APAKAH INTJ-T DENGAN KEPEMIMPINAN STRATEGIS ADALAH PEMIMPIN YANG BURUK DAN TIDAK BERPERASAAN?
Nama: Tifany Natalie
NIM: 23.P1.0047
Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan Latar Belakang Personel
Gambar 1. Stereotipe vs Pengalaman Bersama INTJ
Kepribadian INTJ - T (Introverted, Intuitive, Thinking, Judging - Turbulent) adalah kepribadian yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan haus akan pengetahuan yang mendalam terutama untuk topik yang menarik perhatian mereka. Kepribadian ini senang menyempurnakan detail kehidupan, menerapkan kreativitas dan rasionalitas dalam segala hal yang mereka lakukan1. Namun, kepribadian ini juga cenderung mudah khawatir dan cemas, sering melakukan refleksi diri, dan terus berupaya dalam memperbaiki diri sehingga mereka sering mengerahkan upaya ekstra untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Kecemasan yang berlebih ini terkadang dapat digunakan untuk mencapai kemajuan yang signifikan karena sering kali dapat melihat masalah (dan terkadang menemukan solusinya) jauh sebelum orang lain2,3.
Menurut saya, kepribadian INTJ-T sangat mencerminkan diri saya. Saya cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal yang menarik perhatian saya baik yang berkaitan dengan bidang akademik maupun hobi saya. Saya akan menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk mencari dan mendapatkan semua informasi yang saya butuhkan. Saya sering terhanyut dan menghabiskan banyak waktu untuk memuaskan rasa ingin tahu saya. Saya juga tidak mau hanya sekedar tahu saja tetapi saya ingin memahami semuanya sedalam mungkin hingga semua pertanyaan yang muncul dalam benak saya dapat terjawab semua.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya selalu merencanakan segala sesuatu terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu atau mengambil sebuah keputusan. Saya cenderung mempertimbangkan segala skenario dan konsekuensi yang dapat terjadi dan telah mempersiapkan solusi yang diperlukan. Namun, kebiasaan memikirkan segala sesuatu secara berlebihan ini membuat saya mudah khawatir dan cemas akan segala sesuatu. Dalam kelompok, saya biasanya sering membuat timeline, membagi tugas sesuai kemampuan anggota, mengingatkan dan membuat tenggat waktu agar semua dapat berjalan dengan baik. Selain itu, saya memiliki standar yang tinggi terhadap diri saya sendiri dimana saya akan selalu merefleksikan diri dan terus-menerus mengingat kekurangan maupun kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya selalu terdorong untuk terus belajar, memperbaiki dan, mengembangkan diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Sebagai seorang pemimpin, saya menyadari bahwa kepribadian saya masih memiliki banyak kekurangan seperti mudah merasa tertekan oleh ekspektasi orang lain, kurang nyaman dengan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba, kurang percaya diri karena ragu terhadap kemampuan diri, dan terlalu kritis terhadap diri sendiri maupun orang lain. Meskipun telah melakukan banyak pertimbangan dan antisipasi, perubahan mendadak akan menimbulkan stress dan mengganggu proses pekerjaan. Dengan sikap saya yang rasional, dalam hubungan sosial saya cenderung lebih fokus ke logika dan efektivitas dibandingkan perasaan orang lain. Selain itu, keinginan untuk mencapai hasil yang optimal terkadang membuat saya memiliki standar yang tinggi terhadap kinerja tim. Namun, saya harus menyadari bahwa setiap individu memiliki kemampuan, pengalaman, dan cara kerja yang berbeda Oleh sebab itu, sebagai pemimpin saya harus mengembangkan kemampuan adaptasi, komunikasi interpersonal, kecerdasan emosional, kepercayaan diri, dan meningkatkan empati terhadap orang lain.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Gambar 2. Kepemimpinan Strategis
Berdasarkan karakteristik diri saya, model kepemimpinan yang sesuai adalah strategic leadership (kepemimpinan strategis). Kepemimpinan strategis merupakan gaya kepemimpinan yang ditandai dengan kemampuan pemimpin dalam memahami kompleksitas organisasi serta dinamika lingkungan eksternal. Pemimpin tidak hanya melihat kondisi saat ini, tetapi juga mampu merumuskan arah dan tujuan jangka panjang4. Jenis kepemimpinan ini sesuai dengan kepribadian saya karena kepribadian INTJ lebih mengandalkan strategi daripada keberuntungan dan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan setiap langkah sebelum mereka melakukannya. Hal tersebut sesuai dengan kepribadian saya, dimana saya biasanya akan terlebih dahulu memahami kondisi, merencanakan tujuan dan timeline jangka panjang, antisipasi perubahan, dan menyusun strategi agar semua dapat berjalan secara efektif dan optimal.
Sebagai pemimpin, saya lebih senang menyusun konsep atau rencana kegiatan dari awal hingga akhir dibandingkan menjadi pusat perhatian. Saya juga menyusun langkah-langkah kerja secara terstruktur, membagi tugas berdasarkan kemampuan anggota, dan memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai target waktu yang telah ditentukan. Saya memperlakukan anggota sebagai setara dan membiarkan mereka menangani aktivitas sehari-hari. Namun, bukan berarti saya sepenuhnya lepas tangan, saya selalu siap untuk duduk dan membahas setiap detail kecil bersama mereka. Oleh karena itu, saya sangat menghargai perilaku proaktif dan mempercayai anggota dengan kemampuan berpikir kritis yang paling kuat.
Saya menyadari bahwa jenis kepemimpinan ini tidak akan sesuai dalam setiap situasi dan bagaimana jenis kepemimpinan ini akan berjalan juga dipengaruhi oleh kekuatan dan kelemahan diri saya. Kekuatan utama saya adalah kemampuan untuk berpikir rasional, analitis dan sistematis. Saya akan menyusun strategi dan mempertimbangkan segala hal sebelum mengambil keputusan. Namun, kelemahan terbesar saya adalah standar yang tinggi terhadap diri saya sendiri dan orang lain sehingga saya berharap orang lain juga bisa memberikan hasil yang optimal seefisien mungkin. Hal ini yang membuat orang lain menganggap saya terlalu banyak menuntut. Orang lain juga tidak dapat menipu saya dengan mencoba menutupi hasil buruk dengan alasan. Selain itu, pikiran rasional saya seringkali membuat saya kurang memperhatikan perasaan orang lain karena saya akan mengatakan apa adanya walaupun hal tersebut menyakitkan. Kedua hal tersebut yang dapat membuat hubungan antar tim tidak baik dan akan berefek pada kerja tim yang menjadi tidak optimal.
Aplikasi Model Kepemimpinan Untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan Tb-Hiv
Gambar 3. TB-HIV
Pada tahun 2019 diperkirakan 10 juta orang menderita infeksi TB, dengan 1,2 juta kematian akibat TB, pada penderita TB tanpa HIV di seluruh dunia. Koinfeksi pasien HIV dengan infeksi oportunistik lain dapat mempercepat perburukan penyakit, begitu pula pada kasus TB pada pasien HIV5. Jika saya menjadi koordinator kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X dengan model kepemimpinan strategis, saya akan membuat perencanaan yang sistematis, memanfaatkan sumber daya secara optimal dan sesuai dengan keahlian masing-masing, dan melakukan atau meningkatkan kolaborasi antar program dan lintas sektor. Dengan model kepemimpinan strategis, saya tidak hanya melihat masalah dan berfokus pada penyelesaian masalah yang sedang terjadi, tetapi juga berupaya mengantisipasi tantangan yang akan terjadi di masa depan dan menyusun strategi jangka panjang dengan mempertimbangkan segala aspek untuk meningkatkan keberhasilan program TB-HIV. Pertama-tama saya akan melakukan analisis keadaan di wilayah kerja, data-data TB-HIV seperti apakah pasien hanya mengalami salah satu penyakit atau kedua dan sumber infeksi, serta faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi keberhasilan program. Hasil analisis ini yang akan membantu saya dalam menyusun tujuan, target, dan strategi jangka panjang program penanganan TB-HIV.
Dalam aspek advokasi, saya akan menggunakan data dan fakta yang telah saya peroleh dan hasil analisis biaya dan manfaat kepada kepala puskesmas, dinas kesehatan, atau pemerintah desa. Pendekatan berbasis bukti dapat membantu meyakinkan pihak lain mengenai urgensi dan manfaat program yang akan dijalankan. Melalui data dan analisis yang ada, diharapkan mendapatkan dukungan dalam kebijakan, sumber daya manusia, sarana prasarana, maupun pendanaan dan program dapat berjalan optimal.
Dalam penguatan tim, saya akan membentuk tim yang terdiri atas dokter, perawat, petugas TB, petugas HIV, petugas laboratorium, tenaga promosi kesehatan, dan tenaga kesehatan lainnya yang terkait yang memiliki kompetensi yang sesuai. Saya juga akan menyusun SOP baru untuk memperjelas pembagian tugas, hak, dan wewenang untuk menghindari beban kerja yang tumpang tindih. Selain itu, akan dijadwalkan pelatihan dan peningkatan kapasitas juga akan dilakukan secara berkala agar seluruh anggota tim memiliki pemahaman yang sama mengenai tatalaksana TB-HIV terbaru. Saya mengharapkan komunikasi terbuka antar tim agar setiap tindakan pasien dilakukan dengan penuh ketelitian dan verifikasi berlapis. Penguatan tim juga dilakukan melalui briefing sebelum pelayanan dan setelah pelayanan untuk mengevaluasi proses kerja.
Dalam koordinasi lintas sektor, saya akan menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah, kader kesehatan, dinas kesehatan, organisasi, sekolah, hingga fasilitas rujukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas dalam penanggulangan TB-HIV. Untuk mengatasi masalah kita sangat membutuhkan koordinasi lintas sektor untuk deteksi dini, kunjungan dan pendampingan pasien, meningkatkan promosi kesehatan, serta mengurangi stigma TB-HIV yang masih banyak beredar di masyarakat. Sebagai pemimpin, saya harus memastikan kerjasama dapat berlangsung dengan baik agar dapat bersama-sama berkontribusi terhadap tujuan yang sama.
Dalam aspek kolaborasi interprofesional, saya akan selalu mendorong komunikasi yang efektif antar profesi tidak peduli apapun jabatannya. Hal ini saya fasilitasi dengan rapat koordinasi rutin, diskusi kasus, diskusi tantangan yang dihadapi, dan sistem rujukan yang jelas. Sebagai pemimpin saya selalu siap untuk duduk dan membahas setiap detail kecil bersama. Kolaborasi ini sangat penting karena penanganan TB-HIV memerlukan pendekatan yang komprehensif, mulai dari diagnosis, pengobatan, edukasi, hingga pemantauan kepatuhan pasien.
Untuk monitoring dan evaluasi, saya akan melakukan pemantauan rutin terhadap data pasien, hasil tes, angka keberhasilan pengobatan, loss to follow-up, serta kepatuhan terhadap SOP. Monitoring ini dilakukan secara berkala agar setiap potensi masalah dapat terdeteksi lebih awal. Setelah itu, saya akan melakukan evaluasi terhadap efektivitas program yang telah dijalankan. Evaluasi ini tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga proses pelaksanaannya, sehingga dapat diketahui bagian mana yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan. Hasil evaluasi kemudian digunakan untuk mengidentifikasi hambatan yang muncul serta menyusun strategi perbaikan yang berkelanjutan. Namun, saya tidak akan melupakan untuk selalu memberikan apresiasi atas pencapaian yang dicapai dimana hal ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja kerja dan semangat anggota.
Dalam pelaksanaannya, beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti adanya program nasional penanggulangan TB dan HIV, dukungan kebijakan pemerintah, perkembangan teknologi informasi kesehatan, ataupun keterlibatan pihak-pihak lain dalam kegiatan promotif dan preventif. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, pemanfaatan sistem informasi kesehatan dengan baik dapat membantu meningkatkan koordinasi, pelaporan, dan pemantauan program secara lebih efektif. Namun, tidak peduli seberapa bagus dan baik kita menyusun strategi jangka panjang, masalah dan tantangan dapat muncul dalam berbagai wujud, seperti stigma masyarakat terhadap TB-HIV dalam setiap daerah pasti berbeda, budaya setempat, pengetahuan dan kepatuhan pasien, keterbatasan sumber daya, serta kurang optimalnya koordinasi lintas sektor maupun interprofesional. Selain itu, masalah yang paling utama dan sering muncul adalah keterbatasan anggaran.
Untuk mengatasi permasalahan yang ada, saya akan melakukan analisis secara menyeluruh baik terhadap budaya dan masyarakat setempat maupun program secara menyeluruh terlebih dahulu. Dengan memahami sumber masalah yang ada, saya dan tim baru dapat membuat strategi baru seperti pendekatan, edukasi, dan sosialisasi yang baru dan lebih sesuai dengan masyarakat, mengoptimalkan komunikasi dan koordinasi lintas sektor maupun interprofesional, serta menggunakan evaluasi dan masukan dari berbagai pihak sebagai dasar pengambilan keputusan. Saya juga akan meninjau kembali anggaran dan membaginya sesuai kebutuhan agar tidak terjadi pemborosan berlebih untuk hal yang tidak terlalu penting. Melalui penerapan kepemimpinan ini, saya berharap program dapat berjalan secara efektif dan optimal untuk jangka waktu yang lama hingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Aplikasi Model Kepemimpinan Untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut Untuk Peningkatan Mutu
Gambar 4. Healthcare-Associated Infections
Jika saya menjadi pemimpin tim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu di rumah sakit, saya akan memilih pencegahan dan pengendalian infeksi sebagai sasaran keselamatan pasien. Saya memilih pencegahan dan pengendalian infeksi karena infeksi terkait pelayanan kesehatan (Healthcare-Associated Infections atau HCAIs) masih menjadi salah satu indikator penting mutu pelayanan rumah sakit. CDC mengidentifikasi bahwa hampir 1,7 juta pasien rawat inap setiap tahunnya tertular infeksi terkait perawatan kesehatan (HCAIs) saat dirawat karena masalah kesehatan lainnya, dan lebih dari 98.000 pasien meninggal karena HCAIs. Dari setiap 100 pasien rawat inap, tujuh pasien di negara maju dan sepuluh pasien di negara berkembang tertular HCAIs. Keberhasilan program PPI tidak hanya meningkatkan keselamatan pasien, tetapi juga melindungi tenaga kesehatan dari risiko penularan penyakit6.
Sebagai pemimpin dengan kepemimpinan strategis, saya akan memulai dengan melakukan analisis terhadap data kejadian HCAIs, tingkat kepatuhan tenaga kesehatan terhadap hand hygiene, penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur sterilisasi alat, serta penanganan alat-alat habis pakai. Jika memungkinkan, saya akan turun langsung ke lapangan untuk melihat dan melakukan analisis. Analisis dilakukan untuk mengetahui akar masalah yang dapat menyebabkan HCAIs dan menentukan prioritas perbaikan berdasarkan data dan risiko yang paling besar.
Selanjutnya, saya akan menyusun rencana jangka panjang dengan target yang jelas yaitu menurunkan angka HCAIs secara bertahap hingga sesuai dengan indikator mutu rumah sakit. Untuk mencapai target tersebut, saya perlu membuat strategi yang melibatkan seluruh unit pelayan dan disetujui oleh pihak rumah sakit. Contohnya seperti mengatur standar operasional prosedur PPI yang sesuai dengan pedoman terbaru, memastikan seluruh tenaga kesehatan memperoleh pelatihan secara berkala mengenai kebersihan tangan, penggunaan APD, prosedur sterilisasi alat, dan pencegahan penularan infeksi. Dalam pelaksanaannya, saya akan melakukan pemantauan secara berkala untuk melihat kepatuhan pelaksanaan PPI di setiap unit kerja. Hasil pemantauan ini akan dianalisis kembali dan digunakan untuk mengevaluasi apakah program yang dijalankan sudah efektif atau masih perlu perbaikan. Jika angka HCAIs tidak mengalami penurunan maka saya harus segera melakukan perbaikan strategi agar kualitas pelayanan tetap terjaga.
Menurut saya, model kepemimpinan strategis akan membantu dalam menciptakan budaya keselamatan bagi pasien dan tenaga kesehatan dengan menciptakan sistem kerja dan komunikasi yang terbuka sehingga setiap tenaga kesehatan berani untuk melaporkan kesalahan maupun kejadian yang dapat menjadi risiko peningkatan penyebaran infeksi. Saya ingin seluruh tenaga kesehatan dapat saling mengingatkan dan tetap disiplin dalam menjalankan SOP karena ini merupakan tanggungjawab bersama dan demi kebaikan pasien dan diri sendiri juga. Dengan tercapainya kondisi ini, kita bersama-sama dapat mencegah dan mengendalikan infeksi secara jangka panjang dan tujuan tercapai.
Dalam pelaksanaannya, beberapa tantangan yang mungkin dihadapi seperti ketidakpatuhan tenaga kesehatan terhadap SOP dengan berbagai alasan seperti sudah kebiasaan dengan cara kerja yang lama ataupun karena beban kerja yang tinggi sehingga kepatuhan menurun dan keterbatasan anggaran dalam penyediaan APD, sarana prasarana, maupun pelatihan. Namun, terdapat juga peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti meningkatnya kesadaran tenaga kesehatan terhadap pentingnya keselamatan pasien, adanya standar nasional PPI, serta dukungan teknologi yang memungkinkan monitoring dilakukan secara lebih mudah dan akurat. Peluang-peluang ini yang harus dimanfaatkan untuk mencapai target program.
Langkah antisipatif yang dapat saya lakukan adalah melibatkan seluruh tenaga kesehatan dalam proses perencanaan dan evaluasi, memberikan pelatihan, dan terus mengingatkan betapa pentingnya pencegahan dan pengendalian infeksi sebagai sasaran keselamatan pasien. Berdasarkan hasil evaluasi berkala dan data hasil penerapan program, saya harus melakukan analisis dan mengambil keputusan yang dapat meningkatkan efektivitas program. Saya juga akan memberikan apresiasi kepada tenaga kesehatan yang telah menunjukkan peningkatan kepatuhan terhadap program PPI sebagai bentuk motivasi. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan ini tidak hanya akan dilaksanakan selama masa monitoring saja tetapi ditetapkan menjadi pedoman atau budaya kerja sehari-hari di rumah sakit. Saya percaya bahwa peningkatan mutu pelayanan tidak hanya berorientasi pada pencapaian indikator jangka pendek, tetapi juga membangun sistem yang adaptif, berkelanjutan, dan mampu menghadapi tantangan di masa depan.
Kesimpulan
Berdasarkan seluruh uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kepribadian INTJ-T yang saya miliki selaras dengan model kepemimpinan strategis dimana keduanya melakukan perencanaan jangka panjang, analisis mendalam, serta serta mengambil keputusan berdasarkan data dan pertimbangan rasional. Model kepemimpinan ini memberikan saya kemampuan untuk melihat masalah secara lebih luas, tidak hanya fokus pada kondisi saat ini, tetapi juga mengantisipasi tantangan di masa depan. Dalam penerapannya di fasilitas kesehatan, baik pada program TB-HIV maupun peningkatan keselamatan pasien, pendekatan strategis memungkinkan terciptanya sistem kerja yang lebih terarah, terstruktur, dan berkelanjutan.
Meskipun memiliki kekuatan dalam berpikir strategis dan pemecahan masalah, saya menyadari saya masih memiliki beberapa keterbatasan, seperti kecenderungan terlalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, mudah terpengaruh oleh ekspektasi yang tinggi, kurang nyaman menghadapi perubahan yang tidak direncanakan, serta perlu meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal dan kecerdasan emosional. Dengan terus mengembangkan kompetensi dan merefleksikan diri, saya berharap dapat menjadi pemimpin strategis yang mampu memimpin tim mencapai target secara optimal dan efektif sekaligus mempertahankan hubungan baik dengan anggota tim.
Daftar Pustaka
16Personalities. INTJ Strengths & Weaknesses [Internet]. 16Personalities; [cited 2026 Jun 26]. Available from: https://www.16personalities.com/intj-strengths-and-weaknesses
16Personalities. Assertive Architect (INTJ-A) vs. Turbulent Architect (INTJ-T) [Internet]. 16Personalities; [cited 2026 Jun 26]. Available from: https://www.16personalities.com/articles/assertive-architect-intj-a-vs-turbulent-architect-intj-t
MyPersonality. INTJ-T vs. INTJ-A: What Are The Differences? [Internet]. MyPersonality; [cited 2026 Jun 26]. Available from: https://mypersonality.net/blog/article/intj-t-intj-a
Ansori A, Zulbasri H, Ardaini, Anwar K. Pengertian, Teori dan Tipe Kepemimpinan. Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi. 2025 Mei;2(5):263-277.
Purnamasari D, Budi DTS, Palebangan CN. Aspek Diagnosis Dan Tatalaksana Pasien Koinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Dengan Tuberkulosis (TB): Tantangan Bagi Klinisi Di Daerah Perifer. Jurnal Penyakit Dalam Udayana. 2022;6(2):25-30.
Haque M, Sartelli M, McKimm J, Abu BM. Health Care-Associated Infections - An Overview. Infect Drug Resist. 2018 Nov 15;11:2321-2333. doi: 10.2147/IDR.S177247. PMID: 30532565; PMCID: PMC6245375.
Komentar
Posting Komentar