Kepemimpinan Transformasional Berdasarkan Kepribadian ENTJ-A dalam Pelayanan Kesehatan
Nama: Finsensia Sabatanna
NIM: 23.P1.0030
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan Latar Belakang Personal
Berdasarkan hasil penilaian MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ENTJ-A (Extraverted, Intuitive, Thinking, Judging-Assertive) yang dikenal sebagai tipe komandan. Orang dengan tipe ini biasanya memiliki kemampuan kepemimpinan yang tinggi, berpikir secara strategis, memiliki rasa percaya diri yang kuat, tegas dalam mengambil keputusan, dan fokus pada pencapaian tujuan jangka panjang. Individu dengan tipe ENTJ cenderung dapat memahami gambaran secara keseluruhan, menganalisis berbagai kemungkinan, serta merancang strategi secara sistematik untuk mencapai target yang telah ditentukan1,2.
Gambar: 1 Hasil penilaian MBTI ENTJ-A
Menurut saya, hasil penilaian itu sejalan dengan karakter saya. Baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam aktivitas belajar, saya lebih suka berada dalam lingkungan yang memerlukan kerja sama, membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang teratur. Saya juga merasakan peningkatan produktivitas saat memiliki tujuan yang spesifik serta rencana yang baik.
Karakteristik kepemimpinan ini tampak dalam berbagai pengalaman saya. Dalam kegiatan pembelajaran akademik, saya pernah diamanahkan untuk menjadi ketua kelompok dalam konsep Problem Based Learning (PBL). Di posisi ini, saya bertanggung jawab mengelola diskusi, memastikan semua anggota berkontribusi aktif, mendistribusikan tugas, dan menjaga agar pembicaraan tetap terfokus pada tujuan pembelajaran. Saat terdapat perbedaan pendapat, saya berusaha mendengar semua masukan, lalu membantu kelompok mengambil keputusan terbaik dengan pertimbangan objektif.
Pengalaman kepemimpinan saya juga bertambah saat menjalani masa Novisiat, ketika saya diangkat sebagai koordinator angkatan. Posisi ini mengharuskan saya menjadi penghubung antara anggota angkatan dan pembina, mempertahankan komunikasi, serta berkontribusi menciptakan lingkungan komunitas yang harmonis. Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa kepemimpinan tidak hanya tentang kemampuan untuk memimpin, tetapi juga tentang kemampuan untuk mendengar, memahami kebutuhan orang lain, dan memelihara kebersamaan.
Pengalaman lain, ketika berada di Laja, Flores, saya dipilih pimpinan Biara dan diutus untuk menjadi pendamping anak-anak di asrama tingkat SMP. Pengalaman ini memberikan wawasan yang lebih dalam tentang kepemimpinan yang bersifat mendukung dan melayani. Saya belajar untuk mendampingi anak-anak dalam kegiatan sehari-hari, memberikan petunjuk, semangat, serta membantu mereka melewati berbagai kesulitan. Pengalaman itu mengajarkan saya betapa pentingnya kesabaran, empati, dan komunikasi dalam memimpin.
Selain hasil dari MBTI, saya juga tipe kepribadian plegmatis berdasarkan tes tentang temperamen yang telah saya lakukan pada salah satu perkuliahan. Orang dengan kepribadian plegmatis sering dianggap sebagai individu yang tenang, bersahabat, dapat diandalkan, dan cenderung berusaha mempertahankan hubungan sosial yang harmonis1,2. Menurut saya, sifat plegmatis melengkapi karakter ENTJ yang saya miliki. Jika ENTJ membuat saya menjadi pribadi strategis, tegas, dan berorientasi pada hasil, maka sifat plegmatis membantu saya menjadi lebih sabar, suportif, dan mampu memahami sudut pandang orang lain. Kombinasi kedua karakter ini membantu saya mengambil keputusan secara rasional tanpa mengabaikan kondisi emosional anggota tim. Walaupun demikian, saya menyadari masih ada beberapa aspek yang perlu saya kembangkan sebagai seorang pemimpin.
Salah satu tantangan terbesar bagi saya adalah kecenderungan terlalu fokus pada hasil, efisiensi, dan penyelesaian masalah secara cepat. Dalam situasi tertentu, hal ini dapat membuat saya kurang peka terhadap dinamika emosional anggota tim, terutama ketika bekerja dengan individu yang memiliki ritme kerja atau cara berpikir berbeda. Pengalaman memimpin dalam komunitas, kegiatan akademik, maupun pembinaan asrama mengajarkan saya bahwa keberhasilan kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh tercapainya target, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan, rasa aman, dan hubungan interpersonal yang sehat. Sebagai calon dokter, saya perlu terus mengembangkan emotional intelligence, empati, kesabaran, dan komunikasi agar dapat menjadi pemimpin yang tegas, adaptif, sekaligus humanis.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Berdasarkan karakteristik personal yang saya miliki, model kepemimpinan yang paling sesuai adalah Kepemimpinan Transformasional. Kepemimpinan transformasional merupakan model kepemimpinan yang menekankan kemampuan pemimpin untuk menginspirasi, memotivasi, dan mendorong anggota tim agar berkembang serta mampu mencapai tujuan bersama secara optimal3,4. Saya memilih model ini karena karakteristik utama transformational leadership selaras dengan karakter ENTJ-A yang saya miliki. Sebagai individu yang visioner dan strategis, saya cenderung mampu melihat gambaran besar, menetapkan tujuan jangka panjang, serta merancang langkah-langkah sistematik untuk mencapainya.
Menurut Bass dan Riggio, terdapat empat komponen utama dalam transformational leadership, yaitu idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individualized consideration4. Idealized influence berarti pemimpin menjadi teladan yang dipercaya anggota tim. Inspirational motivation berkaitan dengan kemampuan pemimpin membangun semangat dan motivasi tim. Intellectual stimulation menekankan dorongan terhadap inovasi dan pemikiran kritis. Sementara individualized consideration berarti pemimpin mampu memahami kebutuhan setiap anggota tim secara individual.
Saya juga menyadari bahwa kepemimpinan transformasional bukan berarti selalu memimpin dari posisi dominan. Dalam praktiknya, model ini menuntut keseimbangan antara kemampuan memberi arah yang jelas dengan kemampuan memberdayakan anggota tim agar berkembang secara mandiri. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai pribadi ENTJ yang cenderung cepat mengambil keputusan. Oleh karena itu, saya perlu belajar memberikan ruang partisipasi yang lebih luas agar proses pengambilan keputusan tetap kolaboratif. Pengalaman membimbing asrama dan hidup dalam komunitas membantu saya mengembangkan empati serta kemampuan mendengarkan. Namun, saya juga menyadari adanya keterbatasan berupa kecenderungan menjadi dominan dan kurang sabar terhadap proses. Oleh sebab itu, saya belajar untuk terus mengembangkan kemampuan mendengar, menghargai perbedaan, dan membangun komunikasi dua arah yang sehat.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama pada Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV
Jika saya menjadi koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya akan menerapkan model transformational leadership untuk membangun kolaborasi efektif antar tenaga kesehatan dan lintas sektor. Tuberkulosis dan HIV merupakan dua masalah kesehatan yang saling berkaitan karena pasien HIV memiliki risiko lebih tinggi mengalami tuberkulosis aktif akibat penurunan sistem imun. Oleh karena itu, integrasi layanan TB-HIV di FKTP sangat penting untuk deteksi dini, pengobatan, dan pencegahan komplikasi5,6,7.
Langkah pertama yang saya lakukan adalah berkomunikasi dengan kepala puskesmas, dinas kesehatan, dan tokoh masyarakat mengenai pentingnya meningkatkan program TB-HIV dengan menggunakan data epidemiologi setempat. Selanjutnya, saya akan memperkuat tim dengan membentuk tim lintas program yang terdiri dari dokter, perawat, tenaga laboratorium, apoteker, tenaga promosi kesehatan, dan kader masyarakat. Saya akan menanamkan visi bahwa keberhasilan program TB-HIV adalah tanggung jawab semua pihak.
Dalam bekerja sama dengan berbagai sektor, saya akan berkolaborasi dengan rumah sakit rujukan, BPJS, pemerintah daerah, serta organisasi masyarakat. Saya juga akan memperkuat kerjasama antar profesi dengan cara berkomunikasi secara efektif antar para tenaga kesehatan. Selain melakukan skrining dan pengobatan, saya juga akan memastikan adanya pencarian kontak, bimbingan untuk mengikuti terapi dengan konsisten, serta memberikan edukasi tentang cara mencegah penularan kepada keluarga pasien. Pendekatan ini sangat penting untuk mengurangi penyebaran penyakit sekaligus meningkatkan efektivitas pengobatan jangka panjang.
Saya akan memantau secara rutin menggunakan indikator seperti angka skrining TB-HIV, jumlah pasien yang terdiagnosis, tingkat kepatuhan mengkonsumsi obat, angka kehilangan pengawasan, dan tingkat keberhasilan pengobatan. Hasil monitoring digunakan sebagai dasar evaluasi rutin. Tantangan yang bisa terjadi mencakup stigma terhadap orang yang terinfeksi HIV, kurangnya tenaga profesional yang cukup, serta rendahnya tingkat kesadaran dan ketaatan terhadap pengobatan. Strategi saya adalah meningkatkan pendidikan, memperbaiki kerja sama, dan menerapkan pendekatan layanan berbasis pasien.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut pada Peningkatan Mutu
Jika saya jadi pemimpin tim peningkatan kualitas di rumah sakit, saya akan memilih topik keselamatan pasien yang berupa Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). PPI penting untuk mencegah infeksi nosokomial yang dapat meningkatkan keparahan penyakit, tingkat kematian, durasi perawatan, dan biaya pelayanan kesehatan. Selain berdampak pada pasien, pengendalian infeksi juga berperan penting dalam melindungi tenaga kesehatan dari risiko paparan penyakit infeksi selama bekerja8. Langkah pertama yang saya lakukan adalah melakukan evaluasi dengan mengaudit kepatuhan terhadap kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri, sterilisasi peralatan, dan pengelolaan limbah medis. Setelah melakukan evaluasi, saya akan membuat program perbaikan yang mencakup pelatihan rutin PPI, audit secara berkala, pemantauan infeksi nosokomial, dan simulasi keselamatan kerja. Sebagai pemimpin transformasional, saya akan menciptakan budaya keselamatan dengan berkomunikasi secara terbuka, melaporkan insiden tanpa saling menyalahkan, serta terus meningkatkan proses secara berkala.
Saya juga akan mendorong penggunaan indikator kualitas berdasarkan data, seperti jumlah infeksi terkait pelayanan kesehatan, kepatuhan dalam kebersihan tangan, dan jumlah kecelakaan tertusuk jarum pada tenaga medis sebagai acuan penilaian yang objektif. Model kepemimpinan transformasional membantu membentuk budaya keselamatan karena pemimpin bertindak sebagai contoh yang baik, memberi semangat, dan mendorong perubahan. Tantangan yang mungkin terjadi adalah ketidakmauan untuk berubah, kurangnya kesadaran staf, dan keterbatasan fasilitas. Langkah yang saya ambil secara preventif adalah melakukan audit berdasarkan data, memberikan umpan balik secara berkala, serta memberikan penghargaan kepada unit yang memiliki tingkat kepatuhan yang baik.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penilaian MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ENTJ-A (Komandan) yang memiliki sifat strategis, memiliki visi, tegas, dan fokus pada hasil. Karakter itu diperkuat oleh sifat plegmatis, yang membuat saya lebih tenang, pendukung, dan mampu menjaga keharmonisan tim. Model kepemimpinan yang paling cocok dengan kepribadian saya adalah Transformational Leadership, karena model ini fokus pada hal-hal seperti memberi inspirasi, mendorong semangat, mendorong inovasi, dan membantu perkembangan anggota tim. Model ini cocok digunakan dalam mengelola program TB-HIV di fasilitas kesehatan tingkat pertama serta membantu meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien di rumah sakit. Sebagai seorang calon dokter, saya menyadari bahwa memimpin dengan baik tidak hanya tentang memiliki strategi yang bagus, tetapi juga perlu memiliki rasa empati, kemampuan berkomunikasi yang baik, serta kemauan bekerja sama untuk memberikan layanan kesehatan yang berkualitas.
Daftar Pustaka
NERIS Analytics Limited. ENTJ personality: Commander [Internet]. 16 Personalities; 2025.
Keirsey D. Please understand me II: temperament, character, intelligence. Del Mar (CA): Prometheus Nemesis Book Co; 1998.
Yukl G. Leadership in organizations. 8th ed. Harlow: Pearson; 2013.
Bass BM, Riggio RE. Transformational leadership. 2nd ed. Mahwah (NJ): Lawrence Erlbaum Associates; 2006.
World Health Organization. Consolidated guidelines on tuberculosis: Module 4 treatment: drug-susceptible tuberculosis treatment. Geneva:WHO; 2022.
UNAIDS. Global AIDS update 2023: the path that ends AIDS. Geneva: Joint United Nations Programme on HIV/AIDS; 2023.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata laksana Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
World Health Organization. Infection prevention and control global report 2022. Geneva:WHO; 2022.

Komentar
Posting Komentar