Bukan Bossy, Tapi Brainy: Kepemimpinan INTJ-T di Dunia Nyata

Nama : Daniela Arsanti Suhartono 

NIM   : 22.P1.0006


            Berdasarkan hasil uji assessment MBTI didapatkan saya memiliki tipe kepribadian INTJ-T yaitu (Introvert, Intuitive, Thinking, Judging, dan Turbulent). Karakteristik utama kepribadian dari tipe ini adalah berpikir strategis, visioner, analitis, serta mandiri. Biasanya seseorang dengan kepribadian INTJ-T cenderung lebih nyaman bekerja secara mandiri dan merencanakan segala sesuatu secara sistematis serta terorganisir sesuai dengan kemauannya dan hal ini sesuai dengan kepribadian saya biasanya. Selain itu, saya juga sangat menghargai dan mempertimbangkan terkait efisiensi dan logika dalam mengambil setiap keputusan. Kecenderungan untuk berpikir ke depan dan menganalisis situasi secara mendalam membuat saya mampu mengidentifikasi potensi masalah serta soluasi secara komprehensif. Namun, sebagai pribadi yang turbulent, saya juga cukup terbuka terhadap masukan dan selalu berusaha untuk meningkatkan diri dari waktu ke waktu dengan saran dan kritikan yang diberikan oleh orang lain kepada saya1.

Karakteristik INTJ-T model kepemimpinan yang paling relevan adalah democratic leadership. Hal ini dikarenakan seorang INTJ-T cenderung akan berpikir secara analitis, rasional, dan berorientasi terhadap perencanaan yang strategis. Selain itu, saya selalu menghargai partisipasi aktif dan pertukaran ide dalam proses pengambilan keputusan. Model kepemimpinan ini memungkinkan setiap anggota tim untuk memberikan masukan, sehingga keputusan yang akan diambil lebih banyak perspektif dan cenderung lebih efektif karena telah mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Selain itu, model kepemimpinan ini sejalan dan terbuka terhadap kritik dan akan cenderung berpikir terus berkembang. Meskipun saya memiliki visi yang jelas saya akan selalu menghargai berbagai pendapat yang menjadikannya suatu kolaborasi yang mendukung dan inovatif2,3 

Kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV



Dalam kepemimpinan fasilitas kesehatan tingkat pertama penerapan model kepemimpinan democratic di Puskesmas sangat relevan untuk mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV. Model kepemimpinan ini mendorong kepala puskesmas untuk berpartisipasi aktif dari seluruh anggota tim, baik dari lintas program maupun lintas sektor seperti, petugas TB, HIV, promosi kesehatan dan unsur kesehatan. Setiap anggota tim akan diberi kesempatan setara untuk menyampaikan ide dan solusi dalam penyampaian aspirasi, penguatan tim, hingga pelaksanaan program nantinya. Model ini juga akan memperkuat koordinasi lintas sektor dan interprofesional melalui pengambilan keputusan secara musyawarah sehingga terdapat rasa tanggung jawab bersama antar anggota tim dan kepala puskesmas. Dalam monitoring dan evaluasi keterlibatan tim membuat penilaian yang objektif dan memudahkan identifikasi masalah di lapangan. Penanganan TB-HIV ini dilakukan melalui skrining terintegrasi untuk pasien TB dan HIV dan sebaliknya beserta dengan pengobatan terkait OAT dan juga antiretroviral (ARV). Selain itu, akan dilakukan dukungan psikososial untuk meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup dan melibatkan masyarakat terkait memperkuat deteksi dan penanganan kasus TB-HIV secara menyeluruh. Dalam pelaksanaan penanganan TB-HIV, berbagai kegiatan dijalankan secara integrasi. Advokasi dilakukan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat untuk meningkatkan dukungan terhadap program TB-HIV. Penguatan tim diwujudkan melalui pelatihan, pembagian tugas yang jelas dan peningkatan kapasitas SDM, Koordinasi lintas sektor melibatkan kerja sama dengan pihak terkait seperti dinas kesehatan, LSM, dan komunitas guna memperluas cakupan layanan. Kolaborasi interprofesional ditekankan dalam penyusunan dan pelaksanaan renacana perawatan yang komprehensif, dengan melibatkan dokter, perawat, konselor dan petugas laboratorium. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara rutin dengan melibatkan seluruh tum, agar penilaian program menjadi objektif dan masalah di lapangan dapat segera tertangani4.  

  • Tantangan : Penerapan model ini yaitu adanya kemungkinan perbedaan pendapat yang dapat memperlambat proses pengambilan keputusan serta risiko kurang inisiatif jika anggota tim tidak berpartisi aktif dan tidak cukup percaya diri. 
  • Peluang : Hal ini akan membangunkan budaya kerja yang kolaboratif, meningkatnya motivasi kerja, dan muncul inovasi baru dalam penanganan TB-HIV dari berbagai pendapat yang disampaikan oleh para anggota tim yang bisa bermanfaat. 
  • Upaya antisipatif : Melakukan peningkatan kapasitas komunikasi tim, pelatihan kepemimpinan bagi anggota, serta penegasan dalam memberikan batas waktu dalam proses diskusi dan pengambilan keputusan agar proses akan tetap berjalan efisien dan tujuan program dapat tercapai secara optimal5

 

Kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)


Penerapan kepemimpinan democratic di fasilitas kesehatan tingkat lanjut sangat penting untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Melalui pendekatan ini, kepemimpinan melibatkan seluruh tim kesehatan untuk mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi terkait permasalahan kesehatan yang terjadi, khususnya terkait komunikasi efektif. Dengan pendekatan demokratis pimpinan melibatkan seluruh anggota tim kesehatan baik dokter, perawat, petugas laboratorium, maupun administrasi untuk aktif berpartisipasi dalam merumuskan dan menegakkan standar prosedur identifikasi pasien. Diskusi rutin dan forum partisipatif diadakan secara berkala untuk mengevaluasi pelaksanaan prosedur identifikasi pasien, mengidentifikasi tantangan di lapangan, serta mencari solusi bersama guna mencegah kesalahan identitas  yang berujung risiko tindakan medis yang salah. Melalui pencegahan kesalahan ketika mengadakan diskusi rutin terkait permasalahan yang ada. Setiap anggota tim mendorong aktif untuk memberi masukan dan melaporkan insiden yang ada, sehingga budaya kerja yang terbentuk transparan dan saling mendukung satu sama lain dalam penerapan double check pada setiap proses pelayanan. . Demi mewujudkan mutu pelayanan kesehatan yang baik dan bagus. Upaya pencegahan kesalahan komunikasi juga dilakukan dengan melakukan briefing sebelum pelayanan, penggunaan alat bantu komunikasi standar seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) serta perlu evaluasi secara periodik terhadap sistem komunikasi yang diterapkan6

  • Tantangan : Adanya perbedaan gaya komunikasi antara pasien dan petugas kesehatan , resistensi terhadap perubahan yang ada, serta keterbatasan waktu dalam praktik klinis sesuai ketentuan yang ada. 
  • Peluang     : Melakukan peningkatan kepercayaan antar profesi, pencegahan adanya medication error, dan terbangunnya lingkungan kerja yang aman dan kolaboratif.
  • Upaya antisipatif :  Melakukan pelatihan komunikasi berkala, pemberian prosedur penanganan jika terjadi miskomunikasi antara pasien dengan  petugas tenaga kesehatan, sehingga hubungan keselamatan antara pasien dan petugas kesehatan dapat terjamin secara optimal7

Kesimpulan : 

Secara keseluruhan , penerapan model kepemimpinan democratic sangat relevan dan cenderung mendukung efektivitas dan kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan baik di tingkat pertama maupun tingkat lanjut. Karakteristik kepribadian INTJ-T yang cenderung analitis, visioner, dan terbuka terhadap ide baru yang selaras dengan prinsip demokrasi yang menekankan partisipasi aktif, kolaborasi serta pengambilan keputusan bersama. Di tingkat Puskesmas model kepemimpinan ini memperkuat koordinasi dari lintas program dan sektor dalam penanganan TB-HIV sehingga solusi akan diambil lebih komprehensif, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien dan masyarakat. Sementara itu, di fasilitas kesehatan tingkat lanjut model kepemimpinan ini berperan penting untuk membangun budaya, keselamatan, komunikasi efektif dan peningkatan mutu pelayanan melalui keterlibatan profesi kesehatan. Dalam menghadapi tantangan seperti perbedaan pendapat, peluang untuk menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif dan inovatif jauh lebih besar jika didukung dengan upaya penguatan komunikasi dan pelatihan kepemimpinan. Adanya kepemimpinan democratic akan menjadi pondasi penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan aman. 

 

Daftar Pustaka : 

  1. Myers, I. B, McCaulley, M. H., Quenk,, Hammer, A. L. MBTI Manual: A Guide to the Development and Use of the Myers-Briggs Type Indicator (3rd ed.). 3rd ed. Consulting Psychologists Press; 1998. 
  2. Bass, B. M., Bass, R. The Bass Handbook of Leadership: Theory, Research, and Managerial Applications. 4th ed. New York: Free Press; 
  3. Lewin K, Lippitt R, White RK. Patterns of Aggressive Behavior in Experimentally Created “Social Climates.” J Soc Psychol [Internet]. 1939 May [cited 2025 Jul 3];10(2):269–99. Available from: http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00224545.1939.9713366
  4. Gitau Mburu, D’Arcy Richardson. Community-based TB and HIV integration. Int HIVAIDS Alliance. 2013; 
  5. Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC HIV. Kementeri Kesehat RI. 2023; 
  6. Nasrullah. Analisis Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Upaya Keselamatan Pasien Di Puskesmas Pembantu X Lombok Barat. J Tampiasih Inst Teknol Dan Kesehat Aspir. 2024;3(1). 
  7. Wahidin Wahidin. PkM : Peningkatan Mutu Puskesmas dan Keselamatan Pasien. Humanism J Community Empower. 2(2). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader