ISFP-A: Pemimpin atau Terpimpin?

 Nama: Azalea Farsya Kanya Arissya

NIM: 22.P1.0052


ISFP-A: Pemimpin atau Terpimpin?


Konteks dan Latar Belakang Personal

Berdasarkan hasil assessment MBTI, saya adalah seseorang dengan tipe kepribadian ISFP-A yaitu Introverted, Sensing, Feeling, Perceiving - Assertive. Kepribadian ISFP-A disebut sebagai “The Adventurer” atau “The Composer” – sosok kreatif dan berjiwa bebas yang pandai mengekspresikan diri. Kepribadian ini dikenal dengan sifat pendiam, berempati, memiliki pola pikir fleksibel, dan mudah beradaptasi1.

Dalam konteks kepemimpinan, ISFP-A cenderung menunjukkan gaya kepemimpinan yang sering kali berfokus pada nilai-nilai personal dan keharmonisan tim. Sifat pertama yaitu introvert menunjukkan bahwa saya lebih cocok bekerja dalam ketenangan untuk mengamati dan memproses seluruh informasi secara mendalam terlebih dahulu sebelum membuat suatu keputusan. Sifat kedua yaitu sensing menunjukkan bahwa saya sangat peka terhadap detail dan pengalaman nyata yang dapat membantu saya memahami kebutuhan praktis tim secara efektif.

Kemudian, dengan sifat ketiga yaitu feeling, saya cenderung membuat keputusan berdasarkan empati, nilai-nilai pribadi, dan dampaknya terhadap orang lain. Meskipun baik, sifat ini membuat saya kesulitan ketika saya perlu memberikan kritik dan bersikap tegas terhadap orang lain karena saya berusaha menghindari konflik. Terakhir, sifat perceiving menunjukkan kepribadian saya yang fleksibel dan spontan, sehingga saya mudah beradaptasi terhadap perubahan dan menemukan solusi kreatif untuk tantangan yang muncul. Penambahan sifat assertive menunjukkan bahwa saya tetap tenang dan percaya diri dalam menghadapi tekanan yang membantu saya untuk mempertahankan pendirian saya meskipun sedang berada dalam situasi yang tidak menyenangkan1.


Model Kepemimpinan yang Relevan

Untuk kepribadian ISFP-A, model kepemimpinan yang paling relevan dan efektif adalah Servant Leadership (Kepemimpinan Pelayan). Servant Leadership merupakan model kepemimpinan berbasis moral di mana pemimpin lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan anggotanya – seperti karyawan, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya – daripada memenuhi kebutuhan pribadi. Hal ini sesuai dengan kepribadian ISFP-A yang mengutamakan empati dan memiliki kemampuan adaptasi yang baik dengan tetap peka terhadap detail untuk mengetahui kebutuhan tim. Model kepemimpinan ini memiliki pengaruh positif terhadap tingkat kinerja, kreativitas, dan kepuasan kerja anggotanya. Namun, perlu dipertimbangkan bahwa penggunaan model kepemimpinan ini harus diimbangi dengan solusi untuk tetap dapat memberikan otonomi dan tanggung jawab yang tepat kepada para anggota untuk menghadapi tantangan baru dan tekanan eksternal2.

Model kepemimpinan Servant Leadership sangat cocok dengan kepribadian saya yang lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan saya sendiri. Saya merasa lebih puas ketika saya dapat membantu orang lain dan memberikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi. Selain itu, saya juga lebih nyaman untuk melakukan pendekatan secara personal saat ingin menyampaikan sesuatu daripada memberikan perintah langsung. Hal tersebut memungkinkan timbulnya rasa nyaman dan percaya, sehingga dapat tercipta suasana yang saya inginkan yaitu kondusif dan suportif.


Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV

Sebagai seseorang dengan kepribadian ISFP-A, saya dapat menerapkan model Servant Leadership untuk mengelola kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X. Model pendekatan ini membantu saya untuk memprioritaskan kebutuhan tim multidisiplin yang terlibat dalam penanganan TB-HIV, seperti dokter, perawat, konselor, dan petugas laboratorium, dengan memastikan mereka memiliki sumber daya dan dukungan yang diperlukan untuk berkolaborasi secara efektif. Kemudian, sifat feeling saya yang dominan dapat membangun empati dan pemahaman terhadap tantangan yang dihadapi oleh pasien maupun petugas kesehatan, sehingga saya dapat memfasilitasi komunikasi yang terbuka dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif. 

Dalam konteks fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), saya harus strategis dalam menerapkan model Servant Leadership untuk mengoptimalkan kegiatan lintas program penanganan TB-HIV yang mencakup advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi.

  1. Advokasi

Saya dapat mendukung kebutuhan pasien dan program TB-HIV dengan memberikan kepercayaan diri dan menyuarakan isu-isu penting. Saya juga dapat mengandalkan sifat empati saya dalam menyampaikan narasi kepada para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan.

  1. Penguatan tim

Saya melakukan pengamatan yang cermat terhadap dinamika tim untuk mengidentifikasi masalah dan melakukan pendekatan personal yang sesuai. Saya juga dapat memberikan dukungan emosional kepada semua orang yang sangat penting mengingat beban kerja dan tekanan yang tinggi dalam menangani penyakit menular.

  1. Koordinasi lintas sektor

Saya dapat memahami detail praktis dan persyaratan dari berbagai sektor untuk memastikan koordinasi yang efektif, dengan tetap fleksibel dalam menyesuaikan strategi koordinasi sesuai dengan dinamika antar sektor.

  1. Kolaborasi interprofesional

Saya memimpin dengan memberikan contoh, seperti mempromosikan komunikasi terbuka dan pentingnya saling menghormati antara berbagai profesi kesehatan yang terlibat dalam penanganan TB-HIV. Saya akan berusaha mendengar dan merangkul semua orang untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan suportif.

  1. Monitoring dan evaluasi

Saya cukup pandai dalam mengumpulkan dan menganalisis data konkret mengenai indikator program, seperti angka deteksi kasus, kepatuhan pengobatan, dan hasil pasien. Selain itu, saya dapat menyesuaikan strategi berdasarkan temuan evaluasi, yang menunjukkan adaptabilitas saya yang diperlukan dalam program penanganan TB-HIV yang terus berkembang.

Sebagai seorang pemimpin, saya harus mempertimbangkan tantangan yang mungkin terjadi, peluang yang mungkin terbuka, dan upaya antisipatif strategis dalam kegiatan lintas program penanganan TB-HIV.

  1. Tantangan yang mungkin terjadi:

  • Kecenderungan untuk terlalu fokus pada detail terkadang dapat mengaburkan gambaran besar atau memperlambat pengambilan keputusan yang cepat, terutama dalam situasi krisis.

  • Komunikasi publik atau advokasi berskala besar terkadang dapat menguras energi.

  • Proses yang kompleks mungkin dapat menjadi tantangan bagi saya yang cenderung menghindari konflik.

  • Rentan terhadap kelelahan emosional.

  1. Peluang yang mungkin terbuka:

  • Membangun hubungan tim yang sangat solid dan penuh dukungan.

  • Menciptakan lingkungan di mana kolaborasi interprofesional dapat berkembang.

  • Memungkinkan implementasi program yang sangat realistis dan berbasis bukti.

  • Fleksibel dan memiliki inovasi baru dalam menghadapi tantangan.

  • Memungkinkan adaptasi cepat terhadap perubahan pedoman atau kebutuhan pasien.

  1. Upaya antisipatif yang dilakukan:

  • Melatih pemimpin muda dalam tim untuk mengambil peran proaktif supaya dapat menghadapi tantangan baru dan tekanan eksternal.

  • Bekerja sama dengan individu atau organisasi yang mampu memperkuat pesan (pihak ekstrovert) dengan tetap menyumbangkan ide di forum yang lebih kecil dan personal untuk mencegah terkurasnya energi.

  • Mengembangkan keterampilan negosiasi dan mengkomunikasikan dampak positif program secara jelas.

  • Mendorong proses pembelajaran dari kesalahan dalam tim setiap evaluasi dan aktif mencari umpan balik dari semua pihak.


Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut untuk Peningkatan Mutu

Di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL), saya dapat secara efektif mengaplikasikan kombinasi model Kepemimpinan Transformasional dan Kepemimpinan Otentik untuk mendorong peningkatan mutu, khususnya dalam aspek keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Kepemimpinan Transformasional, yang berfokus pada inspirasi dan motivasi pengikut untuk mencapai tujuan yang melampaui kepentingan diri sendiri, sangat cocok dengan nilai-nilai intrinsik dan kemampuan saya untuk menciptakan visi yang bermakna. Saya secara alami akan menekankan pentingnya empati dan kesejahteraan, yang penting dalam membangun budaya keselamatan di mana setiap individu merasa dihargai dan aman untuk melaporkan insiden tanpa takut dihukum.

Pendekatan ini sangat bergantung pada komunikasi efektif. Sebagai pemimpin, saya akan memprioritaskan komunikasi yang mendalam dan reflektif, memilih untuk mendengarkan secara aktif, dan memahami perspektif beragam dari staf medis, perawat, dan staf pendukung. Saya akan fokus pada menciptakan saluran komunikasi yang aman dan terbuka (misalnya, sistem pelaporan insiden tanpa menyalahkan, sesi debriefing rutin) untuk memastikan informasi tentang risiko keselamatan mengalir bebas. Melalui Kepemimpinan Otentik, yang menekankan transparansi, integritas, dan konsistensi antara nilai-nilai dan tindakan pemimpin, saya dapat membangun kepercayaan yang mendalam di antara tim.

Seorang pemimpin ISFP-A di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL) yang berfokus pada peningkatan mutu, terutama keselamatan pasien dan petugas kesehatan, akan menghadapi berbagai tantangan unik sekaligus memiliki peluang besar untuk inovasi, yang keduanya memerlukan upaya antisipatif yang matang.

  1. Tantangan yang mungkin terjadi:

  • Kesulitan dalam menghadapi konflik dan resistensi terhadap perubahan dalam skala besar di lingkungan FKTL yang kompleks.

  • Memproses data keselamatan yang sangat besar dan kompleks dari seluruh rumah sakit bisa menjadi beban, dan mungkin memerlukan dukungan analitis tambahan.

  • Menjaga konsistensi inisiatif mutu di tengah jadwal yang padat dan tekanan operasional, mengingat sifat Perceiving mereka yang cenderung fleksibel dan mungkin kurang terstruktur dalam jangka panjang tanpa sistem yang kuat.

  1. Peluang yang mungkin terbuka:

  • Membangun hubungan interpersonal yang berakar dari empati dan kepercayaan dengan staf dari berbagai tingkatan, sehingga kerja sama dapat terjalin dengan baik.

  • Memungkinkan identifikasi risiko keselamatan yang sangat spesifik dan praktis di lapangan, sehingga dapat membuat solusi yang realistis dan dapat diterapkan secara langsung oleh petugas kesehatan. 

  • Mendorong inovasi dan adaptasi solusi keselamatan, memungkinkan FKTL untuk merespons dengan cepat terhadap tren baru dalam risiko atau teknologi medis.

  1. Upaya antisipatif yang dilakukan:

  • Mengembangkan keterampilan mediasi dan fasilitasi untuk mengelola diskusi yang sulit.

  • Menerapkan analisis data rutin dan fokus pada interpretasi strategis serta implikasi praktis untuk keselamatan.

  • Membangun sistem dan prosedur yang kuat yang dapat berjalan secara mandiri, tanpa harus selalu bergantung pada intervensi langsung mereka.

  • Mempraktikkan self-care yang disengaja dan membangun jaringan dukungan kolegial untuk memproses pengalaman kerja yang berat.


Kesimpulan

Seseorang dengan kepribadian ISFP-A memiliki potensi kepemimpinan unik yang berakar pada empati, adaptabilitas, dan fokus pada kemanusiaan. Kombinasi sifat Introvert dan Perceiving memungkinkan saya observasi cermat dan adaptasi fleksibel, sementara dominasi Feeling menjadikan saya pemimpin yang peduli dan berpusat pada orang lain. Sifat Sensing memastikan pendekatan realistis, dan sifat Assertive memberikan keyakinan untuk memimpin dengan integritas.

Model kepemimpinan yang relevan bagi ISFP-A mampu membuat saya pandai dalam memfasilitasi kolaborasi, membangun tim, mengadvokasi pasien, dan mendorong budaya keselamatan, berkat kemampuan alami mereka membangun kepercayaan dan menginspirasi komitmen. Meski menghadapi tantangan seperti kelelahan emosional, saya tetap memiliki peluang besar menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan inovatif. Dengan upaya antisipatif seperti delegasi, penguatan mediasi, sistem pendukung kuat, dan self-care, saya dapat memaksimalkan potensi kepemimpinan. Keunikan ISFP-A terletak pada kemampuan mereka memimpin dengan hati dan integritas, mendorong perubahan positif berkelanjutan dalam sistem kesehatan.


Daftar Pustaka

  1. 16Personalities. Tes kepribadian Myers-Briggs (MBTI) online [Internet]. 2025. Available from: https://www.16personalities.com/id/tes-kepribadian 

  2. Canavesi A, Minelli E. Servant Leadership: a Systematic Literature Review and Network Analysis. Empl Responsib Rights J (Dordr). 2022;34(3):267-289. doi: 10.1007/s10672-021-09381-3. Epub 2021 Sep 28. PMID: 40477405; PMCID: PMC8476984.


Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.


Lampiran


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader