ESFP sebagai Pemimpin: Karisma yang Menggerakkan, Empati yang Menyatukan
Nama : Stefani Paramesti Arundati
NIM : 23.P1.0020
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan latar belakang personal
Berdasarkan hasil MBTI yang saya lakukan, didapatkan bahwa tipe kepribadian saya adalah ESFP-T. ESFP (Penghibur) merupakan tipe kepribadian dengan ciri Ekstrovert, Observatif, Perasa, dan Pencari Peluang. Orang-orang dengan kepribadian ini menyukai pengalaman yang dinamis, terlibat dalam kehidupan dengan penuh semangat, dan menikmati suatu hal-hal baru yang belum diketahui. Mereka bisa sangat sosial, dan sering mendorong orang lain untuk melakukan aktivitas bersama1.
Berdasarkan hasil MBTI yang saya lakukan, yakni ESFP-T, orang dengan kepribadian ini mungkin bisa disebut sebagai kepribadian yang paling extrovert. Kepribadian ini sangat senang menghabiskan waktunya dengan orang lain dan suka menjadi pusat perhatian. ESFP adalah sosok yang penuh karisma dan peka terhadap suasana sosial, sehingga terlihat sangat nyaman jadi pusat perhatian meski sebenarnya kepercayaan diri mereka berasal dari kemampuan membaca situasi dan menyesuaikan diri, bukan sekadar suka tampil. Mereka sangat menikmati kebersamaan dengan teman, punya selera estetika dan fashion yang kuat, serta peka terhadap perasaan orang lain hingga sering jadi tempat curhat meski mereka sendiri cenderung menghindari konflik dan tidak suka dikritik. Kelemahan utama mereka adalah kurang fokus pada perencanaan jangka panjang seperti keuangan atau tanggung jawab rutin, karena lebih senang mengikuti kesenangan dan momen spontan, sehingga rawan hidup boros dan terjebak masalah finansial. Ketakutan terbesar mereka adalah merasa terkekang sehingga tidak bisa ikut bersenang-senang dengan orang-orang terdekat, namun selama mereka bisa lebih disiplin engatur hal-hal jangka panjang, ESFP akan selalu jadi sosok yang membawa keceriaan dan semangat menjelajah bagi orang-orang di sekitarnya.
Secara umum, hasil kepribadian ini sangat sesuai dengan diri saya. Dalam kehidupan berorganisasi, saya cenderung menjadi pihak yang menghidupkan dan meramaikan suatu acara. Dan dalam diskusi, saya cenderung menghormati pemikiran orang lain dan membahasnya berdasarkan fakta yang ada, sehingga tidak menyinggung perasaan seseorang namun tetap bertumpu pada fakta dan tujuan yang ingin dicapai. Dalam kegiatan akademik, saya cenderung lebih mudah memahami hal-hal yang konkret dan memiliki sumber yang jelas, dibandingkan hal-hal abstrak yang membutuhkan banyak pertanyaan untuk dipahami. Dalam lingkup keluarga atau pertemanan, saya adalah sosok yang memeriahkan suasana, menaikkan mood orang-orang di sekitar yang sedang turun, serta sering melontarkan ide-ide absurd yang membuat semua orang tertawa, dan saya menikmati peran tersebut. Terkadang saya ingin menjadi pusat perhatian ketika berada di lingkungan yang memang nyaman bagi saya secara pribadi, namun akan lebih diam apabila lingkungan tersebut tidak sesuai dengan diri saya.
Saya juga sangat mendengarkan isi hati orang-orang di sekitar saya, sampai-sampai hal tersebut dapat mempengaruhi mood maupun persepsi saya terhadap masing-masing orang yang saya kenal. Saya pun selalu ingin menikmati sepenuhnya waktu yang saya lalui bersama seseorang. Saya termasuk orang yang dapat berkenalan, mengobrol, dan nyambung hampir dengan semua orang, dan saya merasa energi saya justru terisi ketika berkenalan dengan orang baru. Bahkan terkadang saya menunjukkan sikap yang berbeda dibandingkan saat saya bersama teman dekat saya. Saya juga baru menyadari bahwa saya mampu membaur dengan baik dalam lingkungan yang bahkan baru saya masuki, seperti saat ini ketika saya tinggal (ngekos) di luar kota kelahiran saya. Saya bisa beradaptasi dengan baik di kota ini, dan merasa bahwa jika diberi tanggung jawab untuk hidup mandiri serta tinggal sendiri, saya dapat menjalaninya tanpa merasa terganggu atau panik.
Namun, terdapat beberapa aspek yang juga merugikan diri saya, yakni saya secara pribadi kesulitan dalam mengambil keputusan, menjalankan secara konsisten suatu hal yang bersifat jangka panjang seperti menabung dan sejenisnya, dan sisi turbulent dari kepribadian ini juga membuat saya cenderung terlalu memikirkan apa yang dikatakan dan dipikirkan orang lain tentang saya atau suatu hal, sehingga merubah persepsi dan menurunkan rasa percaya diri saya sendiri. Saya juga cenderung terus memikirkan hal-hal yang saya khawatirkan, bahkan yang belum tentu terjadi, dan hal ini cukup mengganggu keseharian serta mood saya dalam menjalani hari.
Melihat karakteristik dari kepribadian saya, terdapat beberapa hal yang masih perlu dikembangkan sebagai seorang pemimpin. Pertama, kecenderungan menghindari konflik dan tidak suka dikritik perlu saya latih agar bisa lebih terbuka untuk menerima masukan dan tidak ragu dalam menghadapi ketegangan ketika butuh untuk mengambil suatu keputusan yang penting. Kedua, sisi turbulent yang membuat saya mudah terpengaruh oleh pandangan orang lain perlu saya kelola agar tidak menghambat ketegasan dalam memimpin, sehingga keputusan yang saya ambil tetap berdasarkan pertimbangan rasional, bukan semata-mata demi menjaga kenyamanan sosial. Ketiga, saya perlu melatih kemampuan perencanaan jangka panjang dan konsistensi dalam tanggung jawab rutin, karena seorang pemimpin juga harus dapat mengarahkan tim secara terstruktur untuk mencapai tujuan.
Model kepemimpinan yang relevan
Berdasarkan karakteristik diri yang telah dipaparkan, model kepemimpinan yang paling sesuai dengan saya adalah Transformational Leadership. Model ini saya pilih karena secara konsep berfokus pada upaya menjadi role model bagi tim, bukan hanya mengendalikan struktural. Karakteristik personal saya sebagai seseorang dengan pribadi ESFP-T memiliki keselarasan yang kuat dengan dimensi inspirational motivation dengan menghidupkan suasana dan menaikkan mood orang-orang sekitar saya serta individualized consideration dengan kepekaan diri saya dalam mendengarkan isi hati orang lain dan kemampuan saya untuk beradaptasi dengan berbagai macam karakter dari individu4.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Apabila saya menjadi koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya akan menjalankan peran itu dengan mengandalkan kemampuan saya dalam berbaur dan membangun semangat, menjadikan hal tersebut ciri dari kepemimpinan saya.
Dalam tahap advokasi, saya akan memanfaatkan kemampuan saya untuk membangun kesadaran serta komitmen dari kepala puskesmas dan bagian lintas program dengan merujuk pada kebijakan nasional mengenai penanggulangan tuberkulosis. Saya akan mengemas advokasi tersebut bukan sebagai instruksi saja, tapi juga sebagai narasi yang bisa membangkitkan optimisme bersama dengan salah satunya menonjolkan dampak nyata TB-HIV terhadap keselamatan pasien dan masyarakat.
Pada tahap penguatan tim, saya akan menerapkan individualized consideration dengan mengenali kebutuhan dan beban kerja masing-masing petugas, dan memberi ruang untuk menyampaikan kendala. Saya juga akan berusaha untuk membangun rasa percaya antar program, yang menurut saya penting karena tantangan terbesar yang nyata adalah ego pribadi dari masing-masing pengurus program dan lemahnya komitmen bersama5.
Pada tahap koordinasi lintas sektor, saya akan berusaha untuk memfasilitasi forum koordinasi yang melibatkan semua pihak mulai dari dinas kesehatan sampai masyarakat untuk menjalankan program TBC lintas sektor. Pada tahap kolaborasi interprofesional, saya akan mendorong semua petugas kesehatan untuk bekerja dalam satu alur yang terkhusus pada TB-HIV, dan mengajak tim secara terbuka mendiskusikan dan merancang alur kerja yang lebih efisien, tidak hanya sekedar mengikuti SOP.
Pada tahap monitoring dan evaluasi, saya akan memastikan adanya pencatatan dan pelaporan berkala dari kejadian TB-HIV, serta mengevaluasi capaian indikator bersama, karena kelemahan umum yang ditemukan dalam evaluasi program adalah lemahnya sosialisasi, terbatasnya kader terlatih serta kurang optimalnya peran dari masyarakat6. Di sini saya juga memiliki keterbatasan dalam pribadi saya yang kurang dalam konsistensi jangka panjang, sehingga saya akan membuat sistem pengingat dan pembagian tanggung jawab yang jelas.
Peluang yang dapat saya manfaatkan adalah tingginya dukungan kebijakan nasional terhadap integrasi TB-HIV serta keterlibatan multipihak yang sudah terbangun melalui program TBC selama ini7. Tantangan yang bisa muncul adalah ego antar program, keterbatasan tenaga kerja serta rendahnya partisipasi masyarakat5. Strategi yang akan saya lakukan adalah dengan membangun komunikasi terbuka dan rutin antar program, melibatkan seluruh pihak kesehatan, dan secara aktif melatih saya sendiri agar bisa mengambil keputusan penting demi kepentingan program.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Jika saya menjadi pemimpin tim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan ambil sasaran keselamatan pasien berupa pencegahan dan pengendalian infeksi, karena sasaran ini bergantung pada kepatuhan perilaku individu secara konsisten, yang menurut saya sangat relevan dan cocok untuk dilakukan intervensi dengan cara pendekatan yang membangun kesadaran, bukan semata-mata hanya pengawasan.
Melalui model kepemimpinan yang saya pilih, yakni insiprational motivation, saya akan membangun suatu narasi bahwa pencegahan infeksi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk perlindungan nyata untuk pasien maupun tenaga kesehatan sendiri. Saya juga akan menerapkan individualized consideration dengan mendengarkan kendala yang dialami tenaga medis dan petugas kesehatan di lapangan, dan tidak langsung menyalahkan pihak tertentu dalam suatu masalah.
Tantangan yang mungkin akan muncul adalah resistensi staf terhadap perubahan kebiasaan kerja, keterbatasan fasilitas pendukung, serta budaya kerja yang masih menganggap pelaporan insiden sebagai bentuk kesalahan personal8. Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah adanya regulasi yang jelas dari Permenkes 11/2017 yang menegaskan bahwa reaksi menyalahkan staf yang terlibat dalam insiden justru membuat staf enggan melapor, sehingga kesalahan yang sama dapat berulang terjadi di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan; karena itu, dibutuhkan budaya adil dan terbuka yang sangat bergantung pada kepemimpinan yang kuat dan kemampuan organisasi mendengarkan stafnya; hal ini bisa dijadikan sebagai dasar dari kewenangan program, serta kewajiban evaluasi berkala oleh pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan yang telah diatur secara formal8. Langkah antisipatif yang akan saya lakukan adalah dengan menggabungkan pendekatan kepemimpinan saya dengan sistem monitoring yang lebih terstruktur, mengingat keterbatasan saya adalah dalam hal konsistensi rutin, juga dengan membangun semangat dalam berlangsungnya program.
Kesimpulan
Berdasarkan karakteristik kepribadian ESFP-T yang saya miliki, model kepemimpinan transformasional dinilai paling relevan untuk saya terapkan, karena kekuatan personal berupa empati sosial, kemampuan membangun semangat kolektif dan fleksibilitas adaptif sejalan dengan dimensi inspirational motivation dan individualized consideration dalam model tersebut. Namun keterbatasan saya dalam hal ketegasan, penghindaran konflik serta konsistensi jangka panjang dapat menghambat banyak aspek yang kemudian diperlukan kesadaran diri serta sistem pendukung untuk memperbaikinya.
Dalam koordinasi lintas program TB-HIV di FKTP, pendekatan transformasional dapat memperkuat advokasi, kerjasama tim dan kolaborasi interprofesional, namun tetap perlu diperkuat dengan sistem monitoring-evaluasi yang terstruktur agar berjalannya program tidak hanya bergantung pada motivasi yang dibangun. Dalam konteks peningkatan mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit juga, kepemimpinan ini dapat membangun budaya keselamatan yang adil dan terbuka, namun memang dalam mewujudkan keberhasilannya memerlukan dukungan dari pengawasan yang konsisten. Maka dari itu, kekuatan dan keterbatasan diri yang dimiliki menjadi dua hal yang perlu dikelola secara seimbang agar keberlangsungan program kesehatan di bawah kepemimpinan transformasional dapat berjalan dengan baik.
Referensi
- NERIS Analytics Limited. ESFP personality (Entertainer) [Internet]. Riga: NERIS Analytics Limited; c2011-2026 [diakses 24 Jun 2026]. Tersedia di: https://www.16personalities.com/esfp-personality
- Stewart J. Transformational leadership: an evolving concept examined through the works of Burns, Bass, Avolio, and Leithwood. Can J Educ Adm Policy. 2006;(54):1-29.
- Nazaruddin B. Kolaborasi lintas sektor dalam penanganan HIV-AIDS di Indonesia. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI; 2021.
- Siti C. Program pencegahan dan penanggulangan tuberkulosis di Puskesmas Purwoyoso dan Puskesmas Karangmalang Kota Semarang. HIGEIA J Public Health Res Dev. 2020;4(3):1-10.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020-2024. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2021.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017.
Komentar
Posting Komentar