Kepemimpinan Yang Fleksibel Namun Tidak Betele-tele

Nama : I Putu Tude Rangga Prawira

NIM : 22.P1.0026

a. Konteks dan Latar Belakang Personal

    Kepribadian ISTP-T (Introverted, Sensing, Thinking, Perceiving – Turbulent) dijuluki sebagai Virtuosos atau The Craftsman. Menurut teori Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), kepribadian ini menunjukkan seseorang yang cenderung reflektif, analitis, adaptif, dan menyukai pemecahan masalah secara praktis1. Individu dengan tipe ini memiliki sistem “bawaan pabrik” dimana rasa ingin tahu, logika dan keinginan untuk memahami kerja dunia melalui pengalaman atau terjun langsung ke lapangan, kemampuan observasinya yang tajam, lebih senang bekerja secara independen, dan mengutamakan efisiensi serta logika dalam pengambilan keputusan2. Sub-tipe Turbulent (T) menggambarkan kepekaan terhadap evaluasi dan dorongan untuk terus memperbaiki diri3.


Susunan fungsi kognitif untuk ISTP adalah sebagai berikut:

1.     Memimpin dengan contoh bukan kata-kata (Introvert)

    Jika kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, Seorang ISTP-T bukanlah orang yang pandai berpidato untuk membakar semangat para anggota kelompoknya, melainkan memimpin berdasarkan kompetensinya dengan cara mendemonstrasikan keahlian dan kemampuannya untuk menyelesaikan suatu masalah. Sebagai seorang introvert, kualitas pekerjaan, integritas dalam proses dan hasil yang nyata jauh lebih baik daripada pidato yang berapi-api4

2.    Praktis dan Berorientasi pada Realita (Sensing)

        Pada elemen ini, seorang ISTP akan berfokus pada fakta dan kenyataan yang ada pada masa kini dan memilih untuk memperoleh informasi dari observasi langsung disertai data konkret. Tipe ini lebih senang mempelajari hal- hal baru dengan terlibat langsung pada permasalah yang terjadi5.

3.    Logis dan Objektif dalam pengambilan keputusan (Thinking

      Seorang ISTP menggunakan prinsip rasional dalam pengambilan keputusan yang berdasarkan logika dan analisis objektivitas, serta mampu mengesampingkan emosi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan yang adil dan efektif6

4.    Fleksibel dan adaptif terhadap perubahan (Perceiving)

       Pada dimensi ini seorang Virtuosos tidak suka dan menganggap keterikatan pada rencana yang kaku merupakan sebuah penjara. Kemampuan adaptif yang dimilik membuatnya cocok untuk memimpin dalam situasi krisis dan darurat dengan memberikan solusi yang telah diimprovisasi dan skill beradaptasinya yang cepat1 

b. Model Kepemimpinan yang Relevan

Gaya kepemimpinan yang cocok dengan kepribadian ISTP-T adalah gaya laissez-faire dengan sedikit intervensi7. Gaya Laissez-faire merupakan tipe kepemimpinan dimana pemimpin memberikan hak otonom yang tinggi kepada anggota tim, minim pengawasan langsung, dan cenderung membiarkan tim mengelola tugasnya sendiri8. Pemimpin laissez-faire hanya sesekali memberikan pengarahan, dan lebih berperan sebagai fasilitator pasif7


Kesesuaian kepribadian ISTP-T dengan gaya kepemimpinan ini berasal dari fungsi kognitif dan dimensi intinya yakni sebagai berikut:

1. Preferensi pada Otonomi (Perceiving)

Kepribadian ini sangat menghargai fleksibilitas dan kebebasan, tidak suka terikat pada peraturan atau rutinitas yang kaku. Dengan mengadopsi gaya kepemimpinan ini, maka anggotanya dapat bekerja dengan baik jika diberi “ruang” untuk improvisasi dan menggunakan cara mereka sendiri.

2. Efisiensi Energi (Introvert)

Interaksi sosial akan menguras banyak energi, dengan Gaya laissez-faire akan membuat mereka memimpin tanpa harus melakukan rapat diskusi panjang, dan menjadi pusat perhatian. Kepribadian ini dapat menggunakan energinya untuk memecahkan masalah dengan fokus pada observasi dan sifat pragmatis.

3. Intervensi berbasis logika (Thinking) dan dorongan Perfeksionisme (Turbulent)


Domain ini menjadi bentuk intervensi pada gaya kepemimpinan laissez-faire yang sering dianggap bentuk kepemimpinan yang pasif dan melepaskan tanggung jawab. 
Seorang pemimpin dengan kepribadian ini akan memberi solusi praktis apabila terdapat sistem yang tidak efisien atau masalah teknis yang menghambat kemajuan tim. Selain itu dengan sifat perfeksionisnya akan memastikan bahwa hasil kinerja tim memenuhi standar dengan memberikan intervensi jika diperlukan. 

c. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

Kepemimpinan Laissez-faire dapat digunakan untuk mendukung kegiatan lintas program pelaksanaan penanganan TB-HIV seperti sebagai berikut:

1. Advokasi

    Saya akan memberikan materi advokasi atau proposal yang berisi data prevalensi TB-HIV, perencanaan biaya, efektivitas program, dan proyeksi dampak yang jelas. Saya akan berfokus pada untungnya dari efektivitas program penanganan penyakit TB-HIV sebagai contoh ketersediaan obat TB-HIV di seluruh puskesmas dan dapat diakses dengan mudah secara gratis. Dengan begitu pemerintah dapat menghemat biaya perawatan jangka panjang dari penyakit tersebut.

2. Penguatan tim

        Fokus saya adalah meningkatkan kualitas tenaga baik medis dan nonmedis serta kemandirian tim, dengan cara merancang sekaligus memimpin langsung sesi pelatihan misalnya seperti: penggunaan alat diagnostik baru, prosedur SOP tentang konseling kepatuhan minum obat. Apabila anggota tim sudah terbukti berkompeten makan saya dapat memberikan otonom sepenuhnya dan terfokus untuk melatih anggota tim yang masih belajar.

3. Koordinasi Lintas Sektor

        Tujuan saya terfokus untuk memastikan bahwa sistem alur kerja dan SOP tidak ada hambatan dan sangat jelas antara Dinas Kesehatan, Dinas Sosial serta LSM seperti alur rujukan serta kontak yang dapat dihubungi.

4. Kolaborasi Interprofesional

    Dengan memfasilitasi adanya pertemuan studi kasus pasien TB-HIV, diharapkan meningkatkan sinergi antar para ahli dalam memecahkan permasalahn pasien yang komplek. Contohnya seperti membahas penanganan efek samping obat dengan rencana diet dari ahli gizi untuk mengatasi efek sampingnya.

5. Monitoring

Saya akan menciptakan sistem monitoring seperti dasboard digital yang menyajikan data real time yang berisi: jumlah kasus baru, kepatuhan minum obat, jumlah lost to follow-up. Apabila terdapat data anomali yang muncul, maka saya akan langsung terjun kelapangan dan menyelidiki apa yang menyebabkan hal ini terjadi.

6. Evaluasi

Pada evaluasi bagian evaluasi ini merupakan kesempatan saya untuk melihat kekurangan yang ada dengan jeli dan memikirkan bagaimana cara menyempurnakan di periode berikutnya.

  • Tantangan-tantangan yang mungkin terjadi adalah:

1. Kesulitan dalam komunikasi yang persuasif dan lobi politik

    Karena fokus saya yang terlalu berorientasi pada keberhasilan program, maka gaya komunikasi saya yang to the point mungkin akan disalah artikan sebagai sikap dingin, kaku dan dianggap merendahkan yang menyebabkan target advokasi menjadi defensif.

2. Ketidaksabaran dalam birokrasi dan proses yang lambat

  Saya berkeinginan untuk mendapatkan solusi yang cepat, namun proses penganggaran dari pemerintah yang memakan waktu dapat mempengaruhi kualitas program yang saya rencanakan.

3. Kurangnya networking

    Kurang memiliki jaringan  dengan pihak luar untuk dilakukannya advokasi juga dapat terjadi dan menjadi kelemahan saya sebagai pemimpin.

4. Kecemasan kinerja dan perfeksionisme

   Saya pastinya akan menyusun dan menyempurnakan data hingga detail terkecil, sehingga menyebabkan penundaan dalam menghubungi pihak luar.

  • Peluang yang mungkin terjadi dengan gaya kepemimpinan ini adalah:

1. Kredibilitas proposal yang sangat Tinggi.

2. Fokus pada solusi yang efisien dan terukur.

3. Membangun networking berbasis bukti.

  • Upaya antisipatif yang bisa dilakukan untuk mengatasi tantangan yang ada yaitu:

1. Membentuk Tim Advokasi untuk menjadi Manajer Hubungan yang dapat melakukan lobi politik.

2. Membangun hubungan dengan pihak luar yang paling berpengaruh seperti ketua komisi kesehatan di DPRD.

d. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu keselamatan pasien dalam aspek risiko jatuh 

    Sebagai salah satu Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) dengan prevalensi pelaporan tertinggi, insiden jatuh pada pasien rawat inap menjadi hambatan bagi upaya penjaminan mutu layanan klinis. Konsekuensi dari insiden ini bersifat multidimensional, tidak terbatas hanya pada cedera fisik, namun juga berimplikasi pada durasi hospitalisasi (length of stay), peningkatan beban pembiayaan kesehatan, serta potensi penurunan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan9. Etiologi kejadian jatuh yang bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara faktor intrinsik pasien seperti efek medikasi dan defisit neuromuskular dengan faktor ekstrinsik lingkungan perawatan. Kompleksitas ini mengimplikasikan adanya kebutuhan mendesak akan suatu model kepemimpinan klinis yang mampu mengorkestrasi sinergi dan kolaborasi multiprofesional secara efektif. 

Aplikasi model kepemimpinan dalam pencegahan risiko jatuh yaitu:

1. Pengembangan tim perawatan dan multidisiplin

    Dengan model kepemimpinan ini saya memberikan kewenangan pada tim keperawatan, fisioterapis dan tim lainnya untuk mengembangkan protokol pencegahan risiko jatuh secara kolaboratif.

2. pemanfaatan sistem pelaporan serta evaluasi mandiri

    Dengan memberikan ruang untuk para staf, diharapkan mereka dapat melaporkan secara jujur dan terbuka sehingga dapat meningkatkan keselamatan pasien dengan evaluasi mandiri terhadap kejadian pasien jatuh.

3. Kebebasan Inovasi dan inisiatif

    Memberikan kebebasan sehingga staf dapat memberikan usulan dan inovasi dengan tetap patuh pada kerangka kebijakan mutu keselamatan pasien rumah sakit seperti modifikasi ruang rawat inap agar lebih aman, atau penggunaan sensor tekanan pada tempat tidur pasien risiko tinggi.

  • Tantangan-tantangan yang mungkin terjadi adalah:

1. Kurangnya kordinasi yang jelas.

2. Penuruann kepatuhan terhadap prosedur.

3. Ketergantungan pada inisiatif dari individu.

  • Peluang yang mungkin terjadi dengan gaya kepemimpinan ini adalah:

1. Pemberdayaan dan kemandirian tim.

2. Inovasi dan praktik klinis.

3. Budaya pelaporan yang terbuka.

  • Upaya antisipatif yang bisa dilakukan untuk mengatasi tantangan yang ada yaitu:

1. Tetap menetapkan standar minimal dan penetapan kerangka kerja.

2. Memastikan pelatihan dan peningkatan kualitas tim.

3. Monitoring dan Evaluasi berbasis data.


Kesimpulan



    Pemimpin ISTP-T adalah pemimpin lapangan yang pragmatis dengan kepekaan terhadap evaluasi untuk terus berbenah diri. Gaya Kepemimpinan laissez-faire merupakan gaya kepemimpinan yang selaras dengan Kepribadian ini dengan sedikit intervensi pada fungsi kognitif dan intervensinya. Dengan gaya kepemimpinan yang fleksibel, praktis, berbasis data dan logis disertai dengan ketelitian tingkat tinggi diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan pelaksanaan penanganan TB-HIV dan keselamatan pasien risiko jatuh di rumah sakit.

Daftar Pustaka

1.The 16 MBTI® Personality Types [Internet]. Tersedia pada: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/

2. Eysenck HJ. Portraits of type: An MBTI research compendium. Personality and Individual Differences. September 1992;13(9):1059–60.

3. Turbulent Personality: Definition, Traits, and Examples [Internet]. Tersedia pada: https://psychcentral.com/health/turbulent-personality#signs

4. Mengapa Introvert Seringkali Menjadi Pemimpin yang Hebat? [Internet]. Tersedia pada: https://stekom.ac.id/artikel/mengapa-introvert-seringkali-menjadi-pemimpin-yang-hebat

5. Jung, C. G. (1971). Psychological Types (H. G. Baynes, Trans.). Princeton University Press. (Original work published 1921) - Penelusuran Google [Internet].

6. Quenk NL. Was that really me? : how everyday stress brings out our hidden personality [Internet]. Palo Alto, Calif. : Davies-Black Pub. ; [Lanham, Md.] : Distributed by National Book Network; 2002. 374 hlm.

7. Robbins, Stephen P, Coulter M. Manajemen Jilid 1. 1999.

8. Scheidlinger S. The Lewin, Lippitt and White study of leadership and “social climates” revisited. Int J Group Psychother. Januari 1994;44(1):123–7.

9. Patient safety [Internet]. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/patient-safety


Pernyataan orisinalitas karya tulis 

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader