan yang relevan
Berdasarkan karakteristik diri yang saya miliki, model kepemimpinan yang paling sesuai dengan saya adalah model kepemimpinan Laissez-Faire. Saya memilih model kepemimpinan ini karena karakteristik kepribadian INTJ yang saya miliki membuat saya cenderung berpikir strategis, berorientasi pada tujuan, dan menghargai kemandirian dalam bekerja. Dalam sebuah tim, saya lebih nyaman menetapkan target atau tujuan yang ingin dicapai, kemudian memberikan kebebasan kepada anggota tim untuk menentukan cara kerja, mengembangkan ide, serta menyelesaikan tugas sesuai dengan kemampuan dan kreativitas yang mereka miliki3,4.
Saya merasa yakin bahwa setiap anggota tim memiliki keahlian dan cara berpikir yang berbeda-beda, sehingga memberikan ruang bagi mereka untuk mengambil keputusan dalam pekerjaannya dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri. Selain itu, saya juga lebih berfokus pada hasil akhir yang ingin dicapai. Selama proses yang dilakukan tetap sejalan dengan tujuan yang telah ditentukan, saya akan memberikan keleluasaan kepada anggota tim untuk mengatur strategi kerja, pembagian tugas, maupun jadwal penyelesaian yang dianggap paling efektif3,4.
Hubungan antara karakteristik personal yang saya miliki dengan karakteristik pemimpin dalam model kepemimpinan Laissez-Faire adalah tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan anggota tim. Saya memiliki keyakinan bahwa setiap anggota tim memiliki keterampilan, kompetensi, serta motivasi diri untuk menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan. Oleh karena itu, saya sebagai pemimpin tidak harus mengatur setiap langkah yang harus dilakukan oleh anggota tim, melainkan memberikan dukungan berupa informasi, sumber daya, atau bantuan yang mereka butuhkan agar dapat menyelesaikan pekerjaannya secara optimal5.
Selain itu, karakteristik kepribadian INTJ yang saya miliki membuat saya cenderung berorientasi pada pencapaian tujuan dan hasil akhir dibandingkan dengan mengendalikan setiap proses yang dilakukan oleh anggota tim. Saya percaya bahwa selama anggota tim memahami target yang ingin dicapai, mereka dapat menentukan strategi dan metode kerja yang paling sesuai dengan kemampuan masing-masing. Menurut saya, pendekatan tersebut dapat membuat proses kerja menjadi lebih efektif dan efisien, sekaligus memberikan ruang bagi anggota tim untuk berkembang dan menunjukkan potensinya6.
Kekuatan yang saya miliki dalam menerapkan model kepemimpinan Laissez-Faire adalah sifat rajin, memiliki kemauan untuk terus berusaha, serta sikap disiplin dan konsisten dalam menjalankan tanggung jawab. Karakteristik tersebut membantu saya untuk tetap memiliki komitmen terhadap tujuan yang telah ditetapkan, sehingga meskipun saya memberikan kebebasan kepada anggota tim dalam menjalankan tugasnya, saya tetap memastikan bahwa hasil akhir yang diharapkan dapat tercapai dengan baik. Selain itu, kemauan untuk terus belajar dan berusaha juga membantu saya dalam mencari solusi ketika menghadapi berbagai tantangan selama proses kepemimpinan.
Di sisi lain, saya menyadari bahwa terdapat beberapa keterbatasan dalam diri saya, seperti kecenderungan untuk terlalu banyak berpikir (overthinking), mudah merasa lelah, serta dapat mengalami stres ketika berada dalam lingkungan dengan banyak orang. Keterbatasan tersebut dapat menjadi tantangan dalam menjalankan peran sebagai pemimpin, terutama ketika harus menghadapi situasi yang membutuhkan interaksi sosial yang intens atau pengambilan keputusan dalam waktu singkat. Namun, sesuai dengan karakteristik INTJ yang cenderung memiliki kemampuan dalam menyusun strategi dan melakukan perencanaan, saya berusaha mengatasi keterbatasan tersebut dengan mengatur energi serta emosi, mempersiapkan diri dengan baik, serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV.
Jika saya menjadi koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya akan menjalankan peran tersebut dengan menerapkan model kepemimpinan Laissez-Faire. Sebagai koordinator, saya akan terlebih dahulu menetapkan tujuan yang jelas terkait program yang akan dijalankan, seperti meningkatkan koordinasi antar program, memastikan kelancaran pelayanan pasien, serta mencapai target penanganan TB-HIV yang telah ditentukan7,8,9.
Setelah tujuan dan pembagian tanggung jawab ditetapkan, saya akan memberikan kepercayaan kepada setiap anggota tim untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Saya percaya bahwa setiap tenaga kesehatan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berbeda, sehingga mereka dapat menentukan strategi atau pendekatan yang paling efektif dalam menjalankan tanggung jawabnya. Sebagai koordinator, saya akan memberikan dukungan berupa informasi, fasilitas yang diperlukan, serta membantu menyelesaikan kendala yang dihadapi oleh anggota tim sehingga pekerjaan tersebut mudah untuk diselesaikan7,8,9.
Selain itu, sesuai dengan karakteristik kepribadian INTJ yang saya miliki, saya cenderung berfokus pada perencanaan yang terstruktur dan pencapaian hasil akhir. Oleh karena itu, meskipun saya memberikan kebebasan kepada anggota tim, saya tetap melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah disepakati. Dengan pendekatan tersebut, saya berharap anggota tim dapat bekerja secara mandiri, merasa dipercaya, serta mampu memberikan kontribusi terbaik dalam upaya penanganan TB-HIV di fasilitas kesehatan tingkat pertama terutama pada puskesmas7,8,9.
Sebagai koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, langkah pertama yang akan saya lakukan adalah melakukan advokasi kepada kepala Puskesmas dan pihak terkait dengan upaya meningkatkan dukungan terhadap pelaksanaan program TB-HIV. Advokasi dilakukan dengan menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas program, kebutuhan sumber daya, serta manfaat dari pelayanan TB-HIV yang terintegrasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan pasien7,8,9.
Dalam penguatan tim, saya akan membangun komunikasi serta relasi yang baik dengan seluruh anggota tim dan memberikan kepercayaan kepada masing-masing tenaga kesehatan untuk menjalankan perannya sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Sesuai dengan pendekatan kepemimpinan Laissez-Faire, saya akan memberikan ruang bagi anggota tim untuk menyampaikan ide, menentukan strategi kerja, serta mengambil keputusan dalam lingkup tanggung jawabnya. Selain itu, saya akan memastikan bahwa setiap anggota memiliki informasi, sumber daya, dan dukungan yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya secara optimal agar nantinya tugas tersebut dapat berjalan dengan baik7,8,9.
Pada koordinasi lintas program, saya akan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak seperti kepala puskesmas, kader yang terlibat dalam program TB-HIV, pemerintah setempat, organisasi masyarakat, maupun fasilitas kesehatan rujukan untuk mendukung keberhasilan program TB-HIV. Kolaborasi tersebut penting untuk meningkatkan penemuan kasus, memastikan keberlanjutan pengobatan, serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai TB dan HIV7,8,9.
Dalam kolaborasi interprofesional, saya akan mendorong kerja sama antara dokter, perawat, petugas laboratorium, petugas promosi kesehatan, petugas farmasi, dan tenaga kesehatan lainnya. Setiap profesi akan diberikan kesempatan untuk memberikan masukan berdasarkan keahlian masing-masing sehingga keputusan yang diambil dapat lebih komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan pasien hal ini sesuai dengan gaya kepemimpinan Laissez-Faire7,8,9.
Monitoring dan evaluasi akan dilakukan secara berkala melalui diskusi bersama tim, peninjauan pencapaian indikator program, serta identifikasi kendala selama pelaksanaan kegiatan. Meskipun saya memberikan kebebasan kepada anggota tim dalam menjalankan tugasnya, saya tetap melakukan evaluasi terhadap hasil kerja untuk memastikan bahwa tujuan program dapat tercapai secara efektif7,8,9.
Peluang yang dapat dimanfaatkan dalam penerapan model kepemimpinan ini adalah adanya tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan pengalaman berbeda, sehingga dapat menghasilkan ide dan strategi yang lebih inovatif dalam penanganan TB-HIV. Selain itu, adanya kerja sama lintas sektor juga dapat memperluas jangkauan pelayanan dan meningkatkan keberhasilan program7,8,9.
Namun, tantangan yang mungkin muncul adalah kurangnya koordinasi antar anggota tim, perbedaan cara kerja setiap anggota tim, serta kemungkinan terjadinya miss komunikasi akibat tingginya kemandirian dalam bekerja. Untuk mengatasi hal tersebut, saya akan menetapkan tujuan dan pembagian peran yang jelas sejak awal, melakukan pertemuan koordinasi secara rutin, serta menciptakan komunikasi yang terbuka agar setiap kendala dapat didiskusikan dan diselesaikan bersama7,8,9.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan). Jika Anda menjadi pemimpin tim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu di rumah sakit.
Jika saya menjadi pemimpin tim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan menerapkan gaya kepemimpinan yang kolaboratif dan berorientasi pada keselamatan pasien serta petugas kesehatan. Sebagai langkah pertama yang akan saya lakukan adalah mengidentifikasi permasalahan terkait Pencegahan Pengendalian Infeksi (PPI) melalui evaluasi data, seperti angka infeksi terkait pelayanan kesehatan, kepatuhan kebersihan tangan, serta penggunaan alat pelindung diri (APD). Kemudian hasil evaluasi tersebut, saya bersama anggota tim akan menyusun strategi perbaikan yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan rumah sakit10,11,12.
Selanjutnya, saya akan memastikan seluruh tenaga kesehatan memperoleh edukasi dan pelatihan PPI secara berkala, melakukan monitoring kepatuhan terhadap standar operasional prosedur, serta memberikan umpan balik sebagai bahan evaluasi berkelanjutan. Saya juga akan menerapkan budaya keselamatan atau patient safety culture dengan sistem komunikasi yang terbuka sehingga setiap petugas merasa aman untuk melaporkan insiden maupun potensi risiko tanpa rasa takut disalahkan no blame culture10,11,12.
Model kepemimpinan yang saya pilih adalah kepemimpinan transformasional karena menekan pada kemampuan pemimpin untuk memberikan visi, menginspirasi anggota tim, serta mendorong perubahan kearah yang jauh lebih baik. Saya memilih model kepemimpinan ini agar dapat membantu menciptakan budaya keselamatan pasien dan tenaga kesehatan dengan membangun komunikasi yang terbuka, mendorong kerjasama antar anggota tim, serta menumbuhkan komitmen seluruh tenaga kesehatan untuk selalu menerapkan prinsip keselamatan dalam setiap pelayanan. Pemimpin juga berperan sebagai teladan dalam mematuhi standar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) sehingga dapat meningkatkan kepatuhan anggota tim terhadap prosedur yang telah ditetapkan10,11,12.
Tantangan yang mungkin muncul adalah adanya kepatuhan petugas yang belum konsisten terhadap standar PPI dan beban kerja yang tinggi sehingga dapat mempengaruhi penerapan budaya keselamatan. Namun, terdapat peluang untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui pelatihan berkelanjutan atau pemanfaatan teknologi dalam pelaporan insiden. Sebagai pemimpin, saya akan mengantisipasi tantangan tersebut dengan membangun komunikasi yang terbuka, melibatkan seluruh anggota tim dalam proses pengambilan keputusan, memberikan umpan balik secara rutin, serta melakukan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan program. Dengan demikian, budaya keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi menjadi komitmen bersama seluruh tenaga kesehatan10,11,12.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil assessment dan refleksi yang telah dilakukan, saya memahami bahwa kepribadian INTJ dengan kecenderungan temperamen koleris cukup menggambarkan karakter diri saya, terutama dalam hal berpikir strategis, menyusun perencanaan, berorientasi pada tujuan, serta mampu mengambil inisiatif dalam menyelesaikan permasalahan. Berbagai pengalaman yang saya peroleh, baik melalui kegiatan akademik, organisasi, maupun pengabdian kepada masyarakat, semakin memperkuat pemahaman bahwa karakteristik tersebut berperan dalam membentuk gaya kepemimpinan saya. Saya cenderung memimpin melalui perencanaan yang matang, koordinasi yang terstruktur, serta memberikan kepercayaan kepada anggota tim untuk menjalankan tugas sesuai dengan kompetensinya.
Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa masih terdapat beberapa aspek yang perlu terus dikembangkan, seperti kemampuan komunikasi interpersonal, pemikiran yang terbuka, pendelegasian tugas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Dalam konteks pelayanan kesehatan, seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu mencapai target organisasi, tetapi juga mampu membangun budaya kolaborasi, keselamatan pasien, dan keselamatan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, saya meyakini bahwa penerapan model kepemimpinan yang tepat, disertai komitmen untuk terus belajar dan melakukan perbaikan diri, akan membantu saya menjadi pemimpin yang efektif, profesional, dan mampu memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Daftar Pustaka
Cherry K. Know the characteristics of the INTJ personality type [Internet]. Verywell Mind; 2024 [cited 2026 Jun 27]. Available from: https://www.verywellmind.com/intj-introverted-intuitive-thinking-judging-2795988
Dzaky. Mengenal empat tipe kepribadian menurut psikologi [Internet]. Sidoarjo: Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; 2025 Jan 7 [cited 2026 Jun 27]. Available from: https://psikologi.umsida.ac.id/empat-tipe-kepribadian/
Dwinda A. 4 model kepemimpinan situasional [Internet]. Glints for Employers; 2021 Mar 6 [cited 2026 Jun 27]. Available from: https://employers.glints.com/id-id/blog/4-model-kepemimpinan-situasional/
Davis H. Laissez-faire leadership: pros, cons, tips and examples [Internet]. Oakwood International; 2026 May 15 [cited 2026 Jun 27]. Available from: https://www.oakwoodinternational.com/blog/laissez-faire-leadership
Cherry K. What is laissez-faire leadership? [Internet]. Verywell Mind. 2022 Nov 14 [updated 2025 May 23; cited 2026 Jun 27]. Available from: https://www.verywellmind.com/what-is-laissez-faire-leadership-2795316
Davis H. Laissez-faire leadership: pros, cons, tips and examples [Internet]. Oakwood International; 2026 May 15 [cited 2026 Jun 27]. Available from: https://www.oakwoodinternational.com/blog/laissez-faire-leadership
World Health Organization. WHO policy on collaborative TB/HIV activities: Guidelines for national programmes and other stakeholders. Geneva: WHO; 2012.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
Northouse PG. Leadership: Theory and Practice. 9th ed. Thousand Oaks (CA): SAGE Publications; 2021.
Centers for Disease Control and Prevention. Leadership and management [Internet]. In: Infection control in healthcare personnel: infrastructure and routine practices. Atlanta (GA): CDC; 2024 Mar 21 [cited 2026 Jun 27]. Available from: https://www.cdc.gov/infection-control/hcp/healthcare-personnel-infrastructure-routine-practices/guidance-description-file-name.html
World Health Organization. Infection prevention and control. Geneva: WHO; 2024.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI.
Lampiran
Gambar G.1 Mengikuti Kegiatan Program Organisasi
Gambar G.2 Bekerja Sama dengan Anggota Tim dalam Menjalan Program Baksos
Komentar
Posting Komentar