Kepemimpinan seorang INFP di Fasilitas Kesehatan
Kepemimpinan seorang INFP di Fasilitas Kesehatan
Nama: Richard Ancel
NIM: 23.P1.0011
Konteks dan latar belakang personal
Berdasarkan hasil tes MBTI, tipe kepribadian yang saya miliki adalah INFP yang merupakan seorang mediator, dikenal karena rasa kepekaan mereka, dapat memiliki respons emosional yang mendalam terhadap musik, seni, alam, dan orang-orang di sekitar mereka. Sebagai tipe kepribadian yang sensitif, idealis, dan penuh empati, INFP mungkin sering dianggap kurang cocok menjadi pemimpin di lingkungan kerja. Namun, di balik sifat mereka yang introver dan lembut, terdapat kekuatan kepemimpinan yang unik dan bijaksana1.
Kepemimpinan yang berlandaskan empati dan pemahaman menjadi sangat penting pada lingkungan kerja yang semakin kompleks. Kepribadian ini merupakan pemimpin yang memiliki empati tinggi, mampu mendengarkan dengan baik, serta mengutamakan pendekatan yang humanis dalam mengambil keputusan. Mereka tidak hanya memahami kebutuhan dan perasaan anggota tim, tetapi juga mempertimbangkan dampak emosional dari setiap keputusan. Kemampuan tersebut membantu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, harmonis, dan penuh rasa saling percaya2.
Selain itu, INFP berpegang teguh pada nilai-nilai seperti kejujuran, integritas, dan keadilan. Prinsip yang kuat ini membuat anggota tim merasa aman karena keputusan yang diambil berorientasi pada kepentingan bersama. INFP juga peduli terhadap perkembangan individu dalam tim dengan memberikan dukungan dan kesempatan bagi setiap anggota untuk mengembangkan potensinya. Di sisi lain, kreativitas menjadi salah satu keunggulan utama INFP. Mereka mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan menghasilkan solusi yang inovatif. Kemampuan ini mendorong terciptanya ide-ide baru serta membantu tim menghadapi tantangan secara lebih efektif2.
Dengan berbagai karakteristik tersebut, INFP menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan ketegasan atau dominasi. Melalui empati, integritas, kemampuan mendengarkan, serta kreativitas dalam menyelesaikan masalah, INFP mampu menjadi pemimpin yang bijaksana dan memberikan dampak positif bagi lingkungan kerja maupun anggota timnya
Model kepemimpinan yang relevan
Menurut Dr. Ahmad Azmy, M.M di buku teori dan dasar kepemimpinan, membagi model kepemimpinan menjadi 6 tipe yaitu pemimpin yang otokratis, Tipe pemimpin militeristis, pemimpin paternalistis pemimpin kharismatis. Tipe pemimpin laissez faire, dan pemimpin demokratis3.
Berdasarkan Hasil assessment MBTI, tipe kepemimpinan yang paling sesuai dengan tipe kepribadian saya adalah kepemimpinan demokratis (kepemimpinan demokratis), Kepemimpinan demokratis adalah gaya kepemimpinan yang menghargai partisipasi anggota tim dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin bersedia menerima dan mempertimbangkan saran, pendapat, serta masukan dari anggota tim. Gaya kepemimpinan ini berorientasi pada manusia, memberikan bimbingan yang efektif, serta menghargai potensi dan kemampuan setiap individu. Selain itu, pemimpin demokratis mengakui keahlian anggota sesuai bidangnya, mampu mendengarkan masukan bawahan, dan memanfaatkan kapasitas setiap anggota secara optimal sesuai dengan situasi dan kebutuhan tim3.
Pemilihan gaya kepemimpinan ini sesuai dengan karakteristik kepribadian saya yang dikenal memiliki empati tinggi, mampu mendengarkan dengan baik, serta menghargai perspektif orang lain. Sebagai seorang INFP, saya cenderung mempertimbangkan kebutuhan dan perasaan anggota tim sebelum mengambil keputusan. Oleh karena itu, pendekatan demokratis memungkinkan setiap anggota tim untuk menyampaikan ide dan pendapatnya sehingga tercipta suasana kerja yang kolaboratif dan saling menghargai.
Selain itu, INFP juga memiliki kreativitas yang tinggi dan senang membantu orang lain berkembang. Karakteristik tersebut sejalan dengan kepemimpinan demokratis yang mendorong munculnya ide-ide baru, inovasi, serta pengembangan kemampuan anggota tim melalui keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan. Dengan adanya partisipasi yang luas, anggota tim akan merasa dihargai dan memiliki tanggung jawab bersama terhadap tujuan yang ingin dicapai.
Meskipun demikian, kepemimpinan demokratis juga memiliki tantangan, seperti proses pengambilan keputusan yang cenderung lebih lambat karena memerlukan diskusi dan pertimbangan dari berbagai pihak. Namun, dengan kemampuan mendengarkan, empati, dan komunikasi yang baik, seorang INFP dapat mengelola perbedaan pendapat secara efektif sehingga keputusan yang dihasilkan tetap berkualitas dan dapat diterima oleh seluruh anggota tim.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Pada kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas, pemimpin memiliki peran penting dalam memastikan seluruh aspek pelayanan berjalan secara terkoordinasi, koordinasi yang terintegrasi antar berbagai kluster pelayanan akan membuat program berjalan secara efektif, komprehensif, dan berkesinambungan. Oleh karena itu, pemimpin perlu memperhatikan beberapa komponen utama yang mendukung keberhasilan implementasi program, yaitu : 4
Melakukan koordinasi antara penanggung jawab kluster TBC dan penanggung jawab kluster HIV untuk melakukan kolaborasi pelayanan TBC dan HIV.
Memastikan kegiatan skrining TBC, tes HIV, pemberian ARV, pemberian OAT, pemberian TPT, dan PPK dilakukan oleh semua kluster terkait.
Memastikan ketersediaan logistik
Melakukan perhitungan dan permintaan logistik di puskesmas ke dinas kabupaten/kota.
Memastikan formulir laporan TBC dan HIV tersedia di puskesmas.
Memastikan kelengkapan dan ketepatan waktu pencatatan dan pelaporan pada SITB dan SIHA
Memastikan komunitas yang memberikan pendampingan ODHIV melakukan skrining TBC dengan menggunakan 4 pertanyaan dan 1 tanda gejala serta memastikan ODHIV mendapatkan TPT, ARV, OAT dan PPK.
Memantau cakupan pemberian TPT, ARV, OAT, dan PPK pada pasien TBC HIV.
Maka dengan jenis kepemimpinan demokratis, agar semua komponen tersebut dapat terlaksana saya akan menekankan partisipasi aktif anggota tim, komunikasi yang terbuka, serta kolaborasi kolaborasi dalam pengambilan keputusan. Penanganan TB-HIV merupakan program yang kompleks dan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar puskesmas, sehingga pendekatan ini mampu meningkatkan koordinasi dan efektivitas pelaksanaan program.
Beberapa hal yang akan saya lakukan adalah sebagai berikut:
Dalam advokasi, saya akan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memahami pentingnya kolaborasi TB-HIV melalui diskusi bersama dan penyampaian informasi yang terbuka, serta melakukan indikator pencapaian sesuai dengan diskusi yang telah dilakukan.
Dalam penguatan tim, saya akan memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, dan berkontribusi dalam penyusunan strategi program. Melalui pendekatan ini, setiap anggota tim merasa dihargai dan memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan program.
Dalam koordinasi lintas sektor, saya akan mendorong kerja sama dengan dinas kesehatan, rumah sakit rujukan, organisasi masyarakat, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat, untuk bersama sama saling membantu dari segi fasilitas atau edukasi kepada masyarakat.
Dalam kolaborasi interprofesional dilakukan dengan melibatkan dokter, perawat, bidan, tenaga laboratorium, petugas promosi kesehatan, dan petugas surveilans untuk bersama-sama merencanakan serta melaksanakan kegiatan penanganan TB-HIV.
Dalam proses monitoring dan evaluasi, seluruh anggota tim dilibatkan untuk menilai capaian program, mengidentifikasi hambatan, serta menyusun perbaikan yang diperlukan setiap 6 bulan sekali agar menjadi evaluasi bersama untuk kegiatan kedepannya
Tantangan yang mungkin akan muncul adalah perbedaan pendapat antar anggota tim, keterbatasan sumber daya, rendahnya koordinasi antar program, serta proses pengambilan keputusan yang cenderung lebih lama. Selain itu, stigma masyarakat terhadap TB dan HIV juga dapat menghambat keberhasilan program.
Namun peluang yang dapat dimanfaatkan, berupa meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini, dukungan kebijakan pemerintah, serta adanya kerja sama lintas profesi dan lintas sektor yang dapat memperkuat pelaksanaan program. Untuk mengantisipasi berbagai tantangan tersebut, saya perlu membangun komunikasi yang efektif, melakukan koordinasi secara rutin, menetapkan pembagian tugas yang jelas, menyelesaikan konflik melalui musyawarah, serta melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala. Dengan demikian, program penanganan TB-HIV dapat berjalan lebih efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan).
Keselamatan pasien merupakan salah satu aspek penting dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL), Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/Menkes/Per/VII/2011 menyatakan terdapat 6 Sasaran dalam keselamatan pasien, Maksud dari Sasaran Keselamatan Pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan, 6 sasaran keselamatan pasien adalah Ketepatan Identifikasi Pasien, Peningkatan komunikasi efektif, Peningkatan keamanan obat Kepastian Tepat-lokasi-prosedur-pasien operasi, pengurangan resiko infeksi, pengurangan risiko pasien jatuh5.
Salah satu hal yang penting dalam sasaran keselamatan pasien adalah pengurangan resiko infeksi atau pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Infeksi yang terjadi selama pelayanan kesehatan dapat menyebabkan peningkatan angka kesakitan, lama rawat inap, biaya perawatan, bahkan angka kematian pasien. Oleh karena itu, diperlukan kepemimpinan yang mampu menggerakkan seluruh tenaga kesehatan untuk menerapkan program PPI secara optimal.
Penerapan kepemimpinan demokratis dalam pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dilakukan dengan melibatkan dokter, perawat, bidan, petugas laboratorium, petugas sanitasi, dan tenaga kesehatan lainnya dalam perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi program PPI. Pemimpin dapat mengadakan rapat rutin untuk membahas kepatuhan terhadap kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri (APD), pengelolaan limbah medis, sterilisasi alat kesehatan, serta penanganan kasus infeksi yang terjadi di fasilitas kesehatan. Melalui diskusi bersama, setiap anggota tim diberikan kesempatan untuk menyampaikan kendala, memberikan masukan, serta menawarkan solusi yang ditemukan selama pelaksanaan program PPI. Selain itu, pemimpin juga mendorong keterbukaan komunikasi dengan memberikan kesempatan kepada tenaga kesehatan untuk melaporkan kejadian yang berpotensi menimbulkan infeksi. Keterlibatan aktif seluruh anggota tim dan komunikasi yang terbuka akan membantu mengidentifikasi masalah lebih cepat sehingga tindakan perbaikan dapat segera dilakukan. Dengan demikian, kepatuhan terhadap prosedur pencegahan infeksi dapat meningkat dan risiko terjadinya infeksi di fasilitas kesehatan dapat dikurangi.
Meskipun demikian, penerapan kepemimpinan demokratis dalam program PPI memiliki beberapa tantangan. Salah satu tantangan yang sering muncul adalah perbedaan tingkat pemahaman dan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap standar PPI. Selain itu, proses pengambilan keputusan yang melibatkan banyak pihak terkadang memerlukan waktu yang lebih lama. Keterbatasan sumber daya, seperti ketersediaan APD dan fasilitas pendukung lainnya, juga dapat menjadi hambatan dalam pelaksanaan program PPI.
Di balik tantangan tersebut, terdapat berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan. Kepemimpinan demokratis dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan komitmen tenaga kesehatan terhadap pelaksanaan program PPI. Kerjasama antar profesi menjadi lebih baik karena setiap anggota tim merasa dihargai dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Selain itu, budaya keselamatan pasien dapat berkembang sehingga kualitas pelayanan kesehatan semakin meningkat dan risiko infeksi dapat ditekan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil asesmen MBTI, tipe kepribadian INFP memiliki karakteristik empati, integritas, kemampuan mendengarkan, serta kreativitas yang mendukung penerapan kepemimpinan demokratis. Gaya kepemimpinan ini menekankan partisipasi anggota tim, komunikasi yang terbuka, dan penghargaan terhadap setiap individu dalam proses pengambilan keputusan. Dalam pelayanan kesehatan, kepemimpinan demokratis dapat diterapkan untuk mendukung keberhasilan program penanganan TB-HIV di fasilitas kesehatan tingkat pertama serta meningkatkan mutu pelayanan melalui pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Meskipun terdapat berbagai tantangan, seperti perbedaan pendapat dan keterbatasan sumber daya, penerapan kepemimpinan demokratis mampu meningkatkan kolaborasi, rasa tanggung jawab, dan komitmen tenaga kesehatan sehingga tujuan pelayanan kesehatan dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan.
Daftar Pustaka
16Personalities. Mediator (INFP-T) [Internet]. NERIS Analytics Limited; [diakses 2026 Jun 25]. Tersedia dari: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-infp
Khan S. 6 hal yang membuat INFP pemimpin bijaksana di tempat kerja [Internet]. IDN Times. 2024 Oct 3 [cited 2026 Jun 25]. Available from: https://www.idntimes.com/life/career/6-hal-yang-membuat-infp-pemimpin-bijaksana-di-tempat-kerja-01-y1pt1-68xb10
Azmy A. Teori dan Dasar Kepemimpinan. Makassar: Mitra Ilmu; 2021.:43-47
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, World Health Organization. Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC HIV. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2023.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2011.
G. Lampiran
Hasil Test MBTI 16 Personalities
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Komentar
Posting Komentar