Kepemimpinan Sang "Arsitek"
Kepemimpinan Sang "Arsitek"
Nama : Ivcno Jonathan Arya Soeprapto
NIM : 22.P1.0018
Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
1. Latar belakang personal
Myers-Briggs type Personality Indicator merupakan sebuah alat pengukuran psikologis yang mengacu ke kepribadian seseorang, yang didasarkan pada cara seseorang memahami dunia dan mengambil keputusan. MBTI dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers dan Katharine Cook Briggs yang mengadaptasi teori kepribadian dari Carl Gustav Jung. MBTI membagi kepribadian seseorang kedalam 16 tipe kepribadian yang disusun dari kombinasi empat dimensi :
a. Introversion (I) dan Extraversion (E)
- Merupakan cara seseorang mengarahkan energinya : dari dalam diri (introverted) atau dari luar diri (extraverted)
b. Sensing (S) dan Intuition (N)
- Tentang bagaimana seseorang mengumpulkan informasi : fakta dan realita (sensing) atau pola dan makna (intuition)
c. Thinking (T) dan Feeling (F)
- Bagaimana seseorang mengambil keputusan : logika dan objektivitas (thinking) atau nilai dan perasaan (feeling)
d. Judging (J) dan Perceiving (P)
- Pendekatan kepada cara dunia bekerja : terstruktur (judging) atau spontan (perceiving)
Setelah melakukan tes MBTI secara online, penulis mendapatkan bahwa dirinya merupakan seseorang dengan model MBTI INTJ (Introverted, Intuition, Thinking, dan Judging). Kepribadian model INTJ dikenal sebagai pribadi yang strategis, visioner dan berorientasi pada efisiensi. INTJ cenderung akan merenung secara mendalam dalam pengambilan keputusan, dan bukan hanya berfokus pada jangka pendek, tetapi juga mengembangkannya menjadi tujuan jangka panjang. Dalam pengambilan keputusan, INTJ selalu melakukan pendekatan yang sistematis dan logis. Penulis merupakan seseorang yang selalu mempunyai visi dan misi yang besar yang disertai dengan susunan rencana yang konkrit untuk mencapai visi dan misi tersebut. Dalam kepemimpinan, penulis selalu mengutamakan cara berpikir berdasarkan logika dan objektivitas, penulis juga sangat menghargai kompetensi, integritas, dan efisiensi dalam bekerja, penulis juga selalu menciptakan lingkungan kerja yang inovatif dan terstruktur. Penulis juga tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan yang sulit selama keputusan itu diperlukan untuk kemajuan tim dan pencapaian visi dan misi bersama.
2. Model kepemimpinan yang relevan
Penulis sebagai calon dokter di masa depan menyadari ada beberapa pilihan model kepemimpinan antara lain, model otoriter, demokratis, delegatif dan transformasional. Sebagai seorang INTJ, penulis lebih memilih model kepemimpinan yang delegatif dan transformasional karena penulis sebagai seorang INTJ lebih mengedepankan pemikiran yang objektif dan strategis, visioner dan terstruktur dengan baik. Hal ini sejalan dengan model transformatif yang mengedepankan perubahan positif, berfokus pada visi jangka panjang, dan mendorong inovasi di lingkungan kerja sebagai dokter. Sebagai dokter di masa depan, hal ini mendorong penulis sebagai dokter masa depan untuk tidak hanya mengikuti prosedur standar namun juga mampu memimpin upaya peningkatan kualitas layanan, melakukan kolaborasi antar profesi dan menjadi panutan dalam hal etika dan integritas. Di sisi lain, penulis memilih model kepemimpinan delegatif karena penulis sangat menghargai efisiensi dan kompetisi yang membuahkan hasil untuk memajukan dunia medis dan kedokteran. Penulis mengharapkan dapat membagi penugasan dalam dunia medis kepada anggota tim yang ahli, sekaligus memberikan ruang otonomi selama arah dan tujuan besar tetap berjalan dalam jalur. Dalam dunia medis, penulis mengharapkan bahwa pemimpin tidak selalu harus mengatur semua detail pekerjaan, namun lebih memberikan ruang kebebasan berpikir secara kreatif, mengarahkan dan memastikan semua peran dapat berjalan secara efektif dan efisien.
3. Aplikasi model kepemimpinan untuk FKTP untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Dalam pengaplikasian model kepemimpinan delegatif dan transformatif untuk kegiatan lintas program dalam penanganan TB-HIV, penulis sebagai calon dokter di masa depan dengan kepribadian INTJ berfokus untuk membangun visi dan misi pelayanan kesehatan yang terpadu yang berfokus pada perubahan jangka panjang sekaligus memberdayakan tim untuk bekerja secara mandiri namun terarah. Transformational leadership menekankan pentingnya inspirasi, motivasi, dan penciptaan perubahan kolektif1. untuk menciptakan integrasi yang maju dan terarah antara penyakit TB dan HIV yang merupakan dua penyakit menular yang saling beririsan secara klinis dan epidemis. Dihubungkan dengan status mbti penulis yang merupakan seorang INTJ yang sering dikenal sebagai seseorang dengan kemampuan analitis dan berpikir strategis yang dapat mendorong sinergi antar program di puskesmas. Kegiatan yang difokuskan pada penanganan TB-HIV meliputi kegiatan advokasi berupa pendekatan kepada staf puskesmas, tokoh masyarakat, lintas sektor untuk meningkatkan komitmen terhadap integrasi layanan TB-HIV2. Kegiatan penguatan tim dilakukan dengan mengidentifikasi apa saja kelemahan dan kelebihan tim dalam penanganan TB-HIV yang nantinya akan dilakukan melalui kegiatan penguatan tim untuk mendorong pengembangan keterampilan staf melalui pelatihan internal atau mentoring. Koordinasi lintas sektor dilakukan untuk mengikutsertakan peran sekolah, tokoh masyarakat, serta organisasi lain dalam mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran penanganan TB-HIV. Kolaborasi interprofesi juga perlu dibangun oleh dokter, perawat, petugas laboratorium, dan farmasi untuk memastikan skrining, diagnosis dan pengobatan berjalan efektif. Untuk monitoring dan evaluasi, penulis akan melakukan tindakan delegatif untuk menyusun indikator kinerja layanan TB-HIV secara terintegrasi, mengembangkan sistem pelaporan yang efisien, serta menginisiasi evaluasi rutin berbasis hasil3.
Meski demikian, implementasi strategi ini tidak tanpa tantangan banyaknya hambatan utama seperti lemahnya koordinasi antar program dan antar profesi, stigma masyarakat yang kuat dapat membuat partisipasi masyarakat menjadi rendah, serta keterbatasan sumber daya. Namun disisi lain terdapat peluang melalui potensi integrasi program, dukungan teknologi informasi yang memadai, serta fleksibilitas staf di Puskesmas. Penulis sebagai seorang INTJ harus mampu mengantisipasi tantangan ini misalnya melalui penyusunan standar operasional secara kolaboratif antar profesi dan antar staf, melibatkan masyarakat langsung sebagai kader edukasi masyarakat, serta pemanfaatan dashboard sederhana untuk pelaporan.
4. Aplikasi model kepemimpinan untuk FKTL untuk peningkatan mutu
Sebagai calon dokter di masa depan dengan tipe kepribadian INTJ, penerapan model kepemimpinan transformasional dan delegatif dipilih menjadi model kepemimpinan yang efektif dalam meningkatkan mutu pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL), khususnya penulis memilih mengenai aspek Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Sebagai calon dokter dengan kepribadian INTJ, penulis memiliki pola pikir sistematis, yang berfokus pada perbaikan jangka panjang, dan efektif dalam perencanaan berbasis data dan karakter yang sesuai dengan kepemimpinan transformasional. Dalam menyelesaikan permasalahan PPI, kepemimpinan transformasional memungkinkan penulis untuk menciptakan visi pencegahan dan keselamatan yang tidak hanya mematuhi protokol, tetapi juga menginternalisasi nilai pencegahan infeksi sebagai tanggung jawab bersama seluruh staf pelayanan kesehatan4. Penulis dengan model kepemimpinan ini akan memulai perubahan melalui edukasi pada masyarakat, sosialisasi berdasarkan fakta ilmiah, dan penguatan komitmen dari semua lini staf pelayanan kesehatan. Selain itu, pendekatan delegatif dipilih untuk dapat melimpahkan tanggung jawab terstruktur kepada unit-unit lain yang relevan dalam penanganan PPI dengan tetap menjaga pengawasan melalui sistem evaluasi per unit dengan efisien. Penulis sebagai calon dokter masa depan diharapkan mampu mendesain sistem yang memantau kepatuhan terhadap kebersihan tangan, penggunaan APD, manajemen limbah medis, hingga sterilisasi alat, dengan metode pelaporan elektronik dan analisis tren infeksi5. Dalam pelaksanaannya, penulis juga cenderung mendorong penggunaan pendekatan berdasarkan bukti ilmiah dan teknologi6.
Namun dengan demikian masih terdapat beberapa tantangan dalam pelaksanaan pengawasan PPI antara lain adalah rendahnya kepatuhan tenaga kesehatan terhadap protokoler kesehatan dalam menangani PPI. Di sisi lain, terdapat peluang besar berupa dukungan dari peraturan kementerian kesehatan di tingkat nasional, adanya pelatihan dalam penanganan dan pencegahan PPI dan kemajuan sistem informasi pada FKTL yang dapat mendukung pelaporan berdasar data. Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, penulis dapat mengembangkan indikator kinerja dan protokol penanganan pasien dan pencegahan PPI yang baik dan menciptakan forum evaluasi rutin antar unit sebagai pembelajaran dan peningkatan kualitas. Dengan demikian, PPI dapat dijalankan tidak sekadar sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai budaya klinis yang dijaga bersama7.
5. Kesimpulan
Sebagai calon dokter di masa depan dengan tipe kepribadian INTJ, penerapan gabungan model kepemimpinan transformasional dan delegatif dapat menjadi efektif dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat dasar maupun lanjutan. Melalui pendekatan transformasional, pemimpin mampu membangun visi pembangunan berkelanjutan yang menginspirasi perubahan sistemik dan mendorong profesionalisme dalam praktik klinis. Sementara pendekatan delegatif memberikan ruang bagi staf lainnya untuk bertindak sesuai keahliannya, mendorong rasa tanggung jawab, serta mempercepat pengambilan keputusan. Dalam penanganan program TB-HIV, penulis berperan dalam kegiatan mendorong advokasi, kolaborasi lintas sektor, dan evaluasi berbasis data. Sedangkan pada upaya keselamatan pasien di FKTL, khususnya dalam Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), model ini mendukung pembentukan budaya keselamatan, meningkatkan kepatuhan terhadap protokol, dan memperkuat sistem pelaporan yang efisien.
Meskipun tantangan seperti kesulitan persepsi terhadap perubahan, beban kerja tinggi, dan keterbatasan sumber daya kerap muncul, penulis harus mampu mengantisipasinya melalui perencanaan sistematis, pelatihan dan penggunaan teknologi informasi yang baik, serta penguatan mekanisme evaluasi rutin. Dengan demikian, kepemimpinan transformasional-delegatif bukan hanya meningkatkan mutu layanan, tetapi juga memperkuat integritas tim medis, memperbaiki koordinasi antar profesi, dan menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi pasien maupun petugas kesehatan.
6. Daftar Pustaka
1) Bass, B. M., & Riggio, R. E. Transformational Leadership. Psychology Press. 2006.
2) Takarinda, K. C., et al. “Factors associated with treatment attrition among TB-HIV co-infected patients in Zimbabwe: a retrospective cohort study.” BMC Infectious Diseases. 2018
3) Naidoo, P., & Taylor, M. (2016). “Integrated tuberculosis and human immunodeficiency virus services at primary healthcare clinics in South Africa: A mixed methods study.” BMC Health Services Research, 16(1), 1–9.
4) World Health Organization. Core components for infection prevention and control programmes: Report of the Second Meeting, Informal Network on Infection Prevention and Control in Health Care. Geneva: WHO; 2009.
5) Irawan A, Wahyuni S. Evaluasi implementasi program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di rumah sakit. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia. 2021;9(2):91–98.
6) Syafitri NL, Setyawan H, Suryani E. Pengaruh penerapan kepemimpinan transformasional terhadap budaya keselamatan pasien dan kepatuhan tenaga kesehatan dalam PPI. Jurnal Administrasi Rumah Sakit Indonesia. 2022;6(1):20–28.
7) Pittet D, Allegranzi B, Storr J, et al. Infection control as a major World Health Organization priority for developing countries. J Hosp Infect. 2008;68(4):285–92.
7. Lampiran


Komentar
Posting Komentar