Seberapa cocok ISTJ menjadi dokter? Bagaimana kepemimpinan nya?

 

Seberapa cocok ISTJ menjadi dokter? Bagaimana kepemimpinan nya?

 

Nama : Elvino Legawa

NIM : 22.P1.0002

 

Berdasarkan assesment MBTI, saya merupakan seorang ISTJ (logistician) yang merupakan kepanjangan dari Introvert, Sensing, Thinking, dan Judging1. Menurut saya, MBTI tersebut cukup menggambarkan citra diri saya yang cenderung tidak menyukai kegiatan bersama dan lebih merasa tenang bila sendiri. Lalu saya juga orang yang lebih nyaman bila segala sesuatu yang saya kerjakan telah saya rencanakan waktu, tempat, dan kegiatan nya. Meskipun saya merasa bahwa saya adalah orang yang mudah tersentuh oleh perasaan orang lain, namun dalam pengambilan keputusan saya tetap lebih mengutamakan logika dan fakta yang ada. Dalam konteks kepemimpinan, kepribadian yang saya miliki cenderung untuk membuat segala sesuatunya berjalan rutin, runut, terorganisir dan efektif. Sehingga perubahan secara mendadak atau kegiatan tambahan yang tidak dijadwalkan sebelumnya dapat menjadi sebuah tantangan bagi saya. Saya juga cenderung tegas dan bertarget sehingga bisa memberikan goal atau tujuan yang jelas untuk dicapai oleh tim. Namun, sisi negatif nya adalah kepemimpinan saya cenderung kurang fleksibel, kaku, dan harus berhati-hati agar tidak menyakiti perasaan atau menurunkan motivasi dari tim lainya2.

 

Dengan kepribadian yang saya miliki maka model kepemimpinan yang cocok untuk saya gunakan adalah demokrasi, delegasi, dengan disertai model transaksional tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Model kepemimpinan transaksional dapat dilakukan bersamaan dengan demokrasi atau delegasi, dengan memberlakukan sistem punish reward (pujian-teguran, bonus-denda)3,4.

    • Model kepemimpinan demokrasi merupakan sebuah model yang memberikan kesempatan dan memfasilitasi agar setiap anggota tim dapat memberikan pendapat dan pandangan mereka mengenai tujuan atau hal yang sedang dibahas. Demokrasi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu partisipasi aktif dan partisipasi pasif. Partisipasi aktif bila setiap anggota dapat ikut andil dalam pengambilan keputusan, dan keputusan akan diambil berdasarkan suara terbanyak. Sementara partisipasi pasif bila anggota hanya memberikan pandangan nya namun hak pengambilan keputusan tetap berada di pemimpin. Kelemahan dari model demokrasi ini adalah membutuhkan waktu yang lama3. 
    • Model kepemimpinan kedua yang cocok dengan saya adalah metode delegasi, dimana pemimpin memberikan kepercayaan dan dukungan pada anggota nya untuk menyelesaikan target dan pekerjaan yang diberikan. Dengan ini, pemimpin perlu memberikan target dan tenggat waktu yang harus dicapai, sementara untuk proses nya dapat diserahkan kepada anggota. Dengan model ini pemimpin secara berkala perlu mengecek capaian, dan progres secara berkala untuk memastikan output yang diharapkan tercapai, dan evaluasi untuk memperbaiki hal yang dapat dimaksimalkan kedepannya. Saya lebih memiliki model ini, dikarenakan saya sadar bahwa semuanya membutuhkan kerja sama tim dan tidak bisa dikerjakan seorang diri, dan dengan model kepemimpinan ini seorang pemimpin lebih dapat meng-cover lebih banyak program dalam waktu yang efisien4.

 

UPAYA KITA UNTUK PENGENDALIAN TB-HIV DEMI CEGAH PENDERITAAN

Dalam upaya untuk mendukung program pengendalian TB-HIV di puskesmas X, model kepemimpinan campuran lebih cocok untuk dilakukan pada kasus ini. Tahap pertama adalah dengan demokrasi yang akan memberikan kita gambaran permasalahan dan solusi yang dapat diberikan terutama dari pelaksana yang lebih mengerti data dan permasalahan di lapangan. Setelah permasalahan dan solusinya dapat ditentukan, pemimpin dapat mendelegasikan penanganan nya ke bagian pelaksana yang lebih terbiasa di lapangan dengan membentuk tim-tim yang ahli di bidangnya. Pemimpin dapat membuat target dan capaian yang harus dicapai dalam program pengendalian TB-HIV serta membuat agenda rutin untuk melakukan evaluasi dan memantau perkembangan di lapangan.

  • Advokasi

    • Masyarakat : Kegiatan advokasi dapat dilakukan ke berbagai arah, salah satunya adalah kepada masyarakat dan pasien dalam wilayah kerja puskesmas dengan edukasi, sosialisasi, dan konsultasi sehingga fungsi utama puskesmas (preventif dan promotif) dapat tercapai dengan baik namun tetap menjalankan fungsi kuratif, rehabilitatif, serta screening rutin data penyebaran penyakit.
    • Pemerintah : Kegiatan advokasi dapat juga dilakukan ke pemerintah terutama berkaitan dengan distribusi bantuan, logistik, ataupun dengan regulasi yang dapat membantu pengendalian TB-HIV. Beberapa instansi pemerintah yang dapat berperan dapat pengendalian TB-HIV seperti dinas kesehatan, dinas sosial, dinas ketenagakerjaan, dan instansi terkait lainya.

  • Penguatan Tim

    • Sumber Daya Manusia : Tim yang dibentuk dalam menunjang pengobatan TB-HIV harus memiliki pengalaman ataupun keahlian di bidang yang sesuai, sumber daya manusia yang ideal untuk program ini dapat mencakup dokter, perawat, kesehatan masyarakat, ahli gizi, petugas laboratorium, sanitarian, dan lain sebagainya.

    • Pelatihan : Kegiatan pelatihan juga berhubungan dengan sumber daya manusia yang telah disebutkan sebelumnya. Pelatihan dapat diberikan untuk meningkatkan keterampilan sdm dalam menangani dan memberikan pengarahan pada masyarakat.

    • Alat Pelindung Diri : Alat pelindung diri termasuk dalam logistik yang pengadaan nya harus direncanakan dan dianggarkan, APD diperlukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan pekerja puskesmas. APD yang diperlukan seperti handscoen, penutup muka, dll

    • Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan penunjang juga tergolong dalam logistik, dalam program ini alat atau reagen yang digunakan tidak harus menjadi golden standart namun setidaknya dapat menjadi dasar skrining atau dasar diagnosis bagi pasien dan populasi di wilayah kerja puskesmas. Pemeriksaan penunjang yang dapat diadakan seperti tes mantoux, rontgen sederhana, uji sputum, dsb.

  • Koordinasi Lintas Sektor : Koordinasi lintas sektor sangat diperlukan untuk meningkatkan dan menjamin kelangsungan logistik, tenaga, dan penanganan secara komprehensif yang berlangsung menyeluruh dalam setiap elemen dan lapisan masyarakat. TB-HIV merupakan penyakit menular yang dapat bersifat kronis sehingga surveilans dan pengendalian harus melibatkan banyak pihak dan tidak dapat hanya mengandalkan sumber daya internal. Sektor yang dapat dilibatkan dalam penanganan TB-HIV adalah dinas kesehatan, rumah sakit rujukan, puskesmas terdekat, organisasi masyarakat, aparat kepolisian dan TNI, lembaga perlindungan HAM, LSM, sektor tenaga kerja, sektor pendidikan, dan lain sebagainya.

  • Kolaborasi Interprofesional : Dalam penanganan pengendalian TB-HIV, pihak puskesmas harus berkolaborasi dengan profesi lainya selain dari kesehatan. Profesi lain yang dapat diminta untuk berkolaborasi dapat berasal dari instansi yang telah disebutkan pada poin-poin sebelumnya mulai dari kesehatan, pendidikan, aparat keamanan, dan lain sebagainya untuk dapat membangun sistem pengendalian yang mencapai setiap lapisan masyarakat.

  • Monitoring : Kegiatan monitoring sangat diperlukan dalam pengendalian penyakit TB-HIV. Kemajuan atau progress dari program harus ditinjau untuk menentukan keberhasilan dan memantau permasalahan yang muncul. Surveilans merupakan hal yang sangat penting dalam monitoring baik dari masyarakat maupun tenaga kerja yang dilibatkan. Monitoring juga dapat membantu untuk pemerataan dan distribusi logistik agar tepat sasaran. Kegiatan monitoring seperti rapat rutin dan tinjauan lapangan dapat dilakukan sebulan sekali atau bila memiliki sumber daya lebih dapat ditingkatkan kuantitasnya.

  • Evaluasi : Kegiatan evaluasi dapat dilakukan secara rutin, baik secara internal atau juga dengan pihak yang telah berkolaborasi sebelumnya. Evaluasi merupakan kunci penting untuk melihat perkembangan pengendalian penyakit, variabel yang sudah baik, variabel yang masih harus ditingkatkan dan permasalahan yang muncul di lapangan. Dengan evaluasi maka hambatan atau tantangan dapat diidentifikasi dan dicarikan solusi yang tepat sehingga dapat membantu keberhasilan program pengendalian TB-HIV.


KESELAMATAN PASIEN ADALAH YANG UTAMA

Dalam aplikasi pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL), dengan konteks peningkatan mutu keselamatan pasien dan petugas kesehatan akan lebih cocok menggunakan teknik kepemimpinan demokrasi. Model ini lebih cocok dalam konteks ini dikarenakan permasalahan yang ditemukan akan lebih dipahami dari petugas pelaksana seperti dokter, perawat, security, cleaning service, dsb. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat memfasilitasi agar permasalahan yang ditemui dapat dilaporkan pada pihak manajemen dan kemudian dilakukan rapat untuk meninjau sumber, resiko, dan solusi dari permasalahan tersebut.

    Kepemimpinan juga diperlukan dalam 6 sasaran keselamatan pasien di FKTL yaitu Identifikasi pasien, komunikasi efektif, medication error, safety surgery,resiko jatuh, dan PPI5. Dalam tindakan operasi, keamanan pasien dan tenaga kesehatan harus sangat diutamakan dan dipastikan berulang kali. Pada pasien, keamanan ini selalu diupayakan dengan safety surgery yaitu suatu prosedur untuk memastikan benar pasien, benar tindakan operasi, analisis faktor resiko, dan antisipasi komplikasi tindakan.  Dengan gaya kepemimpinan yang saya pilih yaitu demokrasi, dapat dijadwalkan adanya rapat evaluasi rutin terutama dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan tindakan operasi. Evaluasi ini berguna untuk menyampaikan keterbatasan, halangan, atau hal-hal yang dapat ditingkatkan dalam komponen safety surgery. Dikarenakan dalam persiapan maupun pemulihan pasien dengan tindakan operasi, terdapat banyak langkah harus dipastikan dan melibatkan banyak pihak baik dari dokter anestesi, operator, perawat, dan apoteker.

Gambar 1. Surgical Safety Checklist5


Pernyataan Orisinalitas

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.


Daftar Pustaka

  1. The 16 MBTI Personality Types. Internet. [dikutip 25 juni 2024]. Tersedia pada: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/

  2. Zárate-Torres R, Correa JC. How good is the Myers-Briggs type indicator for predicting leadership-related behaviors? Frontiers in Psychology [Internet]. 2023 Mar 2;14. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10017728/

  3. Romi MV, Alsubki N, Almadhi HM, Propheto A. The Linkage Between Leadership Styles, Employee Loyalty, and Turnover Intention in Healthcare Industry. Frontiers in Psychology. 2022 Apr 28;13(13).

  4. Zhang X, Qian J, Wang B, Jin Z, Wang J, Wang Y. Leaders’ Behaviors Matter: the Role of Delegation in Promoting Employees’ Feedback-Seeking Behavior. Frontiers in Psychology [Internet]. 2017 Jun 7;8(920). Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5461250/

  5. WHO. Patient Safety [Internet]. World Health Organization. 2023. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/patient-safety





 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader