ENFJ-T: Ketika Hati Menjadi Cara untuk Melihat Dunia

Nama : Melati Martina Putri

NIM : 23.P1.0052


Pernyataan orisinalitas karya tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.


ENFJ-T: Ketika Hati Menjadi Cara untuk Melihat Dunia


Konteks dan Latar Belakang Personal

Gambar 1. Tipe Kepribadian ENFJ-T2

Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dalam mengarahkan, memengaruhi, dan mengelola perilaku individu lain dalam suatu kondisi tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan dalam menjalankan perannya sebagai pengarah agar mampu membangun kerja sama yang efektif dengan anggota tim. Keberhasilan suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemimpin dalam mengelola hubungan, komunikasi, dan koordinasi antaranggota1.

Berdasarkan hasil asesmen kepribadian menggunakan metode Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), saya adalah seseorang yang memiliki memperoleh tipe kepribadian ENFJ-T (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging-Turbulent). Tipe ini dianggap sebagai protagonist karena memiliki kecenderungan untuk memberikan kontribusi positif, membantu orang lain, serta berusaha menciptakan perubahan yang bermakna bagi lingkungan sekitarnya2. Hasil tersebut menggambarkan diri saya sebagai seseorang yang memiliki kecenderungan untuk peduli terhadap orang lain, senang membantu, serta memiliki keinginan untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dalam konteks kepemimpinan, kepribadian ENFJ-T menjadi salah satu dasar dalam cara saya berinteraksi di lingkungan sekitar. Saya cenderung untuk memahami anggota tim, membangun komunikasi yang baik, dan menciptakan lingkungan yang membuat setiap individu merasa dihargai. Ketika berada dalam suatu kelompok, saya berusaha menjadi anggota yang aktif dengan mendengarkan pendapat orang lain, membantu menyelesaikan permasalahan, dan memastikan bahwa setiap anggota memiliki kesempatan untuk memberikan pendapat. Saya merasa nyaman ketika anggota kelompok terlibat dalam proses diskusi dan pengambilan keputusan sehingga tujuan dapat dicapai secara bersama-sama.


Model Kepemimpinan yang Relevan

Gambar 2. Leadership2

Berdasarkan karakteristik kepribadian saya, model kepemimpinan yang paling sesuai adalah kepemimpinan transformasional (transformational leadership). Kepemimpinan transformasional adalah suatu pendekatan kepemimpinan yang menekankan kemampuan pemimpin dalam mendorong dan mengarahkan anggota untuk mengalami perkembangan serta perubahan positif melalui pemberian inspirasi, motivasi, dan dukungan terhadap potensi individu. Pemimpin dengan gaya transformasional tidak hanya berorientasi pada pencapaian target organisasi, tetapi juga memperhatikan kebutuhan, kesejahteraan, dan peningkatan kemampuan setiap anggota tim. Model kepemimpinan ini memiliki karakteristik utama berupa kemampuan pemimpin dalam memberikan pengaruh positif melalui keteladanan, membangun motivasi, memberikan perhatian secara personal, serta mendorong anggota untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam menghadapi berbagai tantangan3,4.

Model kepemimpinan transformasional memiliki kesesuaian dengan karakteristik ENFJ-T yang berfokus pada hubungan antarindividu dan membantu mereka mengembangkan kemampuan diri. Seorang pemimpin transformasional tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga berusaha memahami kebutuhan anggota tim, memberikan dukungan, dan menciptakan lingkungan yang membuat setiap individu merasa memiliki kontribusi penting. Saya mampu memahami sudut pandang orang lain sehingga dapat membantu menciptakan hubungan kerja yang harmonis.

Meskipun demikian, terdapat keterbatasan yang dapat memengaruhi penerapan model kepemimpinan ini. Kecenderungan untuk terlalu mempertimbangkan perasaan anggota tim dapat membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih lama. Selain itu, keinginan untuk membantu semua orang terkadang dapat menyebabkan beban kerja meningkat. Oleh karena itu, saya perlu menyeimbangkan antara sikap empati dengan kemampuan berpikir kritis, menentukan prioritas, dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan organisasi.


Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Sebagai individu dengan kepribadian ENFJ-T, saya merasa bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan pendekatan yang sesuai untuk saya terapkan dalam mengelola kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X. Karakteristik ENFJ-T yang saya miliki mendorong saya untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain, memiliki kepedulian terhadap kebutuhan anggota tim, dan berusaha menciptakan perubahan yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Dalam kolaborasi antarprofesi, saya akan menerapkan kepemimpinan transformasional melalui komunikasi yang terbuka, penghargaan terhadap setiap kontribusi profesi, dan penguatan kerja sama tim. Saya akan menciptakan lingkungan kerja yang setara dan suportif agar seluruh tenaga kesehatan dapat berkolaborasi secara efektif dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pasien5.  Selain itu, karakter peduli terhadap orang lain dalam diri membantu saya lebih peka terhadap kondisi, kendala, dan kebutuhan yang dirasakan oleh pasien maupun tenaga kesehatan, sehingga saya dapat menciptakan suasana kerja yang nyaman, terbuka, dan saling mendukung.

Dalam pelaksanaan kegiatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), saya akan menggunakan prinsip kepemimpinan transformasional untuk mengembangkan program penanganan TB-HIV secara optimal. Dalam menjalankan kegiatan lintas program penanganan TB-HIV, terdapat beberapa aspek utama yang menjadi fokus perhatian saya, yaitu:

  1. Advokasi

Sebagai pemimpin dengan karakter ENFJ-T, saya akan melakukan advokasi dengan membangun komunikasi yang terarah kepada pihak-pihak terkait pentingnya program penanganan TB-HIV. Saya akan menyampaikan tujuan program, permasalahan yang terjadi di masyarakat, dan dampak positif dari penguatan layanan TB-HIV kepada kepala puskesmas, pemerintah daerah, kader kesehatan, dan masyarakat.

  1. Penguatan tim

Dalam membangun tim, saya akan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang nyaman sehingga setiap anggota merasa dihargai dan memiliki peran penting dalam program. Saya akan mendorong komunikasi terbuka, memberikan motivasi, dan membantu anggota tim mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. 

  1. Koordinasi lintas sektor

Saya akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak seperti pemerintah daerah, organisasi masyarakat, kader kesehatan, serta komunitas untuk memperkuat pelaksanaan program TB-HIV. Dalam proses koordinasi, saya akan mengutamakan hubungan yang baik dan komunikasi yang jelas agar setiap pihak memahami peran dan kontribusinya.

  1. Kolaborasi interprofesional

Dalam kolaborasi antarprofesi, saya akan menerapkan prinsip kepemimpinan transformasional dengan memberikan contoh melalui komunikasi yang terbuka, menghargai pendapat setiap profesi, dan mendorong kerja sama tim. Saya akan berusaha menciptakan suasana kerja di mana dokter, perawat, tenaga laboratorium, dan tenaga kesehatan lainnya dapat saling mendukung tanpa merasa bahwa satu profesi lebih dominan dibandingkan profesi lainnya.

  1. Monitoring dan evaluasi

Dalam proses monitoring dan evaluasi, saya akan melakukan pengawasan terhadap indikator keberhasilan program seperti jumlah penemuan kasus TB-HIV, kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, keberhasilan terapi, serta hambatan yang ditemukan selama pelaksanaan program. Saya akan melibatkan anggota tim dalam proses evaluasi agar setiap individu dapat memberikan masukan dan ide perbaikan.


Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL), saya dapat menerapkan model kepemimpinan transformasional dalam meningkatkan mutu pelayanan, khususnya pada aspek keselamatan pasien dan tenaga kesehatan. Kolaborasi interprofesional merupakan bentuk kerja sama antara berbagai tenaga kesehatan dari latar belakang profesi yang berbeda dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Kolaborasi ini berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta mendukung tercapainya keselamatan dan kesehatan pasien. Pelaksanaan kolaborasi interprofesional membutuhkan adanya komunikasi yang efektif, kerja sama yang baik, serta koordinasi antarprofesi agar setiap tenaga kesehatan dapat menjalankan perannya secara optimal dan pelayanan yang diberikan menjadi lebih menyeluruh6

Model ini sesuai dengan karakteristik ENFJ-T yaitu memiliki kepedulian terhadap orang lain, mampu membangun hubungan positif, dan memiliki keinginan untuk mendorong perubahan yang lebih baik. Sebagai pemimpin, saya akan berusaha menciptakan budaya kerja yang terbuka, saling menghargai, dan mendukung kolaborasi antarprofesi agar seluruh tenaga kesehatan memiliki tujuan yang sama dalam memberikan pelayanan yang aman dan berkualitas. Dengan karakter ENFJ-T yang mengutamakan empati dan pemahaman terhadap orang lain, saya akan berusaha menjadi pemimpin yang mampu memberikan motivasi, dukungan, dan penghargaan kepada anggota tim sehingga tercipta kerja sama yang baik dalam meningkatkan mutu pelayanan. Dalam penerapannya, saya akan berfokus pada peningkatan komunikasi efektif sebagai salah satu sasaran keselamatan pasien. Upaya yang akan saya lakukan dalam meningkatkan komunikasi efektif:

  1. Membangun kesadaran dan komitmen tim

Saya akan mengajak seluruh anggota tim untuk memahami pentingnya komunikasi efektif dalam menjaga keselamatan pasien. Saya akan menjelaskan bahwa setiap profesi kesehatan memiliki peran penting dalam memastikan informasi pasien tersampaikan secara benar. Dengan pendekatan kepemimpinan transformasional, saya akan memberikan motivasi agar anggota tim tidak hanya menjalankan komunikasi sebagai kewajiban, tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan pasien.

  1. Melakukan evaluasi terhadap sistem komunikasi yang berjalan
    Saya akan melakukan evaluasi untuk mengetahui hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi antar tenaga kesehatan, seperti:

  1. Informasi pasien yang kurang lengkap saat pergantian shift

  2. Kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi pasien

  3. Kurangnya koordinasi antarprofesi

  1. Meningkatkan kemampuan komunikasi tenaga kesehatan

Saya akan mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan komunikasi efektif, salah satunya dengan penerapan metode Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR). Metode ini membantu tenaga kesehatan menyampaikan informasi pasien secara sistematis sehingga risiko kesalahan komunikasi dapat diminimalkan. Selain pelatihan, saya juga akan menyediakan ruang diskusi agar anggota tim dapat saling bertukar pengalaman dan mencari solusi bersama6,7.

  1. Membangun budaya keselamatan pasien

Saya akan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keterbukaan dan pembelajaran. Setiap anggota tim akan didorong untuk berani menyampaikan kendala, melaporkan risiko keselamatan pasien, dan memberikan masukan tanpa takut disalahkan. Menurut saya, kesalahan pelayanan harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem, bukan hanya mencari pihak yang bertanggung jawab.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil asesmen MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ENFJ-T yang menunjukkan karakter peduli terhadap orang lain, mampu membangun hubungan, dan memiliki keinginan untuk menciptakan perubahan positif. Karakteristik tersebut sesuai dengan model kepemimpinan transformasional yang berfokus pada pemberian motivasi, inspirasi, serta pengembangan anggota tim. Dalam penerapannya di FKTP atau FKTL, saya dapat menerapkan kepemimpinan transformasional melalui komunikasi efektif, penguatan kerja sama tim, kolaborasi antarprofesi, dan membangun budaya keselamatan pasien. Meskipun memiliki kelebihan dalam empati dan komunikasi, saya perlu terus mengembangkan kemampuan dalam mengambil keputusan secara tegas dan mengelola konflik. Dengan pengembangan diri yang berkelanjutan, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Daftar Pustaka

  1. Suryana A. Kepemimpinan dalam Pendidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. 2010.

  2. 16 Personalities. Protagonist Personality. 16 Personalities. NERIS Analytics Limited; 2025.

  3. Muntatsiroh A, Hendriani S. Tipe-tipe kepemimpinan dan teori kepemimpinan dalam suatu organisasi. J Economic Edu. 2024;4(2):172-178.

  4. Rhama Lenasari, Zulhimma. Memahami Kepemimpinan Transformational dengan Kepemimpinan Visioner dan Situasional. Jurnal Transformasi Pendidikan Modern. 2026;7(1).

  5. Mangindara, Irwan Z, Oktaviani A. View of Hubungan Penerapan Interprofessional Collaboration dengan Penerapan Patient Safety di RSUD Haji Makassar. Journal of Health Quality Development. 2026; 4(2): 84-85.

  6. Christina LV, Susilo AP. Penggunaan Metode SBAR untuk Komunikasi Efektif antara Tenaga Kesehatan dalam Konteks Klinis. KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran. 2021 Dec 31;3(1):57–63.

  7. Haig KM, Sutton S, Whittington J. SBAR: a Shared Mental Model for Improving Communication between Clinicians. The Joint Commission Journal on Quality and Patient Safety. 2006 Mar;32(3).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T