ISFJ-T dalam Peran Kepemimpinan
Nama: Fairuz Zahira Putri Setyawan
NIM: 23.P1.0014
Seseorang yang memiliki tipe kepribadian ISFJ-T merupakan individu introvert yang sangat menjaga kesetiaan, pekerja keras, teliti, empati, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Seseorang dengan tipe ini memiliki kecenderungan untuk bekerja dengan hati-hati karena mereka orang yang teliti dan membutuhkan akurasi dan konsisten sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Ia mempunyai empati yang tinggi sehingga peka terhadap sekitar dan nyaman dengan lingkungan yang sudah familiar karena lebih mudah berkomunikasi dan berkontribusi melalui tindakan daripada menyampaikan ide. Tanggung jawab yang kuat membuatnya dapat diandalkan dalam menyelesaikan tugas hingga tuntas. Namun, Orang dengan tipe ini juga lebih mudah mengalami tekanan dan keraguan terhadap kinerjanya sendiri sehingga sering melakukan evaluasi berulang sehingga memerlukan waktu yang lama untuk mengerjakan pekerjaan yang membuat dia ragu.
Dalam kegiatan akademik dan kerja kelompok dari tipe yang sudah dijelaskan, saya lebih nyaman dengan tugas yang diberikan sesuai arahan dan pembagian tugas yang jelas. Saya biasanya berusaha mengerjakan tugas sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati dan cukup memperhatikan hal-hal kecil. Saya juga sering memeriksa kembali hasil pekerjaan sendiri atau anggota kelompok lain untuk memastikan semuanya sudah sesuai. Namun, karena terlalu fokus pada detail, saya terkadang membutuhkan waktu yang lebih lama dalam menyelesaikan pekerjaan.
Saat mengikuti kegiatan organisasi, saya merasa lebih nyaman berperan sebagai orang yang membantu jalannya koordinasi daripada menjadi orang yang mengambil keputusan utama. Saya tetap berusaha aktif untuk memastikan semua tetap berjalan sesuai rencana dengan memastikan semua tugas sesuai rencana. Saya juga lebih mendengarkan pendapat anggota lain sebelum menyampaikan pendapat saya sendiri. Meskipun begitu saya menyadari masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki dalam diri saya sebagai calon pemimpin. Saya terkadang lebih memilih mengerjakan sesuatu sendiri karena merasa hasilnya sesuai arahan. Selain itu, ketika terdapat perbedaan pendapat saya sering memilih untuk tidak mengeluarkan pendapat saya dan mengikuti pendapat orang lain. Sikap tersebut membuat saya masih kurang tegas dalam mengambil keputusan.
Sebagai calon pemimpin, saya masih perlu mengembangkan kemampuan komunikasi, keberanian dalam menyampaikan pendapat, dan kemampuan dalam mengambil keputusan. Saya juga perlu belajar untuk tidak hanya berfokus pada detail, tetapi juga melihat tujuan lain dari suatu pekerjaan. Dengan mengembangkan kemampuan tersebut, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang tidak hanya teliti dan memperrhatikan pada pendapat anggota lain, tetapi juga mampu memberikan arahan dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.
Berdasarkan kepribadian tersebut, model kepemimpinan yang sesuai dengan diri saya adalah democratic leadership. Model ini saya pilih karena saya ingin anggota tim terlibat dalam proses pengambilan keputusan melalui diskusi terbuka, namun tetap memberikan tanggung jawab kepada pemimpin dalam menetapkan keputusan akhir. Dengan model kepemimpinan ini saya lebih nyaman bekerja karena setiap anggota memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Dengan karakteristik yang saya miliki, saya suka mendengarkan, mempetimbangkan berbagai sudut pandang, serta berhati-hati dalam mengambil keputusan. Hal ini juga sesuai dengan pengalaman saya saat kerja kelompok dan berorganisasi karena saya menilai bahwa kualitas keputusan akan lebih baik jika melibatkan perspektif yang beragam. Namun, saya juga menyadari dari jenis kepemimpinan ini mempunyai tantangan pada saat diskusi yang terlalu panjang atau mendapat anggota yang kurang serius dalam memberikan kontribusi. Dalam kondisi ini saya harus tetap tegas untuk menjaga arah diskusi agar tidak keluar dari tujuan utama. Maka dari saya perlu enyeimbangkan antar keterbukaan terhadap pendapat dan kemampuan untuk mengambil keputusan secara tegas agar efektivitas tim tetap terjaga.
Jika saya menjadi koordinasi untuk kegiatan program penanganan TB-HIV di puskesmas X dengan menerapkan model kepemimpinan demokrasi. Karena menurut saya keberhasilan program ini tidak hanya bergantung hanya pada pemimpin tetapi juga pada kerjasama seluruh tim yang terlibat. Kepemimpinan yang melibatkan semua anggota untuk dalam mengambil keputusan dapat meningkatkan kerjasama tim dan efektivitas dalam pelayanan kesehatan primer. Saya akan berdiskusi dengan kepala puskesmas mengenai kepentingan penanganan TB-HIV dengan menyampaikan data dan kondisi di wilayah kerja puskesmas sebagai dasar pengambilan keputusan untuk memulai menjalankan program TB-HIV. Untuk penguatan tim saya akan melakukan rutin diskusi terhadap seluruh anggota dari petugas program TB-HIV, laboratorium, organisasi kesehatan, serta fasilitas kesehatan yang lainnya. Saya mempercayakan anggota tim dapat menjalankan semua program dengan baik dengan melalui penguatan kerja sama tim melalui komunikasi yang baik dan tujuan yang sama yang menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan keberhasilan program.
Dalam mengkoordinasi lintas sektor, saya akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kader kesehatan untuk menyampaikan informasi terkait program TB-HIV mulai dari membahas kendala yang ditemukan dilapangan dan menyusun langkah tindak lanjut bersama. Kader kesehatan dapat membantu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala TB dan mendampingi pasien agar tetap patuh menjalani pengobatan. Untuk pemerintah desa dapat membantu dengan menyebarkan informasi kesehatan dan menggerakan masyarakat untuk mengikuti kegiatan skrining. Dengan pendekatan ini menurut saya paling memungkinkan untuk dilaksanakan karena dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Pada kolaborasi interprofesional, saya akan melakukan diskusi mengenai kasus pasien TB-HIV secara berkala antara dokter, perawat, analis laboratorium, apoteker, dan tugas promosi kesehatan. Melalui diskusi ini setiap tenaga kesehatan dapat memberikan masukan berdasarkan kompetensinya agar penangan pasien menjadi lebih komprehensif. Dari dokter dapat melakukan mengevaluasi perkembangan penyakit dan terapi yang diberikan, perawat memantau kepatuhan pengobatan, analis laboratorium menyampaikan hasil pemeriksaan, apoteker memberikan informasi mengenai penggunaan obat dan efek sampingnya, dan petugas promosi dapat melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga. Dengan komunikasi yang baik ini dapat mengidentifikasi masalah pasien lebih cepat dan solusi dapat ditentukan bersama.
Pada kegiatan monitoring saya akan melakukan pemantauan rutin setiap bulan terhadap indikator program TB-HIV dengan dilakukan peninjauan data skrining TB pada pasien HIV, pemeriksaan HIV pada pasien TB, kepatuhan pengobatan, serta jumlah pasien yang putus obat. Hasil dari pemantauan ini akan dibahas bersama semua anggota tim untuk mengetahui apakah program tersebut telah mencapai target atau masih terdapat kendala yang perlu diperbaiki. Dengan dilakukan evaluasi rutin dari hasil tinjauan kegiatan yang telah dilakukan saya akan membandingkan capaian yang telah ditetapkan bersama tim dan juga memberikan kesempatan terhadap tim untuk menyampaikan kendala atau masukan berdasarkan pengalaman di lapangan untuk dapat meningkatkan kualitas program TB-HIV. Hasil evaluasi digunakan untuk menyusun rencana pada program kedepannya agar pelaksanaannya dapat berjalan lebih efektif.
Peluang yang dapat dimanfaatkan yaitu, dari dukungan pemerintah melalui program nasional penanggulangan TB dan HIV sehingga puskesmas telah memiliki pedoman kerja, sistem pencatatan, serta jejaring rujukan yang jelas, dari kader kesehatan dan pemerintahan desa dapat menjadi peluang untuk meningkatkan edukasi masyarakat, penemuan kasus secara dini dan menjadi pendampingan pasien selama menjalani pengobatan.
Di sisi lain, terdapat tantangan yang mungkin muncul. Salah satunya stigma masyarakat mengenai TB maupun HIV yang menyebabkan pasien enggan untuk melakukan pemeriksaan diri atau tidak patuh dalam pengobatan sehingga menyebabkan kasus tidak terdeteksi. Tantangan lainnya adalah keterbatasan sumber daya manusia di puskesmas sehingga petugas dapat menangani beberapa program yang dapat membuat koordinasi antar program belum berjalan secara optimal karena kesibukan masing-masing program pada petugas.
Untuk mengatasi hal tersebut, saya akan lebih mengutamakan komunikasi dan kerja sama dengan seluruh anggota tim secara rutin agar setiap petugas yang mengalami kendala yang dihadapi untuk mencari solusi secara bersama-sama. Melibatkan kader kesehatan untuk membantu mengurangi stigma pada TB-HIV dan membantu mengingatkan pasien untuk menjalani pengobatan. Pembagian tugas yang jelas dan sesuai dengan kompetensinya saya lakukan agar pekerjaan dapat berjalan lebih efektif tanpa membebani satu orang saja. Dengan memanfaatkan peluang yang ada dan membangun kerjasama yang baik saya harap program dapat berjalan lebih optimal dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Jika saya menjadi pemimpin tim yang bertanggung jawab pada peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan memilih ketepatan identifikasi pasien karen merupakan langkah awal yang penting dalam setiap pelayanan. Kesalahan identifikasi dapat menyebabkan kesalahan dalam pemberian obat, tindakan medis yang tidak sesuai, tertukarnya hasil pemeriksaan laboratorium yang berpotensi membahayakan pasien. Dengan peran kepemimpinan yang saya terapkan. Saya percaya bahwa peningkatan mutu tidak dapat dilakukan hanya oleh pemimpin tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh tenaga kesehatan. Sehingga saya mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk berdiskusi mengenai kendala yang sering terjadi dalam mengidentifikasi pasien untuk dapat menyusun solusi bersama yang sesuai dengan kondisi di unit pelayanan sehingga setiap anggota tim merasa memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan program.
Upaya yang dapatkan meningkatkan mutu dilakukan dengan memastikan seluruh tenaga kesehatan memahami kembali standar operasional prosedur (SOP) dengan identifikasi pasien dari nama lengkap dan tanggal lahir atau nomor rekam medis sebelum memberikan obat, melakukan tindakan, mengambil spesimen, maupun melakukan pemeriksaan penunjang. Saya juga akan melakukan briefing singkat sebelum pergantian shift sebagai pengingat pentingnya identifikasi pasien dan memberikan kesempatan pada anggota tim untuk menyampaikan kendala yang mereka alami selama bekerja.
Dengan model kepemimpinan saya, akan membantu menciptakan budaya keselamatan karena setiap anggota tenaga kesehatan diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut. Saya ingin menciptakan lingkungan kerja yang terbuka sehingga tenaga kesehatan merasa aman saat melaporkan insiden tanpa rasa khawatir disalahkan. Dengan pendekatan ini, setiap kesalahan dipandang sebagai peluang untuk memperbaiki sistem, bukan untuk mencari siapa yang salah. Saya juga akan memperhatikan seluruh tenaga medis mematuhi prosedur keselamatan kerja dengan menggunakan alat pelindung diri, mengikuti prosedur dan pengendalian infeksi. Saya akan mendorong anggota petugas untuk saling mengingatkan apabila ada prosedur yang belum dilakukan dengan benar sehingga keselamatan menjadi tanggung jawab bersama.
Tantangan yang akan mungkin muncul adalah tingginya beban kerja karena banyaknya jumlah pasien, kebiasaan anggota lain yang masih melewatkan prosedur identifikasi masalah karena sudah mengenal pasien dan masih terdapat rasa takut untuk melaporkan insiden keselamatan karena khawatir mendapatkan teguran. Kondisi ini dapat menghambat upaya peningkatan mutu apabila tidak segera diatasi. Sebagai langkah antisipatif saya akan melakukan monitoring melalui pemeriksaan kepatuhan identifikasi pasien secara rutin, mengevaluasi hasil pemeriksaan bersama tim setiap bulan dan menyusun tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi. Saya akan memberikan masukan dan apresiasi kepada tenaga kesehatan yang berhasil mempertahankan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan pasien sebagai bentuk motivasi. Dengan komunikasi yang terbuka, kerja sama seluruh tenaga kesehatan dan evaluasi berkelanjutan saya harap dapat membangun dan menciptakan keselamatan dari pasien dari cedera maupun lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi seluruh tenaga kesehatan
Kesimpulan
Kepemimpinan dengan model demokratis sangat sesuai untuk diterapkan dalam berbagai kegiatan pelayanan kesehatan, baik pada program penanganan TB-HIV di puskesmas maupun dalam peningkatan mutu di rumah sakit. Hal ini karena keberhasilan suatu program tidak hanya bergantung pada pemimpin, tetapi juga pada kerja sama seluruh tim yang terlibat. Dalam pelaksanaan program TB-HIV, keterlibatan lintas program, lintas sektor, serta kolaborasi antar tenaga kesehatan menjadi hal yang penting untuk meningkatkan efektivitas pelayanan. Diskusi rutin, pembagian peran yang jelas, serta komunikasi yang baik dapat membantu meningkatkan koordinasi dan mempermudah penyelesaian masalah di lapangan.
Selain itu, monitoring dan evaluasi secara berkala juga diperlukan untuk melihat capaian program, menemukan kendala, serta menyusun perbaikan ke depan agar program dapat berjalan lebih optimal. Dukungan pemerintah, kader kesehatan, serta pemerintah desa juga menjadi peluang penting dalam memperluas jangkauan pelayanan dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Namun, masih terdapat beberapa tantangan seperti stigma masyarakat terhadap TB-HIV, keterbatasan sumber daya manusia, serta beban kerja yang tinggi. Kondisi ini dapat menghambat pelaksanaan program jika tidak dikelola dengan baik.
Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang baik, kerja sama tim, pembagian tugas yang jelas, serta evaluasi berkelanjutan untuk mengatasi tantangan tersebut. Dengan demikian, program dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak yang lebih baik bagi masyarakat. Secara keseluruhan, penerapan model kepemimpinan demokratis yang melibatkan seluruh anggota tim dapat membantu menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih efektif, kolaboratif, dan berorientasi pada keselamatan serta kualitas pelayanan.
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Daftar Pustaka
World Health Organization. WHO consolidated guidelines on tuberculosis: Module 2: Screening – systematic screening for tuberculosis disease. Geneva: WHO; 2021.
World Health Organization. Tuberculosis and HIV: integrated care and collaborative activities. Geneva: WHO; 2020.
Northouse PG. Leadership: Theory and Practice. 8th ed. Thousand Oaks (CA): Sage Publications; 2019.
Komentar
Posting Komentar