INFJ dan Kepemimpinan Transformasional: Memimpin dengan Visi, Empati, dan Inspirasi

Nama : Maria Renata Meylina Adhitiarasari

NIM : 23.P1.0032


Pernyataan orisinalitas karya tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.


  1. Konteks dan latar belakang personal

Myers-Briggs Type Indicator merupakan alat ukur tipe kepribadian yang dikemukakan oleh Isabel Briggs Myers berdasarkan teori Carl Jung. Terdiri atas 4 dikotomi utama, yaitu Extraversion (E) versus Introversion (I), Sensing (S) versus Intuition (N), Thinking (T) versus Feeling (F), dan Judging (J) versus Perceiving (P) dan terdapat 16 kelompok kepribadian1.

Berdasarkan hasil MBTI yang saya lakukan, tipe kepribadian saya yaitu INFJ-T. Hasil tersebut sangat menggambarkan diri saya. INFJ-T merupakan individu yang idealis dan berprinsip, tidak puas apabila hanya menjalani hidup begitu saja, selalu ingin bangkit dan membuat perbedaan. Bagi kepribadian yang penuh kasih ini, kesuksesan tidak diukur dari uang atau status, tetapi dari mencari kepuasan, membantu orang lain, dan menjadi kekuatan untuk kebaikan di dunia2,9

Sifat introversion (I) senang menyendiri, merenung, membaca dan tidak begitu suka bergaul dengan banyak orang, mampu bekerja sendiri, penuh konsentrasi  serta fokus3. Setelah saya melakukan banyak aktivitas di luar, seperti berorganisasi (BEM) atau melakukan kegiatan yang padat dan membutuhkan banyak energi untuk bersosialisasi, saya biasanya membutuhkan waktu untuk menyendiri dan menikmati waktu sendiri untuk mengembalikan energi saya. Hal ini membuat saya lebih suka belajar mandiri atau belajar dalam kelompok kecil (2-3 orang).

Intuition (N) memproses data dengan melihat pola dan hubungan, pemikir  abstrak, konseptual serta melihat berbagai kemungkinan yang dapat terjadi, sangat inovatif, penuh inspirasi dan ide unik3. Contohnya pada saat saya ingin membeli sesuatu, saya akan memikirkan barang tersebut apakah berguna untuk kedepannya atau tidak. Selain itu, pada saat saya menjadi anggota bem dan membuat sebuah program kerja, saya sudah menyiapkan solusi sebelum masalah tersebut muncul.

Feeling (F) melibatkan perasaan, empati serta nilai-nilai yang diyakini ketika hendak mengambil keputusan, sering terkesan memihak, empatik dan menginginkan harmoni3. Saat teman saya bercerita tentang masalah pribadinya, saya akan memberikan solusi dengan hati-hati supaya tidak menyakiti hati teman saya. Selain itu, ketika saya dan teman saya terjadi perselisihan, saya lebih memilih untuk menenangkan diri saya dahulu agar emosi saya dapat terkendali sehingga dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan baik tanpa menyakiti hati teman saya.

Judging (J) bertumpu pada rencana yang sistematis, serta senantiasa berpikir dan bertindak teratur (tidak melompat-lompat), tidak suka hal-hal mendadak  dan di luar  perencanaan3. Saya selalu merencanakan terlebih dahulu apa yang akan saya lakukan di hari itu, sehingga jika ada yang membatalkan janji atau membuat janji secara mendadak dengan saya, saya merasa kurang nyaman dan bisa marah.

Turbulent (T) cenderung lebih berempati terhadap orang lain, melebih-lebihkan dampak dari sesuatu yang mengganggu mereka atau menyakiti orang-orang yang mereka sayangi, dan merasa membutuhkan orang lain dalam hidup mereka4. Saat terjadi konflik dengan teman, saya selalu overthinking dan selalu berpikir jika hubungan saya dan teman saya akan renggang dan saya akan selalu berusaha untuk segera memperbaiki keadaan supaya hubungan tetap baik. Selain itu, apabila teman saya merasa sedih atau ada masalah, saya harus langsung memastikan bahwa teman saya baik-baik saja dan memberikan dukungan.

Sebagai seorang pemimpin, saya merasa harus lebih tenang dan tidak perlu terbawa emosi ketika menghadapi masalah, dan seharusnya saya tidak boleh overthinking terus menerus terhadap situasi yang terjadi, terutama dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Saya merasa perlu belajar untuk bisa lebih fleksibel ketika menghadapi perubahan yang mendadak meskipun saya sudah memiliki rencana/jadwal yang sudah saya susun. Kedepannya, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang tetap memiliki empati dan kepedulian terhadap orang lain, tapi juga lebih cepat mengambil keputusan, tidak terlalu banyak overthinking, dan lebih stabil emosinya saat menghadapi perubahan yang mendadak.

  1. Model kepemimpinan yang relevan

Model kepemimpinan yang sesuai dengan saya yaitu kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang berfokus pada kemampuan pemimpin untuk menginspirasi dan memotivasi pengikutnya agar mencapai kinerja yang lebih tinggi melalui visi yang jelas, harapan yang tinggi, serta dorongan untuk mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi. Pemimpin transformasional mendorong kreativitas, inovasi, dan pengembangan diri anggota organisasi. Karakteristik utama gaya kepemimpinan ini meliputi kemampuan menyampaikan visi, komunikasi yang efektif, kemampuan memotivasi, mendorong perubahan, empati, serta stimulasi intelektual kepada pengikut. Gaya kepemimpinan ini dinilai sangat efektif dalam menciptakan perubahan organisasi yang positif dan berkelanjutan. Pemimpin transformasional mendorong kreativitas, inovasi, dan pengembangan diri anggota organisasi5,6

Alasan saya memilih model kepemimpinan transformasional karena menurut saya, sebagai pemimpin saya tidak hanya bertanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi, tetapi juga berperan dalam memotivasi dan membantu setiap anggota untuk mengembangkan potensi dan kemampuannya. Dalam organisasi, saya selalu memberikan kesempatan, dukungan, dan kepercayaan kepada setiap anggota agar dapat berkembang dan menjalankan tanggung jawabnya masing-masing, karena saya percaya bahwa setiap anggota memiliki potensi yang dapat berkembang apabila diberikan kesempatan, kepercayaan, dan selalu didukung atau diberikan motivasi. Selain itu, saya selalu mendorong setiap anggota untuk menyampaikan pendapat, ide, dan kreativitas sehingga mereka merasa dihargai, lebih percaya diri, dan terdorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. 

Karakteristik personal saya memiliki hubungan dengan model kepemimpinan transformasional yang saya pilih. Sifat Feeling (F) membuat saya memiliki empati yang tinggi dalam memahami perasaan dan pendapat orang lain saat mengambil keputusan. Sifat Intuition (N) membuat saya cenderung memikirkan berbagai kemungkinan serta menyiapkan solusi sebelum masalah tersebut muncul. Sifat Judging (J) membuat saya menyukai perencanaan yang jelas, hal ini dapat membantu dalam mengatur pembagian tugas dalam tim. Sifat Turbulent (T) membuat saya memiliki empati yang tinggi terhadap orang lain, sehingga saya berusaha memberikan dukungan, kesempatan, dan kepercayaan kepada setiap anggota agar dapat berkembang. Hal ini sejalan dengan model kepemimpinan transformasional karena menurut saya, sebagai seorang pemimpin kita tidak hanya berfokus pada pencapaian tujuan organisasi, tetapi juga memberikan motivasi, dukungan, dan kepercayaan kepada setiap anggota agar dapat berkembang dan memberikan kontribusi yang baik bagi tim. 

Kekuatan yang dapat mempengaruhi penerapan model kepemimpinan adalah kemampuan saya dalam berempati, menghargai pendapat orang lain, dan membangun kerja sama yang baik dalam tim. Selain itu, saya juga dapat merencanakan sesuatu dengan terstruktur dan memberikan dukungan serta kepercayaan kepada setiap anggota agar setiap anggota dapat berkembang dengan berani memberikan ide/kreativitas. Kekuatan tersebut mendukung penerapan model kepemimpinan transformasional karena model tersebut menuntut saya sebagai pemimpin untuk memotivasi dan memberikan kepercayaan setiap anggota agar mampu mengembangkan potensinya.

Sedangkan keterbatasan saya juga dapat mempengaruhi model kepemimpinan saya karena terkadang saya cenderung overthinking dan terlalu memikirkan perasaan orang lain ketika menghadapi konflik atau mengambil keputusan. Meskipun empati merupakan salah satu kekuatan saya, dalam situasi tertentu hal ini membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih lama. Saya juga kurang nyaman terhadap perubahan yang mendadak karena lebih menyukai perencanaan yang jelas dan terstruktur. Keterbatasan tersebut dapat mempengaruhi penerapan model kepemimpinan transformasional, karena sebagai pemimpin kita dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang mendadak. Oleh karena itu, saya perlu mengembangkan kemampuan untuk mengelola emosi, dan lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan. 

  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Jika saya menjadi koordinator kegiatan lintas program TB-HIV di puskesmas X, saya akan menerapkan model kepemimpinan transformasional dan saya akan melibatkan seluruh anggota tim, seperti dokter, perawat, dll. Saya akan memberikan kepercayaan, motivasi, dan dukungan kepada seluruh anggota tim untuk mendorong mereka agar dapat mengembangkan potensi, menyampaikan ide atau kreativitas sehingga tujuan program ini dapat tercapai. 

Langkah yang akan saya lakukan sebagai koordinator kegiatan lintas program TB-HIV di Puskesmas X yaitu pertama-tama saya akan memulai dengan melakukan advokasi kepada kepala puskesmas dan dinas kesehatan untuk mendukung pelaksanaan program TB-HIV. Saya akan menyampaikan data kasus TB-HIV dan kebutuhan apa saja untuk program TB-HIV serta berharap memperoleh dukungan dari kepala puskesmas dan dinas kesehatan dalam penyediaan sarana prasarana serta tenaga kesehatan agar pelaksanaan program dapat berjalan dengan lancar. Setelah melakukan advokasi, saya akan melakukan penguatan tim yang terdiri atas dokter, perawat, apoteker, petugas laboratorium, kader kesehatan. Saya akan menerapkan model kepemimpinan transformasional dengan memberikan kepercayaan, motivasi, serta dukungan kepada setiap anggota untuk menjalankan tugas sesuai dengan kompetensinya. Saya akan mengadakan pelatihan TB-HIV agar setiap anggota memiliki pemaham yang sama mengenai alur pelayanan dan tata laksana pasien TB-HIV. Setelah itu, saya akan melakukan diskusi dengan memberikan kesempatan setiap anggota untuk menyampaikan pendapat, ide, dan masukan terkait pembagian tugas sesuai kompetensi masing-masing, alur pemeriksaan dan penanggung jawab setiap tahap pelayanan, hal ini bertujuan untuk mendorong kreativitas dan inovasi setiap anggota agar program dapat berjalan dengan lancar. Selanjutnya saya akan melakukan koordinasi lintas sektor melalui pertemuan dan diskusi bersama dengan dinas kesehatan, rumah sakit rujukan, kader kesehatan, dan organisasi atau tokoh masyarakat untuk meningkatkan penemuan kasus TB-HIV di masyarakat, memperkuat pendampingan pasien selama menjalani pengobatan, serta meningkatkan keberhasilan pengobatan. Setelah itu, saya akan menerapkan kolaborasi interprofesional dengan melibatkan dokter, perawat, petugas laboratorium, apoteker, tenaga promosi kesehatan sesuai dengan kompetensi masing-masing. Saya juga akan mengadakan diskusi secara rutin agar setiap profesi dapat saling bertukar informasi mengenai kondisi pasien. Lalu monitoring program secara rutin untuk memantau keberhasilan pelaksanaan program TB-HIV melalui pencatatan rutin, sistem pelaporan dan pengawasan rutin terkait TB-HIV. Hasil monitoring tersebut akan didiskusikan bersama seluruh anggota tim untuk mengetahui kendala dan menentukan solusi yang tepat. Selanjutnya, evaluasi akan dilaksanakan setiap enam bulan untuk menilai pencapaian program, mengevaluasi hambatan yang muncul, serta menyusun rencana perbaikan. Saat melakukan evaluasi, saya akan memberikan kesempatan kepada seluruh anggota untuk menyampaikan pendapat dan masukan sehingga solusi yang dihasilkan merupakan hasil kesepakatan bersama.

Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan yaitu dukungan seperti ketersediaan tenaga kerja, sarana prasarana, obat, serta kerjasama dengan dinas kesehatan sampai tokoh masyarakat. Tantangan yang mungkin muncul yaitu, seperti adanya stigma masyarakat tentang TB-HIV yang menyebabkan pasien malas untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Strategi yang akan saya lakukan yaitu dengan cara mengadakan pertemuan untuk mengedukasi masyarakat dengan melibatkan kader, organisasi serta tokoh yang berpengaruh di masyarakat. Selain memberikan edukasi, saya akan melakukan pendampingan dan konseling kepada pasien selama menjalani pengobatan.

  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

Jika saya menjadi pemimpin yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu  di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, saya akan memilih komunikasi efektif. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang tenaga medis, baik dokter, perawat maupun bidan adalah kemampuan berkomunikasi dengan efektif dan mudah dipahami7. Menurut saya komunikasi yang efektif ini sangat penting karena dapat mengurangi miskomunikasi antar tenaga kesehatan maupun pasien, mencegah terjadinya kesalahan tindakan medis dan meningkatkan keselamatan pasien serta tenaga kesehatan. 

Saya akan menerapkan model kepemimpinan transformasional dengan melibatkan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya dalam upaya meningkatkan komunikasi efektif di rumah sakit. Saya akan mengadakan pelatihan mengenai komunikasi efektif, seperti penggunaan metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) agar seluruh tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang sama. SBAR merupakan alat komunikasi yang dirancang untuk mengurangi kesalahan yang disebabkan oleh komunikasi dan untuk meningkatkan keselamatan pasien, termasuk situasi, latar belakang, penilaian, dan rekomendasi8. Selanjutnya, saya akan mengadakan diskusi secara rutin dengan memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk menyampaikan pendapat, ide, dan masukan untuk membahas kendala komunikasi yang akan dihadapi dan mencari solusi bersama. Selain itu, kami akan menyusun prosedur komunikasi yang efektif, melaksanakan briefing sebelum pelayanan, serta mengevaluasi penerapan komunikasi efektif. Saya juga akan memberikan dukungan, kepercayaan, serta mengapresiasi seluruh tenaga kesehatan yang konsisten menerapkan komunikasi efektif sehingga setiap anggota dapat termotivasi dan dapat memberikan pelayanan yang aman dan berkualitas.

Penerapan model kepemimpinan transformasional akan membantu menciptakan budaya keselamatan bagi pasien dan tenaga kesehatan. Saya akan memberikan motivasi, dukungan, dan kepercayaan kepada setiap anggota untuk terus meningkatkan potensinya, serta berkomitmen dalam menerapkan komunikasi yang efektif sehingga dapat memberikan pelayanan yang aman dan berkualitas serta mengurangi risiko kesalahan komunikasi sehingga keselamatan pasien maupun tenaga kesehatan lebih terjamin.

Tantangan yang mungkin muncul yaitu, belum semua tenaga kesehatan mampu menerapkan komunikasi efektif dan masih terdapat beberapa tenaga kesehatan yang tidak mau menyampaikan pendapat atau melaporkan kesalahan karena takut disalahkan. Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan yaitu adanya dukungan manajemen rumah sakit, perkembangan rekam medis elektronik, pelatihan komunikasi efektif, kerjasama yang baik antar profesi serta komitmen seluruh tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang aman dan berkualitas. Langkah antisipatif yang akan saya lakukan yaitu dengan cara mengadakan pelatihan komunikasi efektif secara berkala, melakukan diskusi rutin, dan mendorong komunikasi yang terbuka agar setiap anggota merasa nyaman dan aman untuk menyampaikan pendapatnya. Selain itu, saya akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala tentang penerapan komunikasi efektif serta memberikan umpan balik dan apresiasi kepada anggota yang konsisten menerapkan komunikasi efektif tersebut. Dengan langkah tersebut, saya berharap komunikasi antar tenaga kesehatan menjadi lebih efektif sehingga keselamatan pasien dan tenaga kesehatan dapat terus ditingkatkan.

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil MBTI, saya memiliki tipe kepribadian INFJ-T yang sangat sesuai dengan diri saya yang lebih suka menyendiri, memiliki empati yang tinggi, menyukai keteraturan atau perencanaan yang jelas serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Kepribadian tersebut mendukung penerapan model kepemimpinan transformasional yang saya pilih. Melalui kepemimpinan transformasional, saya akan memberikan dukungan, motivasi, dan kepercayaan kepada setiap anggota agar mampu mengembangkan potensi dan menjalankan tugas sesuai dengan kompetensinya. Penerapan kedua model kepemimpinan tersebut dapat mendukung pelaksanaan program kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti penanganan TB-HIV, maupun peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit melalui komunikasi efektif. Meskipun demikian, saya menyadari masih perlu mengembangkan kemampuan dalam mengambil keputusan secara cepat, mengontrol emosi dengan baik, serta meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang mendadak tanpa mengurangi sikap empati, dan kemampuan menghargai pendapat orang lain. Dengan terus mengembangkan kemampuan tersebut, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang mampu membangun kerja sama tim yang baik, menciptakan lingkungan kerja yang terbuka, saling percaya dan menghargai, saling mendukung, serta berkontribusi dalam meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan.

  1. Daftar Pustaka

  1. Intifada AL, Aryanto H. Buku Ilustrasi "INFJ" Berdasarkan Myers-Briggs Type Indicator sebagai Media Informasi untuk Remaja di Bangkalan. Jurnal Barik. 2024;5(2).

  2. Kepribadian INFJ (Advokat) | 16 Personalities [Internet]. 16Personalities. 2023.

  3. Wijaya A, Novita, Yulita H. MBTI Personality Types for Career Development. Jurnal Pengabdian dan Kewirausahaan. 2019;3(2).

  4. NERIS Analytics Limited. Assertive Advocate (INFJ-A) vs. Turbulent Advocate (INFJ-T) [Internet]. 16personalities. 2019.

  5. Ansori A, Zulbasri H, Ardaini, Anwar K. Pengertian, teori dan tipe kepemimpinan. Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi. 2025 Mei;2(5):263-277.

  6. Bwalya A. Leadership styles. Global Scientific Journal. 2023;11(8):181-194.

  7. Attamimi HR, Lestari Y, Rinenggantyas NM. Pentingnya Kemampuan Komunikasi Dalam Pelayanan Kesehatan. Compromise Journal : Community Professional Service Journal. 2024;2(1).

  8. Fajriyah N, Wijaya H, Mamesah MM, Marga I. Strategi Meningkatkan Komunikasi Efektif dan Keselamatan Pasien dengan SBAR di antara Tim Kesehatan di Rumah Sakit: Tinjauan Sistematis. Journal of Health Management Research. 2023;2(1).

  9. 16Personalities. Commander Personality: Introduction [Internet]. 16Personalities. NERIS Analytics Limited; 2024. Available from: https://www.16personalities.com/entj-personality

  1. Lampiran


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T