Bagaimana Seorang ENTP Memimpin: Menjadi Adaptif dan Komunikatif dengan Orientasi Pendekatan Sederhana
Peter Yansen Setiawan
23.P1.0029
Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Namaku Peter Yansen Setiawan, biasa dipanggil Peter atau waktu kuliah akrab dipanggil Yansen. Saya merupakan mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran SCU angkatan 2023. Dan kali ini saya akan menuliskan essay mengenai kepemimpinan.
Sebelum lebih lanjut membahas tentang kepemimpinan dan penerapannya dalam hal ini di bidang kesehatan, mari kita tarik garis lurus dahulu ke diri sendiri. Dalam hal ini adalah mari membahas tentang tipe kepribadian saya terlebih dahulu secara spesifik adalah Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) . Tipe kepribadian saya jika mengacu dari website 16 personalities adalah ENTP-A, secara spesifik dikategorikan ke dalam seorang debater atau pendebat. Menurut 16 personalities, seorang ENTP spesifik debater merupakan seseorang yang berorientasi pada hal - hal rasional serta mengedepankan fakta, data, dan kenyataan.1 Dalam konteks seorang pemimpin, saya merasa bahwa karakter ini sangat cocok dengan seorang pemimpin. Selain itu masih menurut sumber yang sama, seorang ENTP memiliki kelebihan yang sangat cocok dengan profil seorang pemimpin diantaranya adalah berwawasan luas, berkharisma, mampu berpikir dengan cepat, mampu mencari solusi dan mengambil keputusan yang tepat serta keaslian (orisinalitas). Ke-5 karakter ini sangat pas dengan profil seorang pemimpin.
Menurut buku Filsafat dan Teori Kepemimpinan karya Dr. Wendy, seorang pemimpin harus memiliki kelebihan diantaranya adalah kemampuan menilai, keaslian, serta berkharisma. Saya merasa kepribadian tersebut sangat sesuai dengan karakter saya.2 Saya jarang sekali mengedepankan perasaan, sehingga orientasi saya adalah data dan fakta. Saya juga selalu berpikir tidak hanya pada sebuah sudut pandang, tetapi menilai berbagai aspek dan faktor lainnya, sehingga bagi saya, tidak pernah ada sebuah benar dan salah, karena bagi saya sebuah kebenaran dan kesalahan hanyalah bagaimana masalah itu dilihat. Ketika saya di organisasi dahulu, begitu banyak masalah datang. Sebagai contoh adalah ketika saya harus memutuskan untuk mengeluarkan salah seorang anggota saya karena terlibat sebuah masalah. Tentu ada konflik batin dalam diri saya, tetapi kembali lagi saya lebih mengedepankan data dan fakta, sehingga apa yang menurut saya sesuai adalah hal yang harus saya putuskan.
Saya menyadari ada beberapa kekurangan karena saya adalah seorang ENTP. Kekurangan itu sebenarnya berangkat dari kelebihan saya sebagai seorang ENTP, saya adalah seseorang yang rasional, sehingga saya kadang menjadi tidak peka terhadap sekitar yang membuat akhirnya orang - orang terdekat saya terkadang tidak setuju dengan saya. Kedepannya mungkin saya harus lebih bisa menyeimbangkan antara rasionalitas saya dengan keadaan di sekitar saya. Dengan demikian, saya berharap dapat lebih adaptif terutama dalam hal ini di dunia kesehatan agar kolaborasi saya dengan profesi kesehatan lain dapat lebih mudah terjalin.
seperti yang sudah saya sampaikan diatas, saya sudah berpengalaman di organisasi selama kurang lebih nya 8 tahun terhitung sejak saya kelas 1 SMP. Saya sudah cukup terbiasa pada dunia organisasi. Dan selama 8 tahun, saya sudah melihat berbagai tipe pemimpin. Menurut buku Kepemimpinan karya Anna Wulandari, setidaknya ada 8 jenis kepemimpinan yaitu autokratis (otoriter), demokratis, laissez-faire, transformasional, transaksional, servant, situasional, visioner. Dari 8 jenis kepemimpinan itu memang demokratis lah yang paling umum digunakan. Pada tingkat kenegaraan pun, kita menggunakan sistem kepemimpinan demokratis.
Tapi bagi saya, tipe kepemimpinan situasional lah yang menurut saya paling cocok untuk saya gunakan. Dengan karakter saya yang sangat berorientasi dengan data dan fakta sebagai seorang ENTP-A, saya merasa saya mampu beradaptasi dengan tipe kepemimpinan ini. Kepemimpinan situasional adalah pemimpin yang mampu beradaptasi pada sebuah permasalahan atau situasi suatu kelompok atau komunitas. Dalam artian adalah gaya kepemimpinan seperti ini sangat fleksibel dalam karakter kepemimpinannya, terkadang bisa bertindak secara autokratis, demokratis, bahkan laissez-faire atau bahkan transaksional. Dengan kelebihan yang saya punya yaitu pengambilan keputusan cepat, dan pemikir yang baik, saya merasa menjadi pemimpin yang sifatnya situasional akan sangat sesuai dibanding kepemimpinan demokratis. Meskipun demikian, pemimpin situasional artinya adalah “tanpa prinsip”, tetapi bagi saya tipe kepemimpinan seperti ini sangat cocok untuk digunakan. Jika berbicara mengenai bidang kesehatan, diperlukan pemimpin yang mampu beradaptasi dalam setiap keadaan. Dikarenakan, dinamisnya regulasi dan mekanisme pada bidang kesehatan, menjadi pemimpin yang terlalu demokratis tentu tidak akan sesuai begitupun dengan tipe pemimpin lainnya.
TB dan juga HIV, merupakan penyakit yang memiliki angka kejadian cukup tinggi di Indonesia. Prevalensi TB under reporting menurut WHO pada tahun 2023 mencapai 1.082.000 kasus.3 Pada HIV, prevalensi nya di seluruh dunia mencapai 85,6 juta jiwa pada tahun 2022.4 Tentu ini adalah kondisi yang mengkhawatirkan. Sebagai seorang pemimpin tim , melihat latar belakang kasus maka sikap saya tentu akan menahan dan merancang strategi terlebih dahulu. Saya adalah seorang visioner dan adaptif sehingga bagi saya tidak terlalu sulit untuk beradaptasi pada berbagai macam permasalahan. Saya akan menggunakan kelebihan saya yang adaptif untuk bisa bergerak dinamis pada kasus ini.
Ketika saya ditunjuk untuk menjadi tim penanganan kasus TB dan HIV, tentu saya akan meminta daftar tim saya kepada pihak rumah sakit. Penentuan daftar tim ini sangat penting karena akan memudahkan kerja kami dalam menangani kasus ini. Untuk kriteria tim yang saya butuhkan yang pertama ialah seseorang yang utamanya pernah bekerja bersama dengan saya. Alasan saya memilih orang yang sudah pernah bekerja bersama adalah karena komunikasi akan menjadi mudah dan tidak perlu pencocokan karakter, sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk bekerja pada kasus ini. Lalu saya membutuhkan orang yang memang memiliki karakter fleksibel dan berani. Artinya adalah tidak terlalu terpaku dengan struktur dan tugas perseorangan, serta siap untuk mengambil keputusan di saat yang dibutuhkan. Menurut saya memang segalanya perlu persetujuan yang vertikal antar stakeholder, namun ketika diperlukan, tindakan “potong kompas” akan sangat baik apabila seseorang tersebut mampu melakukannya dengan penuh tanggungjawab.
Saya akan meminta seorang epidemiolog yang sudah terbiasa bekerja dalam permasalah seperti ini untuk menjadi penasehat dalam perencanaan kebijakan. Jadi dalam kepemimpinan saya, tentu saya tidak akan berjalan sendiri sebagai pemimpin, namun akan ada yang menjadi penasehat yang memang ahli di bidangnya. Hal ini bertujuan agar setiap keputusan yang saya putuskan adalah keputusan yang kompleks dan penuh pertimbangan. Selanjutnya, saya akan berkolaborasi lintas sektoral terutama dengan bagian epidemiologi. Selain itu kolaborasi dengan orang statistik serta instansi - instansi non pemerintahan yang bergerak di bidang ini. Tidak lupa saya akan berkolaborasi dengan rumah sakit terpercaya agar keterbatasan penelitian bisa saya minimalisir. Saya ingin memastikan bahwa data di lapangan adalah data ril dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga hasil yang ada adalah hasil yang nyata.
tim saya tadi akan mulai bergerak sesuai dengan kapasitas nya yaitu penelitian kasus, lalu kegiatan laboratorium untuk konfirmasi kasus, serta saya gerakkan untuk mulai pembuatan laporan kasus. Ketika dibutuhkan pun, saya akan menggandeng para lembaga - lembaga hukum yang merupakan instansi non pemerintahan untuk mulai membantu merumuskan regulasi mengenai hasil penelitian yang didapatkan yang kemudian kami salurkan ke pemerintah daerah setempat. Kemudian jika memungkinkan saya akan menggandeng media sebagai sarana penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Untuk kontrol atau monitoring akan saya gunakan cara yang sederhana, salah satunya adalah weekly report, jadi tim yang akan saya buat akan memiliki kepala tim didalamnya dan wajib menulis weekly report dan dilaporkan satu pintu kepada saya sebagai pimpinan tanpa menggunakan perantara. Weekly report yang terlapor akan menjadi pembahasan saya sebagai pemimpin beserta rekan serta penasehat untuk memantau progres. Sebelumnya tentu saya akan membuat kerangka kasar tujuan kerja tim sehingga nantinya ketika sudah memenuhi indikator atau memenuhi tugas pokok, maka progress akan tercatat dan terlihat. Lalu laporan ini nantinya sekaligus menjadi evaluasi yang akan disampaikan satu pintu juga melalui saya sebagai pemimpin kepada kepala tim yang akan disampaikan lebih lanjut oleh kepala tim kepada anggotanya.
Dengan kerja sistematis dan lintas sektoral saya yakin penanganan TB-HIV akan lebih cepat dilakukan dan meminimalkan terjadinya hal yang tidak diinginkan. Namun dalam pelaksanaanya, saya memungkiri bahwa akan ada banyak tantangan. Secara internal sendiri tantangan yang mungkin muncul adalah ketidaksesuaian antar anggota, meskipun begitu, alasan saya menggunakan orang yang sering bekerja dengan saya akan membuat masalah ini bisa diatasi. Kemudian adalah segi akses kepada kasus yang bervariasi, karena saya berorientasi kepada data lapangan, maka hal ini mungkin saja muncul karena faktor yang tidak bisa dijelaskan. Oleh karena itu saya menggandeng berbagai sektor untuk bisa mempermudah jalan untuk mendapat data lapangan dengan meminimalkan faktor yang mungkin mengganggu. Lalu tantangan lainnya yang mungkin muncul adalah keterbatasan waktu, dengan angka yang tinggi, maka resiko penularan akan menjadi lebih tinggi, dan membuat tim akan berkejaran dengan waktu. Oleh karena nya saya akan menanggulangi dengan membentuk yang tidak terlalu banyak sehingga menjadi lebih efektif dalam koordinasinya.
Jika saya menjadi pemimpin tim untuk untuk meningkatkan mutu di rumah sakit, maka saya akan cenderung memperkuat bagian komunikasi efektif. Secara harfiah, komunikasi efektif adalah suatu bentuk penyampaian dan penerimaan informasi yang disampaikan secara tepat sasaran. Menurut L.Tubss dan Sylvia Moss Komunikasi dinilai efektif dapat terjadi apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berhasil diterima dan dimengerti oleh komunikan dengan makna yang sama persis seperti yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Oleh karena itu menurut saya, untuk peningkatan mutu di rumah sakit, menurut saya harus dimulai dari bagian paling sederhana, dan komunikasi efektif adalah hal yang bisa dimulai dengan cepat dan mudah.
Dengan tipe kepemimpinan dan karakter yang sudah saya jelaskan diatas, komunikasi efektif dapat dilakukan dengan sedikit modifikasi. Saya merasa bahwa komunikasi antar tenaga kesehatan dengan pasien ataupun tenaga kesehatan dengan sejawatnya haruslah disampaikan secara efektif. Penyampaian yang efektif kepada pasien akan membuat pasien mendapat pemahaman yang komprehensif mengenai apa yang sedang diderita dan bagaimana pasien menyikapi penyakitnya. Meskipun begitu, tidak semua informasi harus disampaikan kepada pasien oleh karena itu diperlukan sedikit modifikasi dalam penyampaiannya. Namun kembali, fokus utamanya adalah penyampaian poin secara jelas dan menyeluruh. Komunikasi efektif antar sejawat juga harus dilakukan agar lingkungan kerja menjadi lebih sehat. Selain itu akan menghindarkan dari hal - hal seperti salah penatalaksanaan, dan mungkin kesalahan pada bidang keadministrasian lainya. Tantangan yang mungkin muncul adalah menjadi lebih lamanya waktu yang dibutuhkan. Artinya adalah ketika sesuatu disampaikan secara komprehensif maka perlu waktu banyak dalam penyampaiannya. Oleh karena itu prinsip dari efektif tidak hanya didasarkan pada kelengkapan suatu informasi, namun juga harus memperhatikan efisiensi. Hal ini dapat ditanggulangi dengan menyampaikan poin penting dengan utuh sehingga waktu akan bisa semakin dihemat. Kemudian daripada itu, jika berbicara tentang hubungan sejawat, komunikasi yang efektif akan memberikan dampak misalnya adalah lebihnya suatu informasi untuk suatu individu, sehingga terlalu banyak hal yang akan tertampung pada suatu individu. Hal ini dapat ditangani dengan cara yang sama yaitu penyampaian poin penting secara utuh sehingga informasi tetap padat namun lebih efektif.
Berdasarkan tulisan saya sebelumnya, saya merasa bahwa seorang ENTP-A spesifik debater seperti saya sangat sesuai untuk menjadi seorang pemimpin. Dengan karakter yang saya punya yang lebih menyukai data dan mampu berpikir cepat, sudah menjadi bekal berharga bagi seorang pemimpin. Namun perlu penyesuaian tentang bagaimana menyikapi suatu masalah dan bertindak yang terkadang terlalu rasional. Dengan tipe pemimpin situasional, kelemahan ini dapat saya tutupin dan atasi. Selain itu dengan tipe kepemimpinan ini, saya akan dapat bekerja dengan baik di semua lingkungan pekerjaan dan organisasi.
Permasalahan mengenai penanganan TB-HIV dari saya cenderung lebih menggunakan pendekatan kerja tim yang efektif. Sehingga tim yang saya butuhkan kriteria utamanya adalah pengalaman kerja bersama, dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, dan penguasaan baik di bidangnya. Setiap keputusan dalam permasalahan ini haruslah ditimbang dengan baik sehingga keputusan merupakan keputusan yang baik dan terstruktur. Kerjasama lintas sektoral terutama dengan instansi - instansi non pemerintahan yang bergerak di bidang kesehatan menjadi senjata untuk bisa mengambil data secara cepat dan lengkap. Tantangan seperti kompleksitas penelitian, menipisnya waktu akan dapat ditanggulangi dengan strategi yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Pada peningkatan mutu rumah sakit, saya berfokus kepada komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif akan membuat peningkatan kualitas pelayanan dari dokter ke pasien. Selain itu komunikasi yang efektif akan meningkatkan produktivitas antar sejawat dan akan membuat rumah sakit menjadi tempat yang aman bagi pasien dan sejawat. Tantangan seperti kelebihan informasi akan dapat ditangani dengan pemahaman yang baik mengenai komunikasi efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Strengths & Weaknesses | ENTP Personality (Debater) | 16Personalities [Internet]. [cited 2026 Jun 23]. Available from: https://www.16personalities.com/entp-strengths-and-weaknesses
Hutahaean WS. Filsafat dan Teori Kepemimpinan. Yogyakarta: Ahlimedia Press; 2021.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Hasil Studi Inventori Tuberkulosis Indonesia 2023–2024. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2024.
Sari ID, Rustiana N, Damayanti AE. HUBUNGAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DENGAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG HIV/AIDS DI RW 02 KELURAHAN PINANG RANTI JAKARTA-TIMUR. Vol. 3. 2024;3(3).


Komentar
Posting Komentar