Cara Aku Mengatasi Kehidupan sebagai ISTJ-A

Nama: Ardelia Salvia Fitri


NIM: 23.P1.0054


Pernyataan orisinalitas karya tulis: 

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.




  1. Latar belakang 

Berdasarkan hasil tes kepribadian MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ISTJ-A. Tipe kepribadian ini menggambarkan diri saya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam cara berpikir, mengambil keputusan, berinteraksi dengan orang lain, serta menyelesaikan berbagai tanggung jawab yang saya miliki. Saya termasuk orang yang suka semuanya teratur dan terencana, saya merasa nyaman ketika memiliki jadwal yang jelas mengenai apa yang harus saya lakukan, sebelum memulai suatu kegiatan, saya biasanya membuat daftar tugas atau menentukan prioritas agar dapat diselesaikan dengan efektif. Ketika ada tugas kuliah saya lebih suka mengerjakannya secara nyicil bertahap daripada mendekati batas waktu1

Saya dikenal sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Jika saya sudah menyetujui suatu tanggung jawab, saya akan berusaha menyelesaikannya dengan sebaik mungkin. Dalam mengambil keputusan, saya lebih mengandalkan logika, fakta, dan pertimbangan yang rasional daripada emosi, saya cenderung mengumpulkan informasi terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan, saya ketika menghadapi suatu masalah lebih fokus mencari penyebab dan solusi yang dapat diterapkan daripada memikirkan perasaan negatif yang muncul, sikap ini membantu saya tetap tenang saat menghadapi tekanan atau situasi yang menuntut pengambilan keputusan secara cepat. Sebagai seorang introvert, saya lebih menikmati waktu dalam kelompok kecil atau bersama orang-orang yang sudah dekat dengan saya, saya tidak bisa menjadi orang yang aktif dalam percakapan pada lingkungan baru, saya membutuhkan waktu untuk mengenal orang lain sebelum merasa nyaman untuk berbicara lebih banyak, tetapi ketika sudah dekat saya dapat menjadi pendengar yang baik dan memberikan dukungan kepada teman-teman1

Saya merasa lebih mudah memahami sesuatu melalui contoh nyata dan pengalaman langsung dibandingkan konsep yang tidak jelas, saya juga lebih sering memperhatikan detail kecil yang terkadang tidak disadari oleh orang lain. Sebagai Assertive (A), saya merasa percaya diri terhadap keputusan yang saya ambil dan biasanya tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, tetapi ketika menghadapi kritik saya tetap menerimanya untuk memperbaiki diri. Saya relatif tenang ketika menghadapi tekanan karena percaya bahwa setiap masalah dapat diselesaikan dengan usaha dan pemikiran yang tepat. Saya terkadang merasa kecewa ketika harus menghadapi perubahan yang mendadak atau situasi yang tidak sesuai dengan rencana2.

  1. Model kepemimpinan yang relevan

Karakteristik saya sebagai ISTJ-A (Introverted, Sensing, Thinking, Judging, Assertive) menurut saya paling sesuai dengan model kepemimpinan transaksional. Model kepemimpinan ini menekankan pembagian tugas yang jelas, kepatuhan terhadap aturan, komunikasi yang terstruktur, serta adanya pengawasan dan evaluasi terhadap hasil kerja. Saya memilih model ini karena sesuai dengan cara saya bekerja yang lebih menyukai keteraturan dan kejelasan dalam setiap proses. Saya merasa lebih nyaman jika tujuan yang ingin dicapai sudah ditentukan sejak awal dan setiap anggota tim mengetahui peran serta tanggung jawabnya masing-masing. Karakteristik yang saya miliki juga cukup sejalan dengan karakteristik seorang pemimpin transaksional. Sebagai pribadi ISTJ-A, saya terbiasa berpikir secara logis, objektif, dan lebih mengutamakan fakta dalam mengambil keputusan, saya juga lebih suka bekerja berdasarkan aturan dan prosedur yang sudah ditetapkan karena menurut saya cara tersebut membuat pekerjaan menjadi lebih teratur dan meminimalkan kesalahan, saya termasuk orang yang bertanggung jawab dan berusaha menyelesaikan setiap tugas dengan baik sesuai target yang telah ditentukan3

Saya menyadari masih ada beberapa hal yang perlu saya perbaiki, saya cenderung lebih nyaman jika segala sesuatu sudah direncanakan dengan baik sehingga terkadang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri ketika terjadi perubahan secara tiba-tiba, saya juga terkadang sulit menerima cara kerja yang berbeda dari kebiasaan saya karena lebih percaya pada metode yang sudah terbukti berjalan dengan baik. Selain itu, sebagai pribadi yang cenderung introvert, saya masih perlu melatih kemampuan komunikasi, terutama dalam memberikan motivasi, membangun hubungan yang lebih dekat dengan anggota tim, dan mendorong mereka agar lebih aktif menyampaikan pendapat. Untuk kedepannya, saya ingin terus belajar agar bisa menjadi pemimpin yang lebih baik, saya harus meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan seperti lebih terbuka menerima saran maupun ide dari orang lain, serta mengembangkan kemampuan komunikasi agar kerja sama dalam tim dapat berjalan lebih efektif. Saya juga ingin belajar menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan situasi yang dihadapi sehingga tidak hanya berfokus pada aturan dan target, tetapi juga memperhatikan kebutuhan setiap anggota tim. Dengan begitu, saya berharap dapat menerapkan kepemimpinan transaksional secara lebih efektif sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang produktif, saling mendukung, dan mampu mencapai tujuan bersama4.

  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Model kepemimpinan transaksional merupakan model kepemimpinan yang menekankan pencapaian tujuan melalui pembagian tugas yang jelas, kepatuhan terhadap standar kerja, serta monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan. Model ini relevan diterapkan dalam kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X karena penanganan TB-HIV memerlukan koordinasi yang terstruktur, kepatuhan terhadap pedoman program, dan keterlibatan berbagai tenaga kesehatan serta sektor terkait. Dalam pelaksanaannya, kepala puskesmas atau koordinator program berperan sebagai pemimpin yang menetapkan tujuan, indikator kinerja, dan tanggung jawab setiap anggota tim. Tim yang terlibat meliputi pemegang program TB, program HIV/AIDS, tenaga laboratorium, farmasi, promosi kesehatan, surveilans, serta tenaga medis dan keperawatan5.

  1. Advokasi

Pemimpin melakukan advokasi kepada pemerintah desa, kecamatan, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan dukungan terhadap program TB-HIV. Advokasi dilakukan dengan menyampaikan data epidemiologi, dampak penyakit, serta pentingnya deteksi dini dan kepatuhan pengobatan. Melalui pendekatan ini diharapkan tersedia dukungan kebijakan, sumber daya, dan partisipasi masyarakat dalam upaya pengendalian TB-HIV. 

  1. Penguatan tim

Kepemimpinan transaksional diterapkan dengan menetapkan peran dan tanggung jawab yang jelas bagi setiap anggota tim. Pemimpin memastikan seluruh petugas memahami tugas masing-masing, mulai dari skrining, diagnosis, pengobatan, pelacakan kontak, hingga edukasi pasien. Selain itu, dilakukan pelatihan dan pembinaan berkala untuk meningkatkan kompetensi petugas dalam pelaksanaan kolaborasi TB-HIV. 

  1. Koordinasi Lintas Sektor 

Penanganan TB-HIV tidak hanya melibatkan sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan dari pemerintah desa, kader kesehatan, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dan pihak lainnya. Pemimpin bertugas membangun komunikasi yang baik dengan seluruh sektor terkait agar pelaksanaan skrining, pelacakan kontak, edukasi kesehatan, serta dukungan pengobatan dapat berjalan secara optimal. 


  1. Kolaborasi interprofesional

Kolaborasi interprofesional dilakukan melalui kerja sama antara dokter, perawat, tenaga laboratorium, apoteker, sanitarian, promotor kesehatan, dan kader kesehatan. Pemimpin memastikan adanya komunikasi yang efektif antar profesi sehingga pelayanan pasien TB-HIV berlangsung secara terpadu. Setiap profesi berkontribusi sesuai kompetensinya untuk mencapai tujuan pelayanan yang komprehensif dan berpusat pada pasien. 

  1. Monitoring dan evaluasi

Pemimpin melakukan monitoring secara rutin terhadap indikator program, seperti cakupan skrining TB pada pasien HIV, cakupan tes HIV pada pasien TB, keberhasilan pengobatan TB, kepatuhan terapi antiretroviral (ARV), serta angka kehilangan tindak lanjut pasien. Hasil monitoring digunakan sebagai dasar evaluasi dan perbaikan program. Jika ditemukan kendala atau capaian yang belum memenuhi target, dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan, pendampingan, dan penyusunan strategi perbaikan. 

  1. Peluang

  1. Adanya kebijakan nasional mengenai kolaborasi TB-HIV yang menjadi pedoman pelaksanaan program.

  2. Dukungan pemerintah daerah dan sektor terkait terhadap upaya pengendalian penyakit menular.

  3. Pemanfaatan kader kesehatan dan komunitas sebagai mitra dalam edukasi dan pendampingan pasien.

  4. Perkembangan sistem informasi kesehatan yang mempermudah pencatatan, pelaporan, dan pemantauan pasien.

  1. Tantangan 

  1. Stigma terhadap TB dan HIV
    Stigma masyarakat dapat menyebabkan pasien enggan melakukan pemeriksaan, mengungkapkan status penyakit, atau menjalani pengobatan secara teratur.

  2. Kurangnya koordinasi antar program
    Perbedaan prioritas program dan beban kerja petugas dapat menghambat kolaborasi antara program TB dan HIV.

  3. Keterbatasan sumber daya manusia
    Jumlah petugas yang terbatas sering kali menyebabkan beban kerja tinggi sehingga pelaksanaan program belum optimal.

  4. Kepatuhan pasien terhadap pengobatan
    Pengobatan TB dan HIV memerlukan waktu yang panjang sehingga terdapat risiko pasien putus berobat.

  5. Keterbatasan sarana dan logistik
    Ketersediaan alat diagnostik, reagen laboratorium, dan obat-obatan dapat menjadi kendala dalam pelayanan.

  1. Langkah antisipatif

Untuk mengatasi tantangan tersebut, saya akan meningkatkan edukasi masyarakat secara berkelanjutan guna mengurangi stigma terhadap TB dan HIV. Kedua, menyelenggarakan pertemuan koordinasi lintas program dan lintas sektor secara rutin agar komunikasi dan kerja sama tetap terjaga. Ketiga, meningkatkan kapasitas petugas melalui pelatihan dan supervisi berkala. Keempat, memperkuat sistem pendampingan pasien melalui kader kesehatan dan pengawas menelan obat untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan. Kelima, melakukan perencanaan logistik yang baik serta koordinasi dengan dinas kesehatan guna menjamin ketersediaan sarana dan obat. Dengan penerapan kepemimpinan transaksional yang didukung koordinasi yang kuat, pembagian tugas yang jelas, serta monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan, kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X dapat berjalan lebih efektif sehingga target pengendalian TB dan HIV dapat tercapai secara optimal.


  1. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan) 

Sebagai pemimpin tim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu di rumah sakit, saya memilih sasaran keselamatan pasien berupa pencegahan risiko jatuh. Risiko jatuh merupakan salah satu insiden keselamatan pasien yang sering terjadi di fasilitas kesehatan dan dapat menyebabkan cedera ringan hingga berat, memperpanjang masa rawat, menurunkan kualitas hidup pasien. Karena hal itu maka diperlukan upaya yang sistematis dan berkelanjutan untuk mencegah terjadinya kejadian jatuh di rumah sakit. Model kepemimpinan yang saya dapatkan adalah ISTJ-A atau biasa disebut kepemimpinan transaksional. Model ini menekankan pada penerapan aturan yang jelas, pembagian tugas yang terstruktur, pengawasan, serta evaluasi berkala terhadap pencapaian target yang telah ditetapkan. Dalam upaya pencegahan risiko jatuh, model kepemimpinan ini sesuai karena keberhasilan program sangat bergantung pada kepatuhan seluruh tenaga kesehatan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan kebijakan keselamatan pasien6

Sebagai pemimpin, langkah pertama yang akan saya lakukan adalah memastikan seluruh unit pelayanan menerapkan asesmen risiko jatuh pada setiap pasien sejak awal masuk rumah sakit menggunakan instrumen yang telah ditetapkan, seperti Morse Fall Scale untuk pasien dewasa atau Humpty Dumpty Scale untuk pasien anak. Selanjutnya, saya akan membentuk tim yang melibatkan dokter, perawat, fisioterapis, apoteker, serta petugas penunjang lainnya untuk bekerja sama dalam program pencegahan risiko jatuh. Setiap anggota tim diberikan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Saya akan memastikan tersedianya sarana yang aman, seperti pegangan tangan di koridor dan kamar mandi, pencahayaan yang memadai, tempat tidur dengan pengaman samping, lantai yang tidak licin, serta tanda khusus bagi pasien dengan risiko jatuh tinggi, edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pencegahan risiko jatuh juga akan dilakukan secara rutin7.

Monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting, saya akan melakukan audit kepatuhan terhadap asesmen risiko jatuh, pemantauan pelaksanaan intervensi pencegahan, serta evaluasi angka kejadian pasien jatuh setiap bulan. Hasil evaluasi akan dibahas dalam rapat mutu dan keselamatan pasien untuk mengidentifikasi penyebab masalah serta menyusun tindakan perbaikan yang diperlukan. Penerapan kepemimpinan ISTJ-A dapat membantu menciptakan budaya keselamatan karena seluruh tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang jelas mengenai tugas, tanggung jawab, dan standar yang harus dipatuhi7

Dalam pelaksanaannya terdapat tantangan yang mungkin muncul, salah satunya kurangnya kepatuhan tenaga kesehatan dalam melakukan asesmen risiko jatuh secara konsisten, terutama saat beban kerja tinggi, kondisi pasien seperti usia lanjut, gangguan kesadaran, kelemahan fisik, atau penggunaan obat tertentu, dapat meningkatkan risiko jatuh meskipun upaya pencegahan telah dilakukan, kemudian terbatasnya sarana dan prasarana di beberapa unit pelayanan serta kurangnya kesadaran pasien dan keluarga mengenai pentingnya pencegahan risiko jatuh. Terdapat peluang seperti adanya standar akreditasi rumah sakit yang menekankan keselamatan pasien menjadi pendorong untuk meningkatkan kepatuhan terhadap program, perkembangan teknologi informasi memungkinkan penggunaan sistem pelaporan insiden yang lebih cepat dan akurat, keterlibatan keluarga pasien dalam proses perawatan juga dapat menjadi faktor pendukung dalam upaya pencegahan risiko jatuh6.

Sebagai antisipatif, saya akan menyelenggarakan pelatihan secara berkala tentang pencegahan risiko jatuh bagi seluruh tenaga kesehatan, saya juga akan memperkuat sistem pelaporan insiden dan near miss agar setiap kejadian dapat menjadi pembelajaran untuk perbaikan sistem, audit dan supervisi rutin juga dilakukan untuk memastikan kepatuhan SOP, edukasi kepada pasien dan keluarga akan terus ditingkatkan agar mereka dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga keselamatan selama menjalani perawatan di rumah sakit.


  1. Kesimpulan

Berdasarkan karakteristik kepribadian saya yaitu ISTJ-A, model kepemimpinan yang menurut saya sesuai adalah kepemimpinan transaksional karena sama-sama menekankan disiplin, tanggung jawab, keteraturan, serta pencapaian tujuan melalui pembagian tugas yang jelas dan kepatuhan terhadap aturan. Karakteristik ini mendukung kemampuan mengelola tim secara sistematis, mengambil keputusan berdasarkan fakta, serta memastikan setiap pekerjaan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan. Dalam penerapannya di fasilitas pelayanan kesehatan, baik di Puskesmas maupun rumah sakit, model kepemimpinan transaksional dapat mendukung peningkatan mutu pelayanan melalui koordinasi yang terstruktur, monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan, serta kepatuhan terhadap standar operasional, meskipun memiliki beberapa keterbatasan, seperti kecenderungan kurang fleksibel terhadap perubahan dan perlunya meningkatkan komunikasi interpersonal, kelemahan tersebut dapat diatasi melalui pengembangan kemampuan adaptasi, kolaborasi, dan keterbukaan terhadap masukan dari anggota tim. Saya akan memanfaatkan kekuatan yang saya miliki serta terus mengembangkan diri, seorang pemimpin dengan karakteristik ISTJ-A dapat menciptakan lingkungan kerja yang tertib, aman, dan produktif. Hal ini tidak hanya mendukung tercapainya target organisasi, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan mutu pelayanan serta keselamatan pasien dan tenaga kesehatan secara berkelanjutan.


  1. Daftar pustaka

  1. Choong EJ, Varathan KD. Predicting judging-perceiving of Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) in Online Social Forum. PeerJ. 2021 Jun 23;9(e11382):1–27.

  2. 16 Personalities. Logistician Personality. 16Personalities. NERIS Analytics Limited; 2024.

  3. Agus Purwanto, Masduki Asbari, Innocentius Bernarto, Choi Chi Hyun. Effect Of Transformational And Transactional Leadership Style On Public Health Centre Performance. Journal of Research in Business, Economics, and Education. 2020;2(1):304-312

  4. Leonard J, Barry C, Josep Henderson, Eric J. Meta-Leadership: A Framework for Building Leadership Effectiveness. National Preparedness Leadership Initiative. 1 ed. 2015.

  5. Titi Supriati, Yodi Mahendrahata, Ari Natalia Probandari. Kesiapan Integrasi Layanan TB-HIV Puskesmas di Kabupaten Kulon Progo. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2021;24(1):24-31. doi: 10.22146/jmpk.v24i01.4058

  6. Zarah Maharani, Djunawan Achmad. Upaya Pencegahan Resiko Pasien Jatuh di Rawat Inap. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2022;10(1):43-48.

  7. Reza Putri Melinda Arta. Analisis Faktor Upaya Pencegahan Insiden Pasien Jatuh di Rumah Sakit. Jurnal Kesehatan Tambusai. 2025;6(1):2566-2578


        G. Lampiran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T