Bukan Sekadar Penghibur: Ketika Seorang ESFP Belajar Menjadi Pemimpin

Bukan Sekadar Penghibur: Ketika Seorang ESFP Belajar Menjadi Pemimpin

Nama : Anastasia Wilfrida Datuan

NIM : 23.P1.0043


Pernyataan orisinalitas karya tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan

nilai perilaku.


Konteks dan latar belakang personal


Gambar 1. Kepribadian ESFP (penghibur)1

Berdasarkan hasil MBTI (Myers–Briggs Personality Type) saya termasuk ESFP (penghibur). Dalam penjelasannya dikatakan bahwa “Sebagai seorang ESFP (Penghibur), Anda adalah jiwa pesta, membawa energi yang semarak ke setiap ruangan yang Anda masuki. Semangat hidup Anda menular, dan Anda memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah bahkan momen paling biasa sekalipun menjadi petualangan yang mengasyikkan. Anda hidup untuk saat ini, merangkul setiap hari dengan antusiasme dan rasa kagum yang membuat orang lain takjub.” Ciri umum dari ESFP adalah ramah, suka bersosialisasi, optimis, ceria, antusias, fun, menghibur, cenderung spontan, energik, mudah  berteman, bersahabat, sangat  sosial, hangat, mudah simpatik dan mengenali perasaan orang lain, sangat baik dalam keadaan yang membutuhkan common sense, tindakan cepat dan keterampilan praktis2,3. Selain itu, berdasarkan sumber yang ada, diberikan beberapa saran untuk ESFP, yaitu jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan, belajarlah untuk fokus dan tidak mudah berubah-ubah terutama untuk hal yang penting, jangan menyenangkan semua orang dan begitu pula sebaliknya, tidak semua orang bisa menyenangkan Anda, dan elajarlah menghadapi kritik dan konflik serta jangan lari3.

Setelah menjabarkan teori yang ada, saya mulai mencocokkan dengan realita yang ada sesuai keadaan saya. Sejauh ini, dalam beberapa ciri-ciri yang disebutkan, saya merasa benar adanya. Ceria, antusias, fun, menghibur, dan energik bukan saya simpulkan sendiri namun beberapa kali pernah terucap dari mulut orang lain tentang hal tersebut. Tapi bagi saya, semua orang bisa ada di momen itu tergantung dimana dan dengan siapa dia berada. Jadi, jika sisi itu muncul dalam diri saya, mungkin tempat dan orangnya tepat. Tapi, terkadang saya merasa bahwa bersosialisasi di lingkungan yang baru tidak menjadi masalah untuk saya, namun setelahnya apakah akan tetap terjalin komunikasi dengan orang-orang yang ada di dalamnya, jawabannya belum tentu. Saya sangat pemilih dalam memasukkan orang ke lingkup pribadi saya, saya tidak suka basa basi. Bagi saya, jika saya tidak suka maka tidak akan saya lakukan. Namun jika saya sudah menawarkan suatu hal, percayalah itu memang tulus adanya dan jangan pernah merasa tidak enak dengan hal tersebut. Sejauh ini, saya merasa menjadi optimis bukan karena saya percaya diri saya tinggi bahwa saya akan berhasil, tapi saya yakin bahwa suatu hal besar maupun kecil terjadi bukan tanpa alasan, jadi saya membiarkan diri saya tetap jalan kedepan.

Sebagai contoh dalam kegiatan akademik, saya lebih menyukai diskusi yang terbuka dan jujur. Saat mengerjakan tugas kelompok, saya merasa lebih nyaman apabila setiap anggota menyampaikan pendapatnya secara langsung dan apa adanya, termasuk ketika terdapat perbedaan pandangan. Bagi saya, perbedaan pendapat merupakan bagian yang wajar dalam proses diskusi dan sebaiknya diselesaikan saat itu juga melalui komunikasi yang terbuka. Setelah keputusan bersama tercapai, saya tetap berusaha bersikap profesional dan fokus pada tujuan kelompok. Saya juga tidak menyukai kebiasaan menerka-nerka pikiran atau keinginan orang lain, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, saya berusaha menyampaikan pendapat, kebutuhan, dan harapan saya secara jelas kepada lawan bicara agar tidak terjadi kesalahpahaman. Karakteristik ini membantu saya membangun komunikasi yang efektif serta menjaga kerja sama yang baik dalam kelompok.

Berdasarkan teori mengenai tipe kepribadian ESFP yang cenderung terburu-buru dalam mengambil keputusan dan mudah berubah ketika menemukan alternatif yang dianggap lebih baik, saya menyadari bahwa karakteristik tersebut memang sering saya alami dalam kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa situasi, saya cenderung mengambil keputusan dengan cepat karena ingin segera menyelesaikan masalah atau menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang berlangsung. Selain itu, saya juga dapat mengubah keputusan apabila menemukan informasi atau pertimbangan baru yang menurut saya lebih tepat. Meskipun hal tersebut menunjukkan kemampuan beradaptasi, saya menyadari bahwa sebagai seorang pemimpin saya perlu mengembangkan kemampuan untuk berpikir lebih matang, mempertimbangkan berbagai sudut pandang secara menyeluruh, serta lebih konsisten dalam menjalankan keputusan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, saya dapat menjadi pemimpin yang tidak hanya responsif terhadap perubahan, tetapi juga mampu memberikan arah yang jelas dan stabil bagi tim.


Model kepemimpinan yang relevan

Gambar 2. Kepemimpinan demokrasi4

Model kepemimpinan yang saya rasa relevan untuk saya adalah model demokrasi. Berdasarkan teori, model kepemimpinan ini melibatkan anggotanya dalam proses pengambilan keputusan, dengan cara mendorong partisipasi, kerjasama, dan komunikasi dua arah pemimpin dan anggota5. Saya memilih model tersebut karena saya suka melihat diskusi yang aktif dan dua arah. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa menyukai komunikasi yang jelas dan terbuka. Saya tidak terbiasa menebak-nebak apa yang dipikirkan orang lain, begitu pula saya berusaha menyampaikan harapan dan pemikiran saya secara langsung agar tidak terjadi kesalahpahaman. Oleh karena itu, model kepemimpinan demokratis menurut saya sesuai dengan karakter saya karena memberikan ruang bagi komunikasi yang terbuka, keterlibatan anggota tim, dan pengambilan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan bersama.
Kekuatan yang saya miliki dan mendukung penerapan model kepemimpinan demokratis adalah kemampuan untuk bekerja secara cepat, sistematis, serta menyukai pembagian tugas yang jelas. Saya juga senang berkomunikasi dan menikmati diskusi yang hidup, di mana setiap anggota dapat menyampaikan pendapat, ide, maupun kritik secara terbuka. Saya berusaha menciptakan suasana yang mendorong partisipasi aktif dan komunikasi dua arah sehingga setiap anggota merasa didengar dan dihargai.
Di sisi lain, saya menyadari bahwa terdapat beberapa keterbatasan yang perlu saya kembangkan. Salah satunya adalah saya terkadang belum dapat sepenuhnya mempercayai tugas yang telah saya delegasikan kepada anggota tim. Ketika pekerjaan dirasa berjalan lebih lambat dari yang saya harapkan, saya cenderung berpikir bahwa akan lebih cepat jika saya menyelesaikannya sendiri daripada menunggu terlalu lama. Selain itu, saya juga memiliki kecenderungan untuk mengambil keputusan secara cepat, terutama ketika menghadapi tekanan waktu atau ingin segera menyelesaikan suatu permasalahan. Karakteristik ini sejalan dengan salah satu kecenderungan yang sering dikaitkan dengan tipe kepribadian ESFP. Saya sadar bahwa ebiasaan tersebut berpotensi mengurangi kesempatan anggota untuk berpartisipasi secara optimal dalam proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu, saya perlu melatih kemampuan untuk lebih percaya pada anggota tim, memberikan ruang bagi mereka untuk menyelesaikan tanggung jawabnya, serta lebih sabar dalam mempertimbangkan berbagai masukan sebelum menetapkan keputusan akhir. Dengan demikian, saya dapat menerapkan model kepemimpinan demokratis secara lebih efektif.


Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Sebagai koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, dengan menerapkan kepemimpinan demokrasi, saya akan melibatkan seluruh anggota tim dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. Saya akan mendorong komunikasi terbuka, menghargai setiap masukan, serta mengambil keputusan berdasarkan musyawarah sehingga tercipta kerja sama dan rasa tanggung jawab bersama terhadap keberhasilan program.
Dalam advokasi, saya akan menyampaikan data dan kondisi TB-HIV kepada kepala puskesmas, Dinas Kesehatan, dan pemerintah setempat untuk memperoleh dukungan kebijakan, sumber daya, serta komitmen dalam pelaksanaan program. Untuk penguatan tim, saya akan membentuk tim lintas program yang terdiri dari petugas TB, HIV, laboratorium, farmasi, dan promosi kesehatan, serta melakukan pembagian tugas yang jelas dan peningkatan kapasitas melalui pelatihan.
Pada koordinasi lintas sektor, saya akan bekerja sama dengan pemerintah desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan organisasi terkait untuk mendukung edukasi, penemuan kasus, dan pendampingan pasien. Sementara itu, kolaborasi interprofesional dilakukan dengan memastikan seluruh tenaga kesehatan bekerja sesuai peran masing-masing dan berkomunikasi secara efektif untuk memberikan pelayanan TB-HIV yang terintegrasi.
Untuk monitoring, saya akan memantau indikator program seperti cakupan skrining TB pada pasien HIV, tes HIV pada pasien TB, dan keberhasilan pengobatan. Selanjutnya, evaluasi dilakukan secara berkala melalui rapat tim untuk menilai capaian, mengidentifikasi kendala, dan menyusun tindak lanjut perbaikan program.
Peluang yang dapat dimanfaatkan antara lain adanya dukungan program nasional TB-HIV, kader kesehatan yang aktif, serta kerja sama dengan berbagai pihak. Tantangan yang mungkin muncul meliputi stigma masyarakat, keterbatasan SDM, dan rendahnya kepatuhan pasien. Untuk mengatasinya, saya akan memperkuat edukasi masyarakat, meningkatkan koordinasi antar program, mengoptimalkan pembagian tugas, serta melibatkan kader dalam pendampingan pasien agar program TB-HIV dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

Saya memilih komunikasi efektif sebagai sasaran keselamatan pasien karena komunikasi yang buruk dapat menyebabkan kesalahan diagnosis, pemberian obat, maupun tindakan medis yang berisiko membahayakan pasien dan tenaga kesehatan.
Sebagai pemimpin tim peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan menerapkan kepemimpinan demokrasi dengan melibatkan dokter, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya dalam mengidentifikasi masalah komunikasi, menyusun solusi, serta mengevaluasi hasil perbaikan. Saya akan mendorong penerapan komunikasi standar seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation), yaitu metode komunikasi terstruktur untuk menyampaikan informasi pasien secara jelas dan sistematis. Selain itu, saya akan memperkuat komunikasi saat serah terima pasien serta mengadakan pelatihan dan diskusi rutin.
Model kepemimpinan demokrasi membantu menciptakan budaya keselamatan karena setiap anggota tim dapat menyampaikan pendapat, melaporkan insiden tanpa takut disalahkan, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Hal ini akan meningkatkan keterbukaan, kolaborasi, dan rasa tanggung jawab bersama terhadap keselamatan pasien.
Tantangan yang mungkin muncul adalah perbedaan profesi dan hierarki, beban kerja yang tinggi, serta resistensi terhadap perubahan. Peluang yang dapat dimanfaatkan antara lain adanya standar akreditasi rumah sakit, dukungan manajemen, dan teknologi informasi kesehatan. Untuk mengatasinya, saya akan melakukan pelatihan berkala, menerapkan SOP komunikasi yang jelas, melakukan monitoring dan evaluasi rutin, serta membangun budaya non-punitive, yaitu budaya yang tidak berfokus pada menyalahkan individu tetapi pada pembelajaran dan perbaikan sistem, sehingga tenaga kesehatan merasa aman dalam melaporkan kesalahan dan belajar dari insiden yang terjadi.

Kesimpulan

Berdasarkan refleksi diri yang telah dilakukan, saya mengidentifikasi bahwa tipe kepribadian ESFP yang saya miliki memiliki karakteristik ramah, komunikatif, antusias, dan mampu membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Karakteristik tersebut mendukung saya dalam menerapkan model kepemimpinan demokratis yang menekankan partisipasi, komunikasi terbuka, dan kerja sama tim dalam pengambilan keputusan. Meskipun demikian, saya juga menyadari adanya beberapa aspek yang perlu dikembangkan, seperti meningkatkan kepercayaan kepada anggota tim, lebih sabar dalam proses pengambilan keputusan, serta mempertimbangkan berbagai sudut pandang secara lebih matang.
Penerapan kepemimpinan demokratis pada fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun tingkat lanjut menunjukkan bahwa keterlibatan seluruh anggota tim dapat meningkatkan koordinasi, kolaborasi, dan rasa tanggung jawab bersama dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan. Pada penanganan TB-HIV, model ini mendukung keberhasilan kerja lintas program dan lintas sektor, sedangkan pada peningkatan mutu rumah sakit, model ini membantu menciptakan budaya keselamatan pasien melalui komunikasi yang efektif dan terbuka.
Dengan memahami karakter diri serta mengembangkan kemampuan kepemimpinan yang sesuai, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang mampu membangun lingkungan kerja yang kolaboratif, menghargai setiap anggota tim, serta berkontribusi dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang aman, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

Referensi

  1. Personalities. ESFP (Penghibur) [Internet]. 2023 [cited 2026 Jun 20]. Available from: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-esfp

  2. None Ratna Rucita Putri, None Aulia Syifa Febriansyah, Shiva N. Mengenal Tes Kepribadian Mbti: Cara Efektif Memahami Diri Dan Potensi Karir. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. 2025 Apr 28;3(2):64–71.

  3. Gofar N, Napitupulu SM, Rubiyanti Y. Profil Karakter Mahasiswa Baru Universitas Sriwijaya Angkatan 2019 Berdasarkan Jalur Masuk Perguruan Tinggi. Proceeding Indonesia Career Center Network Summit IV. 2019;189.

  4. Cherry K. Is democratic leadership the best style of leadership? [Internet]. Verywell Mind. 2024. Available from: https://www.verywellmind.com/what-is-democratic-leadership-2795315

  5. Masoara K, Suryanto S. Konsep Kepemimpinan Demokratis Dalam Fungsi Pengawasan di Inspektorat Daerah Provinsi Sulawesi Utara. JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL. 2025 Feb 24;6(2):1119–26.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

Memimpin dengan Empati: Ketika Kepribadian ENFJ Bertemu Dunia Kesehatan (Alicia Rivela Cahyono - 23.P1.0002)

Kepemimpinan tersembunyi seorang ISFP-T