Melayani dengan Hati, Memimpin dengan Kolaborasi: Kepemimpinan INFJ-A di Dunia Kesehatan

Nama : Angelia Casey

NIM : 22.P1.0010

Konteks dan Latar Belakang Personal

Kepribadian Advokat (INFJ)    Berdasarkan hasil asesmen MBTI (Myers-Briggs Type Indicator), saya memiliki kepribadian INFJ-A (Introverted, Intuitive, Feeling, Judging - Assertive). Tipe kepribadian ini dikenal sebagai The Advocate yang menonjol dalam empati, kemampuan berpikir strategis jangka panjang, dan keinginan kuat untuk membawa perubahan positif1. Dalam konteks kepemimpinan, INFJ sering berfokus pada kemampuan untuk memahami kebutuhan emosional tim, sekaligus menjaga arah dan tujuan organisasi secara berkelanjutan. Sebagai seorang INFJ-A, saya memiliki kecenderungan untuk berpikir mendalam, mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap keputusan, serta fokus pada tujuan jangka panjang. Saya lebih nyaman bekerja dalam suasana yang tenang, terstruktur, dan penuh makna, tetapi juga memiliki kepercayaan diri yang stabil (assertive) dalam mempertahankan pendapat jika diyakini benar. Hal ini membuat saya mampu mengambil keputusan dengan tenang tanpa mudah terpengaruh tekanan eksternal.

    Dalam konteks kepemimpinan, saya cenderung mendekati anggota tim dengan empati, memperhatikan kebutuhan individu, dan mendorong partisipasi bersama untuk mencapai tujuan. Saya percaya bahwa sebuah tim akan bekerja optimal jika setiap anggota merasa dihargai dan dilibatkan secara aktif. Sikap asertif pada INFJ-A menjadikan saya tidak mudah ragu dalam menghadapi konflik, namun tetap menjaga komunikasi yang harmonis dan solutif.

Model Kepemimpinan yang Relevan

Hal ini sesuai dengan gaya kepemimpinan demokratis2. Sebagai seseorang dengan kepribadian INFJ, saya merasa lebih efektif ketika memfasilitasi kolaborasi dan mendorong keterlibatan semua pihak dalam pengambilan keputusan. Saya cenderung mendengarkan secara aktif dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum bertindak, sesuatu yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan yang komplek dan beragam. INFJ juga memiliki kemampuan mendalam dalam membaca emosi orang lain dan sering menjadi penengah dalam situasi konflik. Kemampuan ini dapat menjadi modal besar dalam membina kerja sama tim lintas sektor maupun lintas profesi. 

    Sifat introvert bukan berarti tertutup terhadap dunia luar, tetapi lebih pada cara saya mengisi ulang energi melalui refleksi dan pemikiran mendalam. INFJ mampu berkomunikasi dengan jelas dan penuh empati, terutama dalam situasi yang membutuhkan sensitivitas tinggi, seperti penanganan pasien HIV atau penyakit menular lainnya yang masih menghadapi stigma di masyarakat. Sifat intuitive menjadikan saya berpikir jauh ke depan dan mampu menganalisis pola yang tidak kasatmata, bermanfaat untuk mengidentifikasi akar masalah dan potensi solusi secara sistemik. Faktor feeling dalam INFJ mendorong saya untuk membuat keputusan berdasarkan nilai dan kepentingan bersama, bukan hanya logika semata. Saya percaya bahwa keberhasilan tim bukan hanya tentang pencapaian target, tetapi juga bagaimana setiap individu di dalamnya merasa dihargai dan didengar. Terakhir, aspek judging membuat saya menyukai struktur dan perencanaan yang teratur, tanpa menutup kemungkinan untuk tetap fleksibel saat dibutuhkan. Saya menyukai sistem kerja yang produktif, terorganisir, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.

    Berdasarkan refleksi terhadap karakteristik INFJ ini, saya menilai bahwa model kepemimpinan demokratis merupakan gaya yang paling cocok untuk saya terapkan. Tipe kepemimpinan ini memungkinkan saya untuk mengajak anggota tim berdiskusi, melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan, dan mendorong kerja kolaboratif yang setara, yaitu semua hal yang sangat sejalan dengan karakter INFJ yang menghargai keterbukaan, empati, dan nilai kemanusiaan.

Aplikasi Model Kepemimpinan Untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV

    Penanganan TB-HIV di Puskesmas memerlukan kerjasama lintas program yang terkoordinasi dan kolaboratif, terutama di wilayah Puskesmas. Dalam konteks Puskesmas X, model kepemimpinan demokratis dapat diterapkan dengan mendorong partisipasi aktif dari seluruh anggota tim dan lintas program, seperti program TB, HIV, gizi, dan promosi kesehatan. Contohnya, dapat diadakan pertemuan berkala, membuat pelatihan lintas program, dan saling membantu dalam pendekatan ke masyarakat3.

    Sebagai seorang pemimpin dengan gaya demokratis, saya akan memulai membangun rasa saling percaya antar anggota tim. Saya akan mengajak semua pihak yang terlibat, seperti tenaga kesehatan yang menangani program TB, HIV, gizi laboratorium, farmasi, promosi kesehatan, hingga kader masyarakat, untuk membuat pertemuan berkala dalam menyusun strategi  penanganan TB-HIV secara terintegrasi. Saya akan memfasilitasi pertemuan lintas program tersebut dengan membuat forum komunikasi terbuka serta mendorong semua pihak untuk memberikan pendapat secara aktif dan leluasa. Kegiatan lintas program yang saya pimpin dapat mencakup advokasi kepada masyarakat, terutama pemangku kepentingan dalam suatu daerah/wilayah, seperti lurah, camat, dan tokoh masyarakat untuk mendukung program TB-HIV. Penguatan tim juga perlu ditegakkan dengan pelatihan berkala, supervisi lintas program serta diskusi kasus bersama agar setiap pihak dapat memberikan pendapat terhadap kasus yang ada.

    Dalam proses kegiatan penanganan TB-HIV, tantangan utama yang dapat muncul adalah perbedaan pandangan mengenai program yang akan dijalankan, keterbatasan tenaga, dan budaya kerja tiap sektor. Namun, dengan komunikasi terbuka dan sistem koordinasi yang baik, hambatan ini dapat diatasi. Pendekatan lintas sektor seperti ini dapat membuka peluang untuk kolaborasi di tingkat yang lebih luas dan memperkuat integrasi layanan di tingkat dasar. Selain itu, saya juga akan mendorong pengadaan evaluasi rutin yang terbuka dan reflektif. Melalui evaluasi ini, setiap pihak yang terlibat dapat menyampaikan pendapat tanpa takut disalahkan. Pendekatan seperti ini tentunya dapat memperkuat pembelajaran bersama dan membangun tim yang saling mendukung serta adaptif terhadap perubahan di masa yang akan datang.

Aplikasi Model Kepemimpinan Demokratis di Rumah Sakit (FKTL): Keselamatan Pasien dan Petugas Kesehatan

    Keselamatan pasien menjadi prioritas utama di rumah sakit karena pelayanan medis yang kompleks dan melibatkan banyak tenaga kesehatan. Salah satu penyebab utama terjadinya kesalahan dalam pelayanan adalah kurangnya komunikasi yang efektif antar petugas kesehatan, terutama dalam proses seperti serah terima pasien, penulisan resep, atau diskusi kasus antar profesi. Sebagai seorang pemimpin dengan model kepemimpinan demokratis dan kepribadian INFJ-A, sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang terbuka dan mendukung komunikasi dua arah, terutama di rumah sakit. Melalui pendekatan ini, saya akan mendorong semua anggota tim, baik dokter, perawat, farmasi, maupun petugas lainnya untuk saling menyampaikan informasi dengan jelas, terstruktur, dan saling menghargai. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah penggunaan metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) yang telah terbukti membantu memperjelas komunikasi di antara petugas medis4.

Kesalahan dalam mengidentifikasi pasien masih menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kejadian tidak diinginkan di rumah sakit, mulai dari pemberian obat yang salah hingga tindakan medis yang tidak sesuai5. Sebagai individu dengan karakter INFJ-A dan pendekatan kepemimpinan demokratis, saya akan mengutamakan pelibatan aktif seluruh tim pelayanan dalam membentuk prosedur identifikasi pasien yang aplikatif namun tetap sesuai standar. Strategi yang digunakan mencakup pembiasaan penggunaan dua data identitas seperti nama lengkap dan tanggal lahir, serta integrasi teknologi sederhana seperti wristband barcode yang terbukti dapat menurunkan risiko kesalahan identitas6. Potensi hambatan seperti kejenuhan prosedur dan sikap “terburu-buru” dalam pelayanan klinis akan diatasi dengan menciptakan forum umpan balik yang partisipatif dan pelatihan komunikasi terbuka. Pendekatan demokratis memungkinkan terbentuknya rasa saling percaya dan tanggung jawab dalam tim. Budaya keselamatan tidak hanya dibentuk melalui aturan, tetapi juga melalui keterlibatan emosional dan intelektual dari  seluruh tenaga kesehatan. Apabila dapat diterapkan secara konsisten, hal ini akan membangun kebiasaan kerja yang menjadikan identifikasi pasien sebagai prioritas utama dalam setiap layanan7.

Langkah-Langkah Kepemimpinan Demokratis yang Berfokus pada Identifikasi Pasien:

  1. Pembentukan tim lintas profesi: Melibatkan dokter, perawat, farmasi, rekam medis dalam forum keselamatan pasien secara setara
  2. Penyusunan SPO Identifikasi Pasien secara Partisipatif: Semua unit terlibat dalam revisi prosedur, memastikan dua identitas digunakan konsisten
  3. Pelatihan Interaktif dan Refleksi Tim: Simulasi kasus dan diskusi terbuka memperkuat pemahaman prosedur
  4. Pelaporan Insiden Tanpa Sanksi: Mendorong staf melapor jika terjadi kesalahan identifikasi, membangun budaya belajar
  5. Monitoring Bersama dan Evaluasi Rutin: Audit identifikasi pasien dilakukan bersama, hasilnya disampaikan terbuka ke seluruh unit
  6. Penguatan Komunikasi dan Apresiasi Tim: Memberikan penghargaan ke unit dengan kepatuhan tinggi; meningkatkan motivasi dan kepemilikan.

Tantangan yang Mungkin Dihadapi:
  • Budaya kerja hierarkis yang membuat staf enggan memberikan masukan atau mengkritisi prosedur yang tidak efektif.
  • Ketidakkonsistenan penerapan antara shift atau unit yang berbeda.
  • Kekurangan staf yang menyebabkan kelalaian dalam memverifikasi identitas pasien.
Peluang dan Upaya Antisipatif
Peluang:
  • Tingginya kesadaran staf akan pentingnya keselamatan pasien.
  • Tersedianya sistem informasi rumah sakit (SIMRS) yang dapat digunakan untuk mendukung sistem identifikasi digital.
Upaya antisipatif:
  • Membangun psychological safety di dalam tim agar semua profesi merasa aman untuk menyuarakan pendapat.
  • Menyusun alur kerja yang sederhana namun konsisten di semua unit.
  • Melakukan pelatihan penguatan kepemimpinan lintas profesi agar budaya demokratis tidak hanya ada di puncak, tetapi juga di semua level tim.

Kesimpulan

Sebagai individu dengan kepribadian INFJ-A (Assertive Advocate), model kepemimpinan demokratis sangat sesuai karena mendukung gaya kepemimpinan yang percaya diri, tenang, empatik, danberorientasi pada visi jangka panjang. INFJ-A cenderung tegas dalam mempertahankan nilai-nilai yang diyakini, namun tetap terbuka terhadap masukan dan kolaborasi tim. Dalam konteks fasilitas kesehatan, kepemimpinan demokratis memungkinkan saya untuk melibatkan semua pihak dalam pengambilan keputusan, mendorong komunikasi yang terbuka, dan menciptakan suasana kerja yang suportif. Di Puskesmas, hal ini mendukung koordinasi lintas program dalam penanganan TB-HIV, sementara di rumah sakit, gaya ini memperkuat kolaborasi antar profesi untuk meningkatkan keselamatan pasien, khususnya dalam komunikasi efektif. Meskipun tantangan seperti ego sektoral dan struktur hierarki bisa menghambat, gaya kepemimpinan INFJ-A yang percaya diri namun tetap inklusif mampu menjadi jembatan untuk mendorong perubahan dan perbaikan layanan kesehatan secara menyeluruh.

Daftar Pustaka

  1. Robbins SP, Judge TA. Organizational Behavior. 18th ed. Pearson; 2019. 
  2. Northouse PG. Leadership: Theory and Practice. 9th ed. Sage Publications; 2021. 
  3. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pengelolaan TB-HIV. Jakarta: Kemenkes; 2022.
  4. Sutcliffe KM, Lewton E, Rosenthal MM. Communication failures: an insidious contributor to medical mishaps. Acad Med. 2004;79(2):186–94. 
  5. World Health Organization. Patient Safety Incident Reporting and Learning Systems: Technical Report and Guidance. Geneva: WHO; 2020. 
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2022.
  7. Sammer CE, Kowalski J, Garcia T, et al. Examining the relationship between safety culture and patient outcomes: A systematic review. J Patient Saf. 2021;17(8):1202–1210.
Lampiran


Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader