Sosok ''Pembela'' Bisa Jadi Pemimpin?
Nama: Elfrida Claudia Febriene Suizke
NIM:
22.P1.0022
ISFJ, sebagaimana
dilambangkan oleh Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), merupakan
singkatan dari Introversion, Sensing, Feeling, dan Judging. ISFJ bersifat
pendiam, praktis, dan peduli, sering dikenal karena ketelitiannya,
keandalannya, empatinya, dan rasa tanggung jawabnya yang kuat untuk membantu
orang lain dan menjaga keharmonisan. ISFJ memiliki pengertian yang berarti
menyegarkan diri melalui kesendirian dan introspeksi, lebih menyukai detail
konkret dan kenyataan saat ini dibanding ide abstrak yang ada di sekitarnya.
ISFJ memiliki kemampuan dalam membuat keputusan berdasarkan perasaan dan nilai pribadi dibanding analisis impersonal, dan lebih
menyukai lingkungan terstruktur dan perencanaan dibanding spontanitas. ISFJ
jeli terhadap lingkungan sekitar dan perasaan orang lain. Akan tetapi, meski
ISFJ peka terhadap perasaan orang lain, ISFJ tidak mampu mengendalikan atau
sulit dalam mengekspresikan emosinya. ISFJ cenderung untuk memendam perassannya
dan tetap diam saat mereka berjuang untuk menghindari dan membebani orang lain
dalam masalah mereka1.
Gaya kepemimpinan
adalah bagaimana cara seseorang dalam memimpin perusahaan untuk menuntun
anggota yang bekerja dibawahnya. Salah satu gaya kepemimpinan yang popular di
perusahaan Indonesia adalah gaya kepemimpinan demokratis atau democratic
leadership. Gaya atau tipe kepemimpinan tidak hanya satu, melainkan terdapat
tiga tipe kepemimpinan meliputi autocratic, democratic, dan laissez
faire. Tipe kepemimpinan yang
dimiliki oleh ISFJ adalah kepemimpinan demokratis. Democratic leadership atau
kepemimpinan demokratis adalah gaya kepemimpinan di mana pemimpin berusaha
untuk mengikutsertakan anggota tim atau bawahan dalam pengambilan keputusan dan
pembuatan kebijakan. Dengan mengundang partisipasi aktif, setiap individu
dapat menyumbangkan wawasan unik mereka, sehingga keputusan yang diambil
menjadi lebih komprehensif. Pada dasarnya, dengan pilar kerja sama dan
transparansi, gaya ini membangun budaya kerja yang suportif, di mana setiap
orang merasa memiliki andil dalam kesuksesan bersama2.
Perkembangan epidemi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) menunjukkan pengaruhnya terhadap peningkatan
epidemi Tuberkulosis (TB) di seluruh dunia. Epidemi HIV di Indonesia termasuk
yang tercepat di kawasan Asia, sementara jumlah kasus TB menempatkan Indonesia
sebagai negara keempat terbanyak di dunia. Epidemi HIV di Indonesia merupakan
tantangan bagi keberhasilan penanggulangan TB. Pandemi ini merupakan tantangan
terbesar dalam pengendalian TB dan banyak bukti menunjukkan bahwa pengendalian
TB tidak akan berhasil dengan baik tanpa keberhasilan pengendalian HIV.
Sebaliknya TB merupakan infeksi oportunistik (penyerta) terbanyak dan penyebab
utama kematian orang dengan HIV/AIDS (ODHA)3. Kepemimpinan demokratis menjadi kunci dalam
penanganan TB-HIV yang kompleks karena secara fundamental mendorong kolaborasi
lintas program dan sektor dengan memfasilitasi pembagian informasi serta sumber
daya secara adil. Dengan menekankan komunikasi dua arah yang transparan,
pemimpin menciptakan lingkungan partisipatif di mana setiap anggota tim dan
pemangku kepentingan merasa dihargai, didengarkan, dan dilibatkan dalam
pengambilan keputusan. Keterlibatan ini tidak hanya terbukti meningkatkan
motivasi, kinerja, dan kepuasan kerja, tetapi juga membuat tim lebih adaptif
dalam merespons berbagai tantangan seperti stigma atau perubahan kebijakan
melalui diskusi terbuka4. Selain adanya keterlibatan, dibutuhkan setiap aspek
kegiatan yang dapat diterapkan dalam tipe kepemimpinan demokratis, meliputi5:
a.
Advokasi
Pendekatan
ini dilakukan secara strategis berbasis pada bukti yang empiris. Dengan menyajikan
data yang valid mengenai dampak suatu masalah kesehatan, advokasi ini membangun
urgensi secara rasional. Advokasi dapat membangun koneksi emosional dan
mendorong pada pemangku kepentingan untuk merasa memiliki masalah dan termotivasi
untuk bertindak.
b.
Penguatan
tim
Pendekatan
ini berfokus pada peran pemimpin sebagai fasilitator dan pendukung utama bagi
keberhasilan tim dengan melibatkan dua tindakan yaitu menciptakan mekanisme
umpan balik yang sistematis dan aman secara akurat, mengidentifikasi hambatan
nyata yang dihadapi oleh staf di lapangan serta secara proaktif mengalokasikan
sumber daya dan memecahkan masalah operasional untuk menghilangkan hambatan
tersebut.
c.
Koordinasi
lintas sektor
Pendekatan
demokratis tentang membangun kemitraan strategis yang didasarkan pada
kepercayaan dan tujuan bersama. Pendekatan ini mengakui bahwa masalah kesehatan
kompleks dipengaruhi oleh banyak faktor di luar kendali sektor kesehatan
(determinan sosial kesehatan), sehingga pemimpin secara proaktif memposisikan
organisasinya sebagai mitra yang siap melayani dan berkolaborasi, dengan tujuan
membangun modal sosial dan jaringan kerja yang kuat sehingga menghasilkan
intervensi yang berguna untuk pengendalian masalah.
d.
Kolaborasi
interprofesional
Pendekatan
demokratis yang berfokus pada penciptaan lingkungan kerja, yang memiliki
tingkat keamanan psikologis (psychological safety) yang tinggi, untuk meruntuhkan hierarki profesional tradisional yang sering
menghambat komunikasi. Dengan memastikan bahwa setiap anggota tim dari berbagai
profesi merasa aman untuk menyuarakan pendapat, keahlian, dan kekhawatiran mereka
tanpa takut dihakimi atau diabaikan, proses pengambilan keputusan klinis dan
programatik menjadi lebih kaya dan holistik.
e.
Monitoring
Proses
sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan data tentang implementasi
program secara real-time yang berfokus untuk melacak input (sumber
daya), aktivitas (kegiatan), dan output (keluaran) guna memastikan program
berjalan sesuai rencana. Dalam pendekatan kepemimpinan demokratis yang
partisipatif, data monitoring tidak hanya menjadi alat kontrol bagi pemimpin,
tetapi juga menjadi informasi transparan yang dibagikan kepada tim.
f.
Evaluasi
Kepemimpinan demokratis melakukan evaluasi menjadi proses pembelajaran kolektif yang melibatkan pemangku kepentingan secara partisipatif dalam menafsirkan temuan, memahami pelajaran yang didapat (lessons learned), dan membuat penilaian tentang relevansi, efektivitas, dan keberlanjutan program.
Tantangan dan peluang yang mungkin terjadi dalam penanganan TB-HIV meliputi6:
a. Tantangan dan peluang dalam membentuk kolaborasi TB-HIV
- Koordinasi antar program dan lintas sektor di semua tingkatan belum kuat. Komitmen dan pemahaman bersama tentang konsep kolaborasi masih rendah di kalangan petugas, dibutuhkan sistem yang terintregasi dan berkelanjutan.
- Keterlibatan fasilitas kesehatan (terutama RS) dalam program kolaborasi masih rendah, dan mekanisme rujukan antara unit TB dan HIV belum optimal sehingga menimbulkan masalah dilapangan.
- Pemahaman pasien (TB maupun ODHA) dan masyarakat mengenai kaitan kedua penyakit ini masih sangat kurang, didukung oleh media edukasi (KIE) yang belum merata.
b. Tantangan dan peluang dalam Menurunkan Beban TB pada ODHA
- Skrining gejala TB pada semua ODHA belum dilakukan secara rutin dan terdapat perbedaan pemahaman di antara petugas mengenai prosedurnya.
- Belum ada alat diagnostik cepat untuk TB pada ODHA (khususnya BTA negatif), dan mahalnya pemeriksaan penunjang menyebabkan keterlambatan diagnosis.
- Pelatihan TB-HIV bagi petugas belum merata, dan pengendalian infeksi TB di unit layanan HIV belum diterapkan secara maksimal
c. Tantangan dalam Menurunkan Beban HIV pada Pasien TB
- Tidak semua pasien TB dinilai faktor risikonya, dan banyak yang belum bersedia menerima konseling dan tes HIV
- Pemahaman yang keliru mengenai kerahasiaan oleh konselor (dianggap kerahasiaan absolut) menghambat layanan komprehensif dan pelaporan kasus.
- Pemberian pengobatan pencegahan dengan Kotrimoksasol (PPK) dan terapi ARV pada pasien TB-HIV masih sangat rendah, salah satunya karena kurangnya sosialisasi pedoman terbaru.
Upaya dan antisipasi yang dapat dilakukan7,8:
1. Menginisiasi
pembentukan dan formalisasi Kelompok Kerja (Pokja) TB-HIV di tingkat
provinsi/kabupaten/kota.
2. Melakukan
pemetaan layanan kesehatan secara proaktif untuk mengidentifikasi potensi
kolaborasi.
3. Melakukan
"Training of Trainers" (ToT) bagi petugas kesehatan dan kader untuk
memastikan pesan yang disampaikan seragam dan efektif.
4. Menyusun
dan mensosialisasikan Panduan Praktik Klinis (PPK) atau SOP yang jelas dan
sederhana mengenai kewajiban skrining gejala TB pada setiap kunjungan ODHA.
5. Menerbitkan
surat edaran resmi dari Kepala Dinas Kesehatan yang mewajibkan implementasi Tes
HIV atas Inisiasi Petugas (TIPK/PITC) sebagai standar pelayanan di semua unit
layanan TB.
Model kepemimpinan
demokratis sebagai kepribadian ISFJ dengan sasaran keselamatan pasien yaitu
peningkatan komunikasi yang efektif dalam mengaplikasi model kepemimpinan untuk
kesehatan tingkat lanjut yang berguna untuk meingkatkan mutu keselamatan pasien
dan petugas kesehatan. Komunikasi yang efektif dipilih karena kegagalannya
sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, melainkan oleh
faktor-faktor sistemik seperti hierarki, budaya takut untuk berbicara, dan
proses yang tidak standar9.
a. Tantangan10
- Budaya hierarki yang kuat, di mana tenaga kesehatan enggan mempertanyakan instruksi dokter senior
- Resistensi terhadap perubahan prosedur
- Proses demokratis terasa lambat, sementara pelayanan harus cepat.
b.
Peluang
- Terciptanya
budaya keselamatan di mana setiap orang merasa aman untuk berbicara demi
keselamatan pasien
- Peningkatan
efisiensi kerja karena berkurangnya kebutuhan untuk klarifikasi ulang dan
perbaikan kesalahan.
- Peningkatan
kepuasan dan moral staf, yang dapat menurunkan angka turnover dan biaya
rekrutmen jangka panjang.
c.
Upaya
antisipatif yang dilakukan
- Menggunakan simulasi kasus dalam pelatihan untuk melatih staf berkomunikasi secara asertif dalam lingkungan yang aman.
- Mengintegrasikan pelatihan ke dalam rutinitas harian
- Menjadi fasilitator yang efektif: memastikan setiap rapat berjalan efisien, fokus pada keputusan, dan tidak membuang waktu staf.
Kepribadian introvert ISFJ menjadi
landasan kuat bagi gaya kepemimpinan demokratis yang efektif, yang terbukti
mampu menjawab tantangan kompleks dalam program kesehatan. Dengan
memprioritaskan kolaborasi dan penciptaan lingkungan yang aman secara psikologis,
pemimpin ini berhasil membangun kerja sama lintas sektor untuk penanganan
TB-HIV sekaligus meruntuhkan hierarki komunikasi demi keselamatan pasien di
rumah sakit. Meskipun dihadapkan pada tantangan seperti resistensi dan
kelemahan sistem, pendekatan yang partisipatif ini justru membuka peluang untuk
inovasi dan penguatan tim melalui upaya antisipatif yang terstruktur.
Daftar pustaka:
1. Kepribadian ISFJ (Pembela) [Internet]. 2024 [cited 2025 Jul 2]. Available from: https://www.simplypsychology.org/isfj-personality.html
2. Kepemimpinan Demokratis: Pengertian, Karakteristik, Contoh [Internet]. 2024 [cited 2025 Jul 3]. Available from: https://markplusinstitute.com/explore/kepemimpinan-demokratis-adalah/
3. Nur
Azizah, Resti Nurhayati, Hartanto. The Role of Health Workers in Combating
TB-HIV (Case Study at Panti Wilasa Hospital Dr. Cipto Semarang). SOEPRA J Huk
Kesehat. 2022 Jun;8(1):73–94.
4. Ni’mah
Mubarokah, Akhmad Khalimy, Yosep Muhammad Firdaus, Henrizal Hadi. Peran
Pemerintah Dalam Menanggulangi Penyebaran HIV/AIDS di kabupaten Cirebon.
JATISWARA. 2025 Mar;40(1):12–22.
5. C
K Jody Zall,Rist, Ray. A handbook for development practitioners : ten steps to
a results-based monitoring and evaluation system [Internet]. World Bank. [cited
2025 Jul 4]. Available from:
https://documents.worldbank.org/en/publication/documents-reports/documentdetail/en/638011468766181874
6. ran_tbhiv.pdf
[Internet]. [cited 2025 Jul 4]. Available from:
https://tbcpuskesmasdinoyo.weebly.com/uploads/3/3/2/0/3320660/ran_tbhiv.pdf
7. Everybody’s
business -- strengthening health systems to improve health outcomes [Internet].
[cited 2025 Jul 4]. Available from:
https://www.who.int/publications/i/item/everybody-s-business----strengthening-health-systems-to-improve-health-outcomes
8. Strategy
[Internet]. [cited 2025 Jul 4]. Available from:
https://www.theglobalfund.org/en/strategy/
9. Perlunya
Penerapan Komunikasi Interprofesional yang Efektif di Pelayanan Kesehatan
[Internet]. [cited 2025 Jul 4]. Available from:
https://ners.unair.ac.id/site/index.php/news-fkp-unair/30-lihat/3693-perlunya-penerapan-komunikasi-interprofesional-yang-efektif-di-pelayanan-kesehatan-2
10. Surveys on Patient Safety Culture [Internet]. [cited 2025 Jul
4]. Available from:
https://www.ahrq.gov/topics/surveys-patient-safety-culture.html
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Komentar
Posting Komentar