ENFJ-T: Memimpin dengan Empati dan Kolaborasi
Nama : Catharina Vianney
NIM : 23.P1.0023
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Berdasarkan hasil asesmen MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ENFJ-T (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging-Turbulent). Tipe kepribadian ini digambarkan sebagai seseorang yang senang berinteraksi dengan orang lain, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mudah memahami perasaaan orang lain, serta memiliki keinginan untuk membantu dan mengembangkan orang-orang di sekitarnya. Individu dengan tipe kepribadian ENFJ-T cenderung suka bekerja di dalam tim dan mampu membangun hubungan yang positif dengan berbagai pihak. Selain itu, karakter Turbulent menunjukkan bahwa saya sering melakukan refleksi terhadap diri sendiri dan berusaha untuk memperbaiki kekurangan yang saya miliki sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik.1 Menurut saya, hasil MBTI yang saya dapatkan cukup menggambarkan diri saya. Saya termasuk orang yang senang bekerja bersama orang lain dibandingkan bekerja sendiri. Ketika berada dalam sebuah kelompok, saya terdorong untuk membantu mengatur jalannya diskusi agar setiap anggota dalam menyampaikan pendapatnya. Saya juga merasa lebih nyaman jika komunikasi dalam kelompok berjalan dengan baik karena menurut saya keberhasilan yang didapatkan dalam suatu tim ditentukan oleh kerjasama yang baik antar anggota.
Karakter tersebut dapat saya rasakan dalam menjalani perkuliahan saat saya menjadi ketua kelompok dalam kegiatan Problem Based Learning (PBL). Sebagai ketua kelompok, saya berusaha memastikan setiap anggota memperoleh kesempatan untuk berpendapat dan ikut berpartisipasi dalam diskusi. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa menjadi seorang pemimpin mampu menciptakan suasana yang membuat setiap anggota merasa dihargai. Selain itu, saya juga aktif mengikuti kegiatan organisasi yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) selama 2 periode dan dipercaya untuk menjadi koordinator bidang funding and sponsorship. Posisi tersebut mengharuskan saya untuk menjalin komunikasi dengan banyak pihak baik internal maupun external. Pengalaman tersebut melatih kemampuan saya dalam berkomunikasi, koordinasi, dan penyelesaian masalah yang saya miliki. Selain itu, saya juga dipercayakan menjadi ketua panitia yudisium dan ketua panitia sumpah dokter. Dalam kedua kegiatan tersebut saya bertanggung jawab dalam mengkoordinasikan seluruh divisi, memastikan setiap persiapan berjalan sesuai jadwal, dan menjadi penghubung antara panitia, dosen, tenaga kependidikan, serta peserta yudisium maupun sumpah dokter. Dari pengalaman tersebut saya juga belajar bahwa komunikasi yang baik adalah hal penting dalam memimpin sebuah tim.
Meskipun demikian, saya menyadari bahwa masih ada beberapa hal yang perlu saya kembangkan sebagai calon pemimpin. Sebagai seseorang dengan tipe kepribadian ENFJ-T, saya seringkali terlalu memikirkan apakah keputusan yang saya ambil sudah menjadi pilihan terbaik baik semua orang. Saya juga masih merasa sulit menolak permintaan orang lain karena khawatir mengecewakan orang lain. Dalam situasi tertentu, hal tersebut dapat membuat saya mengambil terlalu banyak tanggung jawab sehingga beban kerja menjadi lebih besar. Oleh karena itu, saya perlu belajar untuk lebih tegas dalam mengambil keputusan, mampu menetapkan prioritas, serta memberikan kepercayaan kepada anggota tim.
Berdasarkan karakteristik kepribadian yang saya memiliki, saya menilai bahwa kepemimpinan transformasional merupakan model kepemimpinan yang sesuai dengan diri saya. Model kepemimpinan ini berfokus pada kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan inspirasi, membangun motivasi, mengembangkan potensi anggota tim, serta menciptakan perubahan positif melalui kerjasama yang baik.2 Hal tersebut sesuai dengan tipe kepribadian yang saya miliki karena saya senang bekerja sama dengan orang lain, membangun komunikasi yang baik, serta menciptakan suasana kerja yang saling mendukung. Pengalaman yang saya punya mengajarkan saya bahwa keberhasilan sebuah tim tidak hanya bergantung pada kemampuan pemimpin, tetapi juga pada kerjasama dan rasa saling percaya antar anggota. Meskipun demikian, saya menyadari bahwa saya masih memiliki beberapa keterbatasan karena terkadang saya terlalu mempertimbangkan perasaan orang lain sehingga kurang tegas dalam mengambil keputusan. Selain itu, saya juga cenderung mengambil banyak tanggung jawab karena ingin membantu semua anggota. Oleh karena itu, saya perlu terus belajar untuk memperbaiki keterbatasan saya.
Sebagai koordinator TB-HIV di Puskesmas X, saya menerapkan kepemimpinan transformasional dalam menjalankan tugas yang diberikan. Saya memilih pendekatan ini karena penanganan TB-HIV tidak dapat dilakukan oleh satu profesi atau satu program saja, tetapi perlu kerjasama dengan berbagai tenaga kesehatan serta dukungan dari masyarakat. Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kemampuan klinis, tetapi juga koordinasi, komunikasi, dan komitmen setiap pihak yang terlibat.3
Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah melakukan advokasi kepada kepala puskesmas dan penanggung jawab program untuk menyamakan tujuan serta memperkuat komitmen dalam pelaksanaan program TB-HIV. Selanjutnya, saya akan membangun tim yang solid dengan melibatkan dokter, perawat, petugas laboratorium, apoteker, tenaga promosi kesehatan, dan pemegang program TB maupun HIV. Setiap anggota akan diberikan peran yang jelas agar dapat bekerja secara optimal. Selain penguatan tim internal, saya juga akan melakukan koordinasi lintas sektor dengan Dinas Kesehatan, pemerintah desa atau kelurahan, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat. Kolaborasi ini penting untuk meningkatkan penemuan kasus, memberikan edukasi kepada masyarakat, mengurangi stigma terhadap pasien TB-HIV, serta meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.3 Dalam pelayanan sehari-hari, saya akan mendorong kolaborasi interprofesional. Dokter berperan dalam diagnosis dan tata laksana, perawat memberikan edukasi serta pemantauan pasien, petugas laboratorium melakukan pemeriksaan penunjang, apoteker memberikan edukasi penggunaan obat, sedangkan tenaga promosi kesehatan berperan dalam penyuluhan kepada masyarakat. Dengan kerja sama yang baik, pelayanan kepada pasien akan menjadi lebih komprehensif. Untuk memastikan program berjalan sesuai target, saya akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala melalui rapat tim setiap bulan. Evaluasi dilakukan berdasarkan indikator seperti jumlah pasien yang diskrining, kepatuhan pengobatan, keberhasilan terapi, serta kendala yang ditemukan di lapangan. Hasil evaluasi akan digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki pelaksanaan program pada periode berikutnya.
Tantangan yang mungkin dihadapi antara lain masih adanya stigma terhadap pasien TB-HIV, keterbatasan sumber daya manusia, serta tingginya beban kerja tenaga kesehatan. Namun, terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti dukungan pemerintah terhadap program eliminasi TB, perkembangan media digital untuk edukasi kesehatan, serta peran aktif kader kesehatan dalam menjangkau masyarakat.4 Sebagai pemimpin, saya akan mengutamakan komunikasi yang terbuka, memberikan motivasi kepada anggota tim, serta menghargai setiap kontribusi yang diberikan. Saya percaya bahwa kepemimpinan transformasional dapat membangun kerja sama yang lebih baik sehingga pelayanan kepada pasien menjadi lebih efektif, berkesinambungan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Apabila saya dipercaya menjadi pemimpin tim peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan menerapkan kepemimpinan transformasional untuk meningkatkan mutu pelayanan, khususnya pada sasaran keselamatan pasien berupa Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Saya memilih sasaran ini karena infeksi yang didapat selama menjalani perawatan di rumah sakit (Healthcare-Associated Infections atau HAIs) masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pelayanan kesehatan. Keberhasilan program PPI tidak hanya bergantung pada tersedianya pedoman, tetapi juga pada kepatuhan seluruh tenaga kesehatan dalam menerapkan prosedur secara konsisten.5
Sebagai langkah awal, saya akan mengajak seluruh tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya budaya keselamatan pasien. Selanjutnya, saya akan melakukan evaluasi awal terhadap kepatuhan kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan penerapan prosedur PPI sebagai dasar penyusunan program perbaikan. Saya juga akan mengadakan edukasi dan pelatihan secara berkala agar seluruh tenaga kesehatan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sama dalam mencegah infeksi.
Dalam menerapkan kepemimpinan transformasional, saya ingin menjadi teladan dengan selalu mematuhi prosedur PPI serta membangun komunikasi yang terbuka. Saya akan mendorong setiap anggota tim untuk menyampaikan kendala maupun melaporkan insiden tanpa rasa takut disalahkan. Selain itu, saya akan memperkuat kolaborasi antara dokter, perawat, apoteker, tenaga laboratorium, dan profesi kesehatan lainnya agar setiap upaya pencegahan infeksi dapat dilakukan secara terpadu. Monitoring dan evaluasi akan dilakukan secara berkala melalui audit kepatuhan, pemantauan angka infeksi, serta evaluasi hasil program. Hasil evaluasi akan digunakan sebagai dasar perbaikan dan disampaikan kepada seluruh unit agar setiap tenaga kesehatan ikut berperan dalam peningkatan mutu pelayanan. Tantangan yang mungkin dihadapi adalah tingginya beban kerja, keterbatasan sumber daya, dan resistensi terhadap perubahan. Namun, peluang seperti adanya pedoman nasional PPI, dukungan akreditasi rumah sakit, dan komitmen tenaga kesehatan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat budaya keselamatan pasien. Sebagai pemimpin, saya akan mengedepankan komunikasi, kolaborasi, dan pemberian umpan balik yang konstruktif agar tercipta lingkungan kerja yang aman serta pelayanan yang berkualitas bagi pasien.5
Berdasarkan hasil asesmen MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ENFJ-T yang sesuai dengan karakter saya dalam membangun komunikasi, bekerja sama, dan memotivasi orang lain. Pengalaman sebagai Koordinator Bidang Funding and Sponsorship BEM, Ketua Panitia Yudisium, Ketua Panitia Sumpah Dokter, ketua kelompok PBL, telah membantu saya mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan kerja sama tim. Berdasarkan karakteristik tersebut, saya menilai bahwa kepemimpinan transformasional merupakan model yang paling sesuai karena menekankan komunikasi, kolaborasi, motivasi, dan pengembangan potensi anggota tim. Model ini juga relevan diterapkan dalam pelayanan kesehatan, baik di puskesmas melalui program lintas sektor TB-HIV maupun di rumah sakit dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien melalui Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI).
Saya menyadari masih perlu mengembangkan ketegasan dalam mengambil keputusan dan kemampuan mendelegasikan tugas. Sebagai calon dokter, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang mampu bekerja sama dengan berbagai profesi, memberikan pelayanan yang berpusat pada pasien, serta terus belajar untuk meningkatkan kualitas diri dan pelayanan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
16Personalities. ENFJ Personality Profile.
Northouse PG. Leadership: Theory and Practice. 9th ed. Thousand Oaks (CA): SAGE Publications; 2022.
World Health Organization. WHO policy on collaborative TB/HIV activities: guidelines for national programmes and other stakeholders. Geneva: World Health Organization; 2012.
World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2025. Geneva: World Health Organization; 2025.
World Health Organization. Global report on infection prevention and control. Geneva: World Health Organization; 2022.
Komentar
Posting Komentar