Kepemimpinan ISFJ
Kepemimpinan
Tugas Ujian Blok IKM
Cindy Mapasya F
23.P1.0027
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Latar Belakang Personal Saya
Dari hasil uji MBTI yang kemarin sudah saya lakukan, saya mendapatkan hasil Defender. Defender (pembela) merujuk kepada tipe kepribadian ISFJ (Introverted, Sensing, Feeling, Judging ) orang dengan kepribadian ini dikenal sangat penyayang, suportif, bertanggung jawab, dan selalu siap melindungi orang-orang terdekat mereka. Karakteristik utama tipe kepribadian ini adalah orang dengan penuh empati dan perhatian, setia dan protektif, terstruktur dan rapi. Kelebihan yang mereka miliki adalah dapat menjadi pendengar yang baik, praktis, dan teliti. Kekurangan mereka adalah sering menomorduakan diri sendiri dan sulit mengatakan “tidak”.¹
Berdasarkan uraian mengenai personality “defender” ini saya merasa semua sesuai dengan kepribadian saya, saya merasa saya memang penyayang tidak dengan manusia saja tetapi dengan hewan dengan contoh saya selalu membawa makanan kucing di dalam mobil dan menyediakan tempat makan kucing di depan kontrakan saya, saya sangat suportif terhadap orang terdekat saya dengan contoh saya selalu mendukung semua kegiatan positif yang pasangan saya lakukan dan selalu memberikan semangat kepada dia, saya juga bertanggung jawab dengan segala tanggung jawab saya dengan contoh saya selalu menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab saya tanpa telat dari tenggat waktunya, dan saya selalu berusaha melindungi orang-orang terdekat saya dengan contoh saya akan selalu pasang badan membela orang terdekat saya dengan catatan mereka memang benar, dan saya juga termasuk dalam kepribadian yang terstruktur dengan contoh ketika akan kuliah atau ada kegiatan saya akan selalu memikirkan saya harus bangun jam berapa dan membutuhkan waktu untuk siap-siap berapa lama agar saya tidak terlambat, dan juga saya tipe yang rapi dengan contoh ketika saya makan es krim berbentuk kotak saya akan menggigit bagian kanan dan kiri secara rata dan sama besar.¹
Mengenai kelebihannya juga saya merasa sesuai dengan diri saya, saya memang lebih tipe mendengarkan dibanding bercerita dan saya juga sering menjadi tempat cerita dari orang-orang terdekat saya, dan saya juga merasa saya orang yang praktis/simpel dan juga teliti dengan contoh saya jarang panik dan mengambil pusing dari tugas-tugas yang diberikan saya lebih memilih untuk santai dan tidak panik.¹
Kekurangannya juga saya merasa sesuai dengan kepribadian saya yaitu saya selalu menomorduakan diri saya dan selalu mengutamakan orang-orang terdekat saya dan juga saya sering merasa tidak enak kepada orang lain bila saya menolak mereka.¹
Hal yang saya rasa perlu refleksikan dan kembangkan sebagai seorang pemimpin adalah sifat yang introvert dan juga sering gugup bila harus berbicara di depan banyak orang dan juga mengenai perasaan yang selalu tidak enakan terhadap orang lain.
Model Kepemimpinan Yang Relevan
Model kepemimpinan yang saya pilih adalah democratic karena saya merasa dengan personality saya yang defender saya lebih baik bila menggunakan democratic karena saya akan lebih suka bekerja bersama team dan juga saya butuh pendapat orang lain dan juga saya tipe yang sangat menghargai usulan dari orang lain dan juga menjadi masukan baru terhadap diri saya. Hubungan karakteristik personal saya dengan model kepemimpinan yang saya ambil adalah saya akan menjadi pemimpin yang akan mendengarkan dengan baik ketika tim saya memberikan usulan, lalu saya juga saat memimpin akan menjadi lebih terstruktur sehingga harapannya target akan tepat dan juga saya tipe yang rapi sehingga dengan harapan saya dapat mengatur dengan rapi juga, dan saya juga tipe praktis dan teliti sehingga saya akan memimpin dengan tipe yang tidak panik dan juga tidak terburu-buru tetapi selesai tepat waktu dan juga terstruktur.²
Kekuatan yang dapat mempengaruhi jika saya menerapkan model kepemimpinan tersebut adalah saya akan menjadi pemimpin yang suportif, bertanggung jawab, terstruktur, rapih, pendengar yang baik dan juga praktis & teliti.²
Aplikasi Model Kepemimpinan Untuk Faskes Tingkat Pertama
Sebagai koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, dengan model kepemimpinan democratic saya akan menjalankan tugas dan tanggung jawab secara baik. Dengan gaya kepemimpinan ini saya akan menekankan keterlibatan seluruh anggota tim dalam proses pengambilan keputusan, komunikasi yang terbuka, serta penghargaan terhadap ide dan masukan dari setiap anggota. Pada program TB-HIV yang melibatkan berbagai profesi kesehatan dan lintas program, pendekatan demokratis dapat mendorong tercapainya kerja sama yang lebih baik, meningkatkan komitmen anggota tim, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap keberhasilan program.²
Kepribadian saya yang diartikan sebagai ISFJ (Defender) juga mendukung penerapan gaya kepemimpinan tersebut. Individu dengan tipe kepribadian ISFJ dikenal memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, peduli terhadap kesejahteraan orang lain, mampu bekerja secara kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan. Karakteristik ini sangat relevan dalam pengelolaan program TB-HIV yang membutuhkan empati terhadap pasien, kemampuan membangun hubungan yang harmonis dengan anggota tim, serta komitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat.¹
- Advokasi
Dalam melaksanakan advokasi, saya akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya integrasi layanan TB-HIV melalui forum diskusi, rapat koordinasi, dan pertemuan berkala. Pada setiap kesempatan tersebut, saya akan menyampaikan informasi terkait situasi kasus TB-HIV, kebutuhan sumber daya yang diperlukan, serta manfaat program terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Dengan menerapkan kepemimpinan demokratis, setiap pihak diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, masukan, dan kebutuhannya sehingga keputusan yang dihasilkan dapat diterima, dipahami, dan didukung oleh semua pihak yang terlibat.³
Sebagai individu dengan kepribadian ISFJ (Defender), saya akan mengedepankan pendekatan yang persuasif, suportif, dan berorientasi pada hubungan interpersonal. Saya akan berupaya membangun komunikasi dan kerja sama yang baik dengan kepala puskesmas, Dinas Kesehatan, tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta organisasi terkait guna memperoleh dukungan dan komitmen bersama dalam pelaksanaan program TB-HIV. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif dan mendukung keberhasilan program secara berkelanjutan.¹
- Penguatan Tim
Saya akan membentuk tim yang terdiri atas dokter, perawat, petugas laboratorium, petugas program TB, petugas program HIV, tenaga promosi kesehatan, dan kader kesehatan. Setiap anggota diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan pemecahan masalah program. Melalui rapat rutin, setiap anggota dapat menyampaikan hambatan dan usulan perbaikan sehingga tercipta suasana kerja yang kolaboratif.⁴
Karakter ISFJ yang mendukung, loyal, dan memperhatikan kebutuhan orang lain membantu saya menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan saling menghargai sehingga motivasi tim dapat meningkat.¹
- Koordinasi Lintas Sektor
Koordinasi dilakukan dengan Dinas Kesehatan, rumah sakit rujukan, pemerintah desa, sekolah, organisasi masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat. Melalui pendekatan demokratis, setiap sektor diberikan kesempatan untuk menyampaikan peran dan kontribusinya dalam penanganan TB-HIV. Kolaborasi ini dapat memperkuat kegiatan skrining, edukasi masyarakat, investigasi kontak, dan pendampingan pasien.⁵
- Kolaborasi Interprofesional
Kolaborasi interprofesional dilakukan dengan memastikan komunikasi yang efektif antar tenaga kesehatan. Dokter bertanggung jawab terhadap diagnosis dan terapi, perawat melakukan edukasi dan pemantauan kepatuhan, petugas laboratorium melakukan pemeriksaan diagnostik, sedangkan petugas promosi kesehatan dan kader membantu kegiatan penyuluhan dan pelacakan pasien. Pendekatan demokratis mendukung pengambilan keputusan bersama sehingga kualitas pelayanan dapat meningkat.⁶
- Monitoring
Monitoring dilakukan secara berkala melalui pencatatan dan pelaporan indikator program, seperti:
- Jumlah pasien TB yang menjalani tes HIV.
- Jumlah pasien HIV yang menjalani skrining TB.
- Cakupan pengobatan TB-HIV.
- Kepatuhan pengobatan.
- Angka keberhasilan pengobatan.
Hasil monitoring dibahas bersama tim untuk mengidentifikasi hambatan dan menentukan solusi yang disepakati bersama.⁵
- Evaluasi
Evaluasi akan saya lakukan setiap tiga atau enam bulan dengan membandingkan capaian program terhadap target yang telah ditetapkan. Dalam kepemimpinan demokratis, evaluasi dilakukan secara partisipatif sehingga seluruh anggota tim dapat memberikan masukan terkait keberhasilan maupun kendala yang dihadapi. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar perbaikan program pada periode berikutnya.⁵
Peluang Yang Dapat Dimanfaatkan, Tantangan, Dan Strategi
Peluang
- Adanya program nasional kolaborasi TB-HIV.
- Dukungan dari Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah.
- Keterlibatan kader dan masyarakat dalam penemuan kasus.
- Ketersediaan pedoman TB-HIV dari WHO dan Kementerian Kesehatan.³
Tantangan
- Stigma terhadap pasien TB dan HIV.
- Kurangnya koordinasi antar program.
- Keterbatasan sumber daya manusia dan sarana.
- Kepatuhan pasien terhadap pengobatan jangka panjang.⁷
Strategi Mengatasi Tantangan
- Meningkatkan edukasi masyarakat untuk mengurangi stigma.
- Mengadakan rapat koordinasi rutin antar program.
- Mengoptimalkan peran kader kesehatan dan jejaring layanan.
- Memberikan pendampingan serta konseling kepada pasien dan keluarga.
- Menggunakan pendekatan demokratis agar seluruh anggota tim terlibat dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan
Aplikasi Model Kepemimpinan Untuk Faskes Tingkat Lanjut
Yang akan saya pilih adalah Identifikasi Pasien, upaya yang akan saya lakukan adalah memberikan seminar terbaru kepada tim dan memberikan update terbaru kepada semua tim agar dapat mengidentifikasi pasien dengan nilai kesalahan yang paling kecil.
Dengan model kepemimpinan yang saya pilih yaitu democratic untuk membantu menciptakan budaya keselamatan bagi pasien dan tenaga kesehatan adalah saya akan selalu mengadakan evaluasi tim seminggu dua kali supaya dapat sama-sama mengevaluasi dan mencari solusi agar tidak terlalu lama dibiarkan masalah-masalah yang ada.
Tantangan yang mungkin muncul adalah perbedaan pendapat karena saya menggunakan model democratic, Peluang yang dapat saya dapatkan adalah saya akan mendapatkan banyak ide dari anggota tim saya, dan langkah antisipasinya adalah saya akan menjelaskan kepada tim bahwa saya akan mendengarkan semua masukan dari anggota tim tetapi pada akhirnya saya yang akan mengambil keputusan dari hasil yang paling baik dan banyak suara.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil refleksi diri, saya memiliki tipe kepribadian ISFJ (Defender) yang ditandai dengan sifat bertanggung jawab, suportif, peduli terhadap orang lain, terstruktur, serta mampu bekerja sama dengan baik. Karakteristik tersebut mendukung penerapan model kepemimpinan demokratis, yang menekankan partisipasi anggota tim, komunikasi terbuka, dan pengambilan keputusan secara kolaboratif. Dalam pelaksanaan program penanganan TB-HIV di Puskesmas, gaya kepemimpinan ini dapat membantu meningkatkan kerja sama tim, koordinasi lintas sektor, serta kualitas pelayanan kepada pasien. Meskipun terdapat tantangan seperti perbedaan pendapat, keterbatasan sumber daya, dan stigma terhadap pasien TB-HIV, tantangan tersebut dapat diatasi melalui komunikasi yang efektif, evaluasi rutin, serta keterlibatan seluruh anggota tim dalam mencari solusi. Dengan memanfaatkan kelebihan yang dimiliki dan terus mengembangkan kemampuan kepemimpinan, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif, mendukung keselamatan pasien, dan berkontribusi terhadap keberhasilan program kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
- Simkus J. ISFJ personality (Defender) [Internet]. Simply Psychology; 2025 [cited 2026 Jun 25]. Available from: https://www.simplypsychology.org/isfj-personality.html
- University of the People. Leadership models: understanding different approaches to leadership [Internet]. Pasadena (CA): University of the People; [cited 2026 Jun 25]. Available from: https://www.usa.edu/blog/leadership-models/
- World Health Organization. WHO policy on collaborative TB/HIV activities: guidelines for national programmes and other stakeholders. Geneva: World Health Organization; 2012.
- Marquis BL, Huston CJ. Leadership roles and management functions in nursing: theory and application. 10th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2021.
- World Health Organization. Framework for collaborative action on tuberculosis and HIV. Geneva: World Health Organization; 2015.
- World Health Organization. Framework for action on interprofessional education and collaborative practice. Geneva: World Health Organization; 2010.
- Ministry of Health Republic of Indonesia. Petunjuk teknis kolaborasi TB-HIV. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2023.
Komentar
Posting Komentar