Mengelola Tim dengan Pendekatan INTJ

 Mengelola Tim dengan Pendekatan INTJ

Nama : Griselda Megapatricia Sabu

NIM : 22.P1.0019

    

  1. Konteks dan Latar Belakang Personal


Tipe kepribadian INTJ (Introverted, Intuitive, Thinking, Judging) sering dijuluki sebagai "Arsitek" atau "Strategist" dalam sistem MBTI karena kecenderungannya untuk berpikir sistematis, merencanakan jangka panjang, dan melihat gambaran besar. Individu INTJ cenderung introvert, fokus ke dalam, dan nyaman bekerja secara mandiri. Sifat intuitif menjadikan mereka lebih tertarik pada konsep, kemungkinan, dan pola tersembunyi dibanding fakta langsung. Komponen “Thinking” membuat mereka mengutamakan logika dan objektivitas, sementara “Judging” menunjukkan preferensi terhadap struktur, perencanaan, dan pengambilan keputusan yang tegas. Tambahan “-T” atau Turbulent menandakan bahwa INTJ-T cenderung lebih perfeksionis, sering mengevaluasi diri, dan lebih peka terhadap tekanan dan ekspektasi. Dalam konteks kepemimpinan, INTJ-T dikenal sebagai pemimpin yang visioner, terstruktur, dan strategis, dengan pendekatan yang logis dan berorientasi pada hasil. Kepemimpinan tipe ini lebih difokuskan pada perencanaan sistemik, pengembangan ide inovatif, serta efisiensi dalam pelaksanaan. INTJ cenderung memimpin dengan keyakinan terhadap ide dan sistem yang dirancang secara logis. Meski sering terlihat kaku atau tertutup secara emosional, tipe ini sangat menghargai kompetensi dan integritas dalam tim. Kelemahan yang mungkin muncul adalah kecenderungan terlalu kritis, sulit berkompromi, serta komunikasi interpersonal yang kaku atau terlalu direct. Namun, versi turbulent dari INTJ lebih sensitif terhadap umpan balik, lebih sering reflektif, dan cenderung terdorong oleh keinginan untuk terus berkembang dan menyempurnakan diri. Dalam lingkungan yang membutuhkan perencanaan matang, inovasi berbasis data, dan fokus jangka panjang, kepemimpinan INTJ-T dapat menjadi kekuatan utama.Tantangan utama terletak pada kebutuhan untuk mengembangkan empati dan keterampilan komunikasi agar dapat membangun hubungan kerja yang harmonis dan produktif. Tantangan utama terletak pada kebutuhan untuk mengembangkan empati dan keterampilan komunikasi agar dapat membangun hubungan kerja yang harmonis dan produktif.1-2

        b. Model Kepemimpinan Yang Relevan

Model kepemimpinan yang paling relevan dengan karakteristik kepribadian INTJ-T (Introverted, Intuitive, Thinking, Judging - Turbulent) adalah model kepemimpinan demokratis. Kepemimpinan demokratis merupakan pendekatan yang melibatkan anggota tim dalam proses pengambilan keputusan, serta mendorong kolaborasi dan pertukaran ide antara pemimpin dan bawahan. Dalam model ini, pemimpin berperan sebagai fasilitator yang memberikan ruang bagi masukan tim, namun tetap mengarahkan keputusan berdasarkan pertimbangan rasional dan visi yang telah dirancang. Karakteristik ini sejalan dengan INTJ-T yang dikenal sebagai pemikir strategis, terstruktur, dan analitis, namun juga memiliki kecenderungan reflektif dan terbuka terhadap masukan yang membangun. Sebagai tipe kepribadian yang fokus pada perencanaan jangka panjang dan efisiensi, individu INTJ-T sangat sesuai memimpin dalam lingkungan yang memungkinkan pemanfaatan ide-ide berkualitas dari anggota tim. Model demokratis juga mendukung peningkatan kreativitas serta kepuasan kerja anggota tim, di mana kepemimpinan ini dikaitkan dengan peningkatan inovasi dan kolaborasi antar individu. Meskipun proses pengambilan keputusan dalam model ini memerlukan waktu lebih lama karena melibatkan banyak pertimbangan, karakter INTJ-T justru merasa tertantang dan terdorong untuk mengoptimalkan hasil melalui analisis mendalam dan sinergi antara sumber daya manusia.

       c. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk                                 kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Model kepemimpinan yang paling sesuai dengan karakteristik INTJ‑T dalam konteks penanganan TB‑HIV di Puskesmas X adalah kepemimpinan demokratis (participative leadership). Menurut Al (2018), gaya ini mengharuskan pemimpin untuk mendorong anggota tim untuk berpartisipasi dan memberikan hak untuk membuat keputusan, sekaligus mendorong berbagi saran dan ide secara bebas3. Pernyataan tersebut menggambarkan kepemimpinan yang inklusif dan partisipatif sesuai dengan karakter INTJ‑T yang analitis dan sistemik, tetapi tetap menghargai kontribusi logis dari anggota tim. Selanjutnya, Fiaz et al. (2017) menjelaskan bahwa alih‑alih gaya manajemen mikro dan perintah, kepemimpinan demokratis membantu merangsang kreativitas dan meningkatkan produktivitas organisasi secara keseluruhan3.

Kepemimpinan demokratis, atau participative leadership, merupakan gaya kepemimpinan yang memungkinkan seluruh anggota tim untuk turut serta dalam pengambilan keputusan, memberi ruang dialog, serta menghargai kontribusi tiap anggota dalam proses kerja4. Model ini relevan dalam konteks lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, di mana berbagai unit program TB, HIV/AIDS, laboratorium, farmasi, promosi kesehatan, dan kader masyarakat harus bersinergi untuk mencapai target bersama. Gaya ini mendorong advokasi terpadu melalui diskusi terbuka antara pimpinan dan pemangku kepentingan, menjadikannya efektif dalam merancang strategi kampanye kesadaran dan penggalangan dukungan. Kemudian, untuk penguatan tim, proses pengambilan keputusan bersama meningkatkan rasa kepemilikan dan keterlibatan petugas terhadap intervensi, seperti mekanisme skrining ganda atau sistem pendampingan pasien

    Penerapan kepemimpinan ini relevan untuk menggerakkan kegiatan seperti advokasi kepada pemangku kepentingan, penguatan tim melalui pelatihan bersama, koordinasi lintas sektor dengan instansi terkait, serta kolaborasi interprofesional dalam penatalaksanaan pasien koinfeksi TB-HIV. Selain itu, pendekatan ini memungkinkan pelaksanaan monitoring dan evaluasi program menjadi lebih transparan dan berbasis data lapangan, karena setiap pihak merasa dilibatkan dalam proses dan bertanggung jawab atas hasilnya.

    Namun demikian, tantangan yang mungkin dihadapi meliputi kesenjangan kapasitas sumber daya manusia, khususnya bila sebagian anggota tim belum memiliki pengalaman dalam kerja kolaboratif atau pengambilan keputusan berbasis konsensus. Selain itu, proses pengambilan keputusan yang melibatkan banyak pihak dapat memerlukan waktu lebih lama, terutama dalam situasi darurat. Gaya ini juga kurang cocok bila diterapkan pada tenaga kerja yang belum terlatih atau minim inisiatif, sebagaimana dijelaskan oleh Fiaz (2017). Untuk mengantisipasi hal ini, pimpinan Puskesmas perlu melakukan pemetaan kompetensi tim, memberikan bimbingan teknis secara berkelanjutan, serta menyusun mekanisme koordinasi yang efisien seperti forum rutin dan penggunaan media komunikasi terpadu. Dengan menerapkan model kepemimpinan demokratis secara adaptif dan kontekstual, Puskesmas X dapat menciptakan lingkungan kerja kolaboratif yang mendukung efektivitas penanganan TB-HIV, serta meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan program di antara seluruh pelaksana layanan.

                    d. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk                                    peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan) dengan sasaran                                komunikasi efektif

Model kepemimpinan demokratis merupakan pendekatan yang mendorong partisipasi aktif dari seluruh anggota tim dalam pengambilan keputusan dan komunikasi terbuka. Dalam konteks peningkatan mutu layanan di Puskesmas X, model ini dapat diterapkan untuk memperkuat salah satu sasaran keselamatan pasien, yaitu komunikasi efektif. Komunikasi efektif didefinisikan sebagai pertukaran informasi yang jelas, tepat, dan dapat dipahami oleh semua pihak, baik antar tenaga kesehatan maupun antara petugas dan pasien. Komunikasi yang efektif berperan penting dalam mencegah kesalahan medis dan meningkatkan keselamatan pasien, di mana lebih dari 70% kejadian sentinel atau kejadian yang tidak diharapkan (unexpected event) di fasilitas layanan kesehatan terkait dengan kegagalan komunikasi5.

Melalui gaya kepemimpinan demokratis, kepala Puskesmas dapat memfasilitasi diskusi terbuka antar program TB dan HIV, laboratorium, farmasi, serta petugas promosi kesehatan untuk menyusun sistem komunikasi standar seperti penggunaan metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation). Protokol SBAR terbukti mampu meningkatkan efektivitas komunikasi interprofesional dalam layanan kesehatan6. Selain itu, pemimpin dapat mendorong penggunaan metode teach-back saat edukasi pasien, untuk memastikan informasi dipahami dengan benar, yang juga terbukti menurunkan risiko kesalahan penggunaan obat dan ketidakpatuhan pengobatan7. Kepemimpinan demokratis memungkinkan proses evaluasi berkala terhadap efektivitas metode komunikasi ini dengan melibatkan semua anggota tim dalam diskusi reflektif dan penyesuaian SOP.

Namun, tantangan yang mungkin muncul adalah penolakan awal atau keengganan dari sebagian tenaga kesehatan terhadap perubahan komunikasi yang terstruktur, serta hambatan waktu dalam pelaksanaan huddle atau briefing harian. Selain itu, belum semua tenaga kesehatan memiliki keterampilan komunikasi efektif yang memadai. Untuk mengatasi hal tersebut, dapat dilakukan pelatihan komunikasi interprofesional serta penciptaan budaya kerja yang aman secara psikologis agar semua anggota tim merasa nyaman untuk menyampaikan pendapat dan kekhawatiran. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif dan partisipatif, model kepemimpinan demokratis tidak hanya memperkuat komunikasi, tetapi juga meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan baik bagi pasien maupun petugas kesehatan.

        e. Kesimpulan 

Tipe kepribadian INTJ‑T memiliki kecenderungan visioner, analitis, dan sistematis, yang sejalan dengan model kepemimpinan demokratis. Gaya kepemimpinan ini mendorong partisipasi aktif dan kolaborasi, menjadikannya efektif dalam pengelolaan program kesehatan yang kompleks seperti penanganan TB‑HIV di Puskesmas. Dalam konteks peningkatan mutu layanan, khususnya komunikasi efektif, pendekatan ini memungkinkan penggunaan strategi seperti SBAR dan teach-back untuk menekan kesalahan medis dan meningkatkan keselamatan pasien. Meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan keterampilan komunikasi dan resistensi terhadap perubahan, hal ini dapat diatasi melalui pelatihan, supervisi, dan penguatan budaya kerja yang terbuka. Secara keseluruhan, kombinasi karakter INTJ‑T dan kepemimpinan demokratis mampu menciptakan kepemimpinan yang reflektif, partisipatif, dan berdampak positif terhadap mutu layanan kesehatan.

        f. Daftar Pustaka

  1. INTJ Personality (Architect) | 16Personalities [Internet]. [cited 2025 Jul 4]. Available from: https://www.16personalities.com/intj-personality

  2. Myers-Briggs Foundation. Myers-Briggs® overview [Internet]. [cited 2025 Jul 4]. Available from: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/myers-briggs-overview/

  3. Zaghmout B. The role of democratic leadership style on the employee commitment in small business companies [Internet]. ResearchGate; [cited 2025 Jul 4]. Available from: https://www.researchgate.net/publication/380571355

  4. Asiimwe JB. The relationship between democratic leadership style and SMEs growth in the top 100 SMEs in Kenya. Int J Bus Manag [Internet]. 2021 Jun 30 [cited 2025 Jul 4];9(6). Available from: http://www.internationaljournalcorner.com/index.php/theijbm/article/view/165685

  5. The Joint Commission. Sentinel Event [Internet]. [cited 2025 Jul 4]. Available from: https://www.jointcommission.org/resources/sentinel-event/

  6. Müller M, Jürgens J, Redaèlli M, Klingberg K, Hautz WE, Stock S. Impact of the communication and patient hand-off tool SBAR on patient safety: a systematic review. BMJ Open. 2018;8(8):e022202.

  7. Ha Dinh TT, Bonner A, Clark R, Ramsbotham J, Hines S. The effectiveness of the teach-back method on adherence and self-management in health education for people with chronic disease: a systematic review. JBI Database System Rev Implement Rep. 2016;14(1):210–47.

g. Pernyataan Orisinalitas

Pernyataan orisinalitas karya tulis Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku. 

            h. Lampiran




                

     




Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader