ENFJ-A: EMPATI, INSPIRASI, DAN TRANSFORMASI
Naquita Claraneva Eknaputria
23.P1.0033
Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan Latar Belakang Personal
Gambar 1. ENTJ personality
Berdasarkan hasil tes MBTI (Myers-Briggs Type Indicator), saya memperoleh tipe kepribadian ENFJ-A (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging, dengan subtipe Assertive), tipe ini dikenal sebagai The Protagonist, yaitu seseorang yang senang bekerja dengan orang lain, memiliki empati dan sensitivitas yang tinggi, serta mampu memberikan motivasi dan dukungan ke lingkungan sekitarnya1. Selain itu, Assertive menunjukkan kestabilan emosional yang baik saat menghadapi tekanan, saya merasa hasil tes tersebut cukup akurat menggambarkan diri saya. Saya lebih nyaman bekerja dalam kelompok, melakukan diskusi, dan bersosialisasi dengan banyak orang dibandingkan bekerja sendiri. Saya juga cenderung memperhatikan kondisi orang lain dan berusaha menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar2.
Sesuai dengan karakter Extraverted ketertarikan saya terhadap dunia sosial dimulai sejak saya mengikuti organisasi di SMP dan SMA. Saya aktif mengikuti berbagai perlombaan dan kegiatan kepanitiaan, hal tersebut membuat saya terbiasa bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan banyak orang, dan belajar menyelesaikan permasalahan bersama. Selain itu, saya juga beberapa kali mengikuti kegiatan volunteer bersama komunitas LENSA (Lentera Kasih untuk Sesama). Dari kegiatan ini saya belajar mengenai kepedulian, empati, dan pentingnya memberikan manfaat yang nyata bagi orang lain, nilai-nilai tersebut sampai sekarang masih saya terapkan dalam cara saya bersosialisasi.
Gambar 2. Kegiatan volunteer bersama komunitas LENSA
Saat kuliah, saya aktif dalam kepanitiaan dan organisasi Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Saya sering terlibat dalam koordinasi kegiatan dan sekaligus menjadi penghubung aspirasi antara mahasiswa dengan jajaran Dekanat Fakultas. Hal tersebut menuntut saya untuk meningkatkan kemampuan dalam membaca situasi, mengendalikan ego, dan tetap tegas pada prinsip, yang mencerminkan karakter Feeling dan Extraverted dalam diri saya.
Gambar 3. Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Selain itu saya juga aktif dalam komunitas selam bernama Odyssey Freedive sebagai bendahara sekaligus divisi kreatif. Saya bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan dan koordinasi berbagai kegiatan komunitas, saya juga ikut merancang konten agar kegiatan komunitas bisa menarik lebih banyak orang. Kegiatan ini merupakan hobi yang ternyata memberikan saya relasi dan pengalaman bersosialisasi yang lebih baik. Dari tanggung jawab yang saya pegang mencerminkan perpaduan karakter judging yang terstruktur dan intuitive yang senang mengeksplorasi ide-ide baru.
Gambar 4. Komunitas Odyssey Freedive
Di luar kegiatan akademik dan organisasi, saya juga membantu mengelola usaha milik keluarga. Saya terlibat dalam negosiasi dengan buyer dan supplier, mencari penawaran terbaik, serta turut dalam pengambilan keputusan usaha. Pengalaman ini mengajarkan saya bagaimana seorang pemimpin harus berani mengambil risiko, dapat menjalin hubungan baik dengan pihak yang memiliki kepentingan berbeda, serta disiplin dalam pengelolaan sehingga usaha dapat berjalan secara terstruktur, yang menurut saya juga relevan untuk kepemimpinan di bidang kesehatan.
Meskipun memiliki beberapa kelebihan, saya menyadari masih banyak hal yang perlu saya kembangkan sebagai seorang pemimpin. Saya memiliki sifat perfeksionis, saya ingin segala sesuatu berjalan sempurna dan sesuai harapan, saya selalu menyiapkan beberapa plan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, hal tersebut terkadang membuat saya terlalu lama mempertimbangkan keputusan. Padahal dalam konteks klinis pemimpin diharuskan bertindak cepat dalam mengambil keputusan, sehingga ini dapat menjadi hambatan. Selain itu, saya juga cukup sulit untuk menolak permintaan orang lain. Saya sering merasa tidak enak dan ingin menjaga hubungan baik, sehingga terkadang saya menerima terlalu banyak tanggung jawab secara bersamaan. Kemampuan untuk menetapkan batasan tanpa merasa bersalah adalah sesuatu yang masih terus saya pelajari. Saya juga cukup sensitif terhadap kritik personal. Ketika ada evaluasi atau konflik, saya cenderung memikirkan kekurangan dan kritik yang disampaikan dalam waktu yang cukup lama, karena berhubungan dengan sifat perfeksionis saya yang menganggap semua hal dapat berjalan dengan baik. Saya menyadari bahwa seorang pemimpin harus mampu menerima kritik dan mengambil keputusan terbaik meski tidak selalu menyenangkan bagi semua pihak. Oleh karena itu, saya harus belajar untuk tegas dalam pengambilan keputusan dan mengelola emosi dengan baik.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Berdasarkan karakter saya, model kepemimpinan yang relevan adalah kepemimpinan transformasional. Pemimpin transformasional merupakan seseorang yang mampu menginspirasi orang-orang di sekitarnya untuk bergerak melampaui kepentingan pribadi demi tujuan yang lebih besar3. Ada empat komponen dalam model ini, yaitu Idealized Influence, Inspirational Motivation, Intellectual Stimulation serta Individualized Consideration3. Model ini sesuai dengan cara saya memimpin karena saya lebih nyaman berkomunikasi secara jelas dan rinci, bekerja sama, dan melakukan pendekatan interpersonal. Kemampuan tersebut merupakan kekuatan yang dapat mendukung model kepemimpinan ini. Idealized Influence terlihat dari kebiasaan saya untuk bertindak konsisten dan peduli terhadap orang lain, yang dapat menjadi teladan bagi anggota tim. Inspirational Motivation berkaitan dengan kemampuan komunikasi sosial saya yang baik. Intellectual Stimulation sesuai dengan sisi intuitive saya yang senang mengeksplorasi ide dan mendorong tim untuk selalu upgrade jika ada sesuatu yang dinilai lebih baik. Individualized Consideration berkaitan dengan karakter feeling, saya selalu memperhatikan kondisi setiap orang dalam tim dan menyesuaikan pembagian tanggung jawab sesuai kemampuannya.
Kekuatan utama saya dalam menerapkan model ini terletak pada kemampuan membangun relasi, komunikasi yang baik, dan sensitivitas terhadap situasi tim. Namun, sifat perfeksionis, kesulitan menolak permintaan orang lain, dan sensitivitas terhadap kritik masih menjadi tantangan yang perlu saya benahi agar tidak mengurangi efektivitas kepemimpinan saya. Kelelahan dari segi emosional karena terlalu banyak mengambil alih beban orang lain juga merupakan risiko bagi saya, terutama dalam lingkungan kerja kesehatan yang penuh tekanan.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV
Gambar 5. Human Immunodeficiency Virus and Tuberculosis
Apabila saya menjadi koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya akan menerapkan kepemimpinan transformasional dengan mengutamakan komunikasi, kolaborasi, dan kerja sama tim. Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah menyamakan persepsi dengan semua sektor yang akan berkontribusi dalam program ini mengenai pentingnya integrasi program TB dan HIV. Selanjutnya, saya akan membentuk tim yang melibatkan dokter, perawat, petugas TB, petugas HIV, tenaga laboratorium, dan farmasi. Setiap anggota diberikan tanggung jawab dan tugas yang jelas sehingga pelayanan dapat berjalan dengan optimal. Koordinasi lintas sektor juga perlu dilakukan, contohnya dengan kader kesehatan, tokoh masyarakat, dinas kesehatan, dan fasilitas kesehatan rujukan4. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan deteksi kasus dan mendukung keberhasilan pengobatan4. Koordinasi dapat dilakukan melalui pertemuan rutin dan diskusi kasus sehingga seluruh anggota tim dapat menyampaikan pendapat dan mencari solusi bersama. Pemantauan dan evaluasi dilakukan dengan melihat prevalensi skrining TB-HIV, keberhasilan pengobatan, kepatuhan pasien, dan angka putus berobat.
Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah adanya dukungan program nasional TB-HIV dan keterlibatan kader kesehatan5,6. Hal tersebut dapat meringankan beban program karena telah didukung oleh banyak pihak. Sementara itu, tantangan yang mungkin muncul adalah stigma buruk dari masyarakat, kepatuhan pasien yang rendah, dan keterbatasan sumber daya. Sebagai seseorang yang memiliki empati tinggi dan senang membantu orang lain, saya akan berusaha membangun komunikasi yang baik dengan pasien dan masyarakat sehingga stigma terhadap TB-HIV bisa berkurang.
Aplikasi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut: Peningkatan Mutu pada Sasaran Komunikasi Efektif
Pada fasilitas kesehatan tingkat lanjut, saya memilih sasaran keselamatan pasien berupa komunikasi efektif. Saya ini karena komunikasi yang baik sangat berpengaruh terhadap keselamatan pasien. Kesalahan komunikasi dapat menyebabkan misinformasi, kesalahan tindakan, dan penurunan kualitas pelayanan7. Sebagai pemimpin tim peningkatan mutu, saya akan melakukan evaluasi terhadap masalah komunikasi yang dapat terjadi di fasilitas kesehatan, seperti kesalahan saat serah terima pasien maupun informasi yang tidak tersampaikan dengan baik. Saya akan mengadakan pelatihan komunikasi efektif agar tenaga kesehatan memiliki standar komunikasi yang sama. Selain itu, saya akan menerapkan budaya kerja yang terbuka sehingga tenaga kesehatan merasa nyaman untuk memberikan masukan dan melaporkan kesalahan tanpa takut dihakimi. Pemantauan dilakukan melalui evaluasi kejadian keselamatan pasien dan audit komunikasi.
Tantangan yang mungkin muncul adalah kebiasaan komunikasi yang kurang efektif dan tingginya beban kerja tenaga kesehatan. Sebagai pribadi yang cukup sensitif terhadap perasaan orang lain, saya berharap dapat membangun suasana kerja yang saling menghargai dan melengkapi. Namun, saya juga perlu belajar untuk lebih tegas dalam mengambil keputusan dan memberikan evaluasi, walau akan menimbulkan perasaan kurang nyaman, namun hal tersebut dapat saya hindari jika penyampaian dilakukan dengan baik dan efektif. Melalui kepemimpinan transformasional, saya berharap dapat menciptakan budaya komunikasi yang baik sehingga keselamatan pasien dan tenaga kesehatan dapat terus ditingkatkan.
Kesimpulan
Hasil tes MBTI menunjukkan bahwa saya memiliki tipe kepribadian ENFJ-A yang memiliki karakteristik komunikatif, empatik, dan senang untuk bekerja sama. Karakteristik tersebut sesuai dengan diri saya karena saya senang bersosialisasi dan mengikuti kegiatan sosial yang mengharuskan saya untuk berkomunikasi dengan baik dan berempati dengan sesama. Model kepemimpinan transformasional saya pilih karena paling sesuai dengan cara saya membangun hubungan, memotivasi orang lain, dan menciptakan kerja sama dalam tim. Saya menyadari bahwa masih terdapat beberapa kekurangan, seperti perfeksionisme, sulit menolak permintaan orang lain, dan sensitif terhadap kritik, yang perlu saya benahi. Namun kesadaran akan kekurangan saya dapat menjadi acuan pengembangan diri. Sebagai calon dokter, saya percaya bahwa kepemimpinan merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik dan berkualitas.
Daftar Pustaka
- Woods RA, Hill PB. Myers-Briggs Type Indicator. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing, 2026. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554596/
- ENFJ Personality Protagonist. 16Personalities. Available from: https://www.16personalities.com/enfj-personality
- Deng C, Gulseren D, Isola C, Grocutt K, Turner N. Transformational Leadership Effectiveness: An Evidence-Based Primer. Hum Resour Dev Int 2023;26(5):627–641.
- Guidelines for Collaborative TB-HIV Activities. World Health Organ. Available from: https://www.who.int/indonesia/news/publications/other-documents/guidelines-for-collaborative-tb-hiv-activities
- Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Di Indonesia 2020-2024. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Available from: https://repository.kemkes.go.id/book/567
- Eril E. Rencana Aksi Nasional Pencegahan Dan Pengendalian HIV AIDS Dan PIMS Di Indonesia Tahun 2020-2024. Jar. Indones. Positif. 2022 Available from: https://jip.or.id/rencana-aksi-nasional-pencegahan-dan-pengendalian-hiv-aids-dan-pims-di-indonesia-tahun-2020-2024/
- Janagama SR, Strehlow M, Gimkala A, et al. Critical Communication: A Cross-sectional Study of Signout at the Prehospital and Hospital Interface. Cureus 12(2):e7114.


Komentar
Posting Komentar