Di Balik Keheningan Seorang ISTP-T: Refleksi Kepemimpinan dalam Pelayanan Kesehatan

Di Balik Keheningan Seorang ISTP-T: Refleksi Kepemimpinan dalam Pelayanan Kesehatan

NAMA : Stanley Luther Kogoya

NIM : 21.P1.0040

Pernyataan orisinalitas

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

                     

    Konteks dan latar belakang personal

    Berdasarkan hasil assessment Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), saya ternyata memiliki tipe kepribadian ISTP-T (Introverted, Sensing, Thinking, Perceiving, Turbulent)1. Sebagai seorang ISTP, saya tidak terlalu tertarik pada teori abstrak yang mengawang-awang; saya lebih didorong oleh keinginan kuat untuk memahami bagaimana suatu sistem bekerja secara mekanis dan langsung memperbaiki komponen yang rusak (troubleshooting)2. Karakter Turbulent (-T) membuat saya cenderung memiliki sifat perfeksionis dan lebih mawas diri terhadap hasil yang saya capai. Namun, di sisi lain, karakteristik ini juga membuat saya lebih mudah merasa cemas atau meragukan kemampuan diri sendiri (self-doubt) ketika menghadapi situasi yang tidak pasti atau penuh tekanan¹. Karakteristik tersebut cukup mencerminkan cara saya menjalani berbagai aktivitas akademik selama menempuh perkuliahan. Meskipun saya tidak aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan yang penuh formalitas, karakteristik ISTP-T ini tetap terlihat nyata saat saya menyelesaikan tugas praktikum atau proyek kelompok. Dalam dinamika diskusi akademik, saya cenderung pasif mengamati fakta riil kelompok, karena sifat Introverted yang dominan, saya tetap lebih menyukai porsi kerja mandiri yang tenang dan efisien2. Saya sering merasa kurang nyaman ketika harus mengikuti diskusi kelompok yang terlalu panjang atau dipenuhi prosedur yang berbelit-belit, karena saya lebih menyukai proses kerja yang efisien dan berfokus pada pencapaian solusi. Melalui refleksi diri yang mendalam, hal penting yang masih perlu saya kembangkan sebagai seorang pemimpin masa depan adalah keberanian untuk tampil mengomunikasikan ide secara asertif serta meningkatkan kecerdasan emosional (EQ). Sifat ISTP yang terlalu fokus pada solusi teknis-faktual sering kali membuat saya kurang peka terhadap dinamika emosi tim, sehingga saya cenderung menahan diri untuk memimpin diskusi secara langsung dan terlihat dingin di permukaan. Selain itu, sebagai seorang Turbulent, saya harus belajar mengelola kecemasan internal secara mandiri.

   Model kepemimpinan yang relevan

    Berdasarkan karakteristik kepribadian ISTP-T yang saya miliki, saya menilai bahwa Model Kepemimpinan Situasional (Situational Leadership) yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk saya terapkan3. Model ini menekankan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan yang efektif untuk semua kondisi. Seorang pemimpin perlu menyesuaikan cara memimpin dengan tingkat kesiapan, kompetensi, dan motivasi anggota tim3. Penyesuaian tersebut dapat dilakukan melalui empat gaya kepemimpinan, yaitu mengarahkan (directing), melatih (coaching), mendukung (supporting), dan mendelegasikan (delegating)4Saya memilih model ini karena sesuai dengan karakter saya yang cenderung fleksibel, realistis, dan lebih mengutamakan kondisi nyata di lapangan dibandingkan mengikuti satu pendekatan yang bersifat kaku. Dalam berbagai tugas kelompok selama perkuliahan, saya sering bekerja bersama teman-teman yang memiliki kemampuan, pengalaman, dan cara kerja yang berbeda. Kondisi tersebut membuat saya menyadari bahwa setiap anggota tim membutuhkan pendekatan yang tidak selalu sama. Ada anggota yang memerlukan arahan lebih jelas, sementara yang lain justru lebih berkembang ketika diberikan kepercayaan untuk bekerja secara mandiri4Di sisi lain, saya menyadari bahwa penerapan model kepemimpinan situasional juga dipengaruhi oleh keterbatasan yang saya miliki. Saya cenderung lebih pendiam pada awal kerja sama, mudah merasa jenuh apabila diskusi berlangsung terlalu lama tanpa arah yang jelas, serta memiliki kecenderungan perfeksionis terhadap hasil pekerjaan. Apabila menghadapi anggota tim yang membutuhkan pendampingan secara intensif, saya perlu belajar untuk lebih sabar dalam berkomunikasi dan menyesuaikan cara penyampaian arahan. Oleh karena itu, saya menyadari bahwa menjadi pemimpin tidak hanya membutuhkan kemampuan menyelesaikan masalah, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi, memahami karakter anggota tim, serta menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan situasi yang dihadapi.

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV 

    Apabila saya dipercaya menjadi koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di salah satu Puskesmas , saya akan menerapkan Model Kepemimpinan Situasional dengan menyesuaikan gaya kepemimpinan berdasarkan kondisi dan kesiapan anggota tim5. Langkah pertama yang saya lakukan adalah memahami pelaksanaan program TB-HIV serta mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi di lapangan. Dalam pelaksanaannya, saya akan melakukan advokasi kepada Kepala Puskesmas dengan memanfaatkan data epidemiologi TB-HIV sebagai dasar pengambilan keputusan dan penguatan dukungan program6. Selanjutnya, saya akan memperkuat tim dengan menerapkan pendekatan coaching kepada petugas baru, sedangkan petugas yang telah berpengalaman akan didukung melalui pendekatan supporting sesuai kebutuhannya4. Saya juga akan membangun koordinasi lintas sektor bersama kader kesehatan dan lembaga terkait serta mendorong kolaborasi antar profesi melalui penyusunan alur pelayanan yang terintegrasi agar pelayanan kepada pasien menjadi lebih efektif. Monitoring dan evaluasi akan dilakukan secara berkala dengan memanfaatkan data dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dan Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA)5. Tantangan yang mungkin muncul adalah tingginya beban administrasi serta perbedaan kemampuan anggota tim. Untuk mengatasinya, saya akan memanfaatkan sistem pelaporan digital dan mendelegasikan tugas sesuai kompetensi masing-masing anggota sehingga pekerjaan dapat berjalan lebih efisien.

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk
peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

    Apabila saya menjadi pemimpin tim peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan memfokuskan upaya pada Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) ke-2, yaitu peningkatan komunikasi yang efektif7. Menurut saya, komunikasi yang kurang efektif saat proses handover merupakan salah satu penyebab terjadinya kesalahan dalam pelayanan. Oleh karena itu, saya akan menerapkan metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) dan teknik TBAK (Tulis, Baca, Konfirmasi Kembali) sebagai standar komunikasi agar penyampaian informasi antarpetugas menjadi lebih jelas dan konsisten7. Sebagai pemimpin, saya akan menerapkan Model Kepemimpinan Situasional dengan menyesuaikan pendekatan terhadap kondisi masing-masing unit kerja. Pada unit yang kepatuhannya masih rendah, saya akan menggunakan gaya directing melalui arahan, pendampingan, dan evaluasi berkala4. Sementara itu, pada unit yang sudah mampu menjalankan prosedur dengan baik, saya akan menerapkan gaya delegating dengan memberikan kepercayaan kepada tim untuk mempertahankan mutu pelayanan secara mandiri4. Saya juga ingin membangun budaya keselamatan (safety culture) yang mendorong setiap tenaga kesehatan untuk melaporkan kesalahan tanpa rasa takut disalahkan. Menurut saya, sebagian besar insiden komunikasi tidak hanya disebabkan oleh kesalahan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem kerja yang belum berjalan optimal8. Tantangan yang mungkin dihadapi adalah masih adanya kebiasaan sebagian tenaga kesehatan yang belum menerapkan prosedur komunikasi secara konsisten. Namun, adanya standar akreditasi rumah sakit terkait Sasaran Keselamatan Pasien menjadi peluang untuk meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur tersebut7. Sebagai langkah antisipasi, saya akan mendorong pemanfaatan Rekam Medis Elektronik (RME) dan checklist digital untuk mendukung proses komunikasi sehingga risiko kesalahan dapat diminimalkan.

Kesimpulan

    Secara keseluruhan, karakteristik ISTP-T membantu saya menjadi pribadi yang logis, tenang, dan berorientasi pada penyelesaian masalah. Model Kepemimpinan Situasional juga sesuai dengan karakter saya karena memberikan fleksibilitas dalam menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan kebutuhan anggota tim. Melalui pendekatan ini, saya berharap dapat meningkatkan kolaborasi, mutu pelayanan, dan keselamatan pasien baik di puskesmas maupun di rumah sakit. Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa kemampuan komunikasi, kesabaran dalam membimbing anggota tim, dan kecerdasan emosional masih perlu terus saya kembangkan agar dapat menjadi pemimpin yang lebih efektif di bidang pelayanan kesehatan.

Refrensi

  1. NERIS Analytics Limited. Virtuoso Personality (ISTP, -A/-T) [Internet]. 16Personalities; 2020 [cited 2026 Jun 28]. Available from: https://www.16personalities.com/istp-personality

  2. Myers IB, Myers PB. Gifts Differing: Understanding Personality Type. Palo Alto (CA): Davies-Black Publishing; 1995.

  3. Hersey P, Blanchard KH. Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources. 5th ed. Englewood Cliffs (NJ): Prentice Hall; 1988.

  4. Northouse PG. Leadership: Theory and Practice. 9th ed. Thousand Oaks (CA): SAGE Publications; 2021.

  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rencana Aksi Nasional Penanggulangan TB-HIV di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.

  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Kemenkes RI; 2019.

  7. Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Standar Akreditasi Rumah Sakit Kemenkes (STARKES) - Sasaran Keselamatan Pasien (SKP). Jakarta: KARS; 2022.

  8. Reason J. Human error: models and management. BMJ. 2000 Mar 18;320(7237):768-770.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T