Kepemimpinan Kolaborasi Seorang ESFP-T di Fasilitas Kesehatan

 Nama: Aurora Belo Allo

NIM: 23.P1.0022


Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku. 


Kepemimpinan Situasional Berbasis MBTI ISFP-T dalam Kolaborasi Lintas Program TB-HIV dan Keselamatan Pasien


Berdasarkan hasil assessment MBTI, saya memperoleh tipe kepribadian ISFP-T (Petualang)1. ISFP merupakan singkatan dari Introverted, Sensing, Feeling, Perceiving, sebuah kombinasi yang menggambarkan individu yang tenang, penuh empati, adaptif, serta berorientasi pada nilai-nilai personal dan pengalaman konkret. Huruf 'T' atau Turbulent pada akhir tipe menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi terhadap sensitivitas stres serta dorongan kuat untuk terus berkembang dan memperbaiki diri. ISFP-T merepresentasikan dimensi kepribadian yang berbeda. Huruf I (Introverted) menggambarkan kecenderungan saya untuk mengisi ulang energi melalui waktu menyendiri dan proses refleksi internal sebelum bertindak. Huruf S (Sensing) menunjukkan orientasi yang kuat terhadap realitas konkret, pengalaman langsung, dan detail-detail praktis yang dapat dirasakan secara indrawi, dibandingkan konsep abstrak. Huruf F (Feeling) mencerminkan bahwa nilai personal dan dampak suatu keputusan terhadap perasaan orang lain selalu menjadi pertimbangan utama saya. Huruf P (Perceiving) menggambarkan gaya hidup yang spontan, fleksibel, dan terbuka terhadap kemungkinan baru tanpa terlalu terikat pada rencana yang rigid. Adapun dimensi T (Turbulent) menunjukkan kecenderungan saya untuk terus-menerus melakukan evaluasi diri, peka terhadap kekurangan, dan terdorong untuk selalu memperbaiki diri, meskipun di sisi lain hal ini dapat memunculkan keraguan dan kecemasan dalam situasi bertekanan1.  Hasil MBTI tersebut cukup sesuai dengan diri saya dalam pengalaman organisasi, saya aktif di Senat Fakultas Kedokteran sebagai Ketua Divisi Evaluasi Program, di mana saya bertanggungjawab mengatur pembagian tugas, mengkoordinasikan pelaksanaan evaluasi program kerja, serta menjaga komunikasi antar anggota tim agar setiap kegiatan dapat berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan2. Peran tersebut menuntut kemampuan untuk memahami kebutuhan dan kapasitas tiap anggota secara personal, sebuah kecakapan yang sangat selaras dengan sifat feeling dan sensing dalam profil ISFP. Saya mendapati bahwa saya lebih nyaman berkoordinasi secara langsung, memperhatikan dinamika antarpersonal, dan memastikan setiap anggota merasa didengar serta dihargai kontribusinya dalam tim. Pendekatan tersebut secara inheren mencerminkan orientasi interpersonal yang menjadi ciri khas individu ISFP. Dalam kegiatan akademik, saya juga pernah menjadi ketua kelompok Problem Based Learning (PBL) yang mengharuskan saya mengoordinasikan diskusi, membagi peran anggota kelompok, dan memastikan seluruh anggota berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran2. Sebagai ketua, pendekatan saya cenderung fasilitatif: mendominasi diskusi, saya lebih banyak membuka ruang bagi setiap anggota untuk menyampaikan pendapat dan memvalidasi kontribusi mereka, pendekatan yang khas pada pemimpin bertipe ISFP. Meskipun demikian, saya menyadari masih terdapat beberapa aspek yang perlu saya kembangkan sebagai seorang pemimpin, yaitu meningkatkan ketegasan dalam pengambilan keputusan, kemampuan mengelola tekanan ketika menghadapi berbagai tuntutan organisasi maupun akademik, serta kemampuan mendelegasikan tugas secara lebih efektif agar pekerjaan dapat diselesaikan secara optimal oleh seluruh anggota tim.

Berdasarkan karakteristik tersebut, model kepemimpinan yang paling sesuai dengan diri saya adalah servant leadership. Model ini menekankan bahwa seorang pemimpin memprioritaskan kebutuhan, pertumbuhan, dan kesejahteraan anggota tim di atas kepentingan pribadi. Kekuatan saya berupa kemampuan mendengarkan, membangun hubungan interpersonal yang baik, dan memahami kondisi nyata di lapangan dapat membantu dalam menjalankan kepemimpinan situasional. Namun demikian, saya perlu meningkatkan ketegasan dan kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan agar model kepemimpinan ini dapat diterapkan secara optimal3.

Sebagai koordinator kegiatan lintas program TB-HIV di Puskesmas X, langkah pertama yang saya akan lakukan yaitu advokasi kepada pimpinan puskesmas mengenai pentingnya integrasi layanan TB-HIV. Selanjutnya dilakukan penguatan tim melalui pembagian tugas yang jelas antara petugas TB, HIV, laboratorium, farmasi, dan pencatatan pelaporan. Koordinasi lintas sektor dilakukan dengan melibatkan kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan perangkat desa. Kolaborasi interprofesional dilakukan melalui komunikasi yang efektif antar tenaga kesehatan. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk menilai capaian indikator program dan memperbaiki strategi pelaksanaan. Tantangan yang mungkin muncul meliputi stigma masyarakat, keterbatasan SDM, dan hambatan koordinasi. Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah dukungan program nasional TB-HIV, keterlibatan kader kesehatan, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini penyakit4,5.

Saya memilih sasaran keselamatan pasien berupa Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Sebagai pemimpin tim peningkatan mutu, saya akan mendorong budaya keselamatan melalui edukasi, keteladanan, audit kepatuhan SOP, serta evaluasi berkala terhadap pelaksanaan program PPI. Tantangan yang mungkin muncul adalah tingginya beban kerja tenaga kesehatan dan rendahnya kepatuhan terhadap prosedur. Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah adanya standar akreditasi rumah sakit dan komitmen organisasi terhadap keselamatan pasien. Langkah antisipatif dilakukan melalui monitoring rutin, pemberian umpan balik yang konstruktif, dan penguatan budaya keselamatan di lingkungan kerja6,7






DAFTAR PUSTAKA 

  1. 16Personalities. ENFJ Personality Profile.

  2. Northouse PG. Leadership: Theory and Practice. 9th ed. Thousand Oaks: Sage Publications; 2022. 

  3. Hersey P, Blanchard KH, Johnson DE. Management of Organizational Behavior: Leading Human Resources. 10th ed. Upper Saddle River: Pearson Education; 2013.

  4. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2024. Geneva: World Health Organization; 2024.

  5. World Health Organization. Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring. Geneva: World Health Organization; 2021.

  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2022.

  7. Joint Commission International. International Patient Safety Goals. 7th ed. Oakbrook Terrace: Joint Commission International; 2024.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T