Kepemimpinan ISTJ di Fasilitas Kesehatan
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Kepemimpinan ISTJ di Fasilitas Kesehatan
Konteks dan latar belakang personal
Berdasarkan hasil assessment Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), saya dikategorikan sebagai individu dengan tipe kepribadian ISTJ (Introvert, Sensing, Thinking, Judging)1. Introvert menggambarkan seseorang yang lebih nyaman dan mendapatkan kekuatan dari dalam diri (perenungan, berpikir dan berpandangan introspeksi serta merasakan dan mengolah emosi)2. Seorang introvert cenderung berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara atau bertindak dan lebih suka bekerja secara mandiri. Dalam kehidupan sehari-hari, individu dengan karakteristik introvert biasanya lebih tenang, tidak suka menjadi pusat perhatian, dan lebih suka mendengarkan daripada berbicara dalam diskusi kelompok besar3. Sensing adalah dimensi yang menunjukkan kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada fakta konkret, detail, dan pengalaman nyata. Individu dengan preferensi sensing mengandalkan pancaindra dalam mengumpulkan informasi, serta cenderung berpikir secara praktis dan realistis2. Orang dengan karakteristik sensing juga biasanya lebih memperhatikan aspek teknis dan prosedural dalam menjalankan tugas, serta cenderung sistematis dalam menyelesaikan pekerjaan4. Thinking menggambarkan kecenderungan mengorganisir dan menstrukturkan informasi yang diperoleh sehingga dapat menyusun keputusan yang logis, faktual, dan objektif2. Selain itu, juga akan lebih menekankan konsistensi dan keadilan dalam membuat keputusan, serta mengutamakan kebenaran daripada perasaan pribadi atau pertimbangan emosional5. Judging menandakan preferensi terhadap keteraturan, struktur, dan perencanaan2. Individu dengan kecenderungan judging menyukai rutinitas, memiliki target yang jelas, dan merasa nyaman dengan adanya jadwal atau timeline. Mereka lebih suka membuat keputusan dengan cepat dan menjalankan tugas sesuai rencana, daripada bersikap fleksibel6. Dalam konteks kepemimpinan, individu ISTJ selalu mengutamakan data dan bukti nyata dalam proses pengambilan keputusan. Seorang ISTJ lebih memilih untuk mengandalkan informasi yang jelas dan dapat diverifikasi, sehingga setiap keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kepemimpinan, hal ini membuat ISTJ jarang mengambil keputusan secara tergesa-gesa dan selalu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum bertindak. Meskipun demikian, ISTJ akan tetap mampu membangun relasi profesional yang sehat dan dapat dipercaya oleh anggota tim. Tipe kepribadian ISTJ memiliki kebiasaan untuk mengikuti standar operasional dan aturan yang sudah ditetapkan. Seorang ISTJ juga akan menilai capaian kerja berdasarkan hasil dan kontribusi nyata, bukan berdasarkan pertimbangan emosional atau subjektif. Individu ISTJ juga memastikan bahwa setiap proses kerja berjalan sesuai jadwal dan tujuan yang telah ditetapkan.
Model kepemimpinan yang relevan
Model kepemimpinan yang paling relevan dengan karakteristik kepribadian ISTJ adalah kepemimpinan transaksional. Model ini berfokus pada pencapaian tujuan organisasi melalui struktur yang jelas, aturan yang tegas, serta penerapan sistem penghargaan dan sanksi yang adil (reward and punishment). Menurut saya, ISTJ akan sangat menghargai keteraturan, ketelitian, dan disiplin, sehingga kepemimpinan transaksional memungkinkan dalam mengelola tim dengan memberikan arahan yang terperinci serta ekspektasi yang jelas kepada setiap anggota. Selain itu, model kepemimpinan ini sejalan dengan kecenderungan ISTJ yang cermat dalam membuat perencanaan, menetapkan target yang terukur, dan menuntut komitmen tinggi dari seluruh anggota tim. Sistem reward and punishment dalam kepemimpinan transaksional juga memudahkan dalam membangun motivasi kerja dan kedisiplinan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab pada setiap individu. Dalam situasi yang menuntut kepastian, keteraturan, dan minim risiko kesalahan, seperti di lingkungan fasilitas kesehatan, pendekatan transaksional membantu menciptakan suasana kerja yang stabil dan produktif7.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Dalam mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X, model kepemimpinan transaksional diaplikasikan dengan memastikan seluruh proses kerja berjalan secara sistematis, terstruktur, dan mengacu pada standar operasional prosedur yang telah ditetapkan.
Advokasi: Sebagai pemimpin dengan model transaksional, mulai program penanganan TB-HIV dengan melakukan advokasi kepada seluruh tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan di Puskesmas X. Tekankan pentingnya program ini melalui sosialisasi yang terstruktur, penyebaran informasi berbasis data epidemiologi lokal, dan menekankan konsekuensi positif maupun negatif terkait keterlibatan dalam program. Strategi advokasi ini diarahkan agar setiap individu memahami urgensi penanganan TB-HIV dan termotivasi untuk berpartisipasi aktif.
Penguatan Tim: Dalam penguatan tim, pastikan adanya pembagian peran dan tugas yang jelas sesuai kompetensi masing-masing anggota. Setiap anggota diberikan target kerja yang spesifik, serta penghargaan atas pencapaian dan sanksi jika melanggar aturan atau tidak memenuhi target. Selain itu, rutin dalam melakukan supervisi, membangun komunikasi terbuka, dan memfasilitasi diskusi kelompok kecil untuk menyelesaikan masalah bersama.
Koordinasi Lintas Sektor: Bersikap aktif dalam menjalin komunikasi dan kerja sama dengan pihak eksternal seperti Dinas Kesehatan, rumah sakit rujukan, dan organisasi masyarakat. Koordinasi dilakukan melalui pertemuan rutin, pelaporan berkala, dan pembuatan kesepakatan bersama.
Kolaborasi Interprofesional: Lakukan kolaborasi antara berbagai profesi di Puskesmas X seperti dokter, perawat, petugas laboratorium, apoteker, dan kader kesehatan. Kolaborasi diwujudkan melalui pembagian tugas yang jelas, pelaksanaan diskusi kasus secara periodik, dan pembentukan tim kerja lintas profesi. Sistem evaluasi kinerja kelompok diterapkan untuk memastikan semua profesi berkontribusi aktif.
Monitoring: Monitoring dilakukan secara sistematis melalui pelaporan rutin terhadap pelaksanaan program TB-HIV. Tekankan pentingnya pencatatan data yang akurat dan tepat waktu sebagai dasar pemberian penghargaan maupun evaluasi.
Evaluasi: Evaluasi program dilakukan secara berkala dengan menilai capaian target, identifikasi hambatan, dan analisis efektivitas strategi yang telah diterapkan. Hasil evaluasi disampaikan kepada seluruh anggota tim kepentingan untuk menjadi dasar perbaikan ke depan.
Tantangan yang mungkin dihadapi dalam pencapaian indikator penurunan beban TB-HIV:
Resistensi terhadap perubahan. Sebagian tenaga kesehatan atau pemangku kepentingan kurang menerima kebijakan atau prosedur baru karena dianggap menambah beban kerja.
Terbatasnya jumlah SDM, sarana, dan prasarana menghambat optimalisasi program, terutama dalam monitoring dan pelaporan.
Koordinasi lintas sektor yang belum optimal dikarenakan adanya perbedaan prioritas dan komunikasi yang belum efektif sehingga menyebabkan kolaborasi tidak maksimal.
Masih adanya stigma di masyarakat dan fasilitas kesehatan terhadap pasien TB-HIV sehingga menghambat pelaksanaan program, khususnya dalam advokasi dan kolaborasi.
Keengganan menerima kritik dan rendahnya budaya evaluasi menyebabkan perbaikan program berjalan lambat.
Peluang yang mungkin terjadi dalam pencapaian indikator penurunan beban TB-HIV:
Dukungan kebijakan nasional. Regulasi pemerintah dan pedoman nasional menjadi dasar kuat untuk implementasi program secara terstruktur.
Kemajuan teknologi informasi dalam penggunaan aplikasi digital sehingga memudahkan monitoring, pelaporan, dan komunikasi.
Kolaborasi dengan rumah sakit rujukan, LSM, dan organisasi akan masyarakat memperkuat mobilisasi sumber daya dan sinergi program.
Meningkatnya kesadaran masyarakat. Awareness yang lebih baik terhadap TB-HIV menjadi modal sosial penting untuk mendukung advokasi dan menurunkan stigma.
Upaya antisipatif yang akan dilakukan dalam menghadapi tantangan dan peluang:
Peningkatan pelatihan dan sosialisasi dengan mengadakan edukasi dan pelatihan berkala agar tim memahami dan berkomitmen pada program.
Penguatan komunikasi dan koordinasi dengan membentuk forum diskusi rutin dan memanfaatkan aplikasi pelaporan digital untuk memperlancar koordinasi.
Penerapan sistem reward and punishment yaitu memberikan penghargaan dan sanksi secara adil untuk meningkatkan motivasi dan kedisiplinan.
Melakukan advokasi kepada masyarakat untuk memperkuat dukungan dan mengurangi stigma.
Melibatkan seluruh tim dalam evaluasi rutin dan menyusun rencana tindak lanjut berbasis hasil data untuk perbaikan berkelanjutan.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Dalam mendukung peningkatan mutu keselamatan pasien dan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL), model kepemimpinan transaksional diaplikasikan dengan memastikan seluruh tenaga kesehatan memahami dan melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan melalui pelatihan rutin, sosialisasi, dan supervisi lapangan. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk mengidentifikasi hambatan serta memastikan pencapaian target mutu. Staf yang disiplin dan berprestasi diberikan penghargaan sebagai bentuk motivasi, sedangkan pelanggaran SOP akan mendapatkan pembinaan atau teguran sesuai ketentuan yang berlaku. Pada 6 sasaran keselamatan pasien di FKTL, terutama identifikasi pasien, individu dengan mode kepemimpinan transaksional akan memastikan setiap tenaga kesehatan menjalankan prosedur identifikasi pasien secara konsisten dan sesuai standar operasional prosedur. Selain itu, juga akan menekankan pentingnya penggunaan dua identitas pasien yang benar (seperti nama lengkap dan tanggal lahir) sebelum melakukan tindakan medis, pemberian obat, atau prosedur lainnya. Untuk memastikan kepatuhan, dilakukan penyusunan pedoman tertulis dan melakukan sosialisasi serta pelatihan berkala kepada seluruh staf agar tidak terjadi kesalahan identitas yang berpotensi membahayakan pasien.
Tantangan yang mungkin dihadapi:
Kurangnya kesadaran tenaga kesehatan, masih ada staf yang belum memahami pentingnya identifikasi pasien sesuai SOP.
Adanya kebiasaan lama yang sulit diubah, sehingga implementasi SOP identifikasi kurang konsisten.
Keterbatasan sarana pendukung yaitu belum semua unit memiliki sistem identifikasi digital atau label yang memadai.
Peluang yang mungkin terjadi:
Dukungan teknologi informasi dengan adanya aplikasi dan sistem digital yang dapat mempermudah pencatatan serta pelaporan identitas pasien.
Meningkatnya kesadaran pasien dan keluarga. Pasien dan keluarga mulai aktif menuntut keselamatan dan keterbukaan informasi.
Model transaksional mendukung terciptanya budaya kerja yang patuh pada prosedur.
Upaya antisipatif yang akan dilakukan dalam menghadapi tantangan dan peluang:
Mengadakan edukasi rutin mengenai pentingnya identifikasi pasien dan cara pelaksanaannya sesuai SOP.
Memberikan penghargaan bagi staf yang disiplin, serta pembinaan atau teguran bagi yang melanggar.
Mengajak seluruh anggota tim untuk aktif dalam diskusi, evaluasi, dan perbaikan prosedur agar tercipta rasa memiliki dan komitmen bersama.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan karakteristik kepribadian ISTJ, model kepemimpinan transaksional merupakan pendekatan yang paling relevan dan efektif untuk diterapkan di fasilitas kesehatan, baik tingkat pertama maupun tingkat lanjut. Melalui penerapan struktur, disiplin, monitoring yang konsisten, serta sistem penghargaan dan sanksi yang jelas, kepemimpinan transaksional mendukung pencapaian target program, peningkatan mutu layanan, serta keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan seperti resistensi perubahan, keterbatasan sumber daya, dan kebiasaan lama, peluang dari dukungan kebijakan, kemajuan teknologi, serta sinergi lintas sektor dapat dimaksimalkan melalui upaya antisipatif yang terencana. Dengan pendekatan ini, diharapkan seluruh tim dapat bekerja secara optimal, profesional, dan berkomitmen dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan aman.
Daftar Pustaka
The 16 MBTI Personality Types. Internet. [dikutip 2 Juli 2024]. Tersedia pada: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/
Gofar N, Napitupulu SM, Rubiyanti Y. Profil Karakter Mahasiswa Baru Universitas Sriwajaya Angkatan 2019 Berdasarkan Jalur Masuk Perguruan Tinggi. Proceeding Indonesia Career Center Network Summit IV. Oktober 2019:185-93.
Subtinanda A, Yuliana N. Kepribadian Ekstrovert dan Introvert dalam Konteks Komunikasi Antarpribadi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTIRTA. Jurnal Pendidikan Non formal. 2023;1(2):1-15.
Arfia K, Handican R. Sensing VS Intuiting : Analisa Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Menyelesaikan Masalah HOTS (Higher Order Thinking Skills). Jurnal Silogisme: Kajian Ilmu Matematika dan Pembelajarannya. Desember 2024;9(2):136-54.
Fauzi AM, Abidin Z. Analisis Keterampilan Berpikir Kritis Tipe Kepribadian Thinking-Feeling dalam Menyelesaikan Soal PISA. Suska Journal of Mathematics Education. 2019;5(1):1-8.
Arlinanda LPH, Nazhrah AK, Putri ATT, Jannah MN, Charistyeva C, Muharani HAZ, et al. Hasil Ketetapan dalam Relevansi Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) Mahasiswa Universitas Negeri Semarang dalam Kehidupan Sosial di Kampus. Jurnal Mediasi. Februari 2025;4(2):137-45.
Muntatsiroh A, Hendriani S. Tipe-tipe Kepemimpinan dan Teori Kepemimpinan dalam Suatu Organisasi. Jurnal Economic Edu. Januari 2024;4(2):172-8.
Lampiran
Komentar
Posting Komentar