Kepemimpinan Yang Fleksibel Namun Tidak Betele-tele
Nama : I Putu Tude Rangga Prawira
a. Konteks dan Latar Belakang Personal
Kepribadian ISTP-T (Introverted, Sensing, Thinking, Perceiving – Turbulent) dijuluki sebagai Virtuosos atau The Craftsman. Menurut teori Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), kepribadian ini menunjukkan seseorang yang cenderung reflektif, analitis, adaptif, dan menyukai pemecahan masalah secara praktis1. Individu dengan tipe ini memiliki sistem “bawaan pabrik” dimana rasa ingin tahu, logika dan keinginan untuk memahami kerja dunia melalui pengalaman atau terjun langsung ke lapangan, kemampuan observasinya yang tajam, lebih senang bekerja secara independen, dan mengutamakan efisiensi serta logika dalam pengambilan keputusan2. Sub-tipe Turbulent (T) menggambarkan kepekaan terhadap evaluasi dan dorongan untuk terus memperbaiki diri3.
Susunan fungsi kognitif untuk ISTP adalah sebagai berikut:
1. Memimpin dengan contoh bukan kata-kata (Introvert)
Jika kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, Seorang ISTP-T bukanlah orang yang pandai berpidato untuk membakar semangat para anggota kelompoknya, melainkan memimpin berdasarkan kompetensinya dengan cara mendemonstrasikan keahlian dan kemampuannya untuk menyelesaikan suatu masalah. Sebagai seorang introvert, kualitas pekerjaan, integritas dalam proses dan hasil yang nyata jauh lebih baik daripada pidato yang berapi-api4
2. Praktis dan Berorientasi pada Realita (Sensing)
Pada elemen ini, seorang ISTP akan berfokus pada fakta dan kenyataan yang ada pada masa kini dan memilih untuk memperoleh informasi dari observasi langsung disertai data konkret. Tipe ini lebih senang mempelajari hal- hal baru dengan terlibat langsung pada permasalah yang terjadi5.
3. Logis dan Objektif dalam pengambilan keputusan (Thinking)
Seorang ISTP menggunakan
prinsip rasional dalam pengambilan keputusan yang berdasarkan logika dan
analisis objektivitas, serta mampu mengesampingkan emosi yang dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan yang adil dan efektif6.
4. Fleksibel dan adaptif terhadap perubahan
(Perceiving)
Pada dimensi ini seorang Virtuosos tidak suka dan menganggap keterikatan pada rencana yang kaku merupakan sebuah penjara. Kemampuan adaptif yang dimilik membuatnya cocok untuk memimpin dalam situasi krisis dan darurat dengan memberikan solusi yang telah diimprovisasi dan skill beradaptasinya yang cepat1
b. Model Kepemimpinan yang Relevan
Kesesuaian kepribadian ISTP-T dengan gaya kepemimpinan ini berasal dari fungsi kognitif dan dimensi intinya yakni sebagai berikut:
1. Preferensi pada Otonomi (Perceiving)
Kepribadian ini sangat menghargai fleksibilitas dan kebebasan, tidak suka terikat pada peraturan atau rutinitas yang kaku. Dengan mengadopsi gaya kepemimpinan ini, maka anggotanya dapat bekerja dengan baik jika diberi “ruang” untuk improvisasi dan menggunakan cara mereka sendiri.
2. Efisiensi Energi (Introvert)
Interaksi sosial akan menguras banyak energi, dengan Gaya laissez-faire akan membuat mereka memimpin tanpa harus melakukan rapat diskusi panjang, dan menjadi pusat perhatian. Kepribadian ini dapat menggunakan energinya untuk memecahkan masalah dengan fokus pada observasi dan sifat pragmatis.
3. Intervensi berbasis logika (Thinking) dan dorongan Perfeksionisme (Turbulent)
Domain ini menjadi bentuk intervensi pada gaya kepemimpinan laissez-faire yang sering dianggap bentuk kepemimpinan yang pasif dan melepaskan tanggung jawab. Seorang pemimpin dengan kepribadian ini akan memberi solusi praktis apabila terdapat sistem yang tidak
efisien atau masalah teknis yang menghambat kemajuan tim. Selain itu dengan
sifat perfeksionisnya akan memastikan bahwa hasil kinerja tim memenuhi standar
dengan memberikan intervensi jika diperlukan.
c. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Kepemimpinan Laissez-faire
dapat digunakan untuk mendukung kegiatan lintas program pelaksanaan penanganan
TB-HIV seperti sebagai berikut:
1. Advokasi
Saya akan memberikan
materi advokasi atau proposal yang berisi data prevalensi TB-HIV, perencanaan
biaya, efektivitas program, dan proyeksi dampak yang jelas. Saya akan berfokus
pada untungnya dari efektivitas program penanganan penyakit TB-HIV sebagai contoh
ketersediaan obat TB-HIV di seluruh puskesmas dan dapat diakses dengan mudah
secara gratis. Dengan begitu pemerintah dapat menghemat biaya perawatan jangka
panjang dari penyakit tersebut.
2. Penguatan tim
Fokus saya adalah meningkatkan kualitas tenaga baik medis dan nonmedis serta kemandirian tim, dengan cara merancang sekaligus memimpin langsung sesi pelatihan misalnya seperti: penggunaan alat diagnostik baru, prosedur SOP tentang konseling kepatuhan minum obat. Apabila anggota tim sudah terbukti berkompeten makan saya dapat memberikan otonom sepenuhnya dan terfokus untuk melatih anggota tim yang masih belajar.
3. Koordinasi Lintas Sektor
Tujuan saya terfokus
untuk memastikan bahwa sistem alur kerja dan SOP tidak ada hambatan dan sangat
jelas antara Dinas Kesehatan, Dinas Sosial serta LSM seperti alur rujukan serta
kontak yang dapat dihubungi.
4. Kolaborasi Interprofesional
Dengan memfasilitasi
adanya pertemuan studi kasus pasien TB-HIV, diharapkan meningkatkan sinergi
antar para ahli dalam memecahkan permasalahn pasien yang komplek. Contohnya
seperti membahas penanganan efek samping obat dengan rencana diet dari ahli
gizi untuk mengatasi efek sampingnya.
5. Monitoring
Saya akan menciptakan sistem monitoring seperti dasboard digital yang menyajikan data real time yang berisi: jumlah kasus baru, kepatuhan minum obat, jumlah lost to follow-up. Apabila terdapat data anomali yang muncul, maka saya akan langsung terjun kelapangan dan menyelidiki apa yang menyebabkan hal ini terjadi.
6. Evaluasi
Pada evaluasi bagian
evaluasi ini merupakan kesempatan saya untuk melihat kekurangan yang ada dengan jeli dan memikirkan bagaimana cara menyempurnakan di periode
berikutnya.
- Tantangan-tantangan yang mungkin terjadi adalah:
1. Kesulitan dalam komunikasi yang persuasif dan lobi politik
Karena fokus saya yang terlalu berorientasi pada keberhasilan program, maka gaya komunikasi saya yang to the point mungkin akan disalah artikan sebagai sikap dingin, kaku dan dianggap merendahkan yang menyebabkan target advokasi menjadi defensif.
2. Ketidaksabaran dalam birokrasi dan proses yang lambat
Saya berkeinginan untuk mendapatkan solusi yang cepat, namun proses penganggaran dari pemerintah yang memakan waktu dapat mempengaruhi kualitas program yang saya rencanakan.
3. Kurangnya networking
Kurang memiliki
jaringan dengan pihak luar untuk
dilakukannya advokasi juga dapat terjadi dan menjadi kelemahan saya sebagai
pemimpin.
4. Kecemasan kinerja dan
perfeksionisme
Saya pastinya akan
menyusun dan menyempurnakan data hingga detail terkecil, sehingga menyebabkan
penundaan dalam menghubungi pihak luar.
- Peluang yang mungkin terjadi dengan gaya kepemimpinan ini adalah:
1. Kredibilitas proposal
yang sangat Tinggi.
2. Fokus pada solusi yang
efisien dan terukur.
3. Membangun networking
berbasis bukti.
- Upaya antisipatif yang bisa dilakukan untuk mengatasi tantangan yang ada yaitu:
1. Membentuk Tim Advokasi
untuk menjadi Manajer Hubungan yang dapat melakukan lobi politik.
2. Membangun hubungan
dengan pihak luar yang paling berpengaruh seperti ketua komisi kesehatan di
DPRD.
d. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu keselamatan pasien dalam aspek risiko jatuh
Sebagai salah satu
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) dengan prevalensi pelaporan tertinggi, insiden
jatuh pada pasien rawat inap menjadi hambatan bagi upaya penjaminan
mutu layanan klinis. Konsekuensi dari insiden ini bersifat multidimensional,
tidak terbatas hanya pada cedera fisik, namun juga berimplikasi pada durasi hospitalisasi (length of stay), peningkatan beban pembiayaan kesehatan, serta potensi penurunan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan9. Etiologi
kejadian jatuh yang bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks
antara faktor intrinsik pasien seperti efek medikasi dan defisit
neuromuskular dengan faktor ekstrinsik lingkungan perawatan. Kompleksitas ini
mengimplikasikan adanya kebutuhan mendesak akan suatu model kepemimpinan klinis
yang mampu mengorkestrasi sinergi dan kolaborasi multiprofesional secara
efektif.
Aplikasi model kepemimpinan dalam pencegahan risiko jatuh yaitu:
1. Pengembangan tim perawatan dan multidisiplin
Dengan model kepemimpinan ini saya memberikan kewenangan pada tim keperawatan, fisioterapis dan tim lainnya untuk mengembangkan protokol pencegahan risiko jatuh secara kolaboratif.
2. pemanfaatan sistem pelaporan serta evaluasi mandiri
Dengan memberikan ruang
untuk para staf, diharapkan mereka dapat melaporkan secara jujur dan terbuka
sehingga dapat meningkatkan keselamatan pasien dengan evaluasi mandiri terhadap
kejadian pasien jatuh.
3. Kebebasan Inovasi dan inisiatif
Memberikan kebebasan
sehingga staf dapat memberikan usulan dan inovasi dengan tetap patuh pada
kerangka kebijakan mutu keselamatan pasien rumah sakit seperti modifikasi ruang
rawat inap agar lebih aman, atau penggunaan sensor tekanan pada tempat tidur pasien
risiko tinggi.
- Tantangan-tantangan yang mungkin
terjadi adalah:
1. Kurangnya kordinasi
yang jelas.
2. Penuruann kepatuhan
terhadap prosedur.
3. Ketergantungan pada
inisiatif dari individu.
- Peluang yang mungkin terjadi dengan gaya kepemimpinan ini adalah:
1. Pemberdayaan dan
kemandirian tim.
2. Inovasi dan praktik
klinis.
3. Budaya pelaporan yang terbuka.
- Upaya antisipatif yang bisa dilakukan
untuk mengatasi tantangan yang ada yaitu:
1. Tetap menetapkan
standar minimal dan penetapan kerangka kerja.
2. Memastikan pelatihan
dan peningkatan kualitas tim.
3. Monitoring dan Evaluasi berbasis data.
Kesimpulan
Pemimpin ISTP-T adalah
pemimpin lapangan yang pragmatis dengan kepekaan terhadap evaluasi untuk terus
berbenah diri. Gaya Kepemimpinan laissez-faire merupakan gaya kepemimpinan yang
selaras dengan Kepribadian ini dengan sedikit intervensi pada fungsi kognitif
dan intervensinya. Dengan gaya kepemimpinan yang fleksibel, praktis, berbasis
data dan logis disertai dengan ketelitian tingkat tinggi diharapkan dapat
meningkatkan keberhasilan pelaksanaan penanganan TB-HIV dan keselamatan pasien
risiko jatuh di rumah sakit.
Daftar Pustaka
1.The 16
MBTI® Personality Types [Internet]. Tersedia pada:
https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/
2. Eysenck HJ. Portraits of type: An MBTI
research compendium. Personality and Individual Differences. September
1992;13(9):1059–60.
3. Turbulent Personality: Definition,
Traits, and Examples [Internet]. Tersedia pada:
https://psychcentral.com/health/turbulent-personality#signs
4. Mengapa Introvert Seringkali Menjadi
Pemimpin yang Hebat? [Internet]. Tersedia pada:
https://stekom.ac.id/artikel/mengapa-introvert-seringkali-menjadi-pemimpin-yang-hebat
5. Jung, C. G. (1971). Psychological Types
(H. G. Baynes, Trans.). Princeton University Press. (Original work published
1921) - Penelusuran Google [Internet].
6. Quenk NL. Was that really me? : how
everyday stress brings out our hidden personality [Internet]. Palo Alto,
Calif. : Davies-Black Pub. ; [Lanham, Md.] : Distributed by National Book
Network; 2002. 374 hlm.
7. Robbins, Stephen P, Coulter M. Manajemen
Jilid 1. 1999.
8. Scheidlinger S. The Lewin, Lippitt and
White study of leadership and “social climates” revisited. Int J Group
Psychother. Januari 1994;44(1):123–7.
9. Patient safety [Internet]. Tersedia
pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/patient-safety
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Komentar
Posting Komentar