LEADING WITH LOGIC, GROWING WITH PURPOSE : Refleksi Kepemimpinan Berdasarkan Kepribadian INTJ-T
Nama : Kamelia Tasya Putri Anjani
NIM : 23.P1.0018
Konteks dan latar belakang pribadi
Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) merupakan salah satu instrumen psikologis yang banyak digunakan untuk menggambarkan dan memahami tipe kepribadian individu secara praktis. Instrumen ini dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers dengan mengacu pada teori tipe psikologis yang diperkenalkan oleh Carl Gustav Jung. MBTI dirancang untuk mengidentifikasi kecenderungan atau preferensi seseorang dalam memperoleh dan mengolah informasi, mengambil keputusan, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, serta mengelola aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Secara kontekstual, MBTI mengelompokkan kepribadian berdasarkan empat dimensi utama yang saling berlawanan, yaitu Ekstroversi (E) dan Introversi (I), Sensing (S) dan Intuition (N), Thinking (T) dan Feeling (F), serta Judgment (J) dan Perception (P). 1 Melalui keempat dimensi tersebut, MBTI menghasilkan 16 tipe kepribadian yang dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami karakteristik, pola pikir, serta kecenderungan perilaku setiap individu.
Berdasarkan hasil asesmen kepribadian menggunakan Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), saya memperoleh tipe kepribadian INTJ-T (Introverted, Intuitive, Thinking, Judgement–Turbulent) atau yang dikenal sebagai The Architect . Hasil asesmen menunjukkan komposisi dimensi kepribadian sebesar 62% Introvert, 75% Intuitif, 78% Berpikir, 75% Menilai, dan 69% Turbulen. INTJ merupakan tipe kepribadian yang memiliki rasa ingin tahu intelektual yang tinggi, berpikir logis, dan berorientasi pada pengembangan diri. Individu dengan tipe ini cenderung mandiri, menyukai analisis yang mendalam, serta berani mencari cara yang lebih efektif dalam menyelesaikan masalah meskipun harus berbeda dari kebiasaan yang ada. Selain itu, INTJ lebih nyaman mengambil keputusan secara independen berdasarkan pertimbangan rasional. Meskipun terkadang terlihat kurang peka terhadap perasaan orang lain, individu dengan tipe ini tetap memiliki kepedulian dan mampu melakukan refleksi diri ketika menghadapi kesalahan atau konflik. 2 Berdasarkan hasil tersebut, saya merasa karakteristik INTJ-T sangat menggambarkan kepribadian dan cara saya menghadapi berbagai situasi. Sebagai mahasiswa kedokteran, karakteristik tersebut tercermin dalam kebiasaan saya belajar secara mandiri. Saya lebih mudah memahami materi ketika mempelajarinya sendiri melalui proses membaca, menganalisis, dan menghubungkan berbagai konsep secara sistematis. Saya juga cenderung lebih menyukai tugas individu dibandingkan tugas kelompok karena merasa dapat mengatur alur kerja, mengelola waktu, dan memastikan hasil pekerjaan sesuai dengan standar kualitas yang saya harapkan.
Selain itu, karakteristik tersebut juga tercermin dalam pengalaman saya berorganisasi. Saya pernah menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) yang fokus pada pengembangan potensi anggota, peningkatan keterampilan, dan proses kaderisasi. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika dipercaya menjadi ketua panitia Malam Keakraban (Makrab). Tanggung jawab tersebut menuntut kemampuan dalam menyusun perencanaan, mengoordinasikan berbagai divisi, serta mengambil keputusan secara tepat di tengah keterbatasan waktu. Dalam menjalankan peran tersebut, saya cenderung menyusun rencana secara sistematis, mengidentifikasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi, dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi agar kegiatan dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Selain di lingkungan kampus, saya juga beberapa kali terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal, khususnya dalam menyusun rundown acara. Saya merasa lebih nyaman berada di balik layar dengan memastikan setiap rangkaian kegiatan tersusun secara runtut dan efisien dibandingkan secara langsung berinteraksi dengan masyarakat luas.
Gambar 1. Tantangan dalam kepribadian
Saya menyadari bahwa mempunyai tipe kepribadian INTJ-T memiliki beberapa tantangan yang perlu saya kembangkan. Dimensi Turbulent yang cukup dominan membuat saya cenderung menetapkan standar yang tinggi terhadap diri saya sendiri. Saya sering merasa pesimis saat sedang melakukan sesuatu dan ketika hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan, saya sering kali melakukan evaluasi diri secara berlebihan sehingga mudah merasa kecewa bahkan depresi. Selain itu, kebiasaan berpikir secara mandiri terkadang menjadi tantangan dalam bekerja sama dengan orang lain, terutama ketika cara berpikir saya tidak mudah dipahami oleh anggota tim. Oleh karena itu, saya menyadari pentingnya mengembangkan kemampuan komunikasi, meningkatkan keterbukaan terhadap berbagai sudut pandang, serta mengelola ekspektasi diri secara lebih realistis. Dengan demikian, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang tidak hanya mampu memikirkan strategi dan mengambil keputusan secara rasional, tetapi juga mampu membangun kolaborasi yang efektif serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung seluruh anggota tim.
Model kepemimpinan yang relevan
Berdasarkan refleksi terhadap karakteristik INTJ-T, model kepemimpinan yang saya nilai paling sesuai dengan diri saya adalah kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang fokus pada kemampuan seorang pemimpin untuk menginspirasi dan memotivasi anggotanya agar mampu mengembangkan potensi diri serta mencapai kinerja yang melampaui target atau harapan yang telah ditetapkan. Pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas, mampu mengenali perubahan yang terjadi di lingkungan, serta mengarahkan perubahan tersebut menjadi peluang bagi organisasi. Selain itu, pemimpin dengan gaya ini mendorong kreativitas dan inovasi, memimpin proses inovasi dalam tim, serta berani mengambil tanggung jawab dalam mengelola dan mengarahkan waktu untuk mencapai tujuan bersama. 3
Gambar 2. Kepemimpinan Transformasional
Saya memilih model kepemimpinan transformasional karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sesuai dengan gaya kepemimpinan yang ingin saya terapkan. Pertama, melalui motivasi inspiratif, saya ingin mampu menyampaikan visi dan tujuan secara jelas sehingga setiap anggota tim memahami arah yang ingin dicapai serta termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaiknya. Kedua, melalui rangsangan intelektual, saya ingin mendorong anggota tim untuk berpikir kritis, berani menyampaikan pendapat, dan mencari solusi yang lebih efektif tanpa memahami cara-cara yang sudah ada. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menghasilkan ide-ide baru jika diberi kesempatan untuk berkembang. Selanjutnya, melalui pengaruh yang diidealkan, saya ingin menjadi pemimpin yang dapat memberikan teladan melalui sikap, tanggung jawab, dan konsistensi antara ucapan dengan tindakan. Bagi saya, seorang pemimpin tidak hanya bertugas mengarahkan, tetapi juga menunjukkan perilaku yang dapat dipercaya oleh anggota tim. Selain itu, melalui saya ingin memahami kebutuhan dan potensi setiap anggota secara lebih pribadi. Saya ingin menjadi pemimpin yang mampu mendengarkan, memberikan umpan balik yang membangun, serta mendampingi anggota ketika menghadapi kesulitan. Menurut saya, perhatian terhadap setiap individu akan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, saling menghargai, dan mendorong setiap anggota untuk berkembang secara optimal. Selain itu, saya meyakini bahwa keberhasilan suatu tim tidak hanya ditentukan oleh pemimpin, tetapi merupakan hasil kontribusi seluruh anggotanya. Saya tidak ingin ada anggota yang hanya bergantung pada orang lain tanpa berusaha mengembangkan kemampuannya sendiri. Sebaliknya, saya berharap setiap anggota mampu bertanggung jawab terhadap usulan, terus berkembang, dan memberikan kontribusi terbaik bagi tim. Oleh karena itu, saya menilai kepemimpinan transformasional merupakan model yang paling sesuai dengan saya karena tidak hanya berorientasi pada pencapaian tujuan organisasi tetapi juga pada pengembangan potensi setiap individu di dalam tim. 4
Penerapan model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk lintas program penanganan TB-HIV
Tuberkulosis (TB) dan HIV merupakan penyakit infeksi yang berkaitan erat. 5 Tuberkulosis dan HIV merupakan kombinasi yang mematikan, kedua penyakit ini saling mempercepat perkembangan penyakit satu sama lain. Kombinasi kedua penyakit infeksi ini saling mempengaruhi satu sama lain pada seluruh aspek penyakit, mulai dari patogenesis, epidemiologi, manifestasi klinis, pengobatan dan pencegahan, bahkan juga dapat mempengaruhi isu-isu yang lebih besar seperti konsekuensi sosial, ekonomi, dan politik. Orang dengan HIV-positif diperkirakan 21-34 kali lebih rentan terkena TBC aktif dibandingkan dengan orang dengan HIV-negatif. 6 Hubungan yang erat antara TBC dan HIV menunjukkan bahwa penanganannya memerlukan pendekatan yang terintegrasi sehingga tidak dapat dilakukan secara terpisah oleh masing-masing program. Apabila saya dipercaya menjadi koordinator lintas program TB-HIV di Puskesmas, langkah pertama yang akan saya lakukan adalah memperkuat kapasitas seluruh anggota tim. Melalui pertimbangan individual, saya akan mengidentifikasi kebutuhan dan kemampuan masing-masing anggota, mulai dari petugas TB, petugas HIV, perawat, bidan, analis laboratorium, tenaga gizi, hingga petugas pencatatan. Berdasarkan kebutuhan tersebut, saya akan mendorong pelaksanaan pelatihan yang relevan, seperti konseling TB-HIV, skrining, dan tata laksana terapi. Saya juga ingin menciptakan lingkungan kerja yang terbuka sehingga setiap anggota merasa nyaman menyampaikan kendala atau kesulitan yang dihadapi tanpa takut disalahkan. Menurut saya, budaya saling mendukung seperti ini akan membantu setiap anggota berkembang dan memberikan kontribusi terbaiknya dalam tim. Selain memperkuat tim, saya juga akan membangun koordinasi yang baik dengan berbagai pihak, seperti rujukan rumah sakit, dinas kesehatan, serta komunitas pendamping pasien. Melalui pengaruh ideal, saya ingin membangun hubungan yang dilandasi rasa saling percaya, komunikasi yang terbuka, dan komitmen untuk mencapai tujuan yang sama. Di dalam Puskesmas, saya akan mendorong kolaborasi antar profesi dengan mengintegrasikan layanan TB dan HIV, sehingga setiap pasien TB mendapatkan penawaran tes HIV, sedangkan pasien HIV menjalani skrining TB secara rutin. Melalui stimulasi intelektual, saya akan mengajak seluruh anggota tim untuk aktif berpikir, mengaktifkan alur pelayanan, dan bersama-sama mencari solusi yang lebih efektif apabila masih ditemukan kendala dalam pelaksanaannya. Agar program dapat berjalan secara berkelanjutan, saya juga akan melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin menggunakan indikator yang jelas, seperti mencakup skrining TB-HIV, keberhasilan pengobatan, dan angka mangkir . Hasil evaluasi akan dibahas bersama seluruh anggota tim sebagai bahan perbaikan, bukan untuk mencari yang bersalah. Saya percaya bahwa evaluasi yang dilakukan secara terbuka akan membantu tim terus belajar, memperbaiki sistem pelayanan, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas pelayanan pasien.
Penerapan model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lebih lanjut untuk peningkatan kualitas (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Keamanan penggunaan obat merupakan salah satu sasaran keselamatan pasien yang paling kritis dalam pelayanan rumah sakit. Kesalahan pengobatan (medication error) penting untuk dihindari agar dapat tercapai penggunaan obat yang sesuai dengan kondisi pasien dan batasan yang ditentukan oleh keputusan terapeutik dalam dosis rejimen yang mengoptimalkan keseimbangan manfaat dan risiko. 7 Medication error dapat terjadi di mana saja dalam rantai pelayanan obat kepada pasien, mulai dari peresepan, membaca resep, peracikan, menyampaikan, hingga monitoring pasien, dan setiap tenaga kesehatan dalam mata rantai tersebut berpotensi memberikan kontribusi terhadap terjadinya kesalahan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa seluruh tenaga kesehatan yang terlibat dalam proses pelayanan obat memiliki peran penting dalam menjaga keamanan penggunaan obat. Ketika saya diberi tanggung jawab untuk memimpin tim yang fokus pada peningkatan mutu dalam sasaran ini, saya akan menerapkan kepemimpinan transformasional sebagai dasar dalam membangun budaya keselamatan pasien yang kolaboratif, sistematis, dan berkelanjutan. Sebagai seorang pemimpin langkah pertama yang akan saya lakukan untuk adalah membangun kesadaran bahwa kesalahan pengobatan tidak hanya disebabkan oleh kesalahan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem pelayanan yang kurang optimal. Melalui motivasi inspiratif, saya akan mengajak seluruh anggota tim untuk memiliki pemahaman yang sama bahwa keamanan penggunaan obat merupakan tanggung jawab semua tenaga kesehatan. Dengan adanya komitmen bersama, setiap anggota tim diharapkan lebih peduli terhadap keselamatan pasien dan saling mendukung dalam mencegah terjadinya kesalahan. Selanjutnya, saya akan memperkuat sistem komunikasi dalam setiap tahapan pelayanan obat. Saya akan menerapkan prosedur serah terima yang terstandarisasi agar informasi penting dapat disampaikan secara lengkap dan jelas. Proses ini akan dilengkapi dengan metode readback, repeat back, checkback, dan teachingback untuk memastikan bahwa informasi diterima dan dipahami dengan benar. Selain itu, saya akan menyusun SOP mengenai komunikasi antar tenaga kesehatan, termasuk penggunaan singkatan yang aman dan penulisan dosis obat yang jelas, sehingga risiko kesalahan akibat miskomunikasi dapat diminimalkan. Melalui stimulasi intelektual, saya akan memberikan waktu untuk bersama-sama mengidentifikasi penyebab kesalahan pengobatan dan mencari solusi yang lebih efektif. Evaluasi akan dilakukan terhadap lingkungan kerja, seperti tata letak area pengeluaran, pencahayaan, kebersihan, serta gangguan atau interupsi selama proses penyiapan obat yang dapat mengurangi konsentrasi petugas. Saya juga akan memperhatikan beban kerja tenaga kesehatan dengan mengusulkan jumlah SDM yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan agar risiko akibat kelelahan dapat dikurangi. Selanjutnya, melalui pertimbangan individu, saya akan memberikan perhatian terhadap kebutuhan setiap anggota tim. Edukasi mengenai keselamatan penggunaan obat akan dilakukan secara berkala melalui simulasi kasus yang sesuai dengan kondisi di lapangan agar lebih mudah diterapkan dalam praktik. Saya juga akan memastikan membangun budaya pelaporan yang terbuka dengan setiap anggota merasa aman untuk melaporkan kejadian yang hampir terjadi tanpa rasa takut disalahkan. Menurut saya, budaya yang terbuka akan memudahkan waktu untuk melakukan evaluasi, menemukan akar masalah, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan sehingga keselamatan pasien dapat terus ditingkatkan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan, saya menyimpulkan bahwa tipe kepribadian INTJ-T memberikan pengaruh yang besar terhadap cara saya berpikir, mengambil keputusan, serta menjalankan peran sebagai seorang pemimpin. Karakteristik seperti berpikir logis, sistematis, mandiri, dan berorientasi pada pengembangan diri menjadi kekuatan yang mendukung saya dalam merencanakan strategi dan menyelesaikan berbagai permasalahan. Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa masih terdapat beberapa aspek yang perlu terus dikembangkan, terutama kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, serta mengelola ekspektasi terhadap diri sendiri. Berdasarkan karakteristik tersebut, saya menilai bahwa kepemimpinan transformasional merupakan model yang paling sesuai dengan diri saya karena tidak hanya berorientasi pada pencapaian tujuan, tetapi juga pada pengembangan potensi setiap anggota tim. Penerapan model kepemimpinan ini, baik dalam koordinasi program TB-HIV di Puskesmas maupun dalam upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit, menunjukkan bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan memerlukan visi yang jelas, kolaborasi yang kuat, komunikasi yang efektif, serta budaya evaluasi dan perbaikan yang berkelanjutan. Melalui refleksi ini, saya semakin memahami bahwa menjadi seorang pemimpin bukan hanya tentang kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga tentang kemampuan menginspirasi, memberdayakan, dan mendukung orang lain untuk berkembang bersama. Saya berharap dapat terus mengembangkan kompetensi kepemimpinan agar mampu memberikan kontribusi yang positif dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan dapat diandalkan. Jika terjadi adanya kejadian, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia kembali dan mengurangi nilai perilaku.
Daftar Pustaka
Zeehan A, Utami ZM, Rafsa AR, Mulyeni S. Relevansi Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) bagi mahasiswa: studi sastra. RISOMA J Riset Sos Humaniora Pendidik. 2026;4(2):33-42. doi:10.62383/risoma.v4i2.1551.
Analisis NRIS Terbatas. 16Kepribadian: Tes kepribadian gratis, deskripsi tipe, saran hubungan dan karier [Internet]. London: NRIS Analytics Terbatas; c2026 [dikutip 28 Juni 2026]. Tersedia dari: https://www.16personalities.com
Widayati C, Rahardjo TH, Febriyanti M. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional, Motivasi Dan Kompensasi TEerhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Ekonomi. 23 November 2017;22(3).
Sari IP, Basri M, Kambolong M, Nurhayati S. Penerapan gaya kepemimpinan transformasional dalam menunjang kinerja pegawai di dinas kesehatan provinsi sulawesi tenggara. REZ PUBLIKA. 2025 3 November;11(3):257-70.
Purnamasari D, Budi DT, Palebangan CN. Aspek diagnosis dan tatalaksana pasien koinfeksi human immunodeficiency virus (HIV) dengan tuberkulosis (TB): Tantangan bagi klinisi di daerah perifer. Jurnal Penyakit Dalam Udayana. 2022 30 Des;6(2):25-30.
Silitonga YA, Kurniati I, Ariza R, Imanto M. Kolaborasi Tuberculosis (TBC) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Jurnal Profesi Kedokteran Lampung. 2019 31 Juli;9(2):266-74.
Herawati AT, Mualifah L, Asrori, Purwaningsih I, Tuegeh J, Abbasiah, dkk. Keselamatan Pasien. edisi ke-1. Cilacap: PT Media Pustaka Indo; 2024.
Komentar
Posting Komentar