INFP-T
seorang
Mediator yang Ingin
Jadi Pemimpin?
Nama: Francischa Meyscha Soli
NIM: 23.P1.0028Hasil assessment MBTI yang saya peroleh ialah INFP-T
(Introverted, Intuitive, Feeling, Perceiving, dan Turbulent
(INFP-T))1. Dimensi Introverted
menggambarkan kecenderungan seseorang untuk fokus pada dunia pikiran dan
gagasan batinnya, serta memperoleh energi dari waktu menyendiri. Dimensi Intuitive
berarti seseorang lebih mengandalkan naluri dan melihat masalah dari sudut
pandang menyeluruh, dengan mengenali pola-pola umum terlebih dahulu sebelum
menelaah detail-detail spesifiknya. Dimensi Feeling menunjukkan bahwa
dalam menyelesaikan masalah, seseorang lebih mengutamakan keharmonisan dan
nilai-nilai kemanusiaan. Sementara itu, dimensi Perceiving mencerminkan
gaya hidup yang fleksibel, spontan, dan terbuka terhadap hal-hal yang tidak
terduga, daripada terikat pada jadwal atau struktur yang kaku terduga2. Kepribadian ini dideskripsikan
sebagai tipe kepribadian idealis yang pendiam dan perhatian yang cenderung
berinvestasi pada proyek dan sumber daya manusia. Mereka juga cenderung memiliki
kemampuan bahasa yang sangat berkembang dan kemampuan menulis yang baik3.
Kepribadian INFP-T memiliki 3 karakter inti, yaitu sensitif
yang halus, imajinatif yang luas dan idealisme yang kuat1. Menurut saya,
hasil tes dari MBTI ini tidak 100% menggambarkan kepribadian saya, mungkin
sekitar 80%. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kepribadian ini dideskripsikan
memiliki kemampuan bahasa yang berkembang dan kemampuan menulis yang baik, akan
tetapi saya tidak merasa, bahwa saya memiliki kemampuan menulis bahkan
berbahasa yang baik. Saya pernah melihat salah satu short video di
YouTube yang menjelaskan seperti apa itu kepribadian INFP, yaitu seseorang yang
punya banyak imajinasi di kepalanya dan punya banyak hal yang ingin ia katakan,
namun ide-ide itu tidak ia tulis ataupun diutarakan. Ketika ada dalam suatu
diskusi baik itu PBL (problem based learning) atau diskusi kelompok
lainnya, saya kebanyakan lebih mendengar dan terbawa arus pendapat orang lain,
bahkan ketika saya menjadi ketuanya. Hal yang perlu saya kembangkan sebagai
seorang pemimpin ialah mencoba untuk menyuarakan pendapat saya.
Saya ingin menjadi seorang pemimpin dengan model
kepemimpinan demokratis. Gaya kepemimpinan demokratis adalah sebuah pendekatan
kepemimpinan dimana pemimpin mengadopsi prinsip-prinsip demokrasi dalam
pengambilan keputusan dan pengelolaan tim atau organisasi4. Alasan saya
memilih model kepemimpinan demokrasi adalah karena menurut saya setiap orang
memiliki pendapat yang berbeda, dan dari setiap pendapat memiliki kekurangan
dan kelebihannya masing-masing. Saya juga senang jika bisa mendengarkan
berbagai macam pendapat-pendapat yang unik dan berusaha untuk menggabungkannya.
Kelebihan dari model kepemimpinan ini
adalah mendorong partisipasi aktif dari anggota, diversitas pendapat,
kreativitas yang ditingkatkan, fleksibilitas dan adaptabilitas, serta dapat
meningkatkan kepuasan dan kesejahteraan anggota tim4.
Namun, saya sadar bahwa gaya kepemimpinan ini memiliki
kelemahan, yaitu proses pengambilan keputusan menjadi lebih lambat, tidak
efektif dalam situasi kritis atau situasi yang memerlukan keputusan cepat,
tidak efektif dalam tim yang tidak terlatih, dan kesulitan dalam menangani
konflik4. Saya adalah tipe
orang yang butuh untuk berpikir secara mendalam sebelum melakukan suatu hal, karena
itulah saya memang susah untuk melakukan suatu tindakan dalam suatu krisis yang
membutuhkan keputusan yang cepat. Hal inilah yang membuat saya memilih untuk meminta
pendapat dan mengikuti pendapat orang lain yang menurut saya dapat
menyelesaikan masalah dalam situasi krisis.
Selain sulit membuat keputusan dalam situasi krisis, menurut
saya hal yang menjadi masalah utama dan fatal dari metode kepemimpinan ini
adalah sulit menangani konflik. Hal ini jugalah yang membuat saya bertanya-tanya
apakah INFP adalah tipe MBTI yang memang sesuai dengan saya. Tipe kepribadian
INFP-T/A disebut juga sebagai Sang Mediator. Pengertian mediator adalah pihak
netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai
kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau
memaksakan sebuah penyelesaian5, sehingga peran
seorang mediator adalah sebagai pihak ketiga yang menjadi penengah dalam suatu
konflik. Ciri kepribadian ini bisa dibilang cukup bertolak belakang dari kepribadian
saya, yang mana jika ada konflik saya biasanya menjadi orang keempat yang
berusaha untuk tidak ikut campur dalam masalah yang saya pikir sebagai “masalah
orang lain”. Jikalau pun saya terlibat dalam suatu konflik—yang sebenarnya tidak
sering saya alami, karena saya biasanya berusaha untuk menghindari konflik—
konflik tersebut seringnya akan berakhir pada keputusan dimana saya akan
menyerah atau lawan saya yang akan menyerah.
Integrasi pelayanan TB dan HIV dibutuhkan pada FKTP
dan FKTL untuk mengurangi angka kematian akibat HIV yang tidak terdiagnosis dan
tidak diobati di antara pasien TB, dan pasien TB yang tidak terdiagnosis dan
tidak diobati di antara orang dengan HIV (ODHIV)6. Sebagai seorang koordinator,
langkah awal yang akan saya lakukan dalam kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
di Puskesmas X ialah mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang ada dalam penanganan
TB-HIV. Identifikasi dan analisis masalah ini tentunya tidak bisa dilakukan
oleh satu orang saja, karena penanganan TB-HIV dilakukan dengan pelayanan lintas
sektor. Sebagai seorang koordinator yang menggunakan model kepemimpinan
demokrasi, maka saya memerlukan pendapat terkait masalah yang dihadapi serta
saran penanganan masalah dari dokter umum, dokter spesialis, konselor, perawat,
petugas farmasi, petugas laboratorium, atau bahkan dari pasien itu sendiri7.
Langkah advokasi yang perlu dilakukan ialah dengan melaksanakan
pencarian kasus baru secara aktif atau surveilans TB dan HIV. Jadi tidak hanya
mendeteksi kasus HIV dan TB ketika pasien datang ke puskesmas dengan keluhan,
namun juga melakukan surveilans ke masyarakat, terlebih pada kelompok berisiko
tinggi seperti ibu hamil, pasien TBC, pasien HIV, homoseksual, heteroseksual, pengguna
narkoba suntik, wanita pekerja seks, warga binaan pemasyarakatan, pengguna
narkotika suntik dan waria7,8. Surveilans
secara aktif ini bertujuan untuk mendeteksi pasien dengan TB atau HIV, sebelum
pasien tersebut mengalami ko-infeksi TB-HIV. Hal ini berguna juga bagi tenaga
kesehatan dalam follow up penanganan dan pengobatan pasien ko-infeksi,
karena jumlah pasien TB-HIVnya akan menjadi lebih sedikit.
Monitoring dan evaluasi yang dilakukan untuk kegiatan
lintas program penanganan TB-HIV ialah dengan menetapkan target 100% untuk pemeriksaan
TB pada pasien dengan HIV atau sebaliknya, pemeriksaan HIV pada pasien dengan
TB. Pemeriksaan ini dilakukan menurut kelompok sasaran berisiko tinggi dan selanjutnya
melakukan evaluasi setiap bulan. Evaluasi kepuasan pelayanan kesehatan dari pasien
setiap bulannya juga diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan.
Keberhasilan
integrasi HIV-TBC tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan klinis,
tetapi sangat bergantung pada tata kelola, kapasitas kelembagaan, dan integrasi
sistem informasi kesehatan8, oleh karena itu
dibutuhkan Interprofessional Collaboration Practice (IPC). Interprofessional Collaboration Practice
interaksi atau hubungan dari dua atau lebih profesional kesehatan yang bekerja
saling bergantung untuk memberikan perawatan untuk pasien9. Profesional
kesehatan dalam IPC melibatkan dokter, perawat, petugas laboratorium, dan petugas
farmasi. Penguatan tim dalam kegiatan lintas program penanganan TB-HIV ini
perlu dilakukan dengan menyadarkan peran masing-masing profesional kesehatan. Pertemuan
mingguan tim yang terjadwal juga diperlukan untuk memahami motivasi dan
hambatan mereka, lalu mengaitkan tugas mereka dengan tujuan dari program ini. Selain
dari profesional kesehatan, diperlukan juga kerjasama dari kader juga pasien
dan keluarga demi terlaksananya kegiatan ini.
Peluang yang dapat dimanfaatkan dalam program ini ialah
adanya kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yaitu organisasi
non-pemerintah yang dapat bekerjasama dengan Puskesmas X untuk menanggulangi
epidemi TB dan HIV ataupun ko-infeksi TB-HIV di Indonesia7. Tantangan yang akan
dihadapi ialah adanya stigma ganda bagi pasien TB-HIV di masyarakat yang dapat menjadi
penyebab utama kegagalan kesinambungan layanan penyakit menular ini. Cara yang
setidaknya bisa mengatasi tantangan ini ialah dengan pendekatan yang berpusat
pada pasien, mengadakan pelatihan untuk mengurangi stigma, dan secara perlahan
mengajak tim untuk mencoba metode baru yang lebih efektif melalui data dan
kisah sukses.
Salah satu dari enam sasaran
keselamatan pasien ialah pencegahan dan pengendalian infeksi. Pencegahan dan
pengendalian infeksi (PPI) adalah upaya untuk mencegah dan meminimalkan
terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar
fasilitas pelayanan kesehatan10. Ketua dari
tim/komite PPI ialah seorang dokter (IPCO/Infection Prevention and Control
Officer) dengan perawat senior (IPCN/Infection Prevention and Control
Nurse) sebagai sekretaris. Anggotanya dapat terdiri dari dokter wakil dari
tiap SMF (Staf Medis Fungsional), dokter ahli epidemiologi, dokter mikrobiologi/patologi
klinik, laboratorium, farmasi, perawat PPI, CSSD, laundry, instalasi
pemeliharaan sarana rumah sakit (IPS-RS), sanitasi, house keeping, K3
(Kesehatan dan Keselamatan Kerja), dan petugas kamar jenazah11.
Sebagai pemimpin tim dengan model kepemimpinan
demokrasi yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu sasaran keselamatan
pasien dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit, maka hal
pertama yang akan saya lakukan ialah memastikan struktur organisasi Tim PPI dibentuk
dan melibatkan semua unit terkait. Uraian tugas yang jelas dan disosialisasikan
dengan baik pada setiap anggota juga diperlukan, sehingga setiap orang memahami
peran dan tanggung jawabnya. Kemudian, dalam merencanakan program, saya akan
mengadakan forum diskusi terbuka yang melibatkan semua anggota tim dan
perwakilan unit untuk bersama-sama menentukan prioritas program PPI. Pendekatan
pengambilan keputusan bersama ini memastikan bahwa solusi yang dihasilkan
praktis dan dapat diterima oleh semua pihak.
Model kepemimpinan demokratis ini dapat menciptakan
budaya keselamatan yang partisipatif dan inklusif dengan meningkatkan kepuasan
dan kinerja staf, membangun kepercayaan dan keterbukaan, dan menciptakan
kepemilikan bersama12. Tantangan yang
mungkin muncul adalah koordinasi antar anggota tim PPI yang tidak berjalan
optimal karena kurangnya pertemuan rutin dan komunikasi yang efektif13. Hal yang dapat saya
lakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengadakan pertemuan
koordinasi PPI yang terjadwal dan terstruktur, dengan agenda yang jelas dan
melibatkan semua anggota, sehingga memastikan semua pihak terinformasi dan
terlibat.
Hasil tes MBTI saya adalah INFP-T (Mediator), yang menurut saya menggambarkan diri saya sekitar 80%. Saya memilih kepemimpinan demokratis karena saya menghargai keberagaman pendapat, meskipun saya sadar kelemahannya yaitu pengambilan keputusan yang lambat dan kesulitan menangani konflik—yang bertentangan dengan peran "Mediator" karena saya cenderung menghindari konflik. Sebagai koordinator TB-HIV di Puskesmas, saya akan mengidentifikasi masalah secara kolaboratif, melakukan surveilans aktif ke kelompok berisiko, menetapkan target 100% pemeriksaan silang dengan evaluasi bulanan, serta memperkuat IPC dan kemitraan LSM, dengan stigma ganda sebagai tantangan utama yang diatasi melalui pendekatan berpusat pada pasien. Sebagai pemimpin tim PPI di rumah sakit atau FKTL, saya akan membentuk struktur organisasi yang jelas, mengadakan forum diskusi terbuka untuk pengambilan keputusan bersama, dan mengatasi koordinasi yang lemah dengan pertemuan rutin dan terstruktur, guna menciptakan budaya keselamatan yang partisipatif dan inklusif bagi pasien dan tenaga kesehatan.
Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis
Saya menyatakan
bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas
atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber
informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan
bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya
bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Daftar
Pustaka
1. Gwinzy. INFP – Sang Mediator Batin:
Playbook untuk Menemukan Kedamaian, Nilai Hidup, dan Jati Diri yang Tulus.
Indonesia: GuinEvel Editions; 2025.
2. Woods RA, Hill PB. Myers-Briggs Type
Indicator. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls
Publishing; 2026 [cited 2026 Jun 26]. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554596/ PubMed PMID: 32119483.
3. Killam WK, Degges-White S, editors.
College Student Development: Applying Theory to Practice on the Diverse Campus.
New York, NY: Springer Publishing Company; 2017. 243 p.
4. Wulandari A, Mulyanto H. Kepemimpinan.
Kabupaten Bekasi: Kimshafi Alung Cipta; 2024.
5. Karmuji. Peran dan Fungsi Mediator
dalam Penyelesaian Perkara Perdata. Jurnal Ummul Qura. 2016
Mar;7(1):36–52.
6. Catrianiningsih D, Sanjaya GY, Chan G,
Nababan BWY, Triasih R, Intani DD, et al. Innovations in TB Screening and
Preventive Therapy Services for PLHIV in Yogyakarta City, Indonesia. Tropical Medicine and Infectious Disease.
2025 Jan 20;10(1):28. doi:10.3390/tropicalmed10010028 PubMed PMID: 39852679;
PubMed Central PMCID: PMC11769246.
7. Azizah N, Nurhayati R, Hartanto H. The
Role of Health Workers in Combating TB-HIV (Case Study at Panti Wilasa Hospital
Dr. Cipto Semarang). Jurnal Hukum
Kesehatan.
2022 Jun 27;8(1):73–94. doi:10.24167/shk.v8i1.4313
8. Awaludin, Jannah PI, Melati P.
Implementasi dan Tata Kelola Sinergi Program HIV-TBC di Kabupten Cirebon:
Analisis Capaian, Hambatan, dan Arah Penguatan Layanan Terpadu. Jurnal
Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2026 Feb;29:38–47.
9. Siokal B, Wahyuningsih. Potensi
Profesional Kesehatan dalam Menjalankan Interprofessional Collaboration
Practice di Rumah Sakit Universitas Hassanudin. Bina Generasi; Jurnal Kesehatan.
2019;11(1).
10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Pedoman Teknis Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Tingkat Pertama. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia;
2020.
11. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian di Rumah Sakit dan Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Lainnya. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia;
2007.
12. Rahardjo B, Suryawati C, Agushyana F.
Pengaruh Kepemimpinan Demokratis Kepala Ruang Rawat Inap terhadap Kepuasan
Kerja Perawat di Rumah Sakit Umum Aro Pekalongan. Jurnal Manajemen kesehatan Indonesia. 2019 Aug;7(2): 109-114.
13. Magadze TA, Nkhwashu TE, Moloko SM,
Chetty D. The Impediments of Implementing Infection Prevention Control in
Public Hospitals: Nurses’ Perspectives. Health SA. 2022 Nov 11;27:2033.
doi:10.4102/hsag.v27i0.2033 PubMed PMID: 36483503; PubMed Central PMCID:
PMC9724072.

Komentar
Posting Komentar