Penerapan Model Kepemimpinan Transformasional dalam FKTP dan FKTL
Nama : Hafiz Addarian NIM : 22.P1.0047
Konteks dan Latar Belakang Personal
Saya adalah individu dengan tipe kepribadian Introverted, Intuitive, Feeling, Perceiving-Turbulent (INFP-T) berdasarkan hasil asesmen Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dari situs “https://www.16personalities.com/id/tes-kepribadian”. Tipe ini dikenal sebagai "Mediator", yaitu individu yang memiliki karakteristik utama berupa idealisme tinggi, empati mendalam, kreativitas, dan dorongan kuat untuk menjalani hidup yang bermakna sesuai nilai pribadi. Karakteristik ini sangat memengaruhi cara saya memandang kepemimpinan serta peran yang saya ambil dalam dinamika kelompok atau organisasi.
Saya adalah seorang introvert (I) yang cenderung nyaman bekerja dalam suasana tenang, lebih suka refleksi mendalam daripada berbicara panjang di depan umum, dan cenderung mengutamakan kualitas hubungan dibanding kuantitas. Dalam kepemimpinan, hal ini tercermin dalam pendekatan yang lebih tenang, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tidak mengedepankan gaya dominan, melainkan berfokus pada koneksi interpersonal yang kuat.
Karakter intuitive (N) menjadikan saya pribadi yang berpikir visioner. Saya tidak hanya fokus pada fakta atau kondisi saat ini, tetapi lebih tertarik pada gambaran besar, potensi masa depan, dan makna yang lebih dalam dari setiap tindakan. Hal ini membuat saya sebagai pemimpin cenderung memimpin dengan tujuan jangka panjang dan idealisme yang kuat, yang bertujuan membawa perubahan positif baik bagi individu maupun komunitas.
Karakter feeling (F) membuat saya lebih mengandalkan empati dan nilai moral dalam mengambil keputusan. Saya cenderung mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan orang lain sebelum mengambil langkah. Dalam konteks kepemimpinan, hal ini menjadi kekuatan dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan suportif, serta menjaga harmoni dan keadilan dalam tim.
Karakter perceiving (P) menunjukkan bahwa saya memiliki gaya kerja yang fleksibel dan terbuka. Saya tidak menyukai struktur yang terlalu kaku, dan lebih memilih pendekatan yang adaptif serta spontan. Hal ini memungkinkan saya berperan sebagai pemimpin yang fleksibel dalam mengelola dinamika tim, terutama dalam situasi yang berubah cepat atau tidak pasti.
Terakhir, karakter turbulent (T) menunjukkan bahwa saya sering meragukan diri sendiri, memiliki standar tinggi terhadap hasil kerja, dan mudah terpengaruh oleh kritik. Meskipun hal ini dapat menjadi tantangan, pada sisi lain hal ini mendorong saya untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki diri, menjadikan saya pemimpin yang tidak cepat puas dan berusaha memberikan kontribusi terbaiknya.
Secara keseluruhan, kepribadian INFP-T membentuk saya menjadi calon pemimpin yang berorientasi pada nilai, relasi antar manusia, dan makna jangka panjang. Saya mungkin bukan pemimpin yang keras atau dominan, tetapi saya percaya bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memberi perintah, melainkan soal memberi inspirasi dan mendukung pertumbuhan individu serta tim secara holistik.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Berdasarkan karakteristik kepribadian saya sebagai INFP-T (Mediator) yang dikenal idealis, empatik, reflektif, dan menjunjung tinggi suatu value, model kepemimpinan yang paling relevan dan sesuai adalah model kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang fokus pada upaya untuk menginspirasi, mendorong perkembangan, membangun hubungan emosional, dan meningkatkan komitmen terhadap tujuan antara pemimpin dan anggota ataupun sesama anggota.
Model ini menjelaskan empat komponen utama kepemimpinan transformasional, yaitu sebagai berikut.
Idealized Influence (Pengaruh Ideal)
Pemimpin menjadi teladan dan menunjukkan integritas serta komitmen terhadap nilai-nilai tinggi. Ini sejalan dengan sifat INFP yang memiliki prinsip moral kuat.
Inspirational Motivation (Motivasi Inspiratif)
Pemimpin menyampaikan visi yang jelas dan inspiratif, membangkitkan semangat, serta optimisme tim. Sebagai seorang idealis, saya memiliki kecenderungan untuk memotivasi orang lain dengan misi atau tujuan bermakna.
Intellectual Stimulation (Stimulasi Intelektual)
Pemimpin mendorong kreativitas, inovasi, dan berpikir kritis. Sebagai pribadi intuitif dan kreatif, saya nyaman dalam memfasilitasi eksplorasi ide dan solusi baru.
Individualized Consideration (Perhatian Individual)
Pemimpin memperhatikan kebutuhan, potensi, dan perkembangan pribadi setiap anggota. Sebagai individu yang empatik, saya cenderung memperlakukan setiap orang secara personal dan menghargai keberagaman gaya kerja maupun latar belakang.
Model kepemimpinan transformasional sangat sesuai dengan karakteristik kepribadian saya sebagai individu INFP-T. Saya cenderung lebih nyaman menjalankan peran kepemimpinan melalui pendekatan yang menginspirasi dan mendorong pertumbuhan, daripada dengan cara yang otoriter atau instruksional. Sebagai seseorang yang menjunjung tinggi nilai-nilai keaslian dan empati, saya percaya bahwa hubungan interpersonal yang tulus dan penuh kepercayaan merupakan kunci utama dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif. Alih-alih memberikan perintah secara sepihak, saya lebih memilih menjadi fasilitator yang mendorong perkembangan individu dan membangun ruang dialog yang terbuka. Hal ini memungkinkan anggota tim merasa dihargai, didengarkan, dan termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik. Saya juga memiliki kecenderungan untuk setia pada visi dan nilai-nilai organisasi, karena saya memandang pekerjaan bukan hanya sebagai tanggung jawab, tetapi sebagai bagian dari misi yang lebih besar untuk membawa perubahan positif.
Tingkat empati yang tinggi membuat saya secara alami peka terhadap kebutuhan emosional dan psikologis orang-orang di sekitar saya. Kemampuan ini memperkuat posisi saya sebagai pemimpin yang mampu menyelaraskan tujuan organisasi dengan kesejahteraan anggota tim, menciptakan suasana kerja yang mendukung dan saling memperkuat. Dengan demikian, karakteristik INFP-T yang saya miliki sangat selaras dengan prinsip-prinsip dasar kepemimpinan transformasional.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam Penanganan TB-HIV
Sebagai individu dengan kepribadian INFP-T yang menerapkan model kepemimpinan transformasional, saya meyakini bahwa keberhasilan program penanganan TB-HIV di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti Puskesmas sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam menginspirasi, membangun hubungan emosional, dan menumbuhkan komitmen di antara tim dan lintas sektor. Pendekatan ini saya terapkan dalam setiap aspek kegiatan lintas program penanganan TB-HIV, yang meliputi advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi.
Advokasi
Saya berupaya mengkomunikasikan visi pentingnya integrasi layanan TB-HIV kepada pihak-pihak terkait, seperti tenaga kesehatan yang terlibat, pimpinan puskesmas, dinas kesehatan, tokoh masyarakat, dan kader. Saya menekankan urgensi penanganan terpadu untuk mengurangi angka kematian akibat koinfeksi TB-HIV serta menekankan nilai kemanusiaan yang sejalan dengan prinsip empati dalam karakter saya. Dengan pendekatan yang inspiratif dan persuasif, saya mengupayakan dukungan kebijakan dan alokasi sumber daya yang memadai.
Penguatan Tim
Dalam penguatan tim TB-HIV, saya fokus pada individualized consideration dengan memperhatikan kebutuhan, kekuatan, dan kelemahan masing-masing anggota tim, termasuk tenaga kesehatan dan kader. Saya menciptakan ruang komunikasi yang terbuka, sehingga anggota tim merasa dihargai dan termotivasi untuk berkontribusi. Melalui pendekatan ini, saya berharap dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian untuk menjaga motivasi tim dalam menghadapi tantangan penanganan TB-HIV.
Koordinasi Lintas Sektor
Sebagai seorang pemimpin yang intuitif dan visioner, saya berupaya menjalin koordinasi dengan berbagai sektor, seperti dinas sosial, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli HIV, dan organisasi komunitas Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Saya memimpin pertemuan lintas sektor secara rutin untuk menyamakan persepsi, mendiskusikan hambatan di lapangan, dan merumuskan solusi kolaboratif. Pendekatan ini selaras dengan intellectual stimulation, mendorong semua pihak untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah.
Kolaborasi Interprofesional
Saya mengedepankan kerjasama lintas profesi di puskesmas, seperti dokter, perawat, petugas laboratorium, konselor HIV, hingga apoteker dengan menekankan pentingnya komunikasi efektif dan rasa saling menghormati. Saya memastikan setiap profesi memahami perannya dalam layanan TB-HIV dan mengupayakan terciptanya lingkungan kerja yang harmonis melalui diskusi rutin dan pembagian peran yang adil.
Monitoring dan Evaluasi
Dalam hal monitoring dan evaluasi, saya memimpin proses peninjauan capaian program TB-HIV secara berkala. Saya mendorong anggota tim untuk memberikan masukan dan belajar dari hambatan yang muncul di lapangan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip idealized influence, karena pemimpin menunjukkan keteladanan dengan terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.
Sebagai pemimpin yang menerapkan model kepemimpinan transformasional di Puskesmas X, saya menyadari bahwa keberhasilan program penanganan TB-HIV tidak hanya bergantung pada visi yang kuat dan kemampuan menginspirasi tim, tetapi juga pada kemampuan mengantisipasi berbagai kondisi di lapangan. Penting bagi saya untuk memahami secara mendalam tantangan yang mungkin dihadapi, mengenali peluang yang bisa dimanfaatkan, serta merancang langkah antisipatif yang tepat agar pelaksanaan penanganan TB-HIV dapat berjalan optimal, efektif, dan berkelanjutan.
Tantangan
Saya menyadari adanya sejumlah tantangan signifikan yang harus dihadapi. Salah satu tantangan terbesar adalah stigma dan diskriminasi yang masih melekat di masyarakat terhadap pasien TB dan HIV. Stigma ini tidak hanya menghambat pasien untuk berobat secara rutin, tetapi juga menurunkan kepercayaan diri mereka, sehingga berdampak pada keberhasilan program pengobatan. Selain itu, koordinasi lintas sektor yang kurang optimal kerap menjadi kendala karena perbedaan prioritas atau kepentingan masing-masing instansi yang terlibat. Tantangan lain muncul dari keterbatasan jumlah tenaga kesehatan yang terlatih dalam penanganan TB-HIV, sehingga beban kerja meningkat dan kualitas pelayanan bisa menurun. Kurangnya komunikasi yang efektif antarprofesi di puskesmas juga dapat menyebabkan kesalahpahanan, duplikasi tugas, atau bahkan kesalahan dalam layanan yang berpotensi merugikan pasien.
Peluang
Di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat peluang besar yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat penanganan TB-HIV. Salah satunya adalah dukungan kebijakan nasional yang sudah menekankan pentingnya integrasi layanan TB dan HIV, sehingga menjadi dasar hukum dan program yang kuat untuk melaksanakan kolaborasi di lapangan. Selain itu, semakin banyaknya komunitas pendukung Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang aktif di masyarakat membuka peluang kerja sama untuk memberikan edukasi, pendampingan, advokasi terhadap pasien, dan sekaligus membantu mengurangi stigma. Peluang lain terletak pada meningkatnya kesadaran masyarakat tentang bahaya TB dan HIV yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan edukasi, mendeteksi kasus lebih awal, dan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan.
Upaya Antisipatif
Untuk mengantisipasi dan mengatasi tantangan yang ada, saya sebagai pemimpin transformasional merancang berbagai langkah strategis. Saya akan menyelenggarakan pelatihan lintas profesi bagi seluruh tenaga kesehatan di puskesmas untuk meningkatkan kompetensi teknis sekaligus memperkuat pemahaman tentang pentingnya komunikasi efektif dalam tim. Saya juga akan menginisiasi pembentukan forum koordinasi lintas sektor yang melibatkan pihak puskesmas, dinas kesehatan, kader, LSM, dan tokoh masyarakat dengan tujuan menyamakan persepsi, membangun komitmen bersama, serta membahas solusi atas hambatan yang ditemukan di lapangan. Untuk mengurangi stigma, saya akan memimpin kampanye edukasi masyarakat dengan mengajak tokoh agama, tokoh adat, dan kader sebagai pelopor perubahan, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipercaya oleh masyarakat. Selain itu, saya akan menyusun standar operasional prosedur (SOP) kolaborasi yang jelas, sehingga setiap pihak memahami perannya masing-masing dalam layanan TB-HIV, meminimalkan risiko kesalahan, dan memastikan pelayanan berjalan efektif serta berkelanjutan.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL) dalam Peningkatan Mutu Keselamatan Pasien dan Petugas Kesehatan
Saya meyakini bahwa peningkatan mutu di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL) bukan hanya bergantung pada standar prosedur yang baik, tetapi juga pada kemampuan pemimpin untuk menginspirasi, memotivasi, dan membangun hubungan yang harmonis di antara seluruh anggota tim pelayanan kesehatan. Dalam upaya mendukung peningkatan mutu di FKTL, saya memilih fokus pada sasaran keselamatan pasien dan komunikasi efektif karena dapat menjadi pondasi utama dalam mencegah berbagai insiden keselamatan, baik terhadap pasien maupun petugas kesehatan.
Sebagai pemimpin transformasional, saya akan membangun visi bersama tentang pentingnya komunikasi efektif dalam setiap lini pelayanan, mulai dari unit gawat darurat, ruang perawatan, hingga kamar operasi. Saya akan menyampaikan secara inspiratif kepada seluruh tenaga kesehatan bahwa komunikasi bukan hanya sekedar bertukar informasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan profesional dalam menjaga keselamatan pasien. Saya akan memimpin dengan idealized influence, menjadi teladan dengan selalu menerapkan komunikasi yang jelas, sopan, dan lengkap, baik secara lisan maupun tertulis.
Melalui inspirational motivation, saya akan mendorong anggota tim untuk memahami bahwa komunikasi yang efektif bukan hanya menguntungkan pasien, tetapi juga memudahkan kerja tim dan mengurangi risiko kesalahan yang dapat membahayakan petugas kesehatan. Dengan intellectual stimulation, saya akan mengajak tim untuk mengidentifikasi akar masalah dari miskomunikasi yang pernah terjadi di FKTL, kemudian bersama-sama merancang inovasi, seperti pembuatan format komunikasi standar (contohnya metode SBAR: Situation, Background, Assessment, Recommendation) yang bisa diterapkan di seluruh unit. Selain itu, melalui individualized consideration, saya akan memberikan perhatian khusus pada anggota tim yang mungkin memiliki kesulitan dalam berkomunikasi, misalnya karena hambatan bahasa, tingkat pendidikan, atau latar belakang pengalaman kerja dengan memberikan pelatihan komunikasi medis yang terarah sesuai kebutuhan masing-masing individu.
Penerapan nyata dapat terlihat ketika tim melakukan serah terima pasien di ruang rawat inap. Saya akan memastikan seluruh staf menerapkan metode SBAR secara konsisten saat handover dan memantau langsung bagaimana komunikasi antara tenaga kesehatan berjalan. Saya juga akan memimpin sesi simulasi komunikasi setiap bulan, mengajak tim mempraktikkan komunikasi efektif dalam skenario darurat, seperti pasien yang mengalami syok, sehingga seluruh anggota tim terbiasa berbicara dengan jelas, ringkas, dan terstruktur meskipun dalam kondisi tekanan tinggi.
Sebagai pemimpin transformasional yang berfokus pada peningkatan komunikasi efektif di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, saya memahami bahwa penerapan strategi ini tidak terlepas dari berbagai hambatan maupun kesempatan yang dapat memengaruhi keberhasilan program. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi tantangan yang mungkin dihadapi, mengenali peluang yang dapat dimanfaatkan, serta merancang langkah antisipatif yang tepat supaya tujuan peningkatan mutu keselamatan pasien dan petugas kesehatan dapat tercapai secara optimal.
Tantangan
Dalam upaya meningkatkan komunikasi efektif, saya menyadari adanya sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi di FKTL. Salah satunya adalah budaya hierarki yang kental, yaitu disaat tenaga kesehatan dengan posisi lebih rendah, seperti tenaga kesehatan junior sering merasa sungkan mengoreksi atau menanyakan keputusan tenaga kesehatan senior, sehingga informasi penting bisa terlewat. Tantangan lain adalah perbedaan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja anggota tim yang bisa menyebabkan interpretasi informasi berbeda dan menimbulkan kesalahpahaman. Selain itu, tingginya beban kerja di FKTL juga berpotensi membuat staf terburu-buru, sehingga kualitas komunikasi dapat menurun, terutama pada saat pergantian shift atau situasi darurat.
Peluang
Di balik tantangan tersebut, terdapat peluang besar yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki komunikasi efektif. Salah satunya adalah adanya standar nasional akreditasi rumah sakit yang telah membuat standar terkait pentingnya komunikasi efektif dalam keselamatan pasien, sehingga menjadi landasan formal bagi pemimpin untuk melakukan perubahan budaya komunikasi di FKTL. Selain itu, kemajuan teknologi informasi seperti aplikasi rekam medis elektronik juga membuka peluang untuk mendukung komunikasi yang lebih akurat dan terdokumentasi dengan baik antar profesi. Dukungan dari manajemen FKTL untuk meningkatkan mutu pelayanan juga merupakan peluang penting yang dapat memperkuat komitmen seluruh tim terhadap pentingnya komunikasi efektif.
Upaya Antisipatif
Sebagai pemimpin transformasional, saya merancang berbagai upaya antisipatif untuk mengatasi tantangan dalam meningkatkan komunikasi efektif di FKTL. Saya akan memimpin program pelatihan komunikasi antar profesi yang rutin dengan metode simulasi kasus nyata yang disesuaikan dengan kondisi di rumah sakit. Saya juga akan membuat kebijakan penerapan metode komunikasi standar SBAR sebagai kewajiban dalam semua handover pasien, serta membentuk tim pengawas komunikasi efektif yang bertugas mengevaluasi kepatuhan staf dan memberikan feedback secara konstruktif.
Untuk mengurangi pengaruh budaya hierarki, saya akan mendorong budaya speak-up, yaitu keberanian staf untuk menyampaikan pendapat atau kekhawatiran terkait keselamatan pasien tanpa takut mendapat sanksi. Saya akan memimpin diskusi terbuka secara berkala untuk menumbuhkan rasa saling percaya di antara anggota tim dari berbagai profesi. Saya juga akan berupaya memanfaatkan teknologi dengan mengimplementasikan sistem rekam medis digital yang mendukung kejelasan dan keterlacakan komunikasi medis, sehingga risiko miskomunikasi dapat ditekan secara signifikan.
Kesimpulan
Sebagai individu dengan kepribadian INFP-T yang idealis, empatik, dan visioner, penerapan model kepemimpinan transformasional menjadi pendekatan yang paling sesuai bagi saya dalam menjalankan peran sebagai pemimpin di bidang kesehatan. Model ini memungkinkan saya untuk memimpin dengan mengedepankan inspirasi, perhatian terhadap setiap individu, dan komitmen terhadap nilai kemanusiaan yang selaras dengan prinsip pribadi saya. Di fasilitas kesehatan tingkat pertama, model kepemimpinan transformasional mendukung terciptanya sinergi lintas program dalam penanganan TB-HIV melalui advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi yang berkelanjutan. Sementara itu, di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, penerapan kepemimpinan transformasional pada aspek komunikasi efektif menjadi fondasi dalam upaya peningkatan mutu keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Dengan memahami tantangan, memanfaatkan peluang, dan merancang langkah antisipatif yang tepat, saya percaya bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada nilai, hubungan manusia, dan pengembangan potensi ini dapat membawa perubahan positif serta mendukung tercapainya pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan adil bagi semua pihak.
Reid WM, Dold CJ. Burns, Senge, and the study of leadership. Open J Leadership. 2018;7:89-116. Available from: http://www.scirp.org/journal/ojl
Syabanasyah I, Rachmawati E, Hartono B. The influence of transformational leadership on patient safety efforts. J Ilmu Teknol Kesehat. 2023 Mar;10(2):150-61.
Abisatyo EBM, Sagala JT, Dewi PK, Rajagukguk VIR, Ridwan H. Pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap kinerja dan motivasi kerja perawat di rumah sakit: literature review. J Penelit Perawat Prof. 2025 Apr;7(2).
Saparwati M, Trimawati. Transformational leadership of head room at hospital in Indonesia: descriptive study. Menara J Health Sci. 2022 Sep;1(3).
16Personalities. Tes kepribadian Myers-Briggs (MBTI) online [Internet]. 2025. Available from: https://www.16personalities.com/id/tes-kepribadian
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Lampiran





Komentar
Posting Komentar