Petualangan Sunyi Kepemimpinan Sang Seniman ISFP

Nama: Vonnie Stephanie
NIM  : 22.P1.0041

Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis
Saya mengerjakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku. 




Konteks dan Latar Belakang Personal

            Karakteristik Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) saya adalah tipe Introverted, Sensing, Feeling, and Perceiving (ISFP). Tipe ini dikenal sebagai "The Adventurer" atau "The Artist" karena memiliki karakter yang artistik, sensitif, dan menikmati eksplorasi estetika. Kepribadian dari ISFP digambarkan sebagai sosok yang tenang, santai dan pecinta damai serta cenderung fokus pada nilai-nilai pribadi, keindangan dan kesenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tipe kepribadian ISFP dibedakan dari tipe-tipe lain dalam MBTI berdasarkan empat preferensi dasar, yaitu Introvert menggambarkan seseorang lebih senang berada di lingkungan yang lebih kecil dan tenang karena seseorang dengan kepribadian ini dapat menjadi diri mereka sendiri tanpa banyak gangguan. Dalam hal ini bukan berrati mereka anti sosial melainkan aktivitas atau interaksi sosial yang berkepanjangan dan terlalu intens dapat membuat mereka merasa lelah dan membutuhkan waktu untuk memulihkan energi. Sensing menggambarkan mereka cenderung mengandalkan informasi berdasarkan pancaindera yang bersifat aktual.  Mereka melihat dunia melalui fakta dan realitas yang mereka alami secara langsung daripada melalui ide-ide abstrak sehingga hal ini membuat mereka lebih menyukai pekerjaan yang membutuhkan perhatian terhadap detail. Feeling menggambarkan mereka cenderung mengorganisir dan menstruktur-kan informasi yang diperoleh dan menghasilkan keputusan berdasarkan nilai pribadi dan kemanusian. Bisa dikatakan bahwa mereka peka terhadap perasaan orang lain dan cenderung menghormati perspektif emosional orang lain. Perceiving menggambarkan bahwa mereka cenderung memiliki kehidupan yang fleksibel serta spontan. ISFP cenderung fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah.

Kelebihan yang dimiliki oleh kepribadian ISFP diantaranya yaitu:

  • Kreativitas: ISFP memiliki kemampuan dalam berpikir kreatif dan biasanya memiliki mereka minat tinggi dalam bidang seni. Mereka dapat mengekspresikan diri mereka melalui musik, lukisan, atau bentuk seni lainnya.
  • Empati tinggi: ISFP sangat peka terhadap perasaan orang lain dan memiliki kemampuan untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Mereka cenderung menjadi pendengar yang baik dan peka terhadap kebutuhan orang lain.
  • Fleksibel: ISFP tidak suka dibatasi oleh aturan atau rutinitas yang kaku. Mereka sangat fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di sekitar mereka.
Selain kelebihan yang dimiliki kepribadian ISFP, terdapat juga beberapa kekurangan dalam pribadi ISFP yaitu: 
  • Mudah sensitif: ISFP sangat peka terhadap lingkungan sekitar dan perasaan orang lain, mereka bisa menjadi terlalu emosional atau merasa terluka oleh komentar yang  bahkan tidak disengaja.
  • Kurang terstruktur: ISFP cenderung hidup spontan dan kurang terorganisir, yang kadang dapat membuat mereka mengalami kesulitan dalam memenuhi deadline atau merencanakan sesuatu dengan baik.
  • Sulit mengambil keputusan: Karena sering kali lebih berfokus pada pengalaman dan perasaan, ISFP dapat mengalami kebingungan dalam membuat keputusan yang perlu pertimbangan logis atau praktis.


Model Kepemimpinan yang Relevan
        Jenis model kepemimpinan yang sesuai dan relevan dengan kepribadian saya adalah kepemimpinan yang bersifat humanistik, dimana seorang pemimpin bertindak sebagai pendamping dan teladan bagi orang lain. Saya merasa lebih nyaman saat memberikan teladan ataupun tindakan langsung daripada lebih banyak berbicara. Fokus saya tertuju kepada suasana kerja yang saling menghargai serta harmonis karena saya yakin bahwa setiap individu dapat berkembang lebih baik saat mereka merasa diperhatikan dan dihargai. Bagi saya, seorang pemimpin bukan hanya sekedar memimpin dan mengarahkan orang lain untuk mengikuti keinginan pribadi namun bagaimana seorang pemimpin dapat menciptakan lingkungan yang mendukung setiap anggota timnya agar bebas mengekspresikan ide, kreativitas dan bakat mereka.  Dengan begitu, keberhasilan sebuah tim bukan hanya diukur dari hasil kerja saja tetapi juga dari lingkungan kerja yang positif serta harmonis. 

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

            TB-HIV adalah kondisi penyakit serius dan membutuhkan penanganan khusus. Penanganan TB-HIV di Puskesmas X yang dipimpin oleh kepribadian ISFP akan menerapkan model kepemimpinan humanistik. Model kepemimpinan ini menekankan pentingnya kepedulian terhadap perasaan anggota tim serta menciptakan suasana kerja yang nyaman dan kondusif. Hal ini guna menerapkan ide baru dalam meminimalisir mortalitas serta membatasi kejadian kasus. Kegiatan penanganan TB-HIV yang dilaksanakan ISFP diantaranya: 

  • Advokasi
Kepribadian ISFP dengan model kepemimpinan humanistik dalam kegiatan advokasi yaitu dengan cara saya dalam mendekati pihak-pihak yang akan terlibat dan membangun hubungan serta relasi yang baik dengan pemangku kepentingan seperti pimpinan puskesmas, dinas kesehatan maupun tokoh masyarakat. Pendekatan humanistik yang saya terapkan adalah dengan fokus membangun rasa saling percaya sehingga pihak lain lebih terbuka untuk mendukung program TB-HIV. 
  • Penguatan tim
Penguatan tim memerlukan hubungan antar pimpinan dan bawahan yang baik. Penguatan tim dapat dilakukan dengan cara memotivasi anggota tim melalui tindakan dan teladan nyata, membantu tim saat dibutuhkan dan mendengarkan setiap keluhan atau gagasan yang mereka sampaikan. 
  • Koordinasi Lintas Sektor
Kepribadian ISFP menerapkan tipe kepemimpinan humanistik dalam koordinasi lintas sektor dengan memotivasi organisasi-organisasi untuk menjalin hubungan lintas sektor yang baik serta menampung aspirasi dan inovasi sektor lain demi keefektivan penanggulan TB-HIV. Pendekatan tersebut menurut saya lebih efektif dalam menjaga kerja sama yang berkelanjutan. 
  • Kolaborasi Interprofesional
Model kepemimpinan humanistik sangat penting dan diperlukan dalam kolaborasi interprofesional karena pada pendekatan ini menerapkan komunikasi yang terbuka, saling mengharagai pendapat satu sama lain, serta mengutamakan empati untuk menciptakan kolaborasi yang solid dan aman. 
  • Monitoring
Kepribadian ISFP menerapkan jiwa kepemimpinan, yang dimana pemimpin berusaha memonitoring dan menciptakan suasana yang kondusif dan tidak menghakimi sehingga anggota tim akan merasa lebih aman dalam menyampaikan masalah. 
  • Evaluasi

Model kepemimpinan ISFP yang humanistik menciptakan suatu forum yang positif dengan menghargai setiap masukan anggota tim. Hasil evaluasi digunakan guna memperkuat strategi program dalam meningkatkan kualitas layanan kedepannya. 


Tantangan yang mungkin terjadi dalam penanganan TB-HIV

  • Penangan masalah disiplin anggota tim
Model kepemimpinan ISFP humanistik kurang cocok dengan situasi ini, dikarenakan pemimpin dengan gaya humanistik cenderung menghindari pendekatan konfrontatif sehingga akan kesulitan saat memberikan teguran kepada anggota tim yang kurang disiplin. 
  • Kesenjangan persepsi antarprogram 
Kepribadian ISFP humanistik dalam upaya menciptakan suasana kerja yang harmonis dapat terhambat jika terdapat perbedaan sudut pandang yang signifikan antar tim sehingga koordinasi lintas program menjadi kurang efektif. 

Peluang yang mungkin terjadi dalam penanganan TB-HIV

  • Membangun suasana kerja suportif
Kepemimpinan ISFP memungkinkan terciptanya suasana kerja yang harmonis, dikarenakan setiap anggota tim akan merasa dihargai, didengar serta didukung. Hal ini guna meningkatkan motivasi seluruh tim dalam menghadapi program TB-HIV.
  • Memperkuat kerja sama lintas program
Gaya kepemimpinan ISFP dengan model humanistik mengutamakan hubungan interpersonal sehingga dapat memudahkan koordinasi yang baik antar tim serta suasana kerja yang saling mendukung sehingga dapat lebih efektif dan responsif. 

Upaya antisipatif yang dilakukan pada program penanganan TB-HIV

  • Menetapkan Standar Operasional Prosedur
Dalam menjaga fleksibilitas dan pencapaian suatu target program, pemimpin membutuhkan penyusunan SOP yang telah disepakati bersama tim lintas program agar semua tindakan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan program.
  • Advokasi Penerapan Kebijakan dan Inovasi Evidence Based

Supaya kebijakan dan inovasi dapat diterima serta diterapkan, diperlukan suatu dasar konkrit untuk menyokong kepentingan penerapannya. Pendekatan advokasi secara Evidence Based dapat mendorong terjadinya suatu perubahan kebijakan dan penerapan inovasi yang solutif. 




Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

            Model kepemimpinan yang saya pilih sebagai seorang ISFP untuk peningkatan mutu dalam keselamatan pasien dan petugas kesehatan adalah model kepemimpinan humanistik. Dengan model kepemimpinan ini, upaya peningkatan mutu tidak hanya sekedar pemenuhan standar prosedur melainkan juga kerja sama tim yang berpusat pada keselamatan pasien dan perlindungan bagi petugas kesehatan. Model kepemimpinan ini juga efektif dalam menerapkan kebijakan dan inovasi baru yang sangat diperlukan dalam identifikasi pasien. Identifikasi pasien dapat dilakukan dengan pembinaan dan edukasi terlebih dahulu kepada seluruh tenaga kesehatan terkait pentingnya prosedur identifkasi pasien yang benar. Selain itu, dibutuhkan komunikasi yang jelas dengan pasien untuk memastikan data yang dicatat sesuai dengan identitas dan kondisi pasien sebenarnya. Melalui kepemimpinan humanistik, pemimpin berupaya menciptakan budaya keselamatan pasien yang tidak berpusat hanya pada instruksi melainkan juga tumbuh dari kesadaran sendiri dan rasa tanggung jawab bersama. Sehingga, prosedur identifikasi pasien tidak hanya menjadi kewajiban seorang tenaga kesehatan saja, tetapi dipahami sebagai bagian penting untuk mencegah terjadinya kesalahan medis dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. 


Tantangan yang mungkin terjadi pada peningkatan mutu

  • Kesadaran Prosedur Masih Kurang dan Terbatas
Tidak semua petugas kesehatan dapat memahami dengan jelas mengenai pentingnya prosedur identifikasi pasien sebagai langkah dalam pencegahan risiko. 
  • Keterbatasan Sarana dan Prasarana 
Upaya peningkatan mutu membutuhkan sarana pendukung dalam mewujudkan keselamatan identitas pasien dengan benar seperti gelang identitas yang tahan lama, rekam medis elektronik yang akurat serta media edukasi. Adanya suatu keterbatasan anggaran dapat menjadi kendala. 

Peluang yang mungkin terjadi pada peningkatan mutu

  • Terjalinnya Kolaborasi Lintas Profesi
Model kepemimpinan ini dapat memfasilitasi pertemuan rutin litas profesi sehingga dapat menjalin hubungan baik serta komunikasi lintas profesi yang lancar akan mendukung penerapan standar keselamatan pasien.
  • Keselamatan Pasien Sebagai Nilai Bersama
Dengan model kepemimpinan humanistik menekankan pentingnya empati dan tanggung jawab bersama, sehingga sudah seharusnya keselamatan pasien menjadi hal utma yang harus diprioritaskna dan menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari. 


Upaya antisipatif yang dilakukan dalam peningkatan mutu

  • Pelatihan Serta Diadakan Refleksi Rutin
Mengadakan pelatihan serta refleksi rutin antar tim untuk mengingatkan kembali mengenai pentingnya identifikasi pasien dengan benar dan tepat untuk meminimalisir terjadinya kesalahan medis. 
  • Pembagian Struktur Tanggung Jawab dan Peran yang Jelas

Hal ini merupakan salah satu langkah antisipatif yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk memastikan bahwa setiap prosedur keselamatan pasien dapat terlaksana dengan konsisten. Dengan adanya pembagian peran yang jelas, setiap anggota tim sudah harus mengetahui tanggung jawabnya, sehingga sudah seharusnya keselamatan pasein menjadi tanggung jawab bersama juga tidak hanya salah satu individu. 


Kesimpulan 

Pemimpin ISFP dengan model kepemimpinan humanistik memiliki kelebihan dan kekurangannya. Penerapan kepemimpinan humanistik memiliki peranan penting dalam peningkatan mutu di fasilitas kesehatan, karena model kepemimpinan ini juga menekankan pentingnya menciptakan suasana kerja yang harmonis dan saling menghargai. Dalam praktiknya, pemimpin harus memberikan teladan yang hadir secara langsung dan mendengar masukan dari anggota tim serta memfasilitasi komunikasi lintas profesi sehingga proses pelayanan dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Dalam penerapannya terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi, namun tantangan tersebut dapat diantisapasi dengan dilakukan langkah-langkah strategis seperti pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas antar tim. Model kepemimpinan ini menjadikan mutu pelayanan tidak sekedar hanya tanggung jawab salah satu petugas kesehatan saja melainkan wujud nyata tanggung jawab dan kepedulian bersama dalam meningkatan keselamatan pasien. 


Lampiran



Daftar Pustaka

1. ISFP Kepribadian "Petualang". Available from: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-isfp

2. Ahmada, Futiha. Strategi Belajar Berdasarkan Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) pada Santriwati Berprestasi di Pondok Pesantren Imam Bukhari. Jurnal Kependidikan. 2025;14(1)

3. Gofar, Nuni. Profil Karakter Mahasiswa Baru Universitas Sriwijaya Angkatan 2019 Berdasarkan Jalur Masuk Perguruan Tinggi. Proceeding Indonesia Career Center Network Summit IV. 2019

4. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pengelolaan TB-HIV. Jakarta: Kemenkes; 2022





Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader