KEPRIBADIAN ENTJ-T DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN DALAM DUNIA KESEHATAN
KEPRIBADIAN ENTJ-T DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN DALAM DUNIA KESEHATAN
Agatha Adelina Dewayanti
23.P1.0038
Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan Latar Belakang Personal
Gambar 1. ENTJ Personality
Hasil tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) yang saya jalani menempatkan saya pada tipe ENTJ-T, atau yang dikenal sebagai “Commander” dengan varian Turbulent. Secara umum ENTJ adalah tipe kepribadian dengan sifat Extrovert, Intuitive, Thinking, dan Judging. Gabungan dari empat preferensi ini menghasilkan profil pemimpin alami yaitu tegas, berorientasi pada tujuan, mampu menyusun visi strategis, dan cenderung mengambil alih kendali ketika menghadapi situasi yang tidak terorganisasi. Tipe kepribadian ini adalah orang-orang yang tegas dan menyukai momentum serta pencapaian. Orang dengan tipe kepribadian ini mengumpulkan informasi untuk membangun visi kreatif mereka, tetapi jarang ragu-ragu terlalu lama sebelum bertindak1. Varian Turbulent menambahkan sikap perfeksionis, self-critical, dan sensitif terhadap evaluasi atau kegagalan2.
Saya menilai profil ini sangat sesuai dengan diri saya. Di kehidupan sehari-hari saya bersikap sesuai dengan ENTJ-T. Salah satu pengalamannya adalah dalam organisasi. Saya mengikuti organisasi senat di Fakultas selama dua periode. Selama saya mengikuti organisasi senat, saya selalu mendapatkan bagian sebagai seksi acara. Namun terdapat salah satu program kerja yang mengharuskan saya sebagai Leader yaitu FMLT. Pertama kali saya menjadi panitia FMLT saya ditempatkan di seksi komandan lapangan yang mengharuskan saya tegas dan perfeksionis terhadap peserta. Pada program kerja tersebut saya merasa bahwa saya mudah beradaptasi dan saya merasa menemukan pembelajaran baru. Pengalaman lainnya terdapat pada kegiatan akademik adalah ketika saya menjadi ketua kelompok dalam Soegijapranata Community Project (SCP). Dalam peran tersebut, saya belajar untuk lebih inisiatif menyusun rencana kerja, membagi tugas anggota sesuai dengan kompetensi masing-masing, menetapkan target waktu, serta menegur ketika ada anggota yang lalai terhadap tanggung jawabnya.
Namun, sisi Turbulent saya juga sangat terasa pada kehidupan sehari-hari. Saya kerap kali merasa bahwa saya kurang sempurna, saya sangat memperhatikan detail-detail kecil yang membuat saya cemas. Kelemahan saya yang lainnya adalah terkadang memikirkan orang lain sehingga membuat saya kesulitan mengambil keputusan akibat saya ingin menyenangkan semua orang. Namun ketika situasi sudah tidak memungkinkan menurut saya, saya tidak mendengarkan secara aktif sehingga saya menyimpulkan segala sesuatu sendirian. Saya juga sempat merasa cemas memikirkan apakah gaya kepemimpinan saya yang tegas dianggap terlalu mendominasi oleh anggota tim lain. Pengalaman ini menegaskan bahwa hasil MBTI saya bukan sekadar label, melainkan cerminan pola pikir dan perilaku yang benar-benar saya jalani dalam kehidupan akademik dan organisasi sehari-hari.
Menyadari bahwa saya terdapat kelebihan dan kelemahan, terdapat beberapa hal yang perlu saya kembangkan dan perbaiki agar dapat menjadi pemimpin yang lebih efektif dan berkelanjutan, terutama dalam konteks pelayanan kesehatan yang sarat dengan kerja tim multidisiplin. Pertama, saya perlu melatih active listening, yaitu kemampuan mendengarkan secara aktif sebelum mengambil keputusan, mengingat kecenderungan saya untuk cepat menyimpulkan dan langsung bertindak dapat membuat saya melewatkan masukan berharga dari anggota tim yang lebih pendiam. Kedua, saya perlu mengembangkan kesabaran dan toleransi terhadap proses pengambilan keputusan yang lebih lambat pada sebagian anggota tim, karena tidak semua orang memiliki kecepatan berpikir dan bertindak yang sama dengan saya. Ketiga, saya perlu memperkuat kecerdasan emosional dan empati, khususnya dalam memberikan perhatian personal terhadap kebutuhan emosional anggota tim, bukan hanya berfokus pada pencapaian target kerja. Keempat, sebagai konsekuensi dari sisi Turbulent, saya perlu mengelola kecenderungan perfeksionis dan self-criticism agar tidak menular menjadi tekanan berlebihan terhadap tim, serta belajar menerima umpan balik secara terbuka.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Gambar 2. Kepemimpinan Transformasional
Berdasarkan refleksi terhadap karakter personal di atas, model kepemimpinan yang paling relevan dengan diri saya adalah kepemimpinan transformasional (Transformational Leadership). Transformational Leadership menunjukkan bahwa seorang pemimpin memotivasi pengikut untuk berjuang mencapai tujuan kelompok dibandingkan tujuan pribadi melalui karisma, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan/atau pertimbangan individual3. Model kepemimpinan ini terdiri atas empat dimensi utama yang dikenal sebagai “empat I” yaitu idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, serta individualized consideration.
Saya memilih model kepemimpinan ini karena sesuai dengan karakter ENTJ-T. Kecenderungan saya menyusun visi strategis dan mengomunikasikannya dengan percaya diri sejalan dengan sifat inspirational motivation4. Model kepemimpinan transformasional saya pilih bukan hanya ingin memperkuat cara kepemimpinan saya, tetapi juga karena saya ingin mengembangkan kemampuan saya lebih jauh lagi. Saya berharap saya semakin bisa menempatkan diri dengan model kepemimpinan yang saya pilih sehingga saya bisa bekerja sama dengan baik bersama dengan anggota tim saya di kemudian hari.
Kelebihan diri saya yang mendukung model kepemimpinan ini adalah saya merupakan orang yang tegas, dan saya mampu menyusun rencana hidup saya sehingga memungkinkan saya untuk menjalankan hidup sebagai seseorang yang idealized influence dan inspirational motivation secara lebih cepat dibandingkan pemimpin dengan profil lain, karena saya tidak ragu mengambil langkah pertama dan memobilisasi tim menuju perubahan. Namun, keterbatasan saya berupa kecenderungan dominan, kurang sabar, serta perfeksionisme yang berasal dari sisi Turbulent, berpotensi merusak sifat individualized consideration apabila tidak dikendalikan. Jika dibiarkan, gaya saya yang seharusnya transformasional dapat bergeser menjadi otoriter.
Aplikasi Model Kepemimpinan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama: Koordinator Lintas Program TB-HIV
Gambar 3. TB-HIV
Model kepemimpinan transformasional dapat diaplikasikan jika saya menjadi koordinator lintas program TB-HIV. Peran ini mencakup dua program yaitu program Tuberkulosis dan program HIV-AIDS5,6. Langkah pertama yang akan saya tempuh adalah membangun dan mengomunikasikan visi bersama mengenai pentingnya layanan TB-HIV yang terintegrasi kepada Kepala Puskesmas, Dinas Kesehatan, serta lintas program internal, dengan memanfaatkan data epidemiologi lokal seperti angka koinfeksi yang belum terdeteksi dan rendahnya cakupan skrining. Saya akan menyusun proposal advokasi berbasis data yang memuat urgensi serta manfaat klinis dari integrasi layanan, kemudian menunjukkan manfaat kekuatan inspirational motivation saya untuk meyakinkan pengambil kebijakan. Langkah kedua yang akan saya lakukan adalah membentuk tim kerja lintas program yang terdiri atas penanggung jawab program TB, penanggung jawab program HIV, perawat, serta kader kesehatan, kemudian menyelenggarakan pelatihan dan mentoring berkelanjutan agar seluruh anggota memahami alur layanan terintegrasi. Langkah ketiga yang akan saya lakukan adalah Saya akan membangun forum koordinasi rutin bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) daerah, organisasi masyarakat sipil pendamping Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), rumah sakit rujukan, lembaga pemasyarakatan setempat mengingat tingginya prevalensi TB di lapas, serta perangkat desa atau kelurahan untuk mendukung pelacakan kontak dan dukungan sosial pasien. Langkah keempat yang akan saya lakukan adalah saya akan memastikan tugas antara dokter, perawat, petugas laboratorium untuk pemeriksaan dahak dan tes HIV, apoteker untuk manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Antiretroviral (ARV) termasuk pemantauan interaksi obat, konselor untuk dukungan psikologis dan kepatuhan pengobatan. Langkah kelima yang akan saya lakukan adalah saya akan memantau beberapa indikator yang perlu diperhatikan seperti cakupan skrining TB pada pasien HIV. Evaluasi triwulanan akan saya lakukan bersama tim untuk membahas capaian, kendala, dan rencana perbaikan berkelanjutan.
Aplikasi Model Kepemimpinan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut
Model kepemimpinan transformasional dapat diaplikasikan jika saya menjadi pemimpin rumah sakit (Direktur atau Wakil Direktur Pelayanan) yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu, dengan fokus pada Sasaran Keselamatan Pasien terkait keamanan dan keselamatan penggunaan obat. Saya akan memimpin dengan membuat visi sebagai inti dari model kepemimpinan saya. Saya akan tetap mengusung visi “zero preventable medication errror” yaitu sebuah konsep dan tujuan utama dalam keselamatan pasien yang berarti tidak boleh ada kesalahan pemberian obat yang sebenarnya bisa dicegah. Ini adalah cita-cita untuk menciptakan sistem perawatan kesehatan di mana pasien tidak pernah mengalami cedera akibat kesalahan yang seharusnya dapat dihindari dalam proses pengobatan7. Saya akan menerapkan Pelayanan Informasi Obat untuk mencegah penyalahgunaan obat dan kesalahan pemberian obat. Konsep dan tujuan utama dalam keselamatan pasien yang berarti tidak boleh ada kesalahan pemberian obat yang sebenarnya bisa dicegah. Ini adalah cita-cita untuk menciptakan sistem perawatan kesehatan di mana pasien tidak pernah mengalami cedera akibat kesalahan yang seharusnya dapat dihindari dalam proses pengobatan tetapi saya akan mengadaptasi model kepemimpinan saya menjadi lebih partisipatif dan tidak hanya fokus pada satu hal saja. Saya menyadari bahwa rumah sakit tidak memungkinkan satu pemimpin mengendalikan seluruh operasional secara langsung, sehingga kecenderungan dominan saya justru harus secara sengaja saya redam demi efektivitas organisasi.
Saya tetap menggunakan model kepemimpinan transformasional sebagai model kepemimpinan yang utama, tetapi saya akan menggabungkan dengan model kepemimpinan lain yaitu kepemimpinan terdistribusi (distributed/ shared leadership), yaitu mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan. Distributed leadership adalah pendekatan manajemen di mana wewenang pengambilan keputusan dan tanggung jawab kepemimpinan tidak dipegang oleh satu orang saja, melainkan dibagikan kepada individu di seluruh tingkatan organisasi9. Pendekatan ini memungkinkan visi besar saya diterjemahkan menjadi aksi nyata di setiap unit tanpa harus melalui satu titik keputusan tunggal, sekaligus menjadi strategi konkret untuk mengompensasi kelemahan saya yang cenderung perfeksionis dan dominan.
Langkah-langkah implementasi yang akan saya jalankan meliputi tahapan yang saya yakini mampu saya implementasikan dan sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan ketika saya menjadi pimpinan rumah sakit, yaitu8: membentuk atau menguatkan komite keselamatan pasien dan tim farmasi klinik sebagai motor penggerak program, sekaligus forum bagi staf untuk mengusulkan inovasi keselamatan, menerapkan sistem pengecekan ganda (double check) oleh dua tenaga kesehatan independen sebelum pemberian obat high-alert, terutama di unit berisiko tinggi seperti ICU, ruang bersalin, dan kamar operasi, dan mengembangkan dan mengadakan teknologi pendukung keselamatan seperti barcode medication administration dan sistem peresepan elektronik (e-prescribing) untuk mengurangi kesalahan akibat tulisan tangan atau kesalahan manual8.
Tantangan yang mungkin akan saya hadapi adalah budaya yang sulit terhadap perubahan, khususnya ketika staf saya yang telah terbiasa dengan praktik lama, beban kerja tinggi yang membuat kepatuhan terhadap protokol keselamatan cenderung menurun pada situasi darurat, keterbatasan anggaran untuk investasi teknologi keselamatan obat; kompleksitas koordinasi antar banyak unit dan profesi yang memiliki kepentingan dan prioritas berbeda, tuntutan kepatuhan terhadap standar akreditasi nasional yang ketat, serta tingkat turnover staf yang dapat menghambat keberlanjutan budaya keselamatan yang telah dibangun. Untuk mengatasi tantangan tersebut, saya akan melibatkan staf sejak tahap perencanaan agar tumbuh rasa kepemilikan terhadap program, menerapkan edukasi berkelanjutan dan refreshing training secara berkala, membangun dashboard data keselamatan obat yang transparan dan dapat diakses seluruh unit guna mendorong akuntabilitas, memberikan apresiasi terhadap unit yang menunjukkan kepatuhan tinggi, serta menerapkan strategi implementasi bertahap, dimulai dari unit berisiko tinggi sebelum diperluas ke seluruh rumah sakit, agar perubahan dapat dikelola secara realistis tanpa membebani sistem secara berlebihan.
Kesimpulan
Refleksi atas hasil MBTI ENTJ-T menunjukkan bahwa karakter saya yang tegas, visioner, dan berorientasi pada perubahan secara alami selaras dengan kerangka kepemimpinan transformasional. Namun, esai ini juga menegaskan bahwa kesesuaian karakter personal dengan suatu model kepemimpinan tidak serta-merta menjamin keberhasilan, karena setiap kekuatan turut membawa keterbatasan yang harus dikenali dan dikelola secara sadar, terutama kecenderungan dominan dan perfeksionisme yang berasal dari sisi Turbulent saya. Penerapan kepemimpinan transformasional pada dua konteks yang berbeda, yaitu sebagai koordinator lintas program TB-HIV di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan sebagai pemimpin rumah sakit untuk keselamatan penggunaan obat di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, menunjukkan bahwa model ini cukup fleksibel untuk diadaptasi sesuai skala dan kompleksitas organisasi, baik dengan penekanan lebih personal pada skala Puskesmas maupun dipadukan dengan kepemimpinan terdistribusi pada skala rumah sakit yang lebih kompleks. Pada akhirnya, perjalanan saya menjadi pemimpin yang efektif di dunia kesehatan akan sangat ditentukan oleh kesediaan saya untuk terus mengembangkan diri, khususnya dalam hal mendengarkan, memberi perhatian personal, dan mengelola kecenderungan perfeksionis, agar ketegasan dan visi yang saya miliki benar-benar menginspirasi perubahan, bukan sekadar mengarahkan dari atas.
Daftar Pustaka
16Personalities. Commander Personality: Introduction [Internet]. 16Personalities. NERIS Analytics Limited; 2024. Available from: https://www.16personalities.com/entj-personality
16Personalities. Knowledge Base | 16Personalities [Internet]. 16Personalities. 2026 [cited 2026 Jun 26]. Available from: https://www.16personalities.com/articles/identity-assertive-vs-turbulent?kuid=dccba40f-33c0-4277-8aa5-328164edaf65-1775584474&kref=http%3A%2F%2Fblackdragonblog.calebjones.com%2F2018%2F08%2F23%2Fopposites-attract-part-2%2F%23comment-390160&page=79
Bakker AB, Hetland J, Olsen OK, Espevik R. Daily Transformational leadership: a Source of Inspiration for Follower performance? European Management Journal [Internet]. 2023 Oct;41(5):700–8. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0263237322000603
Madan AO, Jain AK, Bolden R. Antecedents and Consequences of Distributed Leadership in Indian Higher Education. International Journal of Educational Management [Internet]. 2025 [cited 2026 Jun 26];39(3):689–708. Available from: https://eric.ed.gov/?q=Voice&ff1=subHigher+Education&ff2=locIndia&id=EJ147408
World Health Organization. World Health Organization. WHO Consolidated Guidelines on tuberculosis: Module 6: Tuberculosis and Comorbidities. World Health Organization; 2024.
World Health Organization. Monitoring and Evaluation [Internet]. Nih.gov. World Health Organization; 2024 [cited 2026 Jun 26]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK603414/?report=classic
Morimoto T. Adverse Drug Events and Medication errors: Detection and Classification Methods. Quality and Safety in Health Care. 2004 Aug 1;13(4):306–14.
Kementrian Kesehatan. Keselamatan Pasien Lebih Utama dalam Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan [Internet]. Kemkes.go.id. 2023 [cited 2026 Jun 26]. Available from: https://kemkes.go.id/id/%20keselamatan-pasien-lebih-utama-dalam-upaya-peningkatan-mutu-pelayanan-kesehatan
Bolden R. Distributed Leadership in organizations: a Review of Theory and Research. International Journal of Management Reviews. 2011 Apr 18;13(3):251–69.
Lampiran
Lampiran 1. Hasil MBTI
Lampiran 2. Form Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Lampiran 3. Form Pemantauan Terapi Obat
Komentar
Posting Komentar