ENFJ-T: Soft Heart, Strong Leader

Nama : Aprillia Ariyani

NIM   : 23.P2.0045


Pernyataan orisinalitas karya tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.


Konteks dan latar belakang personal

Gambar 1. Personality Type

Pola karakteristik perilaku yang membedakan antar individu dapat disebut sebagai kepribadian. Sifat kepribadian dapat terbentuk berdasarkan pengaruh perilaku yang dipelajari, lingkungan sekitar, dan interaksi dengan orang lain. Dalam lingkungan organisasi, kepribadian adalah aspek penting yang mempengaruhi cara berpikir, perasaan, mengambil keputusan, dan sikap. Oleh karena itu, mengetahui kepribadian adalah hal yang perlu dilakukan. Salah satu instrumen yang digunakan untuk mengetahui tipe kepribadian adalah Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), instrumen ini mengelompokkan seseorang berdasarkan kecenderungan psikologis. Berdasarkan hasil instrumen MBTI yang saya kerjakan, tipe kepribadian saya adalah ENFJ-T (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging – Turbulent). ENFJ biasa dikenal sebagai “The Protagonist”, yaitu tipe kepribadian seseorang yang memiliki karakter hangat, empati, komunikatif, dan memiliki keinginan untuk berdampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Tipe kepribadian ini memiliki beberapa aspek, yaitu Extraverted (E), Intuitive (N), Feeling (F), Judging (J), dan Turbulent (T)1.

Pertama, aspek Extraverted yang menunjukkan bahwa seseorang ENFJ-T mendapatkan semangat melalui hubungan interaksi dengan orang lain. Karakter ini cenderung aktif dalam komunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, dan senang terlibat dalam lingkungan sosial. Kedua, aspek Intuitive yaitu seseorang melihat gambaran secara menyeluruh, berpikir kritis, dan mencari ide baru dalam menghadapi permasalahan. Ketiga, aspek Feeling yang menunjukkan seorang ENFJ-T banyak mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan orang sekitar ketika mengambil keputusan. Hal ini membuat ENFJ-T menjadi pribadi yang peka pada kondisi emosional lingkungan sekitarnya. Keempat, aspek Judging yang menggambarkan orang tersebut menyukai hal teratur, terrencana, dan terstruktur. Kemudian, aspek Turbulent menunjukkan bahwa seseorang ENFJ-T lebih berpikir kritis, memiliki keinginan untuk berkembang, tetapi cenderung sensitif pada kritik dan tekanan. Sebagai seorang ENFJ-T, saya menilai bahwa karakteristik yang khas dalam diri saya yaitu kemampuan membangun hubungan dengan orang lain, memberikan dukungan, dan berusaha memberi perubahan bagi orang lain. ENFJ-T juga dikenal sebagai pribadi yang karismatik, persuasif, dan mampu menginspirasi orang sekitarnya. Kepribadian ini sering dikaitkan dengan kemampuan memimpin karena memiliki cenderung mengarahkan, mendukung, dan mengembangkan potensi orang lain1.

Pada dunia kesehatan terkadang terdapat tantangan seperti tekanan kerja dan perubahan, kepemimpinan bukan hanya untuk mengambil keputusan, tetapi juga membutuhkan empati, komunikasi, dan memahami kebutuhan orang lain. Sebagai seseorang ENFJ-T, saya merasa memiliki keinginan untuk melakukan peran kepemimpinan yang tidak hanya berfokus pada tercapainya tujuan, tetapi juga memperhatikan kenyamanan anggota lainnya. Kemampuan terpenting seorang ENFJ-T dalam memimpin yaitu mampu membangun hubungan, menjadi pendengar yang baik, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kerjasama, dan menyatukan pendapat berbeda. Selain itu, sifat empati yang dimiliki akan membuat ENFJ-T memahami perasaan orang lain sehingga tercipta komunikasi yang baik1

Namun, di antara sifat positif tersebut, ENFJ-T mempunyai tantangan yang perlu dikembangkan. Seperti sifat yang mudah peduli terhadap orang lain yang dapat membuat seseorang lebih mengutamakan kebutuhan orang lain dibandingkan dirinya. Selain itu, sifat dengan standar yang tinggi dapat membuat ENFJ-T merasa terbebani ketika mendapat hasil yang tidak sesuai dengan keinginan. Kemudian, sifat sensitif terhadap kritikan juga menjadi tantangan bila tidak disertai dengan kemampuan menerima masukan. Oleh karena itu, seorang ENFJ-T perlu belajar menjaga antara sifat empati dan ketegasan, antara membantu orang lain dan menyesuaikan kapasitas diri. Saya menyadari bahwa menjadi pemimpin yang baik tidak hanya tentang seseorang yang mampu memberikan arahan, tetapi juga menjadi individu yang mampu mendukung dan memberikan perubahan. Sebagai seorang perempuan dengan tipe kepribadian ENFJ-T, saya ingin mengembangkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan nilai kemanusiaan, komunikasi terbuka, dan kerjasama. Saya yakin bahwa setiap orang memiliki potensi yang dapat dikembangkan bila diberi dukungan dan kesempatan. Dengan memahami karakteristik diri melalui MBTI, saya dapat mengenali sifat positif dan negatif untuk menyiapkan diri menjalankan peran sebagai pemimpin. Kepribadian ENFJ-T memberi motivasi bagi saya untuk menjadi pemimpin yang mampu berorientasi pada hasil, menciptakan lingkungan yang positif, mendukung pertumbuhan orang lain, dan memberikan dampak yang bermanfaat bagi orang lain1.

Model kepemimpinan yang relevan

Gambar 2. Kepemimpinan Demokratis

Kepemimpinan merupakan aspek penting, termasuk dalam pelayanan kesehatan yang kompleks, penuh tekanan, dan membutuhkan kerja sama antarindividu. Seorang pemimpin tidak hanya mengarahkan dan mengambil keputusan, tetapi juga menjadi penggerak, pemberi motivasi, serta penyatu anggota tim. Berdasarkan karakteristik kepribadian ENFJ-T (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging – Turbulent), gaya kepemimpinan yang sesuai yaitu kepemimpinan demokratis karena membutuhkan partisipasi, komunikasi terbuka, dan keterlibatan aktif anggota dalam proses pengambilan keputusan. Sebagai seorang ENFJ-T, saya cenderung untuk membangun hubungan yang positif, kolaborasi, dan menghargai pandangan orang lain. Sifat ini sesuai dengan gaya kepemimpinan demokratis yang mengutamakan pengambilan keputusan melalui keterlibatan anggota, pembagian tanggung jawab, dan komunikasi dua arah antara pemimpin dan anggota. Dalam kepemimpinan demokratis, pemimpin tidak hanya memberi arahan, tetapi berperan sebagai fasilitator yang memberi ruang bagi anggota untuk menyampaikan ide, pendapat, dan solusi.

Gambar 3. Servant Leadership

Kepemimpinan demokratis atau participative leadership berarti bahwa keputusan yang baik terbentuk melalui diskusi dan pertimbangan dari berbagai sudut pandang. Keterlibatan anggota dapat menghasilkan ide baru, hal ini sesuai dengan karakteristik ENFJ-T yang terbuka terhadap masukan, mampu menerima kritik yang membangun, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan suportif. Dengan adanya keterbukaan, seorang pemimpin ENFJ-T dapat menciptakan lingkungan kerja yang partisipatif dan mengurangi kesalahpahaman antaranggota. Dalam konteks pelayanan kesehatan, gaya kepemimpinan demokratis diperkuat dengan pendekatan servant leadership dan adaptive leadership. Servant leadership yaitu pemimpin yang memberikan dukungan kepada anggota timnya, pendekatan ini sesuai dengan sifat yang dimiliki seorang ENFJ-T yaitu mengutamakan hubungan antar manusia dan kepedulian pada orang lain. Sebagai pemimpin, saya berusaha untuk mendengarkan kebutuhan anggota tim, memahami tantangan yang dihadapi, dan memberi dukungan. Kepemimpinan yang mengutamakan kepedulian dapat membantu menciptakan lingkungan yang nyaman dan memperkuat ketahanan kelompok.

Gambar 4. Adaptive Leadership

Selain itu, adaptive leadership juga penting dalam menghadapi perubahan sistem kesehatan. Pelayanan kesehatan sering menghadapi kondisi yang tidak dapat diprediksi, seperti perubahan kebijakan dan keterbatasan sumber daya. Melalui pendekatan ini, seorang pemimpin mampu membaca situasi, menerima masukan, dan menyesuaikan strategi berdasarkan kebutuhan. Sebagai seorang ENFJ-T, saya menyadari pentingnya kemampuan untuk tetap fleksibel, terbuka terhadap perubahan, dan mempertimbangkan berbagai pandangan agar kepemimpinan berjalan dengan efektif. Kombinasi antara kepemimpinan demokratis, servant leadership, dan adaptive leadership adalah gaya kepemimpinan yang sesuai dengan karakter seorang ENFJ-T dalam bidang kesehatan. Kepribadian ENFJ-T yang dikenal adalah pribadi karismatik, komunikatif, empatik, dan peduli terhadap orang lain yang dapat menjadi dasar untuk membangun kepemimpinan yang baik. Melalui gaya kepemimpinan ini, saya ingin menjadi pemimpin yang tidak hanya mampu mencapai tujuan organisasi, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan yang mendukung dan menghasilkan perubahan positif dalam pelayanan kesehatan.

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Gambar 5. TB-HIV

Sebagai pribadi ENFJ-T (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging –Turbulent), saya akan menjalankan peran sebagai pemimpin dalam pelayanan kesehatan dengan menerapkan kombinasi tiga model kepemimpinan, yaitu kepemimpinan demokratis, servant leadership, dan adaptive leadership. Ketiga model ini sesuai dengan karakteristik saya yang mengutamakan hubungan antar manusia, komunikasi, kepedulian, dan mampu membangun kerja sama. Dalam penerapannya, kepemimpinan demokratis menjadi dasar dalam menjalankan organisasi karena berfokus pada keterlibatan anggota dalam pengambilan keputusan. Sebagai pemimpin, saya tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga memberi ruang diskusi, menerima masukan, dan mempertimbangkan berbagai perspektif. Hal ini penting dalam pelayanan kesehatan karena setiap anggota memiliki kompetensi berbeda sehingga keputusan yang dihasilkan dapat sesuai dengan kondisi lapangan2. Selain itu, saya akan menerapkan pendekatan servant leadership dengan menempatkan diri sebagai pemimpin yang mendukung anggota. Saya akan berusaha memahami kebutuhan tenaga kesehatan, mendengarkan kendala yang dihadapi, memberi dukungan, dan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. Pendekatan ini penting karena keberhasilan pelayanan kesehatan membutuhkan motivasi dan kesejahteraan anggota yang menjalankan pelayanan. Pendekatan adaptive leadership juga akan digunakan untuk menghadapi perubahan dan tantangan dalam sistem kesehatan. Sebagai pemimpin, saya harus dapat membaca situasi, menyesuaikan kebutuhan masyarakat, dan terbuka pada perubahan. 

Langkah-Langkah Pelaksanaan Kepemimpinan

1. Advokasi

Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah memberi dukungan terhadap program kesehatan melalui advokasi kepada berbagai pihak (internal maupun eksternal). Advokasi dilakukan untuk menginformasikan pentingnya program berdasarkan data dan kondisi di lapangan. Dalam program penanganan TB-HIV, saya akan melakukan pendekatan kepada kepala fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat, agar memahami pentingnya penanganan penyakit secara terpadu. Sebagai pemimpin dengan karakter demokratis, saya akan melibatkan berbagai pihak dalam perencanaan agar kebijakan yang dibuat tidak hanya berasal dari pemimpin, tetapi juga membutuhkan masyarakat dan tenaga kesehatan. Pendekatan servant leadership juga diterapkan dengan membangun kepercayaan sehingga pihak yang terlibat merasa memiliki peran3.

2. Penguatan Tim

Penguatan tim dilakukan untuk membangun kerja sama dan meningkatkan kemampuan setiap anggota. Saya akan membentuk tim yang terdiri dari berbagai profesi seperti dokter, perawat, petugas laboratorium, farmasi, promosi kesehatan, dan kader masyarakat. Langkah yang dilakukan meliputi pelatihan, diskusi terjadwal, dan evaluasi untuk meningkatkan pemahaman mengenai tugas dan tanggung jawab setiap anggota. Melalui gaya kepemimpinan demokratis, setiap anggota berkesempatan untuk berpendapat dan berkontribusi. Dengan pendekatan servant leadership, saya akan memastikan bahwa anggota mendapatkan dukungan yang diperlukan.

3. Koordinasi Lintas Sektor

Penanganan masalah kesehatan tidak hanya dilakukan oleh fasilitas kesehatan, maka diperlukan kerja sama berbagai sektor. Saya akan membangun koordinasi dengan dinas kesehatan, organisasi masyarakat, lembaga masyarakat, kader kesehatan, dan masyarakat. Koordinasi dilakukan melalui pertemuan rutin untuk menyampaikan perkembangan program, identifikasi hambatan, dan menyusun solusi. Dengan pendekatan adaptive leadership, saya akan menyesuaikan strategi berdasarkan kondisi dan kebutuhan setiap sektor sehingga kerja sama dapat berjalan efektif.

4. Kolaborasi Interprofesional

Kolaborasi berbagai profesi adalah bagian penting dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Saya akan mendukung setiap tenaga kesehatan untuk bekerja sama, bukan sebagai bagian yang terpisah. Dalam pelaksanaannya, kolaborasi dilakukan dengan komunikasi terbuka antar profesi, pembagian peran yang jelas, dan penyusunan alur pelayanan. Misalnya, program TB-HIV diperlukan kerja sama antara petugas TB dan HIV dalam proses skrining, pengobatan, edukasi, dan pemantauan. Sebagai pemimpin ENFJ-T, kemampuan membangun hubungan interpersonal akan bermanfaat untuk menciptakan suasana kerja yang nyaman sehingga setiap profesi merasa dihargai2.

5. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi dilakukan berkala untuk memastikan program berjalan lancar. Evaluasi tidak hanya berdasarkan hasil akhir, tetapi juga pada proses pelaksanaan, hambatan, dan kebutuhan. Saya akan melakukan evaluasi melalui rapat rutin, pengumpulan data, dan diskusi dengan anggota. Hasil evaluasi digunakan untuk dasar perbaikan strategi dan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan. Pendekatan adaptive leadership berperan dalam memastikan organisasi mampu berkembang sesuai perubahan kebutuhan.

Peluang, Tantangan, dan Strategi Mengatasinya

Penerapan model kepemimpinan ini terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan. Pertama, kemampuan ENFJ-T dalam membangun hubungan kerjasama dapat menjadi poin penting untuk meningkatkan kualitas antaranggota dan membangun kepercayaan dengan masyarakat. Kedua, gaya kepemimpinan demokratis dapat meningkatkan keterlibatan anggota sehingga muncul ide dan inovasi baru. Ketiga, pendekatan servant leadership dapat meningkatkan motivasi tenaga kesehatan karena mereka merasa didukung dan dihargai. Namun, terdapat tantangan yang mungkin muncul. Salah satunya adalah kecenderungan ENFJ-T untuk terlalu memperhatikan kebutuhan orang lain sehingga dapat menyebabkan kelelahan emosional. Selain itu, proses pengambilan keputusan secara demokratis terkadang membutuhkan waktu lama karena melibatkan banyak pihak, sedangkan pelayanan kesehatan sering membutuhkan keputusan cepat. Tantangan lainnya adalah kemungkinan muncul konflik antar anggota atau antar program yang membutuhkan peran pemimpin dalam menyelesaikannya3. Strategi yang akan dilakukan untuk mengatasi tantangan tersebut adalah meningkatkan kemampuan mengelola konflik, menetapkan batas waktu dalam diskusi dan pengambilan keputusan, serta menggunakan data sebagai penentuan kebijakan. Selain itu, saya akan melakukan refleksi diri secara berkala agar tetap menjaga keseimbangan antara empati dan ketegasan sebagai seorang pemimpin. Dengan menerapkan kepemimpinan demokratis, servant leadership, dan adaptive leadership, saya berharap dapat menjadi pemimpin kesehatan yang mampu membangun tim yang kuat, menciptakan pelayanan yang dengan kemanusiaan, dan menghasilkan perubahan positif.

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan): Komunikasi efektif

Sasaran Keselamatan Pasien: Komunikasi Efektif

Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab pada peningkatan mutu di rumah sakit, saya berfokus pada sasaran keselamatan pasien yaitu komunikasi efektif antar tenaga kesehatan. Komunikasi efektif adalah komponen penting dalam keselamatan pasien karena risiko pelayanan dapat terjadi karena kesalahan penyampaian informasi, kurang koordinasi, dan perbedaan pemahaman. Oleh karena itu, saya akan membangun komunikasi terbuka, terstruktur, dan melibatkan seluruh tenaga kesehatan agar informasi dapat disampaikan secara tepat, jelas, dan akurat. Sebagai pemimpin, langkah awal yang dilakukan adalah menyadarkan bahwa keselamatan pasien adalah tanggung jawab seluruh anggota, bukan hanya satu profesi tertentu. Saya akan menyadarkan seluruh tenaga kesehatan mengenai pentingnya komunikasi dalam mencegah kesalahan klinis (Salah memberi obat, keterlambatan tindakan, dan salah mengambil keputusan medis). Selain itu, saya akan mendukung setiap tenaga kesehatan untuk berani menyampaikan informasi, melaporkan risiko, dan memberikan masukan. Dalam pelaksanaannya, saya akan menerapkan strategi peningkatan mutu seperti pelatihan komunikasi efektif bagi tenaga medis dan nonmedis, penerapan standar komunikasi antar profesi, pelaksanaan briefing secara rutin, dan evaluasi kejadian keselamatan pasien yang berkaitan dengan komunikasi. Sistem komunikasi yang baik akan membantu memastikan bahwa informasi penting dapat diterima oleh pihak yang tepat pada waktu yang tepat4.

Penerapan Model Kepemimpinan Demokratis, Servant Leadership, dan Adaptive Leadership

Dalam menjalankan peran sebagai pemimpin peningkatan mutu, saya akan menerapkan kombinasi tiga model kepemimpinan yaitu kepemimpinan demokratis, servant leadership, dan adaptive leadership. Model kepemimpinan demokratis menjadi dasar karena berfokus pada keterlibatan aktif anggota dalam pengambilan keputusan. Dalam peningkatan mutu komunikasi efektif, saya akan membuka ruang diskusi bagi dokter, perawat, tenaga farmasi, laboratorium, dan profesi lainnya untuk menyampaikan pengalaman, kendala, dan ide perbaikan. Setiap profesi memiliki sudut pandang berbeda terhadap pelayanan pasien, sehingga keputusan yang dihasilkan melalui kolaborasi akan lebih sesuai dengan kondisi di lapangan. Melalui komunikasi dua arah, kepemimpinan demokratis dapat mengurangi kesalahpahaman dah meningkatkan koordinasi pelayanan.

Selain itu, saya akan menerapkan servant leadership dengan menempatkan pemimpin sebagai pihak yang mendukung anggota. Dalam konteks keselamatan pasien, pemimpin tidak hanya memberikan aturan, tetapi juga memastikan bahwa tenaga kesehatan memiliki lingkungan kerja yang aman untuk berkomunikasi. Saya akan mendengarkan hambatan yang dialami, memberikan dukungan, dan menciptakan suasana kerja yang menghargai setiap pendapat. Dengan pendekatan ini, tenaga kesehatan akan lebih nyaman melaporkan insiden atau risiko pelayanan sehingga dapat melakukan perbaikan tanpa budaya menyalahkan individu5.

Model adaptive leadership untuk menghadapi perubahan dan tantangan dalam pelayanan kesehatan. Setiap rumah sakit memiliki kondisi dan permasalahan berbeda sehingga pendekatan komunikasi tidak dapat diterapkan secara kaku. Sebagai pemimpin, saya akan melakukan evaluasi pada sistem yang berjalan, menerima masukan, dan menyesuaikan strategi berdasarkan kebutuhan. Misalnya, apabila ada hambatan dalam penerapan komunikasi antar profesi, maka strategi disesuaikan melalui pelatihan, perubahan alur komunikasi, dan penguatan koordinasi.

Tantangan, Peluang, dan Langkah Antisipatif

Dalam penerapan peningkatan mutu komunikasi efektif, terdapat tantangan yang dapat muncul. Tantangan pertama adanya budaya tertentu dalam pelayanan kesehatan yang menyebabkan tenaga kesehatan kurang percaya diri untuk berpendapat, terutama kepada profesi dengan posisi yang lebih tinggi. Hal ini menghambat komunikasi terbuka dan menyebabkan informasi penting tidak tersampaikan. Tantangan kedua ada perbedaan karakter dan gaya komunikasi antar individu sehingga informasi yang disampaikan dapat dipahami secara berbeda. Selain itu, beban kerja tinggi dapat menyebabkan komunikasi dilakukan terburu-buru sehingga meningkatkan risiko kesalahan. Tantangan lainnya adalah pengambilan keputusan dalam kepemimpinan demokratis yang butuh keterlibatan banyak pihak. Dalam kondisi tertentu yang butuh keputusan cepat, proses diskusi yang lama dapat menjadi hambatan. Namun, terdapat peluang besar yang dimanfaatkan dalam penerapan model kepemimpinan ini. Komunikasi terbuka meningkatkan kerjasama antar profesi. Keterlibatan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap program mutu rumah sakit. Selain itu, tenaga kesehatan yang berada paling dekat dengan pasien memiliki pengalaman langsung dalam menemukan risiko pelayanan, sehingga keterlibatan mereka membantu melakukan pencegahan awal6.

Langkah antisipasi yang saya lakukan sebagai pemimpin adalah membuat pelatihan komunikasi efektif berkala, termasuk pelatihan komunikasi antar profesi dan manajemen konflik. Saya juga akan menerapkan sistem komunikasi yang terstandar seperti penggunaan format komunikasi yang jelas. Selain itu, saya akan membangun budaya psychological safety dengan memastikan setiap laporan atau masukan digunakan sebagai bahan pembelajaran, bukan dasar untuk menyalahkan individu. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkelanjutan melalui evaluasi insiden keselamatan pasien, dan umpan balik dari tenaga kesehatan. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki sistem komunikasi yang ada. Dengan menerapkan kepemimpinan demokratis, servant leadership, dan adaptive leadership, saya ingin menciptakan budaya keselamatan di rumah sakit yang tidak hanya berfokus pada pencegahan kesalahan, tetapi juga membangun lingkungan kerja yang mendukung, kolaboratif, dan peningkatan mutu pelayanan secara berkelanjutan.

Kesimpulan

Kepribadian ENFJ-T memiliki karakteristik utama berupa kemampuan komunikasi yang baik, empati, kepedulian terhadap orang lain, serta kemampuan membangun hubungan yang positif. Karakteristik tersebut mendukung penerapan gaya kepemimpinan demokratis, servant leadership, dan adaptive leadership dalam bidang kesehatan. Kepemimpinan demokratis membantu menciptakan keterlibatan anggota dalam pengambilan keputusan, servant leadership menekankan dukungan dan pemberdayaan tim, sedangkan adaptive leadership membantu pemimpin menghadapi perubahan dan tantangan pelayanan kesehatan. Dengan menerapkan ketiga model tersebut, pemimpin dapat membangun kerja sama yang efektif, meningkatkan komunikasi, menciptakan lingkungan kerja yang positif, serta mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Referensi:

  1. The Myers-Briggs Company. ENFJ personality profile. London: The Myers-Briggs Company; 2025.

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2024.

  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Kolaborasi Tuberkulosis dengan HIV. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2023.

  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2023.

  5. Nasrullah. Analisis peningkatan mutu pelayanan kesehatan upaya keselamatan pasien di Puskesmas Pembantu X Lombok Barat. J Tampiasih Inst Teknol dan Kesehat Aspir. 2024;3(1).

  6. Wahidin W. PkM: Peningkatan mutu Puskesmas dan keselamatan pasien. Humanism J Community Empower. 2023;2(2).

    Lampiran:


Komentar