Melayani untuk Memimpin: ISFJ dalam Diam

Juli, 04 2025

Nama : Valensia Janmorani
NIM   : 22.P1.0031


A. Konteks dan Latar Belakang Personal

Dalam dunia kerja, khususnya di bidang pelayanan kesehatan, pemahaman terhadap karakteristik pribadi menjadi salah satu fondasi penting dalam menentukan pendekatan kepemimpinan yang tepat. Berdasarkan hasil asesmen kepribadian MBTI yang saya ikuti, yaitu ISFJ memilki kecenderungan kepribadian sebagai berikut: 56% introvert, 69% realistis, 51% emosional, 61% perencanaan dan 57% tegas. Sebagai pribadi introvert yang relistis, individu ISFJ lebih nyaman bekerja secara tenang, terstruktur, dan berbasis data. Saya juga cukup peka terhadap kondisi emosional orang lain, namun tetap dapat bersikap rasional dalam mengambil keputusan. Kecenderungan saya untuk menyusun rencana dan bertindak tegas membantu saya dalam menghadapi tantangan secara sistematis. Karakteristik ini mendorong saya untuk memilih model kepemimpinan yang mampu menggabungkan visi, perencanaan, dan pemberdayaan tim secara menyeluruh.


B. Model Kepemimpinan yang Relevan

Model kepemimpinan yang paling sesuai dengan karakteristik pribadi ISFJ adalah kepemimpinan transformasional. Model ini menekankan pentingnya pemimpin untuk menginspirasi, memotivasi, dan memberdayakan anggota tim agar tumbuh bersama dan mencapai tujuan bersama secara optimal. Sebagai pribadi yang realistis, terncana, dan tegas, ISFJ merasa cocok dengan peran pemimpin transformasional yang mampu menyusun langkah yang tepat dan memberikan suatu arahan yang jelas. Kecenderungan dari sifat introvert ISFJ mendukung pendekatan yang mendalam dan penuh pertimbangan dalam membina hubungan kerja, sementara sifat emosional membantu menciptakan suasana kerja yang empatik dan saling menghargai. Kepemimpinan tranformasional jua mendorong inovasi dan perubahan positif, yang sangat relevan dalam konteks pelayanan kesehatan yang terus berkembang. Dengan gaya ini, ISFJ dapat mendorong tim untuk tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga memahami makna dan tujuan dari pekerjaan mereka secara lebih mendalam.



C. Aplikasi Model Kepemimpinan pada FKTP untuk Penanganan TB-HIV

Di puskesmas, penanganan TB-HIV membutuhkan kerja sama banyak pihak, seperti tim kesehatan, masyarakat, dan instansi lain. Sebagai pemimpin dengan gaya transformasional, ISFJ akan berkeinginan untuk menggerakkan Tim agar data bekerja dengan semangat, tujuan yang jelas, dan saling mendukung.


Model kepemimpinan ini bisa saya terapkan dengan cara :

  • Melakukan advokasi, yaitu menyampaikan pentingnya penanganan TB-HIV kepada pihak luar seperti dinas kesehatan atau tokoh masyarakat agar mereka mendukung program.
  • Menguatkan tim, misalnya dengan memberi pelatihan dan  dorongan semangat agar semua merasa dihargai dan bekerja dengan baik.
  • Menjalin kerja sama lintas sektor, seperti dengan sekolah, agar pasien TB-HIV mendapatkan bantuan menyeluruh.
  • Mendorong kerja sama antar profesi, agar dokter, perawat, dan  tenaga lain bisa saling membantu dan bekerja sebagai satu tim.
  • Melakukan monitoring dan evaluasi, yaitu memantau kegiatan yang sudah dilakukan, melihat apa yang belum berjalan, lalu mencari solusi bersama.

Tantangan : yang mungkin muncul adalah masih adanya pandangan terhadap pasien TB-HIV, kurangnya tenaga atau alat, serta kurangnya koordinasi antar instansi. 


Peluang : Peluang seperti adanya kader kesehatan di masyarakat, dan kemudahan teknologi seperti aplikasi pencatatan data.


Untuk mengatasi tantangan, saya akan berusaha membangun hubungan yang baik dengan masyarakat dan mitra kerja, memberikan pelatihan, serta menggunakan teknologi yang sederhana tapi bermanfaat untuk mendukung program.



D. Aplikasi Model Kepemimpinan pada FKTL untuk Peningkatan Mutu (PPI)


Di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL) seperti rumah sakit, keselamatan pasien dan petugas sangat penting. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) agar penyakit tidak menyebar di dalam fasilitas kesehatan.


Sebagai pemimpin dengan gaya transformasional, saya sebagai ISFJ akan mendorong tim untuk bekerja dengan semangat, saling mendukung, dan berani melakukan perubahan demi keselamatan bersama. Beberapa hal yang bisa saya lakukan antara lain :

  • Membangun budaya keselamatan, dengan terus mengingatkan pentingnya kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan cara kerja yang aman.
  • Memberi dukungan dan pelatihan, agar semua petugas merasa dihargai dan terus meningkatkan pengetahuan tentang PPI.
  • Mendukung ide dan inovasi dari tim, misalnya dengan mendengarkan masukan tentang cara-cara baru dalam menjaga kebersihan dan keselamatan.
  • Melakukan evaluasi bersama, yaitu memantau apakah prosedur PPI sudah dijalankan dengan baik dan memperbaiki jika ada kekurangan.

Tantangan :

Tantangan yang mungkin muncul adalah kurangnya tenaga, keterbatasan alat pelindung diri, dan masih ada petugas yang belum terbiasa menjalankan prosedur PPI dengan benar. 


Peluang :

Ada juga peluang seperti dukungan dari manajemen rumah sakit, adanya standar nasional tentang keselamatan pasien, dan kemajuan teknologi untuk pelaporan.


Dalam mengatasi tantangan ini, saya akan mendorong pelatihan secara rutin, membuat sistem penghargaan untuk tim yang disiplin, dan menggunakan aplikasi sederhana untuk pelaporan kegiatan PPI.


E. Kesimpulan 

Model kepemimpinan transformasional sesuai dengan karakteristik pribadi saya yang dapat introvert, realistis, terencana, dan tegas. Model ini mendukung peran saya sebagai pemimpin yang mampu membangun semangat kerja tim, menjalin kolaborasi, serta mendorong perubahan yang positif dan berkelanjutan. Dalam konteks pelayanan di puskesmas, kepemimpinan ini dapat memperkuat program penanganan TB-HIV melalui advokasi, kerja sama lintas sektor, dan evaluasi yang terarah. Sementara di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, pendekatan ini juga dapat meningkatkan mutu layanan, khususnya dalam upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Dengan perencanaan yang baik, komunikasi efektif, dan dukungan tim, berbagai tantangan dapat dihadapi untuk menciptakan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu.


Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi
terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.



Daftar Pustaka

Bass BM. Leadership and performance beyond expectations. New York: Free Press; 1985. Available from : 

https://www.scirp.org/reference/referencespapers?referenceid=1842839 


Northouse PG. Leadership: Theory and Practice. 8th ed. Thousand Oaks: Sage Publications; 2018. Available from :

https://www.scirp.org/reference/referencespapers?referenceid=3568102


Goleman D. Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books; 1995. Available from : https://www.scirp.org/reference/referencespapers?referenceid=773626


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta: Direktorat Jenderal P2P; 2020.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya. Jakarta: Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan; 2017.


World Health Organization. Infection prevention and control. 2023 [cited 2025 Jul 4]. Available from: https://www.who.int/infection-prevention 



Lampiran











Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader