Kepemimpinan Kolaboratif Seorang ESFP-T
Nama : Maretha Neltha Embulaba
NIM : 23.P1.0040
Kepemimpinan Kolaboratif Seorang ESFP-T
Dari hasil tes MBTI hasil tipe kepribadian saya adalah ESFP-T. Extroverted, Sensing, Feeling, Perceiving - Turbulent (ESFP - T) adalah tipe kepribadian dengan ciri ekstrovert, observatif, perasa, dan pencari peluang. Mereka yang memiliki tipe kepribadian ini adalah orang yang menyukai pengalaman yang dinamis, terlibat dalam kehidupan dengan penuh semangat dan menikmati penemuan hal-hal yang belum diketahui. Selain itu mereka juga sangat sosial, sering mendorong orang lain untuk melakukan aktivitas bersama. Tipe kepribadian ini memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan dari tipe kepribadian ini adalah berani, orisinal, positif dan antusias, praktis dan observatif, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain yang luar biasa. Sedangkan kelemahannya adalah sensitif, menghindari konflik, mudah bosan, perencana jangka pendek yang buruk, dan tidak fokus1.
Dalam hal kepemimpinan, ESFP-T memilki kemampuan menciptakan lingkungan kerja yang positif, menyenangkan, dan penuh keterlibatan. Sebagai pemimpin yang ekstrovert dan mudah bergaul, mereka senang berinteraksi dengan anggota tim serta membangun hubungan yang dekat dengan anggotanya. Selain itu, mereka menggunakan pendekatan yang praktis dan berorientasi pada detail. Hal ini membuat mereka efektif dalam menjalankan tugas-tugas yang konkret serta memastikan pekerjaan dilakukan dengan baik. Mereka juga lebih suka memanfaatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar serta keterampilan praktis yang dimiliki untuk menghadapi tantangan dan menemukan solusi.Namun, mereka dapat mengalami kesulitan ketika harus mengelola situasi yang kompleks atau berhadapan dengan hal-hal yang abstrak. Oleh karena itu, mereka sering kali membutuhkan dukungan dalam mengembangkan perspektif yang lebih strategis serta dalam mengambil keputusan dalam visi dan tujuan yang jangka panjang2.
Dari uraian diatas mengenai hasil tes MBTI saya dan ciri tipe kepribadian hampir 100% sesuai dengan diri saya. Saya merupakan orang yang ekstrovert, observatif, perasa, dan pencari peluang. Saya cenderung lebih bersemangat ketika berada di lingkungan yang ramai dan sesuai dengan saya terlebih dalam hal pengerjaan ataupun aktivitas yang dilakukan bersama-sama. Dalam kehidupan sehari-hari saya adalah orang yang bisa tiba-tiba bernyanyi atau melakukan sesuatu yang membuat saya semangat tetapi hal ini saya lakukan di lingkungan dekat tidak langsung di lingkungan baru. Hal ini saya lakukan karena terbawa suasana dan ingin orang-orang di sekeliling saya merasakan hal yang sama. Namun karena sering terlalu fokus pada kesenangan sesaat, sehingga mengabaikan tugas dan tanggung jawab. Contoh dalam kehidupan sehari-hari seperti kuliah, jika ada tugas kuliah saya tidak langsung menyelesaikan disaat itu juga, saya mudah bosan dengan situasi yang menurut saya tidak menyenangkan dan tidak fokus. Saya menyadari hal tersebut dapat menunda-nunda sehingga tugasnya tidak dapat selesai tepat waktu. Oleh karena itu untuk menghindari hal tersebut saya akan mengajak teman saya untuk mengerjakan bersama-sama karena menurut saya ketika mengerjakan bersama-sama saya merasa lebih senang dan bersemangat. Selain itu saya orang yang peka terhadap lingkungan sekitar dan sensitif. Hal ini memiliki nilai yang baik tetapi juga kurang baik. Saya mudah terbawa suasana contoh kecil dalam kelompok tugas, karena sifat yang peka tersebut saya sangat antusias jika membantu teman yang kesusahan untuk mengerjakan tugas disisi lain saya sensitif, jika ada yang mengkritik saya cenderung merasa kecil dan sedih, tetapi ini tergantung apabila kritikan tersebut menggunakan bahasa yang baik saya akan menilai itu untuk membangun saya menjadi lebih baik kedepannya.
Saya menyadari tipe kepribadian saya ini dapat menjadi kekuatan saya ketika menjadi seorang pemimpin dan juga dapat menjadi tantangan dalam memimpin. Sebagai orang yang ekstrovert dan mudah bergaul ini dapat membantu dalam memimpin karena dapat menjalin relasi yang baru dan berkomunikasi dengan baik. Sifat yang senang jika mengerjakan sesuatu melibatkan banyak anggota dibanding individu mencerminkan kemampuan bersosialisasi dan orientasi pada kolaborasi. Tetapi ada tantangan yaitu cenderung menghindari konflik dan perencana jangka panjang yang buruk. Hal ini sangat sesuai dengan saya karena ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari saya. Sebagai contoh, ketika dalam forum terjadi perdebatan atau konflik saya memilih untuk diam dan tidak mau berdebat padahal hal tersebut sangat salah karena justru itu tidak melatih diri untuk menyuarakan pendapat yang bisa saja pendapat tersebut dapat menjadi masukan ataupun solusi.
Rencana jangka panjang yang buruk juga menjadi kelemahan saya karena memiliki sifat yang bersemangat dan praktis jadi lebih banyak menilai hal baik saja tidak mempertimbangkan risiko jangka panjang dan tidak konsisten hanya banyak rencana tetapi implementasi atau penerapannya tidak ada. Contoh kecil tidak membuat jadwal belajar alhasil hanya belajar menjelang ujian atau H-1 ujian. Banyak hal yang perlu saya benahi terkait tipe kepribadian saya. Dengan kekuatan dan kelemahan yang saya punya ini dapat menjadi acuan untuk pengembangan diri dan perbaikan. Hal yang perlu saya kembangkan sebagai seorang pemimpin adalah tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, terlepas dari sifat orientasi pada kolaboratif namun harus tetap memperhatikan kewajiban sebagai pemimpin. Selain itu perlu mengontrol kelemahan-kelemahan agar tidak menimbulkan masalah seperti sensitif terhadap kritikan, menghindari konflik, dan tidak fokus.
Sebagai seorang pemimpin kritikan sangat diperlukan untuk membentuk menjadi pribadi yang lebih baik, mental lebih kuat dan tangguh. Kritik yang membangun dari orang lain menurut saya itu adalah sikap peduli karena orang tersebut berusaha menasehati atau mengingatkan kita. Bukan hanya sifat sensitif saja yang perlu dikontrol tetapi juga menghindari konflik dan tidak fokus. Seorang pemimpin sering kali dihadapkan dengan konflik, baik konflik di dalam tim maupun di luar tim. Sikap menghindari konflik dan tidak fokus mencerminkan sikap pemimpin yang tidak bertanggung jawab karena sebagai seorang pemimpin peran utamanya adalah pengambilan keputusan jika sudah menghindari konflik dan tidak fokus konflik yang ada tidak akan terselesaikan.
Gambar 1.2 Model Kepemimpinan
Dari hasil MBTI dan karakteristik saya, model kepemimpinan yang sesuai dengan saya adalah kepemimpinan demokratis. Saya merasa ini adalah model kepemimpinan yang sesuai dengan saya. Saya tidak suka jika dalam satu forum hanya pemimpin yang berbicara atau pengambilan keputusan 100% dibebankan kepada pemimpin. Model kepemimpinan ini adalah kepimpinan yang melibatkan anggota timnya dalam proses pengambilan keputusan, mendorong komunikasi terbuka dan mencari konsensus tentang hal-hal penting. Dengan model kepemimpinan ini, pemimpin menghargai masukan dan ide-ide anggota tim dan menciptakan lingkungan yang berpartisipasi aktif. Hubungan dari model kepemimpinan ini dengan karakteristik saya dari hasil MBTI adalah kolaboratif. Saya sangat senang jika pengerjaan dalam tugas melibatkan semua orang dan dikerjakan bersama-sama karena dengan begitu banyak ide dan hal-hal baru yang masuk dari pihak-pihak lain. Selain itu dengan kolaboratif tidak membebankan tugas atau ide ke satu orang saja, sehingga dapat saling membantu satu sama lain3.
Penerapan model kepemimpinan dapat dipengaruhi dan bergantung pada kekuatan dan kelemahan dari karakteristik yang dimiliki. Sifat ekstrovert, mudah bergaul, senang dalam kerja tim atau kolaboratif hal ini dapat mempermudah jalannya model kepemimpinan ini karena dengan memiliki kekuatan tersebut kerja sama dengan tim dapat berjalan dengan efektif, namun dengan kelemahan dan keterbatasan saya yaitu menghindari konflik dan tidak fokus dapat menjadi hambatan dalam kolaboratif dalam tim. Dengan model kepemimpinan ini yang melibatkan tim seringkali dapat menimbulkan konflik. Dengan adanya berbagai pendapat, konflik dapat muncul selama proses pengambilan keputusan, sehingga membutuhkan penyelesaian konflik yang kuat dari pemimpin3. Sesuai dengan kelemahan saya yaitu menghindari konflik dan tidak fokus dapat menjadi hambatan dalam mencapai tujuan bersama karena sebagai pemimpin saja sudah menghindari konflik yang diciptakan sendiri. Hal ini merupakan contoh pemimpin yang buruk karena sifat tanggung jawab dalam tim merupakan hal yang penting. Sikap menghindari konflik dan tidak fokus mencerminkan sikap yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, perlu mengembangkan komunikasi yang baik antar tim untuk mencegah konflik, belajar untuk berani menghadapi konflik yang ada, bertindak tegas, dan tidak menunda-nunda tetapi segera bertindak4.
Sebagai koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV yang menerapkan model kepemimpinan demokratis perlu memperhatikan setiap kelebihan dan kekurangan dari model kepemimpinan ini. Keterlibatan tim dan kerja sama dari tim sangat membantu dalam program penanganan TB-HIV. Dengan melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan, membangun lingkungan yang suportif dan menghargai kontribusi setiap anggota tim akan meningkatkan komitmen dan mendorong lingkungan kerja yang positif dan kolaboratif. Tetapi pengambilan keputusan yang lambat dan potensi konflik karena melibatkan banyak anggota dalam proses pengambilan keputusan sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih lambat dan menimbulkan konflik. Oleh karena itu saya sebagai koordinator perlu membuka forum, mengatur alur diskusi, memastikan anggota timnya mendapat kesempatan berpendapat, lalu kemudian merangkum hasil diskusi. Koordinator memegang peranan penting yang mana harus memastikan semua diskusi mengarah pada tujuan yang sama. Dengan berbagai pendapat yang ada, konflik pasti dapat muncul selama proses pengambilan keputusan sehingga sebagai saya sebagai koordinator harus berani dan tegas dalam tindakan dalam menutup diskusi dengan keputusan yang jelas dan bertanggung jawab atas hasilnya.
Dalam advokasi, saya akan membangun dukungan kebijakan dan sumber daya melalui pendekatan yang melibatkan semua pihak. Saya akan mengenali dan memetakan siapa saja pihak yang perlu dilibatkan, seperti Dinas Kesehatan. Hal ini penting karena koordinator sebagai jembatan antara pihak manajemen, staff di lapangan. Selain itu akan menyelenggarakan pertemuan yang bersifat partisipatif dimana semua anggota tim diberi kesempatan untuk menyampaikan permasalahan yang mereka temui di lapangan. Saya sebagai koordinator tidak langsung mengambil keputusan sendiri, tetapi terlebih dahulu mendengarkan, menampung berbagai pendapat dan mempertimbangkan semua sudut pandang sebelum menentukan langkah selanjutnya dan pengambilan keputusan5. Koordinator perlu menetapkan tujuan dan peran yang jelas bagi setiap anggota tim sehingga semua bergerak ke arah yang sama. Koordinator perlu membangun kepercayaan dengan memberi ruang bagi setiap anggota tim untuk menyampaikan pendapat dan temuan di lapangan dalam pertemuan atau rapat rutin. Bukan hanya itu saja koordinator perlu memberikan umpan balik berkala kepada setiap anggota tim dan mendukung pengembangan kompetensi dari setiap individu melalui pelatihan. Hal ini dapat memperkuat tim dalam mencapai tujuan bersama6.
Kolaborasi lintas sektor dibangun melalui dua komponen utama, yaitu koordinasi relasional dan integrasi struktural. Kolaborasi lintas sektor adalah penyelarasan sistem pemberian layanan diberbagai sektor kesehatan masyarakat, layanan medis, layanan sosial yang melibatkan sistem, organisasi, dan penyedia layanan, keahlian, dan sumber daya untuk mengatasi masalah komunitas. Koordinasi relasional diwujudkan melalui komunikasi rutin dan hubungan saling percaya antara koordinator dengan petugas laboratorium, konselor VCT, petugas kesehatan jiwa, dan kader kesehatan sehingga rujukan pasien TB-HIV dapat berjalan lancar. Integrasi struktural dilakukan dengan menyusun SPO rujukan TB-HIV, menyatukan sistem pencatatan, serta menjadwalkan kunjungan pasien TB dan HIV secara bersamaan agar pasien tidak perlu datang berulang kali. Koordinator juga perlu menindaklanjuti setiap rujukan untuk memastikan pasien benar-benar mengakses layanan, bantuan sosial, atau kesehatan jiwa, sekaligus mengatasi hambatan seperti stigma HIV, keterbatasan transportasi, dan kendala ekonomi dengan melibatkan kader sebagai pendamping7.
Kolaborasi interprofesional adalah peran dari petugas kesehatan dari berbagai latar belakang profesi bekerja bersama dengan pasien, keluarga, dan komunitas untuk memberikan perawatan berkualitas tertinggi. Pertama, saya akan membangun budaya saling menghargai dan memperjelas peran setiap anggota tim seperti dokter mendiagnosis dan meresepkan pengobatan, perawat memantau kepatuhan minum obat, analis lab mengelola pemeriksaan BTA dan CD4, konselor menjalankan VCT dan dukungan psikososial, serta apoteker memastikan ketersediaan OAT dan ARV sehingga tidak ada tugas yang tumpang tindih. Kedua, saya akan menerapkan komunikasi yang terstruktur dan aktif memantau kondisi tim dan pasien secara berkala, misalnya menggunakan format laporan resmi saat merujuk pasien TB dengan depresi ke layanan kesehatan jiwa, sekaligus memastikan logistik obat dan capaian program selalu terpantau. Ketiga, saya akan melakukan evaluasi tim secara berkala melalui rapat rutin bersama untuk memperkuat hal-hal yang sudah berjalan baik dan memperbaiki yang masih kurang8.
Monitoring dan evaluasi merupakan hal yang sangat penting dalam penguatan sistem kesehatan. Pertama, sebagai koordinator saya bersama tim menetapkan indikator yang terukur dan relevan seperti angka penemuan kasus TB baru, persentase pasien TB yang dites HIV, angka keberhasilan pengobatan, dan cakupan ARV pada pasien co-infection, kemudian mengumpulkan data secara rutin dari register TB, formulir layanan HIV, hasil laboratorium, dan laporan bulanan program yang diisi secara lengkap dan akurat oleh seluruh anggota tim. Setelah itu, data yang terkumpul dianalisis secara berkala dalam rapat bulanan untuk melihat capaian dan mengidentifikasi masalah, lalu hasilnya dikomunikasikan, diintegrasikan ke dalam sistem informasi kesehatan seperti SITB dan SIHA untuk pelaporan ke Dinas Kesehatan. Terakhir, hasil monitoring dan evaluasi tersebut digunakan sebagai dasar perbaikan, sehingga setiap temuan seperti tingginya angka putus obat atau rendahnya cakupan tes HIV segera ditindaklanjuti dengan intervensi perbaikan yang konkret oleh tim TB-HIV di Puskesmas9.
Kepemimpinan demokratis memiliki beberapa tantangan, seperti proses pengambilan keputusan yang lebih lama karena harus mendengarkan pendapat banyak orang, sehingga dapat terjadi perbedaan pendapat antar anggota tim, serta kesulitan mengambil keputusan cepat saat terjadi keadaan darurat. Untuk mengatasinya, saya sebagai pemimpin akan melibatkan tim dalam keputusan sehari-hari, tetapi tetap mengambil keputusan secara cepat jika situasi mendesak. Selain itu, untuk menyelesaikan konflik saya akan membuat rencana menghadapi kondisi darurat sejak awal, serta meningkatkan kemampuan anggota tim melalui pelatihan agar dapat bekerja lebih baik dan memberikan pelayanan yang optimal.
Gambar 1.3 Enam Sasaran Keselamatan Pasien
Sebagai pemimpin dalam peningkatan mutu komunikasi efektif untuk keselamatan pasien sangat penting karena pemimpin bertanggung jawab menciptakan budaya komunikasi yang terbuka, jelas, dan berorientasi pada keselamatan. Komunikasi yang efektif diperlukan untuk memastikan informasi pasien tersampaikan secara akurat, tepat waktu, dan mudah dipahami oleh seluruh tenaga kesehatan sehingga dapat mencegah kesalahan medis dan meningkatkan kualitas pelayanan. Sebagian besar kesalahan dalam pelayanan kesehatan berkaitan dengan komunikasi yang buruk, sehingga pemimpin perlu menjadikan komunikasi sebagai prioritas dalam upaya peningkatan mutu. Langkah yang dapat dilakukan adalah memastikan seluruh tenaga kesehatan menerapkan prinsip komunikasi efektif, seperti menyampaikan informasi secara akurat, menggunakan bahasa yang jelas, menunjukkan empati kepada pasien, serta menerapkan metode komunikasi standar seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) untuk mengurangi risiko miskomunikasi. Selain itu, menyelenggarakan pelatihan komunikasi secara berkala, mendorong penggunaan teknologi informasi untuk mendukung dokumentasi dan pertukaran informasi pasien, serta melakukan evaluasi dan pemberian umpan balik secara rutin terhadap proses komunikasi yang berlangsung. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung komunikasi terbuka dan kolaboratif10.
Namun, penerapan kepemimpinan demokratis juga memiliki tantangan, seperti proses pengambilan keputusan yang lebih lambat karena memerlukan masukan dari berbagai pihak, potensi konflik akibat perbedaan pendapat, serta kurang efektif apabila diterapkan secara penuh pada situasi darurat yang membutuhkan tindakan cepat dan tegas. Di sisi lain, memberikan peluang untuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman seluruh anggota tim dalam mengidentifikasi risiko serta menyusun solusi perbaikan pelayanan secara bersama. Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, saya akan menerapkan komunikasi terbuka melalui briefing dan evaluasi rutin, melibatkan tim dalam keputusan sehari-hari, namun tetap mengambil keputusan secara cepat sesuai SOP pada kondisi darurat. Selain itu, saya akan memperkuat pelatihan komunikasi efektif dan keselamatan pasien, mengembangkan sistem pelaporan insiden tanpa saling menyalahkan (no blame culture), serta melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala agar keselamatan pasien dan tenaga kesehatan dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.
Berdasarkan hasil tes MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ESFP-T yang ditandai dengan sifat ekstrovert, observatif, perasa, dan menyukai kolaborasi. Karakteristik tersebut menjadi kekuatan dalam kepemimpinan karena membantu saya membangun hubungan yang baik, menciptakan suasana kerja yang positif, serta mendorong kerja sama tim yang efektif. Oleh karena itu, model kepemimpinan demokratis merupakan pendekatan yang paling sesuai karena memberikan ruang bagi setiap anggota untuk berpartisipasi, menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Dalam pelaksanaan program TB-HIV maupun upaya peningkatan keselamatan pasien, kepemimpinan demokratis dapat memperkuat komunikasi, kolaborasi, dan rasa tanggung jawab bersama. Namun, saya juga menyadari adanya beberapa kelemahan yang perlu diperbaiki, seperti kecenderungan menghindari konflik, kurang fokus, dan kurang baik dalam perencanaan jangka panjang. Untuk mengatasinya, saya perlu mengembangkan kemampuan komunikasi, keberanian dalam mengambil keputusan, manajemen konflik, serta disiplin dan tanggung jawab sebagai pemimpin. Dengan memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang saya miliki dan terus memperbaiki kelemahan yang ada, saya dapat menjadi pemimpin yang lebih efektif dalam menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif, mendukung keselamatan pasien, serta berkontribusi pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.
Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku
Daftar Pustaka :
NERIS Analytics Limited. Entertainer Personality: Workplace Habits [Internet]. 16Personalities. NERIS Analytics Limited; 2013. Available from: https://www.16personalities.com/esfps-at-work
Center for Ledelse [Internet]. Www.cfl.dk. 2025. Available from: https://www.cfl.dk/en/blog/how-esfps-are-often-like
Bwalya AR. Leadership styles [Internet]. ResearchGate. Fundacja Upowszechniajaca Wiedze i Nauke Cognitione; 2023. Available from: https://www.researchgate.net/publication/373068669_LEADERSHIP_STYLES
Reynolds P. Preventing and Managing Team Conflict - Professional & Executive Development | Harvard DCE [Internet]. Professional & Executive Development | Harvard DCE. 2022. Available from: https://professional.dce.harvard.edu/blog/preventing-and-managing-team-conflict/#What-are-the-Top-Conflict-Resolution-Strategies-a-Manager-Can-Use-to-Resolve-Issues-on-a-Team
Luft LM. The essential role of physician as advocate: how and why we pass it on. Canadian Medical Education Journal [Internet]. 2017 Jun 30;8(3):e109. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5661729/
Effective Team Leadership: Strategies to Sustainably Boost Team Performance [Internet]. Tuwien.at. TU Wien; 2024. Available from: https://www.tuwien.at/en/all-news/news/effective-team-leadership-strategies-to-sustainably-boost-team-performance
Williams VN, Knudtson MD, Allison MA, Tung GJ. Coordination and Integration of Providers Across Sectors Improves Referrals to and Connections With Services for Clients Engaged in Home Visiting. Health Services Research [Internet]. 2025 Mar 7;60(4). Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12277117/
Ernstmeyer K, Christman E. COLLABORATION WITHIN THE INTERPROFESSIONAL TEAM [Internet]. Nih.gov. Chippewa Valley Technical College; 2024. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK610469/
Uprety S, Panta A. Monitoring and evaluation of health systems strengthening: an operational framework by WHO. A summary report. Kathmandu (Nepal): Health Research and Development Forum (HERD); 2016.
Komunikasi Efektif dalam Rumah Sakit [Internet]. Rsudhaulussymaluku.com. 2025 [cited 2026 Jun 28]. Available from: https://rsudhaulussymaluku.com/artikel/VEFGue8HgP
Komentar
Posting Komentar