Kepribadian ESTJ-A dalam Penerapan Kepemimpinan Situasional di Pelayanan Kesehatan
Kepribadian ESTJ-A dalam Penerapan Kepemimpinan Situasional di Pelayanan Kesehatan
Nama : Louisa Chrystia Puspitsari
NIM : 23.P1.0053
Konteks dan latar belakang personal
Tipe kepribadian ini juga menunjukkan pribadi yang stabil, tepat pada janji, yakin pada diri sendiri, dan tidak mudah terpengaruh oleh kritik atau keraguan1,2. Namun, ESTJ-A juga memiliki kelemahan yaitu, terkadang bisa terlihat terlalu kaku dengan cara baru, sulit dengan perubahan mendadak, terlalu blak-blakan, kurang sabar terhadap orang yang lambat, dan kadang kurang peka terhadap perasaan orang lain1. Secara keseluruhan, ESTJ-A dapat digambarkan sebagai seseorang eksekutor yang kuat, realistis, terstruktur, dan mampu membawa lingkungan sekitarnya menjadi lebih tertib, terarah, dan produktif1,2.
Gambaran pribadi ESTJ - A dari hasil tes tersebut cukup sesuai dengan diri saya berdasarkan pengalaman dan hal yang saya alami selama berkuliah di fakultas kedokteran sejak tahun 2023. Perilaku disiplin dan menyukai keteraturan tersebut, tercermin ketika saya menjadi menjadi ketua dan anggota dalam kegiatan Problem Based learning (PBL). Dimana setiap semester pergantian kelompok PBL saya sering membuat daftar ketua dan sekretaris kepada teman - teman yang ingin bertugas di setiap kegiatan skenario PBL yang akan dijalani. Saya senang membuat daftar seperti itu, supaya saat h-1 kegiatan nantinya sesama anggota tidak saling kebingungan siapa yang bertugas di hari kegiatan dan berujung pada perdebatan. Oleh karena itu, saya merasa dalam memulai suatu kegiatan sangat diperlukan perencanaan jauh - jauh hari agar berjalan lancar.
Gambar 2. Kegiatan Problem Based Learning (PBL)
Sikap dari gambaran hasil ESTJ - A seperti tegas, pantang menyerah, percaya diri, disiplin mampu berkomunikasi & berinteraksi juga saya tercermin pada pengalaman saya dalam kegiatan Soegijapranata Community Project (SCP), organisasi senat fakultas kedokteran (FK), dan bakti sosial. Pada SCP semester 5 saya menjadi ketua dalam kegiatan sepanjang semester 6, dimana saat saya menjadi ketua saya melakukan pembagian tugas kepada masing - masing anggota, memberi batas waktu pengerjaan tugas, dan berusaha mengkoordinasikan juga menghubungkan antara teman, dosen, dan pihak puskesmas yang kelompok kami kunjungi. Selain itu sepanjang SCP semester 5, saya sering sekali mengingatkan teman - teman dalam ketepatan waktu mengerjakan tugas dengan harapan tugas cepat selesai dan tidak terlambat, serta memastikan setiap kegiatan SCP saat kunjungan puskesmas untuk hadir tepat waktu supaya waktu kegiatan tidak mundur sesuai rencana. Meskipun begitu, pada kenyataannya tentu terdapat kesulitan seperti adanya perbedaan pendapat, cara berpikir, penyampaian dan penerimaan komunikasi sehingga saya belajar untuk dapat menerima masukkan dari berbagai arah supaya bisa mencapai tujuan bersama yang diharapkan.
Gambar 3. Kegiatan Soegijapranata Community Project (SCP) Semester 5
Pada organisasi senat saya menjabat sebagai bendahara, dimana setiap kegiatan program kerja senat saya yang akan mengurus bagian keuangan dan nota pembelian. Setiap h-1 dan selesai kegiatan proker, saya seringkali mengingatkan teman- teman untuk menyimpan dan menyerahkan nota kepada saya untuk keperluan laporan kegiatan. Oleh karena itu saya harus selalu mengkoordinasikan sesama supaya tetap menjaga nota pengeluaran agar tidak hilang. Kemudian dalam kegiatan bakti sosial juga sehari - hari, saya selalu berani dan percaya diri untuk berinteraksi dengan siapapun tanpa harus menunggu lama orang lain untuk menyapa atau menegur saya terlebih dahulu. Dimana rasa percaya diri dan kemampuan bersosial sangat penting dimiliki tidak hanya dalam kegiatan kuliah atau organisasi tetapi dalam kehidupan sehari - hari, karena kedua hal tersebut berperan dalam membantu saya untuk berani menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan serta bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Hal tersebut selain berguna bagi saya sekarang juga penting untuk dimasa mendatang saat saya sudah menjadi seorang dokter, tentunya saya harus berani berbicara dengan pasien yang saya temui dan tidak saya kenal tanpa rasa malu dan ragu.
Gambar 4. Organisasi Senat Mahasiswa FK SCU
Gambar 5. Kegiatan Bakti Sosial
Pengalaman dari kegiatan kuliah dan hal sehari - hari yang saya alami memberikan refleksi pembelajaran bagi diri saya. Bahwa saya baik menjadi anggota maupun pemimpin harus lebih sabar terhadap proses dan kinerja masing - masing orang, karena dibalik kelebihan sikap ESTJ -A tersebut. Saya memiliki kelemahan yaitu, kadang cenderung merasa kurang sabar terhadap kerja seseorang yang lama pengerjaannya diluar batas ketentuan yang telah ditetapkan dalam suatu kegiatan, dan percaya dengan hasil kerja orang lain. Oleh karena itu, saya berusaha untuk belajar sabar akan proses masing - masing orang, lebih memahami dan peka akan kemungkinan atau ada kondisi lain yang sedang dihadapi orang lain sehingga pengerjaan yang ditugaskan lebih lama dari yang seharusnya. Saya cenderung menyukai kegiatan dengan jadwal yang terstruktur, yang mana jika terjadi perubahan mendadak kadang saya merasa tidak nyaman. Hal tersebut membuat saya belajar dan berusaha untuk menjadi pribadi yang bisa lebih fleksibel dan mengerti kondisi di luar perkiraan, sehingga saya belajar mengerti bahwa setiap kegiatan dan rencana yang sudah dipersiapkan itu, kadang kenyataannya bisa terjadi berbeda diluar kendali kita. Kemudian saya belajar untuk tidak terlalu blak - blakkan dengan apa yang sedang terjadi meskipun itu sebenarnya fakta, tetapi saya juga harus mampu mengkondisikan pembicaraan dan menjaga perasaan orang sekitar supaya suasana tetap harmonis. Dengan demikian, sebagai seorang pemimpin saya harus mengembangkan sikap sabar, peka, adaptasi, fleksibel, dan gaya komunikasi yang lebih baik.
Model kepemimpinan yang relevan
Gambar 6. Model Kepemimpinan Situasional5
Berdasarkan teori Hersey dan Blanchard tersebut dijelaskan, bahwa pemimpin harus mampu menyesuaikan cara memimpin dengan tingkat kesiapan, kematangan, kemampuan, kemauan, dan kepercayaan diri bawahan. Artinya, ketika bawahan masih kurang pengalaman dan belum percaya diri, pemimpin perlu memberi arahan yang jelas, pengawasan, dan instruksi yang rinci. Namun, ketika bawahan mulai memiliki kemampuan tetapi masih membutuhkan dukungan, pemimpin perlu bersikap konsultatif dengan memberi arahan sekaligus motivasi4. Selanjutnya, apabila bawahan sudah cukup mampu tetapi motivasinya belum stabil, pemimpin sebaiknya menggunakan pendekatan partisipatif, yaitu melibatkan bawahan dalam diskusi dan pengambilan keputusan. Sementara itu, jika bawahan sudah memiliki kemampuan tinggi, bertanggung jawab, dan mandiri, pemimpin dapat menerapkan gaya delegasi dengan memberikan kepercayaan penuh kepada bawahan untuk menyelesaikan tugasnya. Dengan demikian, model kepemimpinan situasional Hersey dan Blanchard menggambarkan kepemimpinan yang fleksibel, adaptif, dan berpusat pada kondisi bawahan, sehingga sangat relevan diterapkan dalam pelayanan kesehatan karena setiap tenaga kesehatan memiliki tingkat kompetensi, pengalaman, dan kebutuhan dukungan yang berbeda-beda4.
Pemilihan model kepemimpinan tersebut karena menurut saya model ini sesuai dengan karakter pribadi saya sebagai ESTJ-A dan pengalaman saya selama berkuliah. Saya termasuk pribadi yang tegas, disiplin, teratur, dan terbiasa membuat perencanaan agar suatu kegiatan dapat berjalan dengan jelas. Hal ini terlihat dari pengalaman saya dalam kegiatan PBL, SCP, organisasi senat, maupun bakti sosial, ketika saya sering membantu membagi tugas, mengingatkan teman terkait waktu pengerjaan, serta mengoordinasikan kegiatan agar tetap berjalan sesuai rencana. Namun, dari pengalaman tersebut saya juga menyadari bahwa setiap orang memiliki cara kerja, kemampuan, kesiapan, dan motivasi yang berbeda. Tidak semua anggota dapat dipimpin dengan cara yang sama. Ada yang membutuhkan arahan lebih jelas, ada yang perlu diberi dukungan, ada yang perlu diajak berdiskusi, dan ada juga yang sudah mampu diberi kepercayaan untuk bekerja secara mandiri. Oleh karena itu, kepemimpinan situasional menjadi model yang tepat karena mengajarkan seorang pemimpin untuk lebih fleksibel dalam menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan kondisi anggota. Model ini relevan dalam bidang kesehatan karena kerja tim melibatkan orang dengan kemampuan dan pengalaman yang berbeda. Melalui kepemimpinan situasional, saya belajar untuk tetap disiplin dan terstruktur, tetapi juga lebih peka, fleksibel, dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi tim.
Karakteristik saya sebagai ESTJ-A memiliki keterkaitan dengan model kepemimpinan situasional, karena model ini membutuhkan pemimpin yang mampu membaca keadaan, memberi arahan, mengambil keputusan, dan menyesuaikan cara memimpin dengan kesiapan anggota. Sikap saya yang logis, disiplin, terstruktur, dan bertanggung jawab dapat mendukung gaya kepemimpinan ini, terutama saat anggota membutuhkan arahan yang jelas. Berdasarkan teori kemampuan situasional terdapat 4 gaya kepemimpinan dengan pendekatan, dimana gaya menginstruksi (telling), ketegasan saya membantu memberikan arahan yang jelas dan terarah kepada anggota. Dalam pendekatan konsultatif (selling), kemampuan komunikasi membantu saya menjelaskan keputusan sekaligus memberi dorongan kepada anggota. Pada pendekatan partisipatif, saya belajar untuk lebih terbuka terhadap diskusi dan masukan dari orang lain. Sementara itu, dalam gaya delegasi, saya masih perlu belajar memberi kepercayaan kepada anggota yang sudah mampu, karena pemimpin tidak harus selalu mengontrol semua hal, tetapi juga perlu menyesuaikan cara memimpin dengan kemampuan dan kesiapan tim.
Kekuatan saya sebagai tipe pribadi ESTJ-A, seperti disiplin, bertanggung jawab, tegas, terstruktur, percaya diri, dan mampu berkomunikasi, dapat mendukung penerapan kepemimpinan situasional. Kekuatan tersebut membantu dalam memberikan arahan yang jelas, mengatur pembagian tugas, menjaga keteraturan kegiatan, serta mendorong anggota untuk mencapai tujuan bersama. Namun, saya juga memiliki keterbatasan yang dapat memengaruhi penerapan model ini, seperti kurang sabar terhadap orang yang bekerja lebih lambat, kurang nyaman dengan perubahan mendadak, dan terkadang terlalu blak-blakan dalam menyampaikan sesuatu. Jika tidak dikendalikan, hal tersebut dapat membuat saya terlalu mengontrol dan kurang peka terhadap kondisi anggota. Oleh karena itu, melalui kepemimpinan situasional, saya belajar untuk lebih sabar, fleksibel, empatik, dan mampu memberi kepercayaan kepada orang lain sesuai dengan kemampuan serta kesiapan mereka.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Dalam menjalankan kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, langkah awal yang akan saya lakukan adalah melakukan advokasi kepada kepala puskesmas, penanggung jawab program, dan dinas kesehatan dengan menyampaikan data kasus, capaian skrining, kebutuhan tenaga, logistik, serta kendala pelayanan yang ada di lapangan6. Hal ini penting agar kegiatan mendapat dukungan kebijakan, pembagian peran yang jelas, dan ketersediaan sarana seperti obat, reagen, formulir, serta sistem pencatatan. Penguatan tim pada tim puskesmas, akan saya lakukan dengan memperjelas tugas masing-masing petugas, mulai dari program TB, HIV, dokter, perawat, laboratorium, farmasi, promosi kesehatan, hingga petugas pencatatan6. Dalam pelaksanaannya, saya akan menggunakan pendekatan kepemimpinan situasional, yaitu menyesuaikan cara memimpin dengan kesiapan anggota tim. Selain penguatan internal, koordinasi lintas sektor dilakukan dengan melibatkan kader, kelurahan atau desa, tokoh masyarakat, komunitas pendamping, fasilitas kesehatan rujukan, dan dinas kesehatan untuk mendukung edukasi, penemuan kasus, rujukan, pendampingan pengobatan6, serta mengurangi stigma dengan tetap menjaga kerahasiaan pasien.
Kegiatan ini membutuhkan kolaborasi interprofesional karena pasien TB-HIV memerlukan pelayanan yang menyeluruh, seperti skrining TB pada ODHIV, tes HIV pada pasien TB, pemberian OAT, ARV, TPT, edukasi kepatuhan minum obat, pemantauan efek samping, dan rujukan bila diperlukan6. Selanjutnya, monitoring dilakukan secara rutin dengan melihat capaian program, kepatuhan kontrol pasien, ketersediaan logistik, serta kelengkapan pencatatan. Evaluasi perlu dilakukan melalui pertemuan berkala bersama tim lintas program untuk menilai hambatan yang muncul, seperti pasien putus obat, keterlambatan pencatatan, kurangnya koordinasi, atau keterbatasan stok6. Dari hasil evaluasi tersebut, tim dapat menyusun tindak lanjut agar kegiatan TB-HIV di Puskesmas X berjalan lebih terarah, terpadu, dan sesuai dengan kebutuhan pasien.
Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti adanya struktur program di puskesmas, tenaga kesehatan dengan kemampuan yang beragam, dukungan kader di masyarakat, serta sistem pencatatan yang dapat membantu pemantauan kasus. Peluang tersebut bisa diperkuat melalui edukasi masyarakat dan kerja sama lintas sektor agar penemuan kasus, rujukan, serta pendampingan pasien berjalan lebih baik. Meskipun demikian, kegiatan ini memiliki tantangan, seperti stigma terhadap pasien TB-HIV, pasien yang kurang terbuka, keterbatasan tenaga, perbedaan pemahaman antarpetugas, kendala pencatatan, serta risiko pasien tidak patuh atau putus pengobatan. Untuk mengatasi hal tersebut, saya akan memperkuat komunikasi dalam tim, memberikan edukasi dengan pendekatan yang tidak menghakimi, menjaga kerahasiaan pasien, membuat pengingat jadwal kontrol, melibatkan kader secara tepat, serta melakukan evaluasi rutin agar hambatan yang muncul dapat segera ditindaklanjuti.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Apabila saya menjadi pemimpin tim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu di rmah sakit, saya memilih sasaran keselamatan pasien berupa pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Sasaran ini saya pilih karena infeksi yang muncul selama proses pelayanan kesehatan tidak hanya membahayakan pasien, tetapi juga dapat berdampak pada keselamatan tenaga kesehatan7. Dalam menjalankan peran tersebut, saya akan menggunakan model kepemimpinan situasional, yaitu menyesuaikan cara memimpin dengan kondisi dan kesiapan anggota tim. Sebagai langkah awal, saya akan mengidentifikasi masalah yang sering terjadi di lapangan, seperti kepatuhan cuci tangan, penggunaan APD, ketersediaan handrub, penerapan prosedur aseptik, pengelolaan limbah medis, serta laporan kejadian infeksi atau pajanan kerja pada petugas7.
Setelah permasalahan dipetakan, saya akan membentuk tim kecil yang melibatkan berbagai profesi, seperti dokter, perawat, tim PPI, farmasi, laboratorium, petugas kebersihan, Central Sterile Supply Department (CSSD), dan bagian K3 rumah sakit. Pada anggota yang belum terlalu memahami alur PPI, saya akan memberikan arahan yang jelas mengenai prosedur kebersihan tangan, penggunaan APD, isolasi pasien, pembuangan benda tajam, dan pelaporan insiden. Untuk anggota yang sudah memahami tetapi belum konsisten, saya akan menggunakan pendekatan konsultatif melalui diskusi, pengingat, dan umpan balik. Sementara itu, anggota yang sudah lebih berpengalaman dapat saya libatkan sebagai penggerak di unit masing-masing, misalnya membantu audit kepatuhan, memberi edukasi kepada teman sejawat, dan menyampaikan hambatan yang ditemukan selama pelayanan. Model kepemimpinan situasional dapat membantu membangun budaya keselamatan karena pemimpin tidak hanya sekadar memberi instruksi, tetapi juga memahami kebutuhan dan kondisi anggota tim. Budaya keselamatan dapat dibentuk melalui komunikasi yang terbuka, keteladanan dari pimpinan, kebiasaan saling mengingatkan, serta pelaporan insiden yang tidak menyalahkan individu. Dengan suasana seperti ini, tenaga kesehatan akan lebih berani menyampaikan kendala yang terjadi, misalnya kurangnya APD, rendahnya kepatuhan cuci tangan, atau prosedur yang belum berjalan sesuai standar. Hal ini penting karena peningkatan mutu tidak hanya bergantung pada aturan tertulis, tetapi juga pada kebiasaan kerja yang aman dan kesadaran bersama untuk melindungi pasien maupun petugas.
Dalam pelaksanaannya, beberapa tantangan yang mungkin muncul adalah tingginya beban kerja tenaga kesehatan, kebiasaan lama yang sulit diubah, keterbatasan APD atau handrub, kepatuhan cuci tangan yang belum optimal, serta rasa takut petugas untuk melaporkan insiden. Selain itu, perbedaan pemahaman antarprofesi juga dapat menjadi hambatan dalam menjalankan program PPI secara konsisten. Namun, peluang yang dapat dimanfaatkan tetap ada, seperti keberadaan tim PPI rumah sakit, standar akreditasi, dukungan manajemen, data insiden keselamatan pasien, serta kesempatan pelatihan bagi tenaga kesehatan. Sebagai langkah antisipatif, saya akan berupaya memastikan sarana PPI tersedia dengan baik, melakukan edukasi dan simulasi secara berkala, memasang pengingat visual di area pelayanan, melakukan audit kepatuhan, serta memberikan umpan balik kepada unit terkait. Saya juga akan mendorong sistem pelaporan yang aman dan tidak menyalahkan, sehingga petugas tidak takut melaporkan kejadian atau hampir cedera. Jika ditemukan masalah, tim akan melakukan evaluasi bersama dan menyusun tindak lanjut yang realistis. Dengan penerapan kepemimpinan situasional, upaya pencegahan dan pengendalian infeksi diharapkan dapat berjalan lebih efektif, menurunkan risiko infeksi, meningkatkan mutu pelayanan, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi pasien dan tenaga kesehatan.
Kesimpulan
Kepribadian ESTJ-A menunjukkan karakter tegas, disiplin, terstruktur, bertanggung jawab, percaya diri, dan mampu berkomunikasi. Namun, terdapat keterbatasan, seperti kurang sabar, kurang fleksibel terhadap perubahan mendadak, dan terkadang terlalu blak-blakan. Model kepemimpinan situasional menjadi pilihan yang sesuai karena membantu saya menyesuaikan cara memimpin dengan kemampuan, kesiapan, dan kebutuhan anggota tim. Model ini dapat diterapkan dalam pelayanan kesehatan, baik pada kegiatan lintas program TB-HIV di puskesmas maupun peningkatan mutu rumah sakit melalui pencegahan dan pengendalian infeksi. Dengan kepemimpinan situasional, saya belajar menjadi pemimpin yang tidak hanya tegas dan terarah, tetapi juga lebih sabar, fleksibel, peka, serta mampu membangun kerja sama untuk menciptakan pelayanan yang aman dan bermutu.
Daftar Pustaka
NERIS Analytics Limited. Strengths & weaknesses: ESTJ personality (Executive) [Internet]. 16Personalities; 2026 [cited 2026 Jun 27]. Available from: https://www.16personalities.com/estj-strengths-and-weaknesses
Fatimah S, Valentine RABGY. Kepribadian Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Berdasarkan Myers Briggs Type Indicator (MBTI). Jurnal Kesehatan Pratiwi. 2024;6(2):71.
Hoemdiana R. Aplikasi Sistem Pakar Untuk Menetukan Kepribadian Siswa Kelas XII Dengan Metode Forward Chaining Berbasis Web (Studi Kasus : SMA Santo Yoseph). Jurnal Informatika Bisnis . 2020;9(2):5.
Putri FA, Andin M, Rangkuti NAS, Fadilla SR, Lubis SFM, Wasiyem. Strategi Kepemimpinan Situasional dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan: Studi Teori Hersey dan Blanchard. Jurnal Kolaboratif Sains. 2024;7(12):4890-97.
Diannitasari. Memahami teori kepemimpinan situasional [Internet]. Kompasiana. 2021 Jul 12 [dikutip 2026 Jun 28]. Tersedia dari: https://www.kompasiana.com/diannitasari5561/60eb8c4d06310e4249183a42/memahami-teori-kepemimpinan-situasional
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC-HIV. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2023. ISBN 978-623-301-432-8.
Guritna KA, Kurnia E. Kebijakan Pencegahan dan Pengendalian di Rumah Sakit. Jurnal Administrasi Rumah Sakit Indonesia. 2025;5(1):81-87.
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.



Komentar
Posting Komentar