Idealis yang Memimpin di Tengah Kontradiksi
Nama : Rafaella Widya Tara Devi
NIM :
23.P1.0015
Pernyataan Orisinalitas:
Saya menyatakan bahwa seluruh
konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah
tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang
valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan
teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya
bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan Latar Belakang Personal
Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) merupakan suatu asesmen kepribadian yang mengkategorikan seorang individu dalam 16 tipe berbeda berdasarkan bagaimana individu tersebut melihat dunia dan membuat keputusan. Kebetulan saya memiliki kepribadian INFP-T (Introverted, Intuitive, Feeling, Prospecting, Turbulent) setelah mengerjakan asesmen tersebut. INFP-T seringkali dikenal sebagai tipe kepribadian yang memiliki inner world atau dunia batin yang kaya akan imajinasi, empati, dan idealisme. Tipe kepribadian ini merupakan salah satu kepribadian yang sangat kreatif, seringkali menjadi sumber inspirasi yang mengungkapkan berbagai ide unik dan memecahkan solusi pada beraneka ragam masalah yang kompleks1. INFP-T juga dikenal memiliki kapasitas empati yang begitu besar, memungkinkan mereka untuk membangun koneksi dengan orang lain dalam tingkatan yang intuitif dan dalam. Berbagai aspek unggul tersebut sayangnya turut diimbangi oleh berbagai hambatan apabila individu dengan kepribadian ini tidak meregulasi kemampuannya dengan baik. Tantangan yang sering dihadapi oleh para INFP-T antara lain kecenderungan mereka untuk menjadi terlalu introspektif, dimana sebenarnya hal tersebut juga menjadi landasan untuk personal growth, namun apabila terlalu intens dan dilakukan dalam durasi yang sangat lama, menciptakan ruang bagi penilaian subjektif yang kejam terhadap diri sendiri, self-criticism. Menjadi terlalu peka dan pemikir, membuat para INFP-T sering merasa rentan atau disalahpahami oleh orang lain. Kecenderungan untuk berpikir secara idealisme dan memikirkan bagaimana perasaan mereka maupun orang di sekitar mereka bekerja membuat INFP-T terkadang kesulitan untuk menavigasi aspek-aspek praktis di dunia.
Mengetahui bahwa saya termasuk dalam tipe kepribadian INFP-T menimbulkan perasaan yang cukup unik. Selama beberapa tahun, saya sudah berulang kali melakukan asesmen MBTI. Hasil yang saya dapatkan terkadang memiliki varian yang berbeda, tetapi kepribadian INFP-T merupakan hasil yang paling sering muncul. Setelah mendalami berbagai narasi yang menjelaskan kecenderungan kepribadian ini, saya merasakan banyak kesesuaian dengan kehidupan saya. Saya adalah seseorang yang cenderung selalu memerlukan ruang untuk menjadi pribadi yang kreatif. Kesadaran tersebut membuat saya memahami bahwa berbagai kecenderungan yang selama ini saya anggap sebagai keanehan pribadi ternyata merupakan pola yang konsisten dalam cara saya memandang dunia.
Sejak kecil saya telah menghabiskan banyak waktu menanyakan “mengapa hal ini bisa menjadi begitu”, bukan hanya sebatas bagaimana penyebab memicu hasil, tetapi termasuk proses itu sendiri. Terlalu banyak ide di kepala saya, membuat saya seringkali menjadi bingung untuk merealisasikan yang mana terlebih dahulu, karena saya ingin menyelesaikan dan menemukan jawaban atas begitu banyak hal. Ide yang terlalu penuh itu seringkali bentrok dengan waktu, membuat saya terombang-ambing di lautan ide yang belum sepenuhnya selesai dan pertanyaan yang belum terpecahkan secara konkret. Saya terkadang merasa frustasi apabila suatu ide atau pertanyaan belum terjawab sepenuhnya, tetapi tugas dan aspek praktis kehidupan menunggu untuk dijamah. Kondisi tersebut menciptakan suatu dilema yang berulang. Saya merasa frustasi ketika ide-ide tersebut belum tereksplorasi sepenuhnya, tetapi di saat yang sama juga merasa bersalah ketika kewajiban praktis harus tertunda demi mengejar berbagai gagasan yang muncul di benak saya.
Gambar 2. INFP yang Menyukai Idealisme dan Penuh Ide
Kecenderungan tersebut tercermin dalam kehidupan akademik saya. Contoh konkret adalah saat saya harus mengerjakan tugas perkuliahan, tetapi terkadang terdistraksi untuk membuat suatu karya berupa narasi maupun seni visual karena terinspirasi dari musik yang saya dengarkan sembari mengerjakan tugas tersebut. Hal itu memiliki kesan produktif yang berplapis, namun juga dapat menjadi jebakan prokrastinasi karena kedua aktivitas memberikan reward, tetapi juga memiliki konsekuensi yang berbeda apabila salah satunya terbengkalai. Oleh karena itu, saya menyadari perlunya kemampuan mengatur prioritas, membangun disiplin, dan memberikan batasan waktu sebagai bentuk regulasi diri. Dalam konteks kepemimpinan, sebagai seorang pemikir dan empatik, saya juga sering menemukan kesulitan saya sendiri. Saat memimpin suatu tugas atau proyek, saya memiliki kecenderungan untuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan terhadap bagaimana saya bersikap dan apakah perencanaan yang saya susun sudah bisa mengarahkan organisasi atau kelompok menuju keberhasilan. Hal tersebut menjadikan saya seorang people pleaser, menjadi pemimpin yang merasakan keharusan mutlak untuk menyenangkan semua anggota yang saya pimpin, sambil menambah kesibukan pikiran akan skenario “what-if” dari aspek intrapersonal maupun birokrasi. Pemikiran tersebut menjadi sebuah tantangan dalam menyelesaikan tujuan. Saya cenderung maju-mundur berulang kali memastikan semua terkendali sebelum memberanikan diri untuk berpindah ke babak berikutnya. Pola ini menjadi area yang perlu saya kembangkan, sebab kecenderungan overthinking dan people-pleasing yang tidak terkelola dengan baik dapat menghambat pengambilan keputusan yang tegas dan tepat waktu, dimana keduanya merupakan hal yang sangat krusial dalam kepemimpinan di lingkungan klinis.
Model Kepemimpinan yang Sesuai
Gambar 3. INFP dalam Dinamika Kepemimpinan
Berbagai kekuatan dan keterbatasan yang saya miliki membuat saya menyadari bahwa saya memerlukan suatu model kepemimpinan yang tidak hanya mampu mengakomodasi kecenderungan saya untuk berpikir reflektif dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain. Saya memerlukan model kepemimpinan yang juga mendorong saya untuk lebih visioner, adaptif, dan berani mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Model kepemimpinan yang memungkinkan idealisme dan empati tanpa mengabaikan kebutuhan untuk menghasilkan perubahan yang nyata dan terukur memberikan ruang bagi saya untuk menjadi pemimpin yang efisien. Oleh karena itu, saya memandang kepemimpinan transformasional sebagai model yang paling sesuai dengan karakteristik personal yang saya miliki.
Model kepemimpinan transformasional merupakan salah satu model kepemimpinan dimana pemimpin tidak hanya membangun hubungan timbal balik dengan anggotanya2. Para pemimpin transformasional juga menginspirasi dan memotivasi anggotanya untuk mencapai tujuan melalui visi dan misi bersama. Pemimpin dengan model ini biasanya dapat menciptakan lingkungan kerja dengan kinerja tinggi melalui hubungan yang dilandasi oleh kepercayaan, loyalitas, komunikasi efektif, serta menumbuhkan keterikatan emosional dengan anggota. Pemimpin transformasional berperan sebagai inspirator yang karismatik sekaligus agen perubahan yang mendorong individu dan organisasi untuk berkembang melampaui standar yang diharapkan. Dalam menjalankan perannya, pemimpin ini juga berfungsi sebagai mentor dan pelatih yang secara aktif mendukung pertumbuhan setiap anggota timnya3. Bagi saya sendiri, model kepemimpinan transformasional bukan sekedar model yang terasa sesuai bagi karakter saya, namun menjadi sebuah wadah untuk mengubah berbagai kontradiksi yang saya miliki menjadi potensi yang dapat membawa perubahan positif bagi orang lain dan organisasi.
Saya menemukan berbagai kesesuaian antara karakteristik pribadi saya dengan karakteristik pemimpin transformasional. Sebagai individu yang idealis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan empatik, saya menyukai proses untuk mendorong berbagai ide baru yang ditujukan menginspirasi dan meningkatkan kinerja saya sendiri dan anggota saya secara kolektif. Saya menyukai eksplorasi ide-ide baru yang tetap efisien dalam menyelesaikan masalah guna mencegah kejenuhan dalam organisasi. Kecenderungan untuk memahami perspektif dan perasaan orang lain juga membuat saya menghargai hubungan interpersonal dan keterikatan emosional dalam sebuah tim. Hubungan interpersonal yang lebih dalam dapat membantu saya menyusun strategi baru dan melihat suatu masalah dari sudut pandang yang luas, memungkinkan tim mampu meraih hal yang lebih bermakna dan lebih banyak dari sekadar mencapai tujuan. Dari berbagai kesesuaian, saya juga menyadari terdapat beberapa karakteristik personal yang berpotensi menjadi tantangan dalam menerapkan model kepemimpinan transformasional.
Penerapan model kepemimpinan transformasional tidak terlepas dari berbagai keterbatasan yang muncul dari karakteristik personal yang saya miliki. Kecenderungan untuk terlalu memikirkan berbagai kemungkinan, menghindari konflik, dan berupaya menyenangkan semua pihak berpotensi menghambat proses pengambilan keputusan yang tegas. Sebaliknya, kreativitas, empati, dan kemampuan melakukan refleksi diri dapat menjadi modal yang kuat untuk membangun rasa percaya, menciptakan lingkungan kerja yang suportif, serta mendorong perubahan yang bermakna. Dengan deminikian, penerapan kepemimpinan transformasional bagi saya bukan berarti murni memanfaatkan kekuatan yang dimiliki, tetapi juga secara sadar mengembangkan ketegasan, kemampuan menetapkan prioritas, dan keberanian dalam mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV
Pemahaman terhadap karakteristik diri dan model kepemimpinan yang dipilih kemudian menjadi landasan dalam membayangkan bagaimana saya akan menjalankan peran sebagai pemimpin pada berbagai konteks pelayanan kesehatan. Apabila saya diberikan kewenangan untuk menjadi koordinator penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya akan tetap menggunakan model kepemimpinan transformasional untuk mencapai berbagai tujuan program. Saya akan memulai dengan membangun visi bersama mengenai pentingnya kolaborasi lintas program dalam meningkatkan keberhasilan deteksi, pengobatan, dan pendampingan pasien TB-HIV. Seluruh anggota tim akan dilibatkan dalam penyusunan target, identifikasi hambatan, dan perencanaan strategi sehingga setiap individu merasa memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan program. Saya akan memberikan seluruh anggota saya memberikan ruang yang setara bagi seluruh anggota untuk menyampaikan pendapat dalam diskusi secara tertata. Dalam rapat program, saya akan menunjuk seorang moderator secara bergiliran untuk memastikan diskusi berjalan dengan lancar dan setiap anggota memiliki kesempatan adil dengan meminimalkan dominasi maupun interupsi dari pihak tertentu. Sebagai seorang koordinator, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi saya untuk memastikan seluruh anggota saya merasa nyaman dengan tetap menerapkan profesionalisme. Saya akan berusaha untuk menjadi pendengar yang baik, sekaligus pengarah susunan strategi, bukan hanya mutlak memberikan perintah bagi anggota-anggota saya. Apabila ditemukan suatu masalah dalam pelaksanaan program, saya akan mendengarkan terlebih dahulu detail masalah secara netral, lalu mengadakan rapat dan kolaborasi lintas sektor apabila diperlukan.
Prinsip kepemempinan yang saya miliki akan menjadi andasan dalam setiap tahapan pelaksanaan program penanganan TB-HIV di Puskesmas X. Saya akan memulai advokasi kepada kepala puskesmas dan pemangku kepentingan setempat untuk memperoleh dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan TB-HIV, baik dalam bentuk kebijakan, sumber daya, maupun penguatan jejaring pelayanan. Penguatan tim akan dilakukan melalui pembagian tugas yang jelas, pemberian umpan balik secara berkala, serta penghargaan terhadap kontribusi setiap anggota untuk memberikan motivasi serta menjaga keberlanjutan kinerja tim dalam jangka panjang. Saya juga akan menjalin koordinasi lintas sektor dengan dinas kesehatan, kader kesehatan, fasilitas kesehatan rujukan, serta organisasi masyarakat untuk memperkuat penemuan kasus, proses rujukan, dan pendampingan pasien. Kolaborasi interprofesional akan dibangun melalui komunikasi yang terbuka antara dokter, perawat, tenaga laboratorium, apoteker, dan profesi kesehatan lainnya sehingga setiap keputusan dapat diambil berdasarkan kompetensi masing-masing. Monitoring akan dilakukan secara berkala melalui evaluasi indikator program dan pembahasan kendala yang muncul selama pelaksanaan, sedangkan hasil evaluasi akan menjadi dasar dalam menyusun strategi perbaikan berikutnya.
Pelaksanaan program tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Pasien TB-HIV dalam bermasyarakat cenderung mendapat stigmatisasi, sehingga terapi untuk memaksimalkan kualitas hidup pasien rentan terganggu. Keterbatasan lain juga dapat ditemui dalam fasilitas kesehatan seperti keterbatasan sumber daya serta perbedaan persepsi antarprofesi maupun lintas sektor. Puskesmas terkadang dapat menemui masalah seperti keterbatasan tenaga kesehatan, beban kerja yang tinggi, serta keterbatasan logistik dan anggaran. Berbagai tantangan tersebut tidak sepenuhnya menjadi faktor kegagalan dari program yang dijalankan, melainkan juga menjadi peluang untuk memperkuat budaya kolaborasi, meningkatkan literasi masyarakat, serta mengembangkan inovasi pelayanan yang lebih terintegrasi. Penerapan kepemimpinan transformasional akan saya fokuskan pada penciptaan ruang diskusi yang terbuka, inklusif, dan memberikan kesempatan yang setara bagi setiap profesi kesehatan untuk menyampaikan pandangannya. Pendekatan ini penting untuk membangun rasa saling percaya, menyatukan perbedaan perspektif, serta menyelaraskan visi tim dengan mengutamakan keselamatan dan kualitas pelayanan pasien. Di samping memperkuat kerja sama dalam tim, saya juga akan berupaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia serta memperluas jejaring kerja sama dengan dinas kesehatan, organisasi masyarakat, dan berbagai mitra terkait guna mendukung keberhasilan program. Edukasi kepada masyarakat juga akan terus dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang empatik agar stigma terhadap pasien TB-HIV dapat dikurangi. Setiap tantangan yang muncul selama pelaksanaan program akan dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk menyusun strategi perbaikan sehingga pelayanan dapat berkembang secara berkesinambungan.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut untuk Peningkatan Mutu (Keselamatan Pasien dan Petugas Kesehatan)
Seorang pemimpin memiliki peran penting dalam peningkatan mutu di fasilitas kesehatan3. Komunikasi efektif merupakan salah satu fondasi utama dalam menciptakan budaya keselamatan pasien di rumah sakit. Setiap keputusan klinis melibatkan koordinasi dan pertukaran informasi antar tenaga kesehatan, sehingga komunikasi menjadi suatu aspek yang krusial dalam peningkatan mutu pelayanan. Melalui pendekatan kepemimpinan transformasional, saya akan memimpin dengan memberikan keteladanan, membangun motivasi bersama, serta menciptakan lingkungan kerja yang terbuka sehingga setiap anggota tim merasa aman untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut, serta mendukung setiap individu agar terus berkembang dalam memberikan pelayanan yang berkualitas.
Pelaksanaan upaya peningkatan mutu melalui komunikasi efektif tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Perbedaan latar belakang profesi, tingginya beban kerja, serta budaya organisasi masih membuat sebagian tenaga kesehatan enggan untuk menyampaikan pendapat atau melaporkan kesalahan. Berbagai hal tersebut dapat menghambat terjadinya komunikasi yang efektif dan optimal4. Di sisi lain, kondisi tersebut juga membuka peluang untuk membangun budaya keselamatan yang lebih kuat melalui peningkatan kolaborasi antar tenaga kesehatan, penerapan komunikasi yang terstandar, serta pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung koordinasi pelayanan5. Sebagai pemimpin transformasional, saya akan mengantisipasi berbagai tantangan tersebut dengan membangun budaya komunikasi yang terbuka, memberikan teladan dalam menyampaikan informasi secara jelas dan saling menghargai, serta mendorong setiap anggota tim untuk berani menyampaikan masukan maupun melaporkan potensi insiden tanpa rasa takut. Evaluasi rutin terhadap proses komunikasi juga akan dilakukan agar setiap kendala dapat segera diidentifikasi dan menjadi dasar dalam penyusunan strategi perbaikan pelayanan secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Sebagai individu dengan kepribadian INFP-T, saya memiliki berbagai kekuatan berupa empati yang dalam, kreativitas, dan kemampuan refleksi diri yang dapat menjadi modal berharga dalam kepemimpinan di lingkungan kesehatan. Berbagai kekuatan tersebut juga tidak terlepas dari keterbatasan berupa kecenderungan overthinking, people-pleasing, dan kesulitan dalam pengambilan keputusan yang tegas di tengah tekanan. Model kepemimpinan transformasional saya pilih sebagai tulang punggung yang paling sesuai karena mampu mengakomodasi karakteristik personal tersebut sekaligus mendorong pertumbuhan diri dan anggota tim menuju perubahan yang bermakna. Dalam konteks pelayanan kesehatan primer, pendekatan transformasional akan diterapkan melalui pembangunan visi bersama, penguatan kolaborasi lintas program dan lintas sektor, serta advokasi berkelanjutan dalam penanganan TB-HIV di puskesmas. Pada tatanan fasilitas kesehatan tingkat lanjut, kepemimpinan transformasional akan diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui penguatan budaya komunikasi efektif sebagai salah satu sasaran keselamatan pasien. Berbagai tantangan yang muncul dalam kedua konteks tersebut dipandang bukan sebagai hambatan mutlak, melainkan sebagai peluang untuk terus berinovasi dan berkembang. Dengan demikian, perjalanan saya sebagai pemimpin bukan tentang menjadi sosok yang sempurna tanpa kontradiksi, melainkan tentang bagaimana saya mengubah kontradiksi tersebut menjadi kekuatan yang mendorong perubahan positif bagi tim, organisasi, dan pasien yang saya layani.
- Bodnar J. Relation between leadership style and personality type of Zillenials, based on the Myers-Briggs model. In: Witek-Crabb A, Radomska J, editors. New trends in business management. Strategy, branding, teamwork. Wroclaw: Publishing House of Wroclaw University of Economics and Business; 2025. p. 23-35. doi: 10.15611/2025.44.3.02.
- Lo P, Allard B, Stark AJ, et al. Transformational leadership practice in the world’s leading academic libraries. Journal of Librarianship and Information Science. 2020;52(4). doi:10.1177/096100061989799.
- Perez, Jessica DBA, PA-C. Leadership in Healthcare: Transitioning From Clinical Professional to Healthcare Leader. Journal of Healthcare Management 66(4):p 280-302, July-August 2021. doi: 10.1097/JHM-D-20-00057.
- Walston SL, Johnson KL. Organizational Behavior and Theory in Healthcare: Leadership Perspectives and Management Applications. 2nd ed. Chicago (IL): Health Administration Press; 2022. p. 307-318.
- Alfuhiqi MFH, Al Dhefeeri DK, Alruwaili SJA, Alfurayji NMN, Alhazmi SSD, Alqarni LYM. The importance of effective communication among healthcare providers. Gland Surg. 2024;9(2):309-315.
Komentar
Posting Komentar